
Kudengar ada suara langkah berlari mendekat lalu saat aku menolehnya kebelakang, ternyata Arga masih mengejar kami lagi.
Dan kali ini dia malah sudah menyalip dari disamping langsung menghadangku, tangan Kiki yang sedang menarik tanganku pun jadi terlepas
"Mau apa lagi kamu Arga, minggir!!" Kataku sambil terus berusaha menghindarinya, tetapi dia masih terus menghalangi dengan badannya, namun kali ini ekspresi wajahnya berubah seperti orang yang sedang merasa bersalah.
"Ngga Dara, aku nggak akan kasih kamu pergi sebelum kamu dengerin penjelasan dari aku, aku sama Amira itu cuma ..."
Belum sempat Arga menjelaskan aku langsung menutupi kedua telinga ku dengan tangan, karena aku tidak mau lagi membayangkan yang mereka lakukan tadi.
"Sudah CUKUUP!! aku nggak mau dengar apapun lagi dari kamu, apa yang aku lihat dan dengar sudah cukup membuktikan semuanya. Sekarang kamu minggir aku mau pulang!!" kataku berusaha menyerobot jalan
"Ada Apa Kalian Ribut-Ribut Disini?!!" tiba-tiba Pak Darma guru BP kami muncul dari ruangannya bersama Amira yang mengikutinya dari belakang sambil senyum-senyum kearah kami bertiga.
"Ngga ada apa-apa Pak kami....."
Arga pun berupaya mencari alasan tetapi guru Bp kami ini sangat tegas dan disiplin sikapnya.
"Kalian bertiga, ikut kekantor sekarang!" perintahnya, namun aku yang merasa tidak membuat masalah duluan tentunya tidak terima kalau harus ikut juga ke kantor sekolah.
"Tapi pak, saya sama Kiki nggak ......."
"Nggak ada tapi-tapian! pokoknya nanti kalian jelaskan sama - sama dikantor, ayoo cepat!" perintahnya yang langsung memotong penjelasan ku.
Kemudian dia memutar balik badannya kearah kantor sekolah.
Akupun langsung menoleh kearah Kiki yang kemudian dia pun mengangguk mengisyaratkan agar mengikuti saja dulu perintahnya.
Segera kami pun berjalan mengikuti pak Darma dari belakang dan melewati Amira yang masih berdiri memperhatikan Arga,
"Ayoo Ga!" panggilnya, lalu Arga yang sempat terdiampun akhirnya juga mengikuti dibelakang kami dengan kepalanya menunduk kebawah.
Sesampainya Diruang kantor guru aku dan Kiki langsung dipersilahkan untuk duduk disofa, disertai Arga yang duduk tepat berhadapan dengan kami.
Amira juga dengan cepat langsung menyerobot duduk disampingnya Arga, dia masih memasang senyuman yang entah apa maksudnya kearah aku dan Kiki.
"Amira, berdiri dulu kamu!" kata pak Darma yang sedang berdiri didepan rak buku.
segera Amira berdiri dan mulai menghindar dari sofa, namun matanya tidak berkedip menatap Arga dengan serius.
Ditangannya, pak Darma memegang sebuah buku besar seperti buku memo lalu ia membolak balikan setiap lembaran kertasnya seperti sedang mencari suatu didalamnya.
Sambil terus membaca buku itu, ia pun mulai melangkah menghampirinya sofa yang ditempati Amira barusan, sesekali matanya melirik kearah kami bertiga.
"Kalau gitu aku keluar dulu ya?!" pamit Amira yang dari tadi terus memperhatikan Arga, dia pelan - pelan melangkah menuju kepintu keluar dengan wajah sedikit murung.
"Mira tunggu dulu!" panggil pak Darma
"Iya pak ada apa?" sahutnya sambil menghampiri pak Darma dengan semangat
"Itu,, tolong ambilkan empat gelas air mineral dibawah meja itu.. Jangan lupa sama sedotannya juga ya!" Perintah pak Darma tanpa menoleh ke Amira
"Lhoo kok saya sih Pak?" Amira dengan nada manja membantah.
"Yaa siapa lagi yang nganggur?!" jawab pak Darma santai
Lalu Amira pun segera menurut sambil memasang wajah cemberut menuju kearah meja yang ditunjuk Pak Darma, lalu pak Darma yang melihat sikap Amira pun menggelengkan kepala sambil mulai menulis sesuatu diatas buku yang dipegangnya itu.
"Yaa terima kasih, kamu boleh keluar" kata pak Darma saat Amira menyiapkan air gelasan dihadapan kami.
Amira dengan wajah kecewa langsung saja mengambil satu gelas air mineral yang baru saja dia bawa, dan dengan kesal langsung meminumnya sambil melangkah menuju keluar kantor.
