Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#90. Terkunci


__ADS_3

"Sayang?..."


'Aah.. Lagi lagi aku mendengar suara panggilan lembut itu. Suara yang sudah serak yang selalu becanda dan memanja. Namun kali ini aku tidak akan membuka mata, karena aku tau kalau suara itu hanyalah mimpi, jadi aku tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini, aku tidak sanggup bila harus kembali sedunia nyataku yang kelam!


Saat sesuatu sudah menjadi sebuah kenangan akankah cintanya akan tetap bersamaku selamanya?


tapi itu akan menjadi hal yang paling kejam dalam hidupku!


Saat saat ketika kami saling tertawa,


disaat kami menatap rembulan, kami saling berharap tetap melihat hari esok.


Meskipun kami tahu bahwa keabadian itu memang tidak ada. Tapi, ternyata kita memang tidak pernah tau bahwa sebuah akhir itu ternyata begitu dekat!


Mimpiku menyelip kedalam malam, kemudian mencair dipagi hari, dan aku kembali tersadar telah kehilangan sebagian hatiku.


Rasanya ingin sekali melupakan segalanya, tanpa harus berkata selamat tinggal, aku tidak ingin mengingat senyuman terakhirmu pagi itu! Pergilah, pergi ketika aku sedang berpura-pura tidur.'


(JERMAN, 08:39 A.M)


CICICUIIT CUIIT... CUIIT..


Kicauan burung diranting pohon, dengan meriah bersenandung menyambut cahaya mentari yang mulai menguning. Butiran embun pagi yang menepi disetiap ujung daun, sinarnya mulai berkilauan bagai permata lunak yang siap berjatuhan. Sejuknya udara pagi dimusim dingin ini terasa begitu damai menenangkan jiwaku yang sedang kalut.


"Dara?.. bangun sayang..."


'Suara pria itu sudah berulang ulang memanggil namaku, dan dengan berat hati, akhirnya perlahan lahan kubuka kedua mata ini. Cerahnya cahaya mentari yang menembus jendela kamar, sangat terang hingga menyilaukan pandanganku.


Kuangkat kelopak mata yang masih sayup sayup melambai membuat pandangan buramku semakin jelas. Samar samar terlihat sepasang mata sedang memandang kearahku, sepasang mata dari pria berwibawa yang selalu berwajah pucat, dia yang sudah beberapa hari ini selalu duduk disamping ranjangku, tapi sayangnya ini bukanlah ranjang kamarku, "Huuuuft..!".


"Kok bangun bangun menghela nafas? gak baik looh, itu sama aja menepis rejeki yang mau datang!" tegurnya.


'Namun aku tetap diam tanpa kata. Bukan karna aku lagi marah atau malas bicara, melainkan aku tidak tau apa yang harus ku katakan.


Perasaan dihatiku masih berkabut gelap menyelimuti duka yang mendalam. Aku masih tidak percaya kalau aku baru saja mengalami kehilangan. Kehilangan salah satu dari sedikitnya orang yang kukenal selama aku hilang ingatan.


Aku baru saja kehilangan sosok pengganti ayah dikala aku sedang membutuh papahku yang sampai saat ini belum juga datang. Aku baru saja kehilangan orang yang selalu menghibur kesedihan dan selalu menguatkan hatiku, tapi sekarang?' ungkapan Dara dalam hati.


"Sarapan dulu yuk? kan sebentar lagi harus cek darah!" bujuk pria itu sambil tangan hangatnya membelai rambut kusut Dara yang sudah dua hari hanya berbaring saja dirumah sakit.


"Kak Sovia mana? Aku mau kekamar mandi." kata Dara sambil bangkit dan bersiap turun dari ranjang


"Sovia lagi ngambil keperluanmu dirumah, Ayoo!!" dengan sigap kedua tangan pria muda itu siap mengangkat tubuh Dara


"Nggak usah digendong kak, biar aku sendiri aja!" tolak Dara segan karena selama dua hari ini sudah sangat merepotkannya.


"Kamu kan masih lemes dek, nanti kalau jatoh lagi kaya kemaren gimana?!"


"Biarin aja!" celetuknya


"CUKUP! KAMU INI NGOMONG APA SIH? APA KAMU GAK ADA RASA KASIHAN SAMA MAMAHMU, ADIKMU, ARGA, SAMA AKU?!


