Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Keras Kepala


__ADS_3

Niat ku berbohong tadi tentu nya bukan tanpa alasan, tetapi aku justru sangat khawatir dengan kondisi mama yang pasti nya sudah sangat lelah karena sudah beberapa hari ini banyak orderan yang mengharuskannya lembur sampe tengah malam bahkan pagi seperti tadi..


Makanya aku pun tadi sampai mengundur waktu untuk curhat masalah Arga, sampai waktunya tepat dan suasana hatiku pun sudah mulai agak tenang.


"Dara istirahat dulu yaa, sebentar mama buatin jahe panas .." ucapnya dengan suara dan tatapan lembut seperti biasanya, aku pun segera menggangguk dan tersenyum


"Yaudah Van, tolong anterin Dara kekamarnya ya?!" pinta Mama ke mas Irvan, lalu segera pergi menuju kearah dapur


"Iya mah, ayoo dek..!" sahut nya, sambil tangannya tambah erat merangkul bahu ku


Eeeh malah mas Irvan dengan lempengnya sengaja ngomong jujur sama mama yang membuat aku jadi merasa dongkol sama dia.


"Tuh kan mas Irvan!!" kataku gregetan dengan mata sinis melirik ke mas Irvan, dan melepaskan tangannya dari bahu ku.


"Lhoh kenapa mas?!" tanya nya kebingungan,


"Ya - iyalah lah salahnya mas Irvan!!


seharus nya tadi nggak usah bilang kalau aku sakit, jadi bikin mama repot!" dumel ku sambil mulai menaiki anak tangga petama


Kami berjalan beriringan karena lututku masih agak ngilu jadi melangkah satu per satu dengan pelan menaiki tangga, tangan mas Irvan tidak menyentuh ku tetapi terlihat siaga di sampingku dan sesekali langkah kami berhenti sebentar karena sambil bertengkar ditengah - tengahnya, namun tetap mengontrol suara pelan agar tidak terdengar oleh mama.


(Laah,,,, kan tadi dimotor udah berantem?!! ckckckkkk)


"Apa sih dek, kayak gitu aja mau dibesar - besarin?!" katanya sambil ikut gregetan


"Iya! buat mas itu hal yang sepele karena sudah lebih seminggu mas nggak tahu keadaan mama gimana?!" kataku yang mengingat kan kalau dia sudah seminggu ini pergi keBandung, jadi pasti tidak tahu apa - apa kondisi dirumah ini


"Iya tahu, tapi kamu kan memang sakit masa mau ditutup - tutupin?! nanti kalau sudah semakin parah apa bukannya malah tambah ngerepotin mama..!!?" balasnya memarahi ku, membuat aku jadi manyun dan berusaha kuat memaksa melangkah lebih cepat.


"Tuh kan mulai lagi,,, pasti kalau dikasih tahu yang baik - baik malah ngambek!!" katanya sembari menggeleng - gelengkan kepala memperhatikan ku.


"Dasar keras kepala!!" Dumelnya dengan suara pelan, tapi masih kedengeran jelas ditelinga ku yang membuat aku jadi terpancing emosi.


Langkah kami yang sudah di anak tangga paling atas, kini mulai berjalan kearah kamar ku.


"Mas ini nggak ngerti..!


Dara bukan nya mau nutupi penyakit, tapi mama juga lagi capek mas!


dia sudah beberapa hari ini lembur terus, dan hari ini baru bisa istirahat dirumah!"


kataku ngomel - ngomel namun tetap dengan suara pelan menjelaskan alasan berbohong tadi.


Namun mas Irvan tetap cuek, mengarahkan pandangannya kedepan seperti tidak mau mendengar kan penjelasan ku.


"Lagian aku kan cuma masuk angin, istirahat sebentar juga nanti sehat lagi..!" kataku menyepelekan


"Sudah aaah, pamali ngeremehin penyakit tauu!" katanya lagi mengingat kan dengan nada sinis, sambil tangannya memegang daun pintu siap membukakan pintu kamar.


Sembari mulai melangkah masuk, aku terus kepikiran sama mamah.


