
Mata Irvan tertuju pada wajah gadis disampingnya itu, dan tiba tiba terngiang apa yang dikatakan Betrand tadi siang bahwa :
'apa yang yang kamu putuskan untuk Dara belum tentu terbaik baginya!'
lalu Irvanpun jadi menyadari bahwa yang dikatakan Betrand tadi memang ada benarnya, sebab dari dulu sudah banyak hal yang terjadi pada Dara yang justru disebabkan darinya yang ujung ujungnya selalu membuat dia menyesal!
"Dek kamu kok bisa mikir begitu sih, sekarang mana mungkin mas bisa marah sama kamu? mas gak mau ngulang kesalahan yang sama seperti dulu! misalnya aja kayak minggu lalu, gara gara mas sibuk gak sempat perhatiin istirahatmu beberapa hari aja sudah bikin kamu ngeDrop pas selesai ujian, ditambah lagi pas tadi sore mas sudah nyuruh kamu buru buru nyusul tepat waktu ternyata malah bikin kamu hampir celaka sama Betrand! kamu kira semua kejadian itu nggak jadi kepikiran mas sampe sekarang apa?!"
"Yaa terus kenapa tadi nggak nyahut pas aku panggil? biasanya kan mas begitu, kalau lagi marah pasti diemin aku sampe berhari hari!!" kata Dara mengungkit masa lalu
"Yaa ampun dek, tadi itu pas mas mau mandi tiba tiba keran airnya rusak jadi sebelum mandi maz baikin dulu, jadinya baru selesai sekarang deh mandinya, nih kalau gak percaya liat aja rambut mas masih basah kan?!" jelas Irvan sambil menunjukan rambutnya, lalu Dara tersenyum karena dugaannya tadi ternyata salah
"Terus air sama es batu dimangkok ini buat apaan dek? coba dikasih buah sama sirup sekalian kan lebih enak!" tanya Irvan menggodanya
"iih mas Irvan! inikan buat ngompres memarnya mas yang tadi!" jawab Dara sambil memperhatikan lebam dipipi Irvan
"Oowh, kirain buat diminum?! tapi kalau diminum juga pasti rasanya sudah jadi asin gara gara kecampur airmata adek barusan, Hehehe!" ucap Irvan yang masih saja menggodanya membuat Dara jadi tersipu malu
Dengan segera Irvanpun mengambilkan saputangan dari dalam lemari untuk mengompres wajahnya, Dara yang menyesali kejadian tadi dengan cepat mengambil alih kompresan itu kemudian dengan sangat hati hati mengobati Irvan yang matanya hampir tak berkedip menatap gadisnya dengan penuh kehangatan dan sampai Dara menyadarinya,
"Mas kenapa ngeliatin aku terus, sakit ya?ngomong aja kalau aku kekencengan nekennya!" tanya Dara takut takut
"Nggak sakit kok dek, kalau sakit mas pasti udah teriak teriak dari tadi! lagiankan adek yang ngobatin, jadi nggak ada rasa sakitnya sama sekali, justru mas jadi senang!" kata Irvan merayu sambil menyeka rambut depan Dara
"Kok sakit malah senang sih, mas ini aneh aneh aja deh?!" sahut Dara yang kurang peka sontak Irvanpun menarik napas panjang menanggapinya.
"Oiya, tadi kok mas ada bilang kalau aku mau pindah kuliah keluar kota? kan bohong kayak gitu nantinya cepet ketahuan kalau ada yang ngeliat aku masih disini?!" tanya Dara
"Mas nggak bohong kok, kamu memang mas mau daftarin kuliah diluar kota!" Jawab Irvan serius
"Hah masa sih, kemana mas? aduuh jangankan kuliah diluar kota, jalan jalan didalam kota aja aku nggak pernah sendirian!" sahut Dara cemas
"Memang siapa yang bilang kamu bakal sendirian hah?" telunjuknya mecolek hidung Dara
"Terus jadinya sama siapa dan kekota mana?" tanya Dara semakin penasaran, lalu Irvan menggenggam tangan Dara yang sedang memegangi kompresan.