(BLAAAM!!) suara pintu ditutup dengan kasar.
Pak Darma pun hanya menghela nafas menghadapi keponakannya yang manjanya bukan main itu, tetapi beliau pun tidak bisa berbuat banyak apalagi sampai kasar terhadap keponakannya itu karena Amira adalah putri kesayangan dari anak ketua Yayasan disekolah kami.
Setelah Amira keluar dari ruangan, pak Darma pun segera membuka percakapan
"Ada masalah apa kalian sampai ribut-ribut didepan sekolahan? Apa kalian nggak punya rasa malu ribut sampai dilihat banyak orang yang lewat?!" tanyanya sambil menutup buku yang barusan dibacanya
"Bukan kami berdua yang memulainya Pak, tapi Arga yang tiba-tiba menghampiri kami dan memulai keributan duluan!" kata ku karena masih kesal dengan Arga
"Iya Pak, tadi saya juga sudah mengingat kan juga tetapi Arga malah membentak - bentak saya! Niiih Coba bapak lihat tangannya Dara..! sampe kayak gini gara-gara Arga menariknya tadi..!!" Ucap Kiki menambahkan
Lalu ia pun memperlihatkan lenganku yang sudah nampak mulai membengkak akibat genggaman Arga yang mengkilir kuat tadi.
"Waduuh!" Pak Darma pun terkejut setelah melihat lengan ku, dengan segera ia langsung berdiri dan berjalan kearah kotak obat lalu mencari sesuatu.
"Yaa ampun Arga, apa yang sudah kamu lakukan? kamu mau patahkan tangan anak orang?" tanyanya sambil masih mencari-cari.
__ADS_1
Arga yang dari tadi terdiam dan masih menunduk lalu menutupi wajah dengan telapak tangannya, aku tidak ada rasa iba sedikitpun melihat sikapnya yang tiba - tiba menjadi pendiam setelah diluar tadi sudah bikin ribut yang ada malah jadi risih dan ilfil.
"Arga kenapa diam, jawab?! bukannya suaramu tadi paling nyaring didepan sekolah?" Lanjut pak Darma bertanya
Lalu beliau menghampiriku sambil menggenggam sebuah botol kecil ditangannya, kemudian menadahkan tangannya meminta tanganku yang sakit
"Sini Dara tangannya yang sakit" katanya
Aku yang parno duluan takut kalau pak Darma akan mengurut tanganku, dengan segera akupun menggelengkan kepala karena sudah membayangkan duluan rasa sakitnya
"Aduuuh pak nggak usah, saya nggak tahan kalau diurut, saya nggak mau..!" tolakku panik
"Nggak diurut, ini bapak cuma mau olesi sama minyak tawon aja kok" jelasnya
"Oooh...." aku pun lega dan mengulurkan tanganku yang sakit perlahan - lahan dengan perasaan nyeri duluan sebelum disentuhnya
"Aduuuh pak, pelan - pelan!" kataku sambil meringis
"iya, saya sudah pelan - pelan ini..." jawabnya
iya aku pun tahu pak Darma sudah sangat hati - hati memegangnya, namun rasanya memang sangat sakit.
Arga yang dari tadi masih terdiam sambil menutupi wajahnya pun, tiba-tiba mulai berbicara dengan suara yang agak terbata-bata.
"Ng... Daraa.... aku nggak begitu...!" Katanya yang tiba - tiba dan membingungkan
Aku dan Kikipun menoleh kearahnya, tiba - tiba melihat ada tetesan air yang jatuh diatas celana hitam ke abu-abunya itu, Sontak Dalam hati aku bertanya-tanya
"Apa? masa Arga menangis?! aaah, tapi mana mungkin dia menangis, palingan itu cuma tetesan keringetnya," pikirku berusaha cuek terhadapnya
"Tetapi mana mungkin itu keringet, diruang ini sangat dingin karena ber AC!!" kata dalam hati membantah sendiri
"eheeem.!" pak Darma yang masih mengobati tanganku tiba - tiba berdehem membuat
aku jadi terkejut dari lamunanku, lalu beliau terlihat senyum - senyum sendiri.
"Ada apa?.... ayoo tadi kan Kiki yang menjelaskan, sekarang tinggal kalian Dara dan Arga yang belum memberi pejelasan, kalian berdua ada masalah apa sebenarnya?!" tanyanya sambil mulai melepas tanganku yang sudah selesai diobatinya
"Coba kalian jelaskan awal permasalahannya seperti apa, kok bisa sampai ribut begini?
untungnya saja sekolah sudah agak sepi, dan kepala sekolah juga sudah pulang, kalau tidak pastinya orangtua kalian saat ini juga sudah dipanggil kesini.." lanjutnya mendesak, membuat aku jadi merasa bingung harus mulai cerita darimana.