KALAU KAMU GAK MAU MENGHARGAI HIDUPMU BUAT APA AKU DISINI?! KENAPA NGGAK AKU AJA YANG PERGI (MATI)!!" bentak Irvan emosi, lalu Dara menggeleng dan mulai menangis


"Hikshiks.. nggak kak nggak! aku sayang sama kalian semua, aku sayang sama kakak... kak Irvan jangan lagi lagi ngomong kayak gitu, aku takut, aku takut!! hikshiks...." mendengar tangisan Dara, Irvanpun langsung tersadar dari emosinya. Dan dengan napas terengah engah dengan cepat memeluk Dara yang sedang duduk didepannya.


"Maaf sayang maaf... kakak hilaf, nggak seharusnya kakak memarahimu barusan!" ucapnya, kemudian Irvan membungkuk dihadapan Dara sambil menggenggam kedua tangan gadis itu lalu mengarahkan kepipinya "Pukul aja kakak, kakak memang nggak pernah becus jadi kakak yang baik. Pukul kakak dek supaya bisa membuatmu lebih lega!" pinta Irvan merasa sangat bersalah telah membuat Dara jadi terisak isak karena bentakannya barusan.


Darapun menunduk dan malah menarik tangannya kembali.


'Ya ampun! lagi lagi aku membuatnya menangis, dasar bodoh! bagaimana mau melindungi dia kalau hanya menahan emosi lidah saja tidak bisa. aku ini laki laki macam apa sih? pantas saja Tuhan tidak memberi aku kesempatan untuk mendapatkan cintanya!' ungkap penyesalan Irvan dalam hati

__ADS_1


"Hikshiks.. Kakak gak salah apa apa, aku memang gak tau diri, aku memang selalu ceroboh, aku memang seharusnya dimarahi bahkan dipukulpun aku sangat pantas!" ucap Dara yang juga menyadari kesalahannya, mendengar pengakuannya itu Irvan pun langsung kembali memeluknya lebih lembut karena iba.


"Wajar aja sayang, kakakpun pernah merasakan hal yang sama. Siapa yang akan rela jika kehilangan orang yang dicintai terlebih orang itu selalu mengulurkan tangannya saat kita butuhkan!


Tapi, bukan berarti kita harus terus terusan larut dalam kesedihan apalagi sampai menyiksa diri, almarhum kakek Sultan juga jadi nggak tenang dan malah akan ikut bersedih kalau melihat cucu tersayangnya seperti sekarang ini!" ucap Irvan berusaha menyemangatinya


"Kamu sayang kan sama kakek?" sambil memegang kedua pipi Dara yang sudah merah dan basah, dengan mata polosnya Dara pun mengangguk.


"Kalau kamu memang sayang sama kakek, mulai sekarang jangan biarin kakek jadi sedih karna tangisan mu lagi ya?" bibir Dara tersenyum lalu tangan Irvan mengapus airmata dipipinya. "Oiyaa tadi kan katanya mau kekamar mandi, kakak antar ya!" sambil menadah berniat menuntunya.


Dan baru saja dua langkah berjalan dari kasurnya, lutut Dara mendadak lemas.


GREP!!


Irvan yang memang tau kondisi Dara pun dengan sigap menahan tubuh mungil itu.


"Tuh! masih lemas begini mau jalan sendiri?!" tegur Irvan menyindirnya namun Dara hanya diam karena malu.


"Maafin kakak ya dek belum bisa maksimal mendonor darah buat kamu!" ucap Irvan merasa bersalah kemudian langsung menggedongnya menuju kekamar mandi.


"Harusnya aku yang minta maaf karena sudah jadi beban buat kakak!" sahut Dara dalam gendongan Irvan.


"Nggak pernah!" balas Irvan. "Dah, kamu hati hati jangan sampe kepleset ya, kakak tunggu didepan pintu, entar kalau sudah selesai panggil aja!" pesannya lalu menutup pintu tanpa menguncinya.