Sesampainya didalam kamar, mas Irvan segera menaruh barang belanjaanku dibawah meja belajar, lalu membantu ku melepas jaket, tas dan sweeter.


"Taruh disini aja yaa..?" tanyanya sambil meletakan sweeter dan tas ku diatas meja.


"Iya mas.." jawabku singkat sambil melangkah mendekati kekasur yang kurindukan, Namun ...


Ku urung kan niat ku yang ingin langsung berbaring pada saat ini, karena pakaian dan badan ku terasa sangat kotor berdebu.


Walaupun sebenar nya sudah sangat lelah dan mengantuk tetapi ....


"Aaah nggak bisa....!!" gumamku sambil masih berdiri memperhatikan tempat tidurku.


"Kenapa, katanya mau istirahat biar cepet sembuh? kok malah diliatin aja ranjangnya?!" tanya mas Irvan sambil muncul dari samping kananku sembari menyindir omongan ku tadi.


"Aah nggak mas, kayak nya aku mau kekamar mandi dulu cuci muka, sekalian ganti baju!" jawab ku dengan nada dingin masih sedikit meraju.


"Dek!" tiba - tiba tangannya memegang bahu dan memutar badanku menghadap didepannya.


"Sudah ngambek nya ya?!, coba kamu pikir baik - baik yang mas bilang tadi..." katanya sambil meyakinkan aku. Yaa ku pikir memang benar juga kalau aku terlalu menyepelekan dan tambah parah bisa - bisa mama pasti kena tegur sama papa, Lalu aku pun mengangguk.


"Yaa sudah mas keluar dulu, aku mau ganti baju..." kata ku yang sudah mereda ngambeknya.


"Bisa sendiri kan?!" tanyanya dengan konyol sambil no'el hidung ku

__ADS_1


"Yaa bisa lah mas, kalau nggak bisa juga nggak mungkin aku minta tolong sama mas!!" jawabku mengerti dengan maksud kekonyolan nya itu


"Yaa maksudnya mas juga bukan mau bantu gantiin baju, tapi mamah! nanti biar mas yang bikinin wedang jahenya" sahutnya menyangkal.


"WAAAH nggak usah! nanti rasanya ANEH - ANEH!!" Jawabku sambil menaikan alis dan melambaikan tangan penolakan, lalu melangkah mendekati lemari


"Hahahaa! Yaudah, kalau gitu mas bantu mamah dulu dibawah!" katanya, kemudian menuju pintu


"Iya mas," jawab ku sambil mulai mencari pakaian


BIIP - BIIP!!! (suara pesan masuk)


Mas Irva yang sudah memegang daun pintu siap keluar kamar dengan cepat menoleh kearah tas kecil ku yang tadi ditaruhnya diatas meja belajar dan mengambilkan nya untukku.


"Naaah, dilihat dulu hape mu siapa tau penting!" katanya sambil menyerahkan tas ku.


Aku pun segera menerima tas dan mengambil handphone didalamnya, dan kulihat pesan masuk barusan dari Kiki yang mengirim.


"Mas, aku minta tolong dibalasin dulu yaa chat dari Kiki, soalnya kalau lama dibalas nanti dia ngomel, aku mau cepat ganti baju, nggak tahan berdiri lama - lama!" kata ku sembari menyerah kan handphone ku ke mas Irvan. Dan memang kami sudah biasa bertukar handphone kadang iseng - iseng meminjam sekedar main game.


"Iya sini, cepat sana ganti bajunya, kalau ada apa - apa panggil ya?!" katanya setelah menerima handphone sambil melangkah keluar kamar lalu menutup pintunya.


Kemudian dengan segera aku pun mengambil pakaian dan berniat menggantinya di kamar mandi sekalian berseka sedikit badan ku.


Sesampai nya dikamar mandi, saat baru mencuci tangan aku tidak tahan melihat air yang mengalir. Ditambah saat melihat diri ku yang lusuh, wajah berminyak, kulit terasa lengket dan juga rambut yang kusut nan berdebu, membuat akhirnya aku memutuskan kan untuk ....................