"Sama mas dek, kita akan sama sama lanjutin kuliah diBandung!" jawab Irvan sambil menatap kedua mata Dara
"Apa, keBandung? mas serius aku bakal keluar Pulau?"
"Iya!" Jawab Irvan meyakinkan
"Tapi mas e......"
"Udah, pokoknya kamu tinggal berangkat, nanti semuanya mas yang atur!"
"Bukan itu maksudku memangnya mama papa sudah setuju aku pindah?" tanya Dara bingung
"Iya Setuju, tadi kami bahas ini pas diperjalanan mau ke mall, awalnya mas cuma ngasih usul eh nggak taunya mama juga berpikiran sama! katanya daripada pergaulanmu disini kurang ada yang perhatiin mending bareng sama mas aja kuliahnya dan malahan tadi papa juga bilang kalau bisa sekalian aja bawa kamu l magang dikantornya mas buat cari pengalaman!"
"Masa mereka bilang begitu sih?
apa mereka nggak mau aku disini lagi?
pasti karena selama ini aku udah banyak ngebebani, hiks!" ucap Dara merengek tidak menyangka keputusan orangtuanya, lalu Irvan menyentil
"Gadis bodoh! kenapa semakin bertambah umurmu kamu malah semakin BODOH?! mana ada orang tua merasa terbebani dengan kehadiran anaknya? terlebih dengan anak gadis satu satunya, justru karena mereka sangat peduli makanya sampai rela mengorbankan perasaan, memangnya kamu kira hati mereka tidak akan sedih kalau jauh dari kamu?!" ucap Irvan gregetan
"Ini sudah malam banget, kamu pulang dan cepat istirahat sana, besok pagi pagi Adhi bakal jemput buat nganterin ngurus surat surat pindah kuliah!" lanjut Irvan sambil mengusap usap rambut Dara
"Terus kompresnya gimana kan belum selesai?" tanya Dara perhatian
__ADS_1
"Sudah nggak sakit, makasih ya dek?" ucap Irvan, kemudian Dara mengangguk sambil tersenyum.
Namun saat Dara beranjak dari duduk dan sudah berjalan sampai pintu dia tiba tiba menghentikan langkahnya,
"Ada apa dek, ada yang ketinggalan?" tanya Irvan bingung, namun Dara tidak menjawabnya sedikitpun dan malah lanngsung berbalik badan kembali menghampiri Irvan dengan langkah cepat. Irvan yang masih duduk ditepi kasurpun jadi tambah bingung Memperhatikan sikap Dara yang tanpa diduga tau tau......
Cup!...
Cup!
Ia mendaratkan dua kecupan lembut sekaligus satu dipipi dan satunya dipinggir bibir tepat dibagian memar, sontak Irvanpun membatu dalam sekejap tanpa gerak, namun karena malu Darapun hanya tersenyum dan langsung berlari pulang kerumah!
Dalam waktu yang bersamaan darah Irvan langsung mengalir deras karena merasakan debaran bahagia yang kuat didadanya, ia langsung merebahkan tubuh kebelakang tepat diatas kasur empuknya yang membuat perasaannya melambung seperti sedang diatas awan dengan dipenuhi bunga bunga bertebaran.
"Dara menciumku? apa aku lagi mimpi Aaaaah..." gumamnya sambil senyum senyum sendiri memegangi pipi
.
.
(Paginya)
"Van Van bangun Van, kamu nggak pergi ngantor?"