Saat berdiri didepan pintu Irvanpun tiba tiba meringis sambil memegangi kepalanya yang masih sakit karna benturan keras saat kecelakaan ditambah lagi dia terpaksa harus mendonorkan darahnya untuk Dara yang saat itu jadi kambuh karena syok atas meninggal kakeknya yang mendadak.


Yaa mungkin banyak yang bertanya tanya kenapa kakek Sultan yang pada saat terjadinya kecelakaan hanya mengalami memar dan syok bisa tiba tiba meninggal dunia secara mendadak.


Sebenarnya alm. kakek Sultan itu memang sudah lama mengidap penyakit jantung kronis yang sewaktu waktu bisa menyerangnya kapan saja yang dampaknya bisa mengakibatkan dia stroke, koma bahkan langsung meninggal dunia seperti kemarin.


Karena sadar akan penyakitnya itu, makanya alm.kakek sudah jauh jauh hari menyiapkan segalanya termasuk surat warisan untuk semua keturunannya termasuk Dara dan Doni yang salah satunya adalah rumah mewah yang sedang ditempatinya diJerman itu.


"ii,iya, nanti panggil aja ya kalau sudah selesai!" sahut Irvan dari balik pintu.


Setelah sepuluh menit kemudian, Dara yang sudah selesai mandi dan ganti baju pun beberapa kali Memanggil Irvan namun tidak ada sahutan darinya.


"Kak Irvan kemana ya, kok gak datang datang? bahkan sahutannya pun nggak ada! apa jangan jangan dia lagi kembali kekamarnya?" gumam Dara sambil mulai berjalan merayap rayap kedinding menuju pintu.


JGLEK JGLEK!


"Loh kok pintunya terkunci?"


TOK TOK TOK!


"Kak... kak Irvan?"


TOK TOK TOK!


JGLEK JGLEK!


"Kak....." CTEK! (seperti suara kunci pintu kamar mandi terbuka)


BLAM! (Tiba tiba ada suara pintu depan tertutup, namun suaranya tidak begitu jelas hingga Dara tidak menyadarinya)


JGLEK! KRIEEEET....


Saat Dara menekan kembali handlenya, tiba tiba saja pintu kamar mandi yang tadinya terkunci sudah bisa dibuka, kemudian ia pun segera keluar dengan berjalan pelan masih berpegangan kedinding.


Saat sedang menuju kekasurnya, Dara melihat Irvan sedang berbaring disofa.


"Ooh sekalinya kakak lagi tidur, pantesan aja dipanggil panggil nggak nyahut!. Kasihan, pasti dia udah kecapean banget karna selama dua hari ini selalu nemenin aku kalau pas lagi gak ada kak Sofia dan Arga kayak sekarang ini, kalau gitu biarin aja dulu dia istirahat!" gumam Dara dalam hati. Namun terlintas sedikit pertanyaan :

__ADS_1


"Kalau kakak lagi tidur terus siapa dong yang udah bukain pintu kamar mandinya barusan?" tanya sendiri kebingungan,


"Hmm apa mungkin tadi pintunya macetnya?!"


Dengan berjalan pelan karena masih lemas sempoyongan, akhirnya Dara sampai juga ditepi kasurnya. Dilihatnya sarapan dan obatnya masih utuh, diapun segera memakannya walaupun lagi tidak selera, "Demi cepat sembuh dan tidak menyusahkan orang lagi!" pikirnya.


"Uuugh!!..."


Tidak lama kemudian Irvan terdengar merintih kesakitan


"Kak Irvan, kakak kenapa?" tegur Dara saat melihat Irvan bangun dengan wajah terlihat kebingungan sambil memijit mijit belakang lehernya


"Aagh!.. Loh dek, kamu sudah selesai mandi? kenapa gak panggil kakak?" tanya balik Irvan sambil meringis


"Tadi aku sudah manggil manggil kak, tapi kakak gak nyahut, kirain kakak lagi balik kekamar sebelah, jadinya pelan pelan jalan sendiri, terus sekalinya aku lihat kakak sudah tidur disitu!" kata Dara memberi taunya


Sambil terus memijit belakang lehernya, Irvan sesekali memejamkan mata seperti sedang berusaha mengingat ingat.


"Tadi pas baru mau kesofa ini kayaknya ada yang mukul aku dari belakang nih!" gumamnya baru mulai mengingat kejadian.


