Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
.79. Membandingkan


__ADS_3

Dua minggu kemudian Dara diizinkan keluar dari rumah sakit, namun dia masih harus menjalani rawat jalan dan pemeriksaan rutin mengenai masalah kelainan darahnya yang belum terpecahkan. Mengetahui hal itu kakeknya Dara yang juga sebagai penanggung jawab seluruh pengobatan dan tempat tinggalnya pun langsung menyuruh beberapa orang kepercayaannya mencarikan rumah disekitar rumah sakit Charite untuk cucu kesayangannya.


(Berlin, 09.00 AM)


"Kek, apa rumah ini gak terlalu kebesaran? mamah dan Doni akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat, jadi aku bakalan cuma tinggal bertiga disini sama kak Sovia (perawat) dan kak Edward (bodyguard), kenapa kakek gak pilihkan rumah yang disebelah kanan saja?!" keluh Dara lewat telpon yang dilost speaker, karena kakeknya adalah pembisnis tambang besar yang biasa berurusan dengan orang luar negeri, makanya terbiasa berbahasa formal.


"Hahaha.. cucu perempuanku yang satu ini biarpun lagi tidak ingat apapun tapi sikap rendah dirinya masih saja melekat ya? mamahmu betul betul mendidik akhlak kalian dengan baik, kakek bangga!" puji kakek dari Kalimantan


"Aduh bapak ini berlebihan memujinya, anak anak memang tidak terbiasa bermewah mewah saja pak, biarpun Dara lagi tidak ingat kehidupannya diSamarinda tapi alam bawah sadarnyakan masih dapat mengingat, jadi wajar aja kalau dia dapat merasakan rumah ini memang sangat besar baginya!" sahut bu Aina dengan sangat sopan kemertuanya.


"Tidak tidak, itu sama sekali tidak berlebihan, kalau nanti ada saudara saudara Dara yang lainnya sedang keJerman, Dara bisa mengajaknya tinggal bersama dirumah itu!" alasan kakek agar Dara dan mamanya tidak menolak


"Owh gitu maksud kakek, iya bener juga sih, soalnya kata mamah sepupuku memang banyak diIndonesia!


Tapi, kakek sendiri kira kira kapan mau datang kesini? Papahku sampai saat ini juga belum ada datang bahkan bicara ditelponpun belum ada sama sekali denganku!" keluh Dara tentang papanya


"Yaa sabar sayang, kalau ada waktu luang kakek pasti akan segera kesana menjengukmu, dan soal papahmu tidak perlu kamu pikirkan dulu karena mungkin saja dia lagi sangat sibuk!


Ya sudah kalau gitu, sekarang lebih baik kalian istirahat karena selama Dara dirumah sakit pasti kurang nyenyak tidurnya iya kan?" ucap kakek mengalihkan topik dari pembahasan anaknya


"Iya kek, kalau gitu kami mau merapikan barang bawaan dulu, dan kakek juga harus jaga kesehatan ya walaupun sibuk!" pesan Dara dengan penuh perhatian


"Iya sayang terimakasih!" sahut kakek sedikit terharu, kemudian mereka menutup telponnya.


'Dara cucuku, rumah itu akan kakek balik nama atas namamu beserta hak warisan yang tadinya sudah kakek siapkan untuk papahmu. Haris sudah sangat keterlaluan karena telah mentelantarkan kalian demi wanita lain, tentu aku tidak sudi menganggap dia sebagai anakku lagi, mengecewakan, memalukan!' gumam kakek dengan geram, beliau malu karena besannya adalah menteri besar didalam negeri.


BYUUURR!!!


Tiba tiba terdengar deguman air dari halaman belakang, saking terkejutnya mamah dan Dara yang baru saja menutup telponpun langsung berlari mencari sumber suara.


"YAA AMPUN DONI, KAMU BIKIN JANTUNG ORANG MAU COPOT!!" teriak Dara gregetan, sekalinya suara itu berasal dari Doni yang tau tau sudah menceburkan diri kekolam renang.


"Aaah bilang aja kakak ngiri kan liat aku berenang? Ayoo turun sini nanti aku ajarin!" sahut Doni mengejek.


