
"Astaga Dara! cerobohnya kok gak ketulungan begini sih, bisa bisanya keluar kamar mandi gak ditutup dulu kerannya!" Dumel Irvan saat melihat keran air terbuka namun tidak ada siapapun didalam kamar mandi tersebut, kemudian iapun berlari kecil menaiki anak tangga menuju kekamar Dara yang sekalinya dia dapati gadis itu sudah membungkus diri dengan selimut diseluruh tubuhnya.
"Dek bangun dek, bukannya makan atau minum susu dulu malah langsung tidur lagi sih? Ayoo turun temenin mas makan!" sembari menggoyang goyangkan tubuh Dara namun tidak ada respon.
'Hmm kayaknya harus pake tindakan nih!' pikir Irvan yang mulai muncul ide jahilnya.
Perlahan dia mendekati kebagian kepala Dara yang hanya terlihat ujung rambutnya saja lalu bebisik,
"Dara, kalau kamu gak mau bangun mas bakal klitikin tanpa ampun! satu, dua, ti...."
"Mas kebawah aja duluan nanti aku nyusul." ucap Dara dari dalam selimut
"Kenapa gak sama sama aja? Diruang tamu ada Indra loh sudah nungguin katanya mau ketemu kamu!" kata Irvan tanpa memberi tahu alasan sebenarnya
"Iya mas, tapi mas aja yang duluan temenin dia nanti aku kebawah!" sahut Dara yang masih saja menutupi dirinya dengan selimut
Irvan yang merasa perilaku Dara agak aneh segera berusaha menarik selimutnya namun sekalinya Dara sudah sigap menahannya dengan kuat.
"DEK KAMU KENAPA SIH? BUKA!" perintah Irvan curiga
"Jangan ditarik mas, aku cuma lagi kedinginan aja! mas duluan kebawah pasti aku nyusul palingan sebentar lagi dinginnya hilang kok!" pinta Dara
"Pasti kamu udah masuk angin tuh dek, ayoo sini mas peluk biar hangat!" bujuk Irvan
"MAS! mas turun aja temenin kak Indra, kalau mas gak cepet keluar dari kamarku aku juga gak mau turun temenin mas makan!" bentak Dara
"Ah ii iya, iya mas turun, tapi beneran ya kamu cepet nyusul kebawah?"
"Hmm!" sahut Dara singkat.
Ancaman Dara barusan mengejutkan Irvan yang segera langsung mundur dari kasurnya, namun saat mulai melangkah keluar tangan Irvan sempat mengambil sisa obat Dara yang berada diatas meja.
JEGLEK! (menutup pintu)
'Ada apa ya sama Dara, kok aneh banget kelakuannya? gak pernah dia ngumpet sampe begini kecuali memang lagi nangis, tapi suaranya nggak kedengeran lagi nangis!' gumam Irvan keheranan sambil turun kelantai bawah menghampiri Indra yang sedang menunggunya.
"Nih Dra obat dari rumah sakit semalam, yang ini obat yang seharusnya cukup buat sampai satu minggu tapi sudah dia minum dan sekarang sisanya tinggal segini aja!" kata Irvan sambil menyerahkan
"Terus sekarang Daranya mana, kok gak kesini?" tanya Indra sembari mengamati obat ditangannya
"Katanya sebentar dia turun!"
(Dikamar Dara)
"HUAAH... huuuft! pengapnya didalam selimut ini!" ucap Dara sembari membuka selimutnya lebar lebar
'Dokter Indra datang? kan mas Irvan gak pernah akur sama dia, kok tumben malah diajak main kerumah? tapi masalahnya bukan karena mereka lagi akur, melainkan karna aku gak akan bisa bohong sama kak Indra kalau aku ini lagi nutupin rasa sakit yang udah aku tutupin dari mas Irvan!' Gumam Dara sambil menoleh kearah sepreinya yang ada bercak darah.
(Flashback)
Jadi pas dikamar mandi lantai bawah tadi, rasa pusing yang dirasakan Dara membuatnya ingin segera tiduran, tapi karena masih dalam keadaan sadar diapun tidak mungkin membaringkan tubuhnya dilantai kamar mandi tersebut, kemudian bayangan kasur dan bantal dikamar mendorongnya untuk segera mengumpulkan tenaga agar segera bangkit dari duduknya.
Dengan kedua lutut yang gemetar diapun pelan pelan berjalan menuju kamarnya sambil sesekali tangannya merayap didinding untuk menahan dirinya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, akhirnya dengan susah payah Dara pun sampai juga didalam kamarnya yang langsung disambut oleh hembusan angin dari ac dan dinginnyan hembusan itu menyentuh lapisan kulit yang sudah keluar keringet dingin yang seketika lansung jadi merinding.
Hoeek!!
Baru saja hendak berbaring tiba tiba rasa mual yang tidak terkontrol mengotori seprainya dengan bercak darah dari muntahannya. Namun karena tubuhnya sudah terlalu lemas, jangankan untuk mengganti seprei bahkan sekedar mencari alas untuk menutupinya pun sudah tidak sanggup lagi yang akhirnya dia cuma menarik seprei yang berdarah itu lalu menggulungnya sedikit.
Belum lama Dara berbaring dan selesai mengatur napas, dia sudah mendengar ada suara orang baru