
Kesunyian malam memicu kata kata dan perbuatan kasar papah yang terus saja terngiang ngiang ditelinga jadi semakin jelas teringat dan terdengar kembali.
'Ditengah malam seperti ini, adakah tempat dimana aku bisa pergi? tempat dimana aku bisa mengadu? apa ada yang mau mendengarkan cerita gundahku?' gumam Dara dalam pikirannya
Dara yang masih berdiri dibalik pintu kamar, tiba tiba matanya tertuju pada pintu balkon yang gordeng tipisnya masih terbuka sedikit.
KRIEEET!!
Bukannya merapatkan gordeng, Dara justru malah membuka pintu balkonnya tersebut berniat mengadukan nasib pada bintang bintang yang sedang bersembunyi dibalik awan mendung.
"Hiks.... bahkan satu bintang pun tidak ada yang sudi mendengarkan curahan hatiku, yang malah mengirimkan desirannya angin malam yang dinginnya menusuk hingga ketulangku!
Angin yang tidak menyapa dengan sejuk yang justru menyesakkan dada,
apa salah hidupku sampai sampai alampun ingin menyakitiku?"
Uhuk! Uhuk! Huuk...!
Ces....
Dari celah jari tangan yang sedang menutupi mulut dan hidungnya, tau tau mengalir cairan merah pekat berbau anyir yang paling dia takuti sebelumnya.
GLUDUG GLUDUG!! CETAAAAR!!!!
SSSSSssssssRrrrr!!!
Setelah bintang yang bersembunyi mengirimkan angin dingin, kini suara petir yang beriringan dengan kedatangan derasnya hujan yang turun tiba tiba menambah rasa perih dilukanya.
Darapun membungkuk lemas sambil menopang dirinya dipagar balkon, dirinya tidak kuat berjalan karena rasa perih dilambung menyesakan napas didadanya. Otaknya tidak mampu berpikir hingga dia tidak memperdulikan darah mimisannya yang masih terus menetes kelantai tempat dia berpijak.
Desiran angin yang membawa derasnya air hujanpun perlahan lahan membuat sebagian tubuh Dara jadi semakin basah diterpa tempiasannya, dan kini disetiap ujung jari jemarinya semakin putih, keriput dan gemetar.
CETAAAAR!!!
"AAH hujan? ya ampun aku ketiduran!" ucap Irvan yang terbangun karena mendengar suara petir dan dia terkejut saat melihat jam sudah tengah malam.
Wuuuuush grbug grbug!!
Tiupan kuat angin dari luar mendorong pintu balkon Irvan yang lupa dikuncinya hingga suara ribut gibasan gordeng mengganggu mata dan telinganya. Namun saat dia hendak mengunci,
"Ya ampun!" matanya terbebalak keseberang kamar,
"DARAAA!!! KAMU NGAPAIN DEK?!...!" teriaknya
"HAAAH!!" CTEK, TAP TAP TAP!!
sadar kalau teriakannya kalah dengan suara air hujan Irvanpun segera berlari keluar rumah menerobos derasnya hujan tersebut.
Dia tidak lagi memperdulikan dirinya akan basah karena pikirannya hanya ingin segera menghampiri Dara yang terlihat sedang membungkuk payah membuat dia curiga.
JEGLEK JEGLEK!!
"Astaga, siapa yang sudah mengunci pintunya?!... gak mungkin mamah, pasti Doni!"
DOR DOR DOR!!
"DON? DONI?! Buka pintunya Don..." DOR DOR DOR!!
"AAAGH!" CRAK CRAK CRAK!
Suara cipratan air yang pijaknya saat ia berlari menerobos kembali derasnya hujan, dia berniat kerumahnya lagi hanya untuk mengambil handphone yang tertinggal.
Tuuuut...
Tuuuut... "Ayo angkat!"
__ADS_1
Tuuuut... "Doni, angkat Don!"
Tuu klik!
"Mm sapa nieh?" (ngantuk)
"Don buka pintu depan cepetan!!"
"Mas Irvan?"
"Iya cepet Don, Dara didepan balkon gak tau ngapain ujan ujan begini!
"Aaah iya iya mas aku turun!" jawabnya langsung segar hilang ngantuknya
Walaupun sebenarnya Irvan menyadari kalau bajunya sudah basah, tapi rasa cemas terhadap Dara mengalahkan segalanya membuat ia langsung segera berlari kembali kerumah diseberang sana itu.
JEGLEK!! TAP TAP TAP!
"Loh ujan ujan begini mas Irvan gak pake payung?" tegur Doni melihat Irvan basah kuyup
"Gak sempet!" sahut Irvan yang langsung berlari menaiki tangga
JEGLEK JEGLEK!
"Astaga, apa apaan ini? gak biasanya dia mengunci kamarnya begini!" kata Irvan bernada panik
TOK TOK TOK!! "Dek?!"
TOK TOK TOK!! "Daraa, buka pintunya dek kamu kenapa?!" JEGLEK JEGLEK!
"Kenapa mas, pintunya dikunci? tumben? tadi ketemu aku dibawah gak kenapa napa kok!" kata Doni yang baru naik ingin kembali kekamarnya
"Apa ada kunci cadangannya Don?!"
"Nih mas coba aja satu satu!" kata Doni sambil memberikan satu renteng kunci cadangan seluruh pintu dirumahnya yang sontak membuat Irvan terperanga karna bentuknya hampir sama semua,
"Tadi pas kamu bilang ketemu dia dibawah apa dia ada ngomong sesuatu yang mencurigakan?" tanya Irvan sembari terburu buru mencoba kunci tersebut satu persatu.