"Ooh ya siapa yang bilang kakak gak bisa berenang?" Dara yang merasa ditantang adik laki lakinya yang memiliki tubuh lebih tinggi dari dia, langsung saja menghampiri tampa berpikir lebih dulu, Dara lupa kalau dia itu sebenarnya memang tidak bisa berenang.


"Dara jangan kesitu!" tegur mamah berusaha menahan, seketika langkahnya terhenti dan langsung mundur kembali saat kakinya sudah menginjak keramik tepi kolam, mendadak ia merasa ketakutan hingga tubuhnya mulai menggetar saat melihat penuhnya air kolam yang terlihat sangat dalam tersebut.


"Ayoo kak gak usah takut, kalau takut terus ya gak bisa bisa! ini dalamnya cuma empat meteran kok memang standarnya orang sini, jadi tenang aja nanti aku pegangin!" Bujuk Doni dari tengah kolam sambil melambaikan tangannya


"Nggak, kakak gak mau, kamu aja sendiri!" sahut Dara menggeleng lalu berjalan masuk kedalam rumah


"Nah kan mamah bilang apa!" kata mamah


"Kok aku gak bisa renang mah sedangkan Doni jago banget, padahal keliatannya asik kalau bisa renang!" keluh Dara merasa iri


"Dulu waktu TK kamu pernah tenggelam saat ngikutin acara renang dari sekolah, setelah itu kamu jadi phobia deh kalau liat air yang dalam!" kata mamah menjelaskan alasanya


"Owh gitu ceritanya.." sahut Dara murung, dengan lembut mamapun langsung mengelus rambut Dara.


'Pantesan aja pas tadi lihat dasar kolam tiba tiba aja aku ngerasa ngeri tanpa sebab seolah olah air didalam sana kayak mau menelanku hidup hidup!' gumam Dara dalam hati saat membayangi dalamnya air tadi.

__ADS_1


TING TONG!! (bell dari depan gerbang)


"Biar aku aja yang liat mah, siapa tau Arga!" kata Dara yang langsung berlari kedepan layar monitor cctv. 'Hah siapa tante ini?' gumam Dara saat melihat orang yang datang ternyata orang asing seumuran mamahnya dengan kotak karton ditangannya.


"Permisi, saya tetangga sebelah rumah anda, kalau tidak keberatan izinkan saya menyapa kedatangan anda!" katanya dalam bahasa Inggris


"Hai beib aku juga datang nih, ayoo bukain!" sapa Arga yang tau tau muncul dari belakang tante tersebut, tanpa banyak mikir Dara segera membukakan gerbangnya lalu menyambut mereka didepan pintu rumah.


"Siapa yang datang sayang?" tanya mama


"Arga mah sama tetangga sebelah!" jawab Dara


"Hay, perkenalkan nama saya Laurent tinggal dirumah sebelah kiri, apa benar kalian datang dari Indonesia?" sapanya dengan ramah sembari menjulurkan tangan dan menyodorkan kotak karton yang dibawanya


"Iya benar kami dari Indonesia, nama saya Aina, ini putri saya Dara, dan ada adik laki lakinya bernama Doni sedang berenang dihalaman belakang, mari silahkan duduk!" sahut mama sambil membalas jabatan tangan dan menerima kotak tersebut.


Selama diJerman memang mamah yang lebih banyak berkomunikasi dengan orang, karena dia lebih pandai berbahasa Inggris dibanding Dara. (Ups!)


"Ayoo beib!" ajak Dara sembari membantu memapah Arga yang hanya memakai tongkat, lalu mereka duduk berdampingan disofa.


"Tante Laurent, calon ibu mertua saya ini sangat pandai memasak apalagi membuat kue, bahkan toko kuenya sangat terkenal dikota kami tinggal!" kata Arga memuji


"Benarkah?" sumeringah


"Aah saya tidak sehebat itu, Arga ini hanya terlalu melebih lebihkan saya saja!" sahut bu Aina malu malu


"Ooh tidak tidak! kebetulan saya sangat suka kuliner dari berbagai negara, kalau berkenan dan punya waktu luang tolong ajarkan saya satu menu saja biar saya bayar harga resepnya!" pintanya


Setelah puas mengobrol dan membuat janji masak bareng sama bu Aina, tetangga dirumah sebelah kiri itupun pamit pulang karena setiap siang hari dia sudah harus bersiap membuka usaha minumannya (CAFFE), kecuali Arga yang memang selalu betah berlama lama bersama Dara, bahkan sampai Paula perawatnyapun menyusul karena khawatir.