"Hm... Dara?" panggil Irvan yang matanya masih menutup
"Dara Dara? kamu manggil emak emak kriput gini Dara, maksudnya apa?" sahut Ibu yang sedang membangunkannya
"Eh ibu? aduh kirain siapa, maaf ya bu aku masih ngantuk jadi kurang jelas denger suaranya!" kata Irvan yang langsung bangkit dari tidurnya
"Memangnya semalaman kamu habis begadang ya? apa jangan jangan kamu abis berantem lagi sama Dara?!" tanya Ibu mulai serius
"Enggak bu kami nggak berantem, memangnya ada apa kok ibu bisa nanya kayak gitu?" tanya Irvan sambil masih mengucek ucek matanya
"Aaah itu.. soalnya dia itu habis.... dia...." Irvan sambil senyum sendiri membayangkan
"Dia habis apa?!" bentak ibu penasaran
"Dididia itu.. dia habis aku suruh pulang cepet cepet! iya begitu doang!" jawab Irvan hampir keceplosan
"Aaah kirain kenapa, cepetan mandi sana terus sarapan, udah hampir jam sembilan nih!" kata ibu sambil beranjak dan keluar kamar
"Waduh, udah jam sembilan? kok ibu baru bangunin aku sih?!" tanya Irvan sambil tergesa gesa menyiapkan pakaian kerjanya
"Ibu juga kesiangan abis nonton sampai subuh!" jawab ibu dari luar
"Haaaaa??" teriak Irvan
Kemudian saat lagi sarapan, Irvan pun menceritakan kejadian sebenarnya pada ibu penyebab luka lebam dipipinya itu yang membuat ibu tambah was was.
.
.
(Dikampus F)
"Amira, kok kamu hari ini kekampus, bukannya lagi mau liburan?" tanya Dara saat Amira mendekatinya
"Kamu sendiri kenapa disini? sekarangkan lagi liburan!" tanya balik Amira dengan ekspresi dingin
"Aku.. aku lagi mau...." Darapun ragu karena nggak enak hati
__ADS_1
"Kamu lagi mau ngurus pindahan kan?!" tanya Amira to the point
"Ah? Amira aku......"
"Dara, aku tanya kamu, memangnya kita sudah berapa lama berteman?" tanya Amira
"Kurang lebih Empat tahunan?" jawab Dara takut salah
"Jadi sudah selama empat tahun kamu masih mau menyembunyikan sesuatu dari aku, masih nggak percaya sama aku?!" kata Amira menekan
"Bu.. bukan Amira, bukan begitu, aku gak berniat menembunyikan, aku akan jelasin semua! aku sebenarnya nggak mau pindah, cuma mas Irvan waktu itu memaksa jadi mau nggak mau aku menurut karena selama ini aku juga udah banyak tergantung sama dia, dan aku.........."
"Dara aku paham kok! sedikit banyaknya aku sudah tau sifat kak Irvan sejak dia masih berteman sama kakakku, jadi kamu nggak usah banyak berpikir untuk mencari alasan buat aku!" Kata Amira sambil tersenyum percaya
"Amira, terima kasih, terima kasih banyak! kamu memang sahabatku juga sama seperti Kiki, terkadang aku berpikir andai aja bisa bersama sama kalian seperti dulu!" ucap Dara sambil memeluk
"Tenang aja Dara, biarpun kita terpisah tempat tetapi kita masih akan terus jadi sahabat, kita masih bisa komunikasi jarak jauh! dan pastinya janji aku sama kamu yang dulu nggak akan pernah aku lupain yang kalau aku sudah tau kabar Arga aku akan secepatnya ngabarin kekamu, oke?!"
"Iya Amira iya!" Dara langsung mengangguk terharu,
"Yaudah sekarang kamu tinggal ngurus apanya lagi yang belum biar aku temenin, tapi abis itu kita makan es ditempat biasa yaa?" ajak Amira
"Ayoo!" Dara pun menanggapi dengan semangat
Setelah selesai mengusus surat pindahan merekapun melanjutkan rencana makan es didepan kampus, namun tak lama kemudian saat mereka sedang asik bercerita tiba tiba Betrand muncul dari belakang dan langsung ikut nimbrung duduk dihadapan mereka berdua yang membuat suasana dalam sekejap jadi canggung satu sama lainnya.
"Tadi aku liat kalian lagi asik banget ceritaannya tapi kok sekarang langsung pada diem, kenapa, apa aku gak boleh gabung?" tanya Betrand menyinggung
"Eh bukan begitu kak, aku... aku cuma masih nggak enak sama kakak gara gara kejadian kemarin sama mas Irvan, jadi aku bingung gimana mau ngomong minta maafnya so....."