Aku sempat berfikir apakah sebaiknya menceritakan permasalahan sebenarnya?
Tetapi, aku ragu untuk menceritakan ini kepada pak Darma yang kebetulan beliau juga pamannya dari Amira itu sendiri, dan mungkin bagi orang lain ini adalah hal sepele yang seharusnya tidak perlu ada ributkan.
Perasaanku yang lagi nggak karuan seperti ini ditambah lagi pergelangan tanganku yang juga sangat sakit, membuat aku benar-benar nggak bisa berpikir apapun dengan tepat.
"Semua ini salah saya pak!.." Ucap Arga tiba - tiba, seketika saja membuat aku dan Kiki menjadi keheranan karena sangat berbeda dengan Arga yang tadi di luar.
Disaat aku masih berpikir mencari alasan, Arga justru sudah buka suara duluan, bahkan ia mau mengakui kesalahan nya.
'Ini... ini seperti Arga yang aku kenal sebelumnya! apa tadi dia benar - benar kesurupan??' pikiran ku mulai aneh - aneh.
Tak lama kemudian Argapun mulai mengangkat kepalanya perlahan, dengan wajah yang memerah dikulit putihnya jadi sangat nampak terlihat jelas kalau dia barusan memang sedang menangis, ditambah matanya yang juga masih basah.
Pak Darma yang tadinya duduk didekat ku, langsung berpindah kesamping Arga.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat dia menangis.
Aku dan Kiki jadi saling menatap keheranan,
Lalu Arga melanjutkan bicaranya :
"Tadi saya sedang emosi Pak, ada sesuatu masalah pribadi, jadi saya nggak bisa kontrol emosi saya itu.." Jelasnya
"Bapak tahu kalau kamu dan Dara ada hubungan, tetapi apa tidak bisa kalian membahasnya secara baik - baik?" Kata pak Darma menasehati.
"Iya pak ma'af, saya mengaku salah! " jawab Arga dengan sopan.
"Bukannya apa, ini kan masih dilingkungan sekolah dan kalian masih menggunakan seragam, apa nanti kata orang melihat dan menanggapi sekolah kita ini?" mendengar kata-kata pak Darma Arga pun mengangguk, dan tak lama kemudian ...
ZzzzzzRTT!!! ZzzzzRTT!!!
Getar hp Arga dari kantong celananya membuat dia langsung terlihat panik.
"Pak, mohon izin sebentar mama telepon.." Pak Darma mengangguk
Arga pun langsung berlari menuju pintu keluar sambil mengangkat telponnya
"iya mah... aku....." (BLAM) suara pintu tertutup.
__ADS_1
Dan akupun baru ingat kalau dia tadi ada bilang mau mengantar mamanya keTenggarong. Mamanya memang jarang ada diKalimantan karena ada adik perempuannya Arga tinggal dan bersekolah di Jakarta.
Tiba-tiba suasana diruangan ini begitu sepi dan canggung, Pak Darma langsung menawari aku dan Kiki minum.
"Yaah jangan mudah emosi kalau masih muda, sesuatunya tetap dipikirin dulu. Saya juga dulu waktu pacaran sering salah paham!
kadang saya cuma menegur teman cewek saja sudah dicemburui sama pacar saya, sampe - sampe pacar saya ngajakin putus dan kejadian seperti itu bisa terjadi sebulan sekali..!!" Ceritanya sambil senyum-senyum sendiri, membuat aku dan Kiki jadi penasaran dengan cerita selanjutnya.
"Naaah terus pak?!" tanya kami kompak
"Iya, akhirnya kami putus beneran deh, pacaran dari mulai kelas tiga SMP sampai setelah lulus kuliah...!!" lanjutnya.
Mendengar itu aku dan Kiki pun merasa prihatin, apalagi aku yang baru saja sedang mengalami patah hati jadi langsung ikut merasakan betapa kecewanya setelah lama berpacaran malah berakhir perpisahan.
Begitu melihat ekspresi wajah kecewaku dan Kiki pak Darma malah terlihat senang,
"Lhoo kenapa kalian? kok murung dengerin cerita saya?" tanyanya heran.
"Yaiya lah pak, gimana nggak kecewa kalau sudah bertahun-tahun pacaran akhirnya malah berpisah!" jawabku sambil mengambil air gelasan dan meminumnya.
"Aduuh - aduuh, Polosnya kalian ini, Saya kan nggak ada bilang kalau saya dan pacar saya berpisah!" ucapannya sambil membentangkan kedua tangan.
"kami putus dari berpacaran lalu menikah, heheheeee!" lanjutnya sabil tertawa geli
Setelah mendengar endingnya, aku dan Kiki ikut senyum dan tertawa kecil karena merasa dikerjai.