"Oiya beib aku belum sempat nanya sama kamu, gimana pendapatmu tentang rumah ini, cocok gak buat kamu?" tanya Arga yang seolah olah ada kaitannya sama rumah yang baru dibelikan kakeknya itu.


"Hmm... cocok cocok aja sih, cuma agak kegedean buat aku! memangnya kenapa beib?" tanya Dara bingung


"Sebenarnya rumah ini yang aku tempati sebelumnya, kemarin pas aku dengar kalau kakekmu lagi cari rumah dekat rumah sakit, aku langsung rekomendasiin rumah ini sama rumah sebelah kanan yang kebetulan lagi kosong dan ternyata kakekmu lebih memilih yang ini, jadinya aku yang tinggal dirumah sebelah!" kata Arga mengakui, sontak Dara langsung menutup mulutnya dengan tangan karena kaget.


"Aa..apa beib? aku cuma tau kalau rumah ini memang rekomendasi dari kamu, tapi waktu itu kamu cuma bilang kalau mau bantu nyariin rumah dekat rumahmu yang kebetulan dekat dengan rumah sakit Charite, jadinya kukira rumahmu memang deket dari sini. Beib apa papahmu gak akan marah kalau sampe tau kamu sudah menukar rumahnya?" tanya Dara takut takut, terlebih rumah yang disebelah kanan yang ditempati Arga sekarang lebih kecil.


"Hey beib, kamu tenang aja, papahku gak akan marah kok! mau aku pindah dirumah manapun selama masih dilingkungan sini gak akan masalah karena perumahan ini memang properti papahku!" kata Arga berusaha menenangkan Dara yang terlihat cemas, namun bukannya jadi tenang mata Dara malah semakin melotot kaget.


'Apa, perumahan ini milik papahnya Arga? ya Ampun, seberapa kaya sebenarnya cowok dihadapanku ini?' gumam Dara dalam hati sampai terteguk liur yang menyangkut ditenggorokannya, GLUG!


"Hayoo.. lagi ceritaan apa kalian? keliatannya serius banget ngobrolnya! niih sambil dimakanin kue yang dibawakan tante Laurent tadi!" kata mamah yang datang dari dapur sambil membawa sepiring kue khas eropa


"MAH SEKALINYA....EMmm!" dengan cepat tangan Arga menutup mulut Dara yang terburu buru mau bercerita


"Kalian ini kenapa?" tanya mamah bingung


"Nggak ada apa apa tante, Dara tadi bilang katanya dia mau ikut kuliah disini!" jawab Arga seceplosnya


"Hah! memangnya bisa? bahasa Inggrisnya aja payah!" kata mamah meremehkan, tangan Darapun langsung menarik tangan Arga dari mulutnya.

__ADS_1


"iih kapan aku ngomong kayak gitu? akukan orangnya sadar diri tau!" sahut Dara meraju, "Mau ngomong apa ya tadi? sampe lupa, kamu sih beib!" dalam sekejap diapun lupa dengan apa yang dia mau ceritakan barusan, dan dengan santai Arga mengambil dua potong kue diatas piring lalu memakannya.


"Heheheee! udah nggak usah diingat ingat dulu, mending cobain kue ini!" kata Arga sambil menyuapi kue yang baru diambilnya, Hap! langsung masuk kemulut Dara.


.


.


Besok paginya tante Laurent sengaja meluangkan waktu seharian bersama mamahnya Dara untuk membuat masakan khas Indonesia dirumahnya. Khusus caffe, dia sudah meminta anak buah kepercayaan untuk membantunya mengawasi keadaan, karena terkadang ada aja orang yang minum sampai mabuk yang ujung ujungnya menyusahkan!


Karena suntuk, Darapun main kerumah Arga yang tepat disebelah kanan rumahnya.