"Sudahlah Dara, aku nggak pernah mempermasalahkan itu sama kamu karena kejadian itu memang urusan laki laki, tapi aku sadar diri kok apa pun yang akan aku lakukan nggak akan bisa merubah keputusan kakakmu kecuali kamu sendiri yang memang mau merubahnya!" ucap Betrand lalu ia langsung berdiri lagi
"Aku nggak mau ganggu suasana kalian disini, tapi aku minta satu hal sama kamu Dara, kalau memang kamu jadi pindah aku mohon temui aku jam tiga sore untuk terakhir kalinya sebentar aja dikampus ini, tepatnya minggu depan didepan kantor pendaftaran yang mana itu adalah tempat pertama kali kita bertemu disini, oke?!" Lalu dia pergi tanpa menunggu jawaban Dara iya atau tidak, dan seketika itu Dara dan Amirapun jadi saling menatap
.
.
(Seminggu kemudian, dikamar Dara)
"Sudah jam satu, aku pergi apa nggak ya?" Gumam Dara bimbang, lalu dia mengingat ingat kembali pesan Irvan padanya saat hari itu yang mengatakan:
"Ini bukan masalah apa dek, dan mas minta lain kali kamu jangan pernah jalan sama dia lagi ya?!"
Diwaktu yang sama dia juga mengingat saran Amira saat mereka lagi minum es dikampus:
"Dara, tadikan kak Betrand bilang kalau ini untuk yang terakhir kalinya dan sebentar aja, jadi apa salahnya kamu cuma nemuin dia sebentar? anggap aja ini sebagai salam perpisahan karena pastinya kamu bakal lama baru kembali, iyakan? tolonglah Dara kasih dia bahagia walau cuma sebentar aja!" saran Amira memohon
"Tapi Amira? bukannya kamu suka sama kak Betrand, kok sekarang malah nyuruh aku nemuin dia sih? emangnya kamu nggak ngerasa cemburu?" tanya Dara heran
"Nggak Dara, mana mungkin aku bisa cemburu sama kamu karena aku sangat tau dihatimu cuma ada Arga! aku memang sangat suka sama kak Betrand jadinya aku mau liat dia bahagia dan lagi sebenarnya aku juga kasihan sama dia!" ajawqb Amira memelas
"Kasian, kasian kenapa? dia kan punya segala galanya!" tanya Dara bingung
"Ini bukan masalah Ekonominya, tapi masalah perasaannya. Dara, dia itu sebenarnya sudah suka sama kamu sejak masih SMP!" Jawab Amira
"APA, SMP? itu nggak mungkin Amira, kamu dengar dari siapa? soalnya aku baru mengenal dia semenjak masuk kuliah disini!" ucap Dara tidak percaya
"Memangnya kamu lupa ya kalau dia pernah bilang dulu sering liat kamu diajak meeting sama papamu? dia cerita sama aku pertama kali liat kamu Dihotel papanya yang diBalikpapan dan mulai saat itu dia langsung suka!" jelas Amira menceritakan
"Itukan udah lama banget pas aku baru masuk SMP, Amira aku benar benar nggak tau itu! tapi setelah sekarang taupun hatiku hanya merasa simpati sama dia, aku sama sekali tidak bergetar mendengarnya, mungkin terdengar tega tapi rasa untuk Arga memang sudah penuh dihatiku!" Kata Dara
__ADS_1
"Iya Dara aku ngerti, aku ceritakan inipun bukan berniat supaya kamu perasaanmu goyah terhadap Arga, hanya saja tolong kamu pandang sebentar aja perasaan seseorang yang sudah begitu lama dipendam terhadapmu. Jujur aja Dara aku sangat iri sama kamu karena disekelilingmu banyak cinta yang tulus yang aku sendiri belum pernah mendapatkannya walau cuma satu!" Ucap Amira membandingkan diri