"Nggak ada, dia cuma bilang keaku kalau mulai sekarang aku ini bakal jadi harapan mamah satu satunya jadi aku harus rajin bantu mamah supaya dia tenang perginya!" cerita Doni dengan santai menyingkat apa yang dikatakan Dara kepadanya, yang justru malah bikin Irvan jadi salah paham atas kata kata tersebut
"BENERAN DIA BILANG BEGITU?!!" tanya Irvan melotot kaget
"Iya dia bilang begitu tadi!!"
"Astagaaaaaaa! Daraaaaaa...." tangannya langsung bergetar panik saat masih mencoba kunci yang belum dapat pasangannya
(Diteras Balkon)
Uhuuk... Uhuuk...
Karena kepala Dara menunduk, darah mimisannya jadi tidak berhenti menetes membuat lantai putih yang basah karna tempiasan air hujan kini warnanya jadi agak kemerah merahan.
Bruk!
Dengan kekuatan tenaga terakhir, dia berusaha menggapai dan merebahkan tubuh lemasnya diatas kursi didekatnya.
HAH.. HAH... HAH... Brrrrr...
Udara dingin karna hujan tengah malam, ditambah sebagian bajunya sudah basah membuat sesak didadanya semakin menjadi jadi, dia merasa napasnya tidak sampai keparu paru melainkan hanya sampai ditenggorokan membuat dia sampai engap engapan.
Tes~
Airmatapun mengalir dari sudut matanya,
'Apa hujan ini yang akan menemaniku untuk yang terakhir kali?' gumam sedih dalam hatinya
__ADS_1
"DEK?!!"
"KAKAK?!" panggil Irvan dan Doni barengan. Mereka kaget luar biasa saat mendapati keadaan Dara yang sudah menggigil lemas dengan napas tersendat sendat, belum lagi aliran darah yang mengalir dari hidungnya sudah membaur bersama air hujan yang membasahi lantai balkonnya.
"Ya Tuhan! dek kamu kenapa sayang? kamu harus bertahan jangan bikin jadi mas takut!" ucap Irvan gemetar, dengan cepat dia mengangkat Dara masuk kedalam kamar lalu menyelimutinya.
"Mas mau bawa kakak kerumah sakit kah? sama aku aja yaa gak usah bangunin mamah, soalnya aku liat mata mamah bengkak kayaknya baru aja tidur dan abis nangis.." kata Doni perhatian
"Iya kamu bener, kita langsung aja yuk!" sahut Irvan yang gugup kebingungan karena terlalu panik, lalu dengan hati hati menggendong Dara beserta selimutnya menuju kemobil.
Setelah dia membaringkan Dara dibangku belakang mobil mama, diapun hampir saja lupa membawa dompet dan handphone yang masih dirumahnya.
"Doni kamu tunggu dulu sebentar!" pintanya, lalu segera berlari pulang kerumahnya untuk mengambil barang barang yang tertinggal tersebut.
Sesampainya dirumah, dia kepapasan dengan Reza yang baru saja abis dari dapur hendak masuk ke kamar
"Looh mas darimana basah basahan begini? ini darah siapa?!" tanya Reza yang mengikutinya kekamar karna khawatir, namun kepanikan Irvanpun tidak mampu menjawab pertanyaan adiknya dengan detile,
"Dara... Dara mas mau bawa dia kerumah sakit!" jawabnya gemetar kedinginan dan juga karena gugup
"Aduh mas biar aku aja yang nyupirin, mas udah menggigil kayak begini mana bisa aman? udah mas cepetan ganti baju aja dulu biar aku siapin mobilnya, pake mobil mamah kan?" tanyanya sambil mulai melangkah keluar kamar, lalu Irvan menggangguk bisu dan dengan gerakan cepat menuruti saran adiknya barusan untuk berganti pakaian, dan setelah itupun ia terburu buru kembali keluar rumah
Reza yang tadi lebih dulu keluar rumahpun ternyata sudah dibangku supir dengan posisi mobil yang juga sudah dalam posisi siap meluncur.
"Mas duduk dibelakang aja sama mbak, Doni sudah sama aku didepan!" kata Reza dengan agak nyaring karena gemuruh hujan menghalangi suara bicaranya, lalu Irvan segera berlari dari rumahnya kearah pintu belakang mobil
JGLEK, Bak!
"Sudah mas?" tanya Reza
"Iya cepet Za tapi tetep hati hati ya!" kata Irvan yang sekujur tumbuhnya masih gemetar, dengan takut takut langsung memangku Dara yang nafasnya masih tersengal sengal
"Dek... bertahan ya dek!" pintanya sambil membelai
"Mm.. ma.. mas.. sasa.. sakit mas..." ucapnya terbata bata, dia merasakan perih dilambungnya semakin menyesakkan dada
"Yang mana yang sakit sayang bilang sama mas yang mana?" panik
"Napas mas.. napas ku.. sus.. susah...!" jelasnya semakin terputus putus dengan pandangan kosong lurus kedepan membuat Irvan semakin ketakutan
"Za kalau lewat klinik berenti aja dulu Za!" pinta Irvan yang ketika itu sangat kebingung melihat keadaan Dara yang tidak pernah seperti sebelumnya.
Dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa supaya napas Dara yang tersendat bisa secepatnya terselamatkan yang akhirnya,
HAP...!
.
.
AaaaH..! HAH.. HAH....
HAP...!
.
.
HAH.. HAH...
GLEK!
Sambil menelan liur ditenggorokannya,
Doni yang duduk dibangku depan hanya mampu menyaksikan mas Irvan sedang mengadu mulut dengan Dara berusaha menolong kakak satu satunya itu dengan napas buatan.
__ADS_1