SYUUUU....UUUUR!!! (suara air keluar dari shower)


Sebenar nya belum apa - apa aku sudah merasa sangat kedinginan dengan air ini, tetapi rasa lengket dan debu yang menempel membuat aku nekat ingin mandi.


"BRRRRRrrrrrrrrT!!!"


bibir ku yang bergetar karena air terasa semakin dingin, mungkin karena hari juga sudah mulai gelap diluar.


Saking dingin nya seluruh badan ku pun mulai bergetar semua sampai menggigil, dengan sangat cepat aku menyelesaikan mandiku.


"Duuh, biasa nya gosokan dilama - lamain! kali ini seksecukupnya saja, yang penting nggak kotor lagi" Pikir ku karena merasa kurang puas mandinya


Dengan tangan dan kaki yang sudah sangat bergetar, aku berusaha mengambil handuk yang menggantung tidak jauh dari pintu kaca di depan shower.



TOK! TOK! TOK! (suara pintu kamar mandi diketuk)


"Dara?! kamu masih didalam dek!!" Panggil mas Irvan


Karena bibir ku menggetar membuat ku kesulitan menjawab dengan jelas.


"I~iyaa~ ma~as~!" jawab ku terbaik - bata sembari mulai membuka kunci pintu.


"Lhooo, kok kamu malah mandi sih dek?!!" tanyanya sembari melotot dengan nada kaget dan kesal.


Kulihat dirinya pun ternyata habis mandi dan sudah berganti pakaian, dengan matanya yang menatap tajam kearah ku.


"Ba~dan ~ku ~leng~ ket ~ BRRRT!" jawabku dengan bibir bergetar dan merinding terkena sedikit angin dari dalam kamar yang jendela nya ternyata masih terbuka.


Dengan badan dan kaki yang menggigil kedinginan, aku melangkah perlahan keluar dari kamar mandi ingin mendatangi tempat tidurku dengan kedua tangan yang saling mengepal di dadaku.


GREEEP!!!


Tiba - tiba mas Irvan menggendong


"Yaaa ampun Dek, kok berat mu kayak kapas?!!" katanya, entah itu marah marah atau mengejek?!


"Duh tambah panas!" samar - samar mas Irvan bergumam sendiri, sambil membawa ku cepat - cepat ke atas ranjang.



Di dudukannya aku diatas ranjang dengan bersandar kan bantal, kemudian di tariknya selimut yang berada di ujung tempat tidur lalu ditutupi nya aku mulai dari ujung kaki hingga keperut.


Kemudian dia menutup jendela yang melambai - lambai gordengnya karena tertiup angin dari luar, dan ruangan pun mulai terasa hangat.


"Mas buka yaa?!" tanyanya sambil memegang handuk diatas kepala ku, dan akun pun segera mengangguk karena memang terasa berat membebani kepala ku yang terasa semakin pusing.


Dengan perlahan dia membuka nya karena terlilit rambut panjang ku sambil diusap - usapkan, JREEENG! Seketika aku merasa awut - awutan seperti singa.

__ADS_1


"Dah, mas gantung ini dulu!" katanya sambil tersenyum lalu berjalan kearah kamar mandi.


"Kamu kok nakal banget siih dek? udah tau lagi meriang, malah mandi!!" Ucapnya sambil melangkah mendekati ku.


Lalu mas Irvan pun ikut duduk disampingku dengan posisi badannya menghadap kearah ku.


Aku belum sempat menjawab mama pun datang dengan membawakan secangkir jahe panas dan sendok.


"Daraaa... ini di habiskan yaa...!" kata mama sambil berjalan pelan memperhatikan cangkirnya.


"Cepet banget mah.." tanya mas Irvan


"Iya dong, inikan wedang jahe stoknya papah, tapi masih panas mama taruh sini dulu yaa.." sambil mengarah keatas meja belajar.


"Sini mah biar aku tiupin, nanti kalau dingin malah kurang enak" minta mas Irvan ke mama sambil berdiri mendekati cangkir panas itu


"Iya boleh.." sahut mama, lalu mama menoleh kearah ku.