"Dara! Apa kamu baik baik aja dek?" tiba tiba langsung menatap tajam memperhatikan Dara


"Mmm iya, aku baik baik aja!" jawab Dara santai dan langsung menghentikan makannya, namun seketika itu Dara juga langsung teringat kejadian dikamar mandi tadi yang masih terasa ganjal dipikirannya.


"Cuma, tadi tuh aku agak sedikit bingung sih, pas tadi aku mau keluar dari kamar mandi pintunya sempat terkunci, Sambil manggil manggil kakak aku berkali kali nekan handlenya tapi gak mau terbuka, tapi pas gak lama tau tau bisa terbuka sendiri, tapi pas aku keluar gak ada siapa siapa kok! cuma kakak aja yang lagi tidur disitu!" cerita Dara


"Terkunci? pintu kamar mandinya gak ada kakak kunci, soalnya memang kakak sendiri yang niat mau menjaganya dari luar!" kata Irvan berekspresi cemas lalu menghampiri Dara


"Tadinya aku pikir mungkin pintunya memang cuma sedikit rusak aja!" sahut Dara berusaha berpikir positif sambil memperhatikan Irvan yang lagi celingukan mengamati sekeliling kamar


'Nggak, tadi itu aku beneran yakin kalau memang ada orang yang memukulku, karena aku ingat betul kalau aku belum sempat duduk disofa itu!' gumam Irvan dalam hati mencoba berpikir keras diotaknya yang masih pusing.


"Emm.. dek udah udah selesai sarapannya?" tanya Irvan tanpa melihat ke Dara


"Sudah, ini tinggal minum obatnya aja! kalau kakak sendiri sarapannya udah dimakan?" tanya Dara sambil mulai meminum obat obatnya diatas meja.


"Sudah sebelum kesini tadi kakak sarapan dulu!" jawab Irvan yang masih kebingungan


GLUG, GLUG, GLUG..


"Sudah, yuuk!" ajak Dara yang sudah terlihat agak segar setelah selesai mandi dan sarapan.


Sambil menahan sakit dileher dan pusing dikepalanya, Irvan segera merangkul bahu Dara dan menuntunnya keruang Lab untuk melanjutkan pemeriksaan darah yang masih berlanjut.


Saat menjalankan pengecekan, awalnya semua berjalan dengan lancar tanpa ada masalah sedikitpun, namun baru sekitar dua puluh menit kemudian tiba tiba tubuh Dara terlihat mulai kejang, tangannya dengan kuat merenggut pakaian bagian dadanya.


"AAAGH!..NAPASKU SESAK!" katanya sambil meringis.


"DOKTER!! DARA KENAPA DOK?!!" teriak Irvan yang sedang duduk disampingnya.


Sekujur tubuh hingga bibir Dara mulai membiru dan menggigil kuat. Melihat keadaan Dara yang mendadak seperti itu, sontak mengejutkan para dokter spesialis beserta para perawatnya yang berada diruangan tersebut yang kemudian dengan cepat mereka berlari membawa Dara keruang penanganan dan langsung menutup pintunya rapat rapat.


Irvan yang tadi ikut berlari mengiringinya pun jadi terheran heran didepan pintu, kejadian yang begitu cepat dihadapannya membuat dia yang masih pusing jadi terperanga kebingungan.


"Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Kenapa? apa yang terjadi?" gumamnya bertanya tanya dalam hati karena otaknya tidak bisa berpikir banyak.


Sorenya setelah pulang kuliah Arga langsung datang kerumah sakit tanpa pulang kerumahnya terlebih dulu.


Irvan yang masih kebingungan sendiri dengan semua kejadian tadi pagipun mulai menceritakan dengan detail dari awal pas Dara mandi sampai kejadian tiba tiba dia meronta kesakitan dibagian dadanya.


Arga yang dulu memang pernah melihat keadaan Dara seperti itupun langsung curiga dan tertuju kesatu pikiran, kemudian saat itu juga ia tergesa gesa mengajak Irvan menemui kepala rumah sakit untuk membicarakan masalah beberapa bulan lalu yang sebelumnya juga belum terpecahkan, yaitu masalah obat dalam wadah yang sama namun isinya malah obat dengan efek yang sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2