"Beib sudah sore nih, kamu gak jalan jalan sambil terapi?" tawaran Dara


"Kamu memangnya mau nemenin aku? kan aku jalannya pake tongkat jadinya lama!"


"Yaa mau lah beib, kan aku juga lagi gak boleh jalan cepat cepat, tapi aku pengen banget liat liat daerah disekitar sini!"


"Yaudah yuuk sekarang aja! aku ajak kamu ketaman didekat sini, disana ada danaunya dan kalau sore pemandangannya indah banget!" kata Arga yang langsung berusaha berdiri dari kursi rodanya.


Sambil jalan bergandengan, Dara dan Arga saling berbisik bisik cekikikan. Gimana nggak? sepanjang jalan mereka berdua selalu diikuti sepasang bodyguard dan perawat yang membuat mereka jadi risih sekaligus aneh rasanya.


"Paula, Mark, Kalian berdua tidak perlu ikut, tunggu saja saya dirumah!" perintah Arga yang langsung berhenti melangkah


"Iya kak Sovia sama kak Edward juga, lebih baik kalian tinggal dirumah, kasihankan Doni sendirian?!" bujuk Dara


"Tapi tuan, mana berani kami meninggalkan anda tanpa pengawasan!" ucap Mark yang diikuti anggukan dari yang lainnya juga.


"Yasudah, cukup satu perawat dan satu penjaga dari Dara dan Aku, kalian tentukan sendiri yaa siapa yang ikut dan siapa yang tinggal!" kata Arga yang langsung melanjutkan jalannya bersama Dara.


Sesampainya ditaman, mata Dara yang belakangan ini hanya melihat lingkungan rumah sakitpun dibuat takjub dengan pemandangan taman ditepi sungai, ditambah sorotan matahari sore yang berwarna jingga membuat taman ini bagai taman penyemangat bagi siapa aja yang datang.


"Beib!...."


"Indah?" tanya Arga menyeka omongan Dara yang belum terucap, lalu Dara mengangguk senang


"Di Indonesia juga banyak taman yang lebih indah dari ini, dan kalau kamu pulang nanti pasti bakal melihatnya. Selama beberapa hari ini aku kadang berpikir, apa setelah kamu pulang nanti bakalan masih inget sama aku?" tanya Arga dengan tatapan serius


"Kok kamu ngomongnya gitu beib? bukannya kita ini pacaran, kalau kita beneran pacaran alasannya apa aku harus lupa sama kamu? dalam keadaan lupa ingatan aku adalah pacarmu dengan berbagai bukti dihandphone mu, apalagi kalau aku sudah sembuh, pasti jadi ingat semuanya kan?" tanya Dara bingung


"Maksudku, apa kamu bisa mempertahan aku sebagai pacarmu selama menunggu aku kuliah disini? apa kamu bisa menjamin hatimu akan kuat dari godaan cowok lain kalau kita LDR'an?"


"Arga, kamu ini ngomong apa sih? apa mungkin aku bisa goyah dari kamu? kalau kamu berpikir seperti itu yang ada malah aku yang ragu sama hati kamu!" sahut Dara membalikan


"Aku? apa yang kamu khawatir kan dari aku? apa ada cewek yang mau sama cowok cacat kayak aku?"


"ARGA!! JADI KALAU KAMU SEHAT AKAN BERPALING DARI AKU, BAHKAN KEADAANKU SEKARANG INI TIDAK LEBIH BAIK DARI KAMU, AKU INI PENYAKITAN, PUNYA KELAINAN, BODOH, BAHKAN AMNESIA! APA KAMU MASIH MAU MEMBANDINGKAN KEKURANGAN DIANTARA KITA?!" Bentak Dara karena tersinggung dengan pertanyaan Arga tadi, dengan cepat dia berlari tanpa tujuan.


Tidak peduli banyaknya orang yang melirik kearah mereka karena tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi tentunya Dara merasa lebih malu saat mengungkit masalah kekurangan, sebab jelas jelas keadaanya lebih buruk daripada Arga yang membuat dia malah sering minder saat bersamanya.


*Nah Loh Arga bikin Dara marah! Kira kira gimana nih kelanjutannya?

__ADS_1


__ADS_2