"Aduuuh Bapak ini bisa aja deh! bikin kami jadi baperan! hehehe" kata Kiki yang dari tadi terlihat tegang.
"Iya pak Darma ini bisa aja bikin ketawa, orang lagi serius dengerin ceritanya" sambungku
Suasana ruang yang awalnya dingin pun menjadi hangat, membuat aku melupakan sejenak rasa sakit hati dan sakit ditangan ku.
CEKLEEK! KREEEET!!!
(Suara pintu terbuka perlahan)
Ternyata Arga yang baru saja selesai ditelpon mamanya langsung kembali masuk keruangan dan dengan tergesa - gesa berjalan menuju sofa yang ia duduki tadi.
"Pak Darma, saya minta maaf karena harus segera pulang" katanya
"Memang ada masalah penting apa tiba-tiba mama mu menyuruh kamu pulang cepat - cepat?!" tanya pak Darma seperti ingin tahu
terbesit dalam pikiranku, entah mengapa aku merasa Pertanyaan Pak Darma membuat aku sedikit heran, karena terlalu ingin tahu urusan keluarga Arga.
"Naaah terus bagaimana dengan penyelesaian masalah kalian ini?" tanya pak Darma lagi yang menjawab rasa heranku barusan.
Mungkin pak Darma curiga kalau Arga hanya sedang menghindari pembahasan masalah ini, pikirku lagi
"Sebenarnya saya memang sudah ada janji dengan mama pak, dan untuk masalah ini saya....." ucapan Arga terputus seperti berpikir sesuatu,
"Bagaimana kalau hari senin besok saya kembali menghadap bapak setelah pulang sekolah..!" lanjutnya.
Awalnya aku berpikir kalau Arga mungkin akan benar - benar menghindari masalah ini, karena takut akan terbongkar apa yang sudah dia lakukan dengan Amiraa.
'Tapi, ini kok dia malah sengaja membuat janji dengan pak Darma?!' tanyaku sendiri dalam hati
'Apa mungkin Jangan - jangan dia... dia justru mau mengakui semua perbuatannya didepan pak Darma? dan menyatakan kalau dia memang suka sama Amira? Jadi, dia akan lebih memilih Amira daripada aku?!!' prasangka burukku pun mulai bermunculan didalam hati
"Yaa sudah kalau begitu, saya tunggu kalian hari senin setelah jam pelajaran berakhir,," kata pak Darma, lalu beliau berdiri dari duduknya.
"Iya pak terimakasih" jawab Arga yang langsung berdiri juga sambil menjulurkan tangannya kearah pak Darma lalu menyalaminya
Aku dan Kiki pun juga segera berdiri dan menadahkan tangan kami ke pak Darma serta menyalaminya, lalu sambil mengantar kami kepintu luar kedua tangan pak Darma menepuk-nepuk bahu Arga dan yang satunya menepuk bahuku.
"kalian kan sudah beranjak dewasa, kalau ada masalah selesai kan baik-baik yaa.." pesannya
"iya pak" sahut Arga, namun dengan sikap keras kepalaku aku hanya mengangguk enggan menjawab, karena merasa bukan aku yang telah membuat keonaran duluan.
Aku dan Kilki berjalan bergandengan menuju gerbang sekolah tanpa menoleh belakang, tidak ada lagi terdengar suara langkah kaki dibelakangku, yang menandakan Arga sudah tidak lagi mengikuti kami seperti tadi.
Setibanya diluar gerbang aku dan Kiki segera mendatangi pangkalan ojek yang berada disamping gerbang sekolahan.
"Looh, hari ini kamu nggak bawa motor Ki?" tanyaku
"Nggak, soalnya lagi diservice! tapi sebentar aku telpon kemamah minta dijemput!" jawabnya, lalu akupun menoleh ketukang ojeg yang sedang manggkal.
Bisa dihitung semenjak berpacaran dengan Arga, aku hanya beberapa kali naik ojek dari sekolah, karena Arga selalu mengantarku pulang setelah dia selesai latihan band atau basketnya.
Hmmm.. tapi mungkin mulai sekarang semua itu akan berlalu, karena mulai hari ini dan seterusnya aku tidak akan pernah diantar dia lagi.
Sebenarnya aku masih sayang, tapi dia malah sudah melakukan sesuatu yang bahkan bersamaku pun belum pernah.... Uuugh! sakitnya hatiku.
__ADS_1
"Kii kayanya aku mau langsung pulang kerumah, hari ini nggak mampir kerumahmu, nggak apa-apa kan?!" tanyaku
"Malah seharusnya aku yang nanya sama kamu Dara, apa kamu baik-baik aja sendirian?" tanya Kiki khawatir yang tentunya dia sangat tahu kondisi dirumah ku sering sepi