"LHOOOH!!! Dara mandi??!" tanya mama dengan nada kaget saat baru sadar melihat ku yang masih agak menggigil, aku yang nggak tahu kalau bakal tambah meriang jadi merasa bersalah akhirnya diam aja pasrah kalau dimarahi.


"Nggak tahu ini anak gadis mamah!" jawab mas Irvan cetus melirik kearah ku


"Yaaa ampun Daraa, nanti kamu tam ....!" Kata - katanya terhenti saat memegang tubuh ku yang masih agak menggetar


"Dara, kamu ke dokter yaa sayang?!!!" Ucap mama panik yang terkejut pas memegang kening ku


"Eng~gak mah~!" tolak ku sambil menggeleng


"Iya mah bawa aja, nanti aku anterin!" kata mas Irvan


"Mas!!?" panggil ku menyela


"Iya Dara , Suhu badan mu ini tambah panas dari yang tadi loh!" kata mama sambil duduk di samping ku


"Ta~pi ~mah?!" bantah ku yang selalu menolak kalau mau di antar ke dokter.


"Kalau papa tiba - tiba pulang giman mama menjelaskannya? Dara mau mama disalah - salah kan papa?!" bujuknya


Yaa papa memang selalu posesif terhadap anak - anak nya terutama padaku, katanya aku ini anak pembawa rejekinya pas dulu dia mulai berkarir dimasa - masa sulit aku lahir disitulah usahanya mulai berkembang sampai sekarang ini.


Makanya kalu aku mau apa - apa selama itu wajar pasti cepat dikabulkan, dan sedikit luka pun papa cepat - cepat carikan obat bahkan tanpa segan menegur mama kalau ada apa - apa.


Sekarang ini aku tahu mama masih capek, ditambah aku sakit pasti jadi beban, tapi untuk pergi ke DOKTER....


"Da~ra is~tirahat diru~mah ~a~ja yaa mah, seben~tar juga sem~buh..!" aku tetap menolak.


"Kamu ini loh bilang nya mau jadi dokter, tapi disuruh berobat ke dokter nggak mau! gimana sih? masa udah tua masih takut disuntik?!" sambung mas Irvan sambil meniup - niup kan jahe panas.


Memang aneh dan lucu kedengeran nya, aku yang ingin melanjutkan sekolah kedokteran sendiri nya taku kalau disuntik. Awalnya hanya karena trauma melihat temanku teriak pas di suntik imunisasi saat masih TK dulu, dan entah mengapa aku jadi takut di suntik hingga sekarang, tetapi kalau orang disuruh menyuntik orang aku berani.. Heheee


Karena suhu udara di kamar sangat hangat maka menggigil ku pun sudah mulai mereda, juga bicara ku pun sudah tidak terbata - bata lagi dan aku mulai merasai kalau mukaku memang panas.


"Gimana Dara, mau yaah?!" bujuk mama lagi


aku ingin berpikir sejenak dan ....


"IYA MAH MAU!!!...


nah mumpung masih agak sore, nih minum dulu jahe nya baru kita berangkat!" Sahut mas Irvan nyerocos membuat aku gagal berfikir dan bikin aku kesal


"ng - gak!" sontak aku menjawab dan menggeleng.


"mah... kalau besok aku masih panas baru kedokter yaa?!" balas bujuk ku merayu dengan manja.


Mama menatap ku seperti sedang berpikir mempertimbangkan ucapan ku.


KRLENTING!! KLENTING!! (dering handphone mama disaku bajunya)


"Tunggu dulu.. Yaaa hallo..?!" kata mama sambil berdiri lalu keluar kamar


Mas Irvan yang tadinya duduk dibangku meja belajar langsung berdiri sambil membawa cangkir berisi wedang jahe yang sudah di tiupnya lalu menghampiri dan duduk di depanku.


"Mas nih apaan sih ngomong gitu terus?!" ucapku meraju


"Kan buat kebaikan mu dek..." jawabnya sambil mulai menyuapi

__ADS_1


"MAS CARI PACAR AJA SANA BIAR NGGAK GANGGUIN AKU TERUS!!" kata ku tiba - tiba.


__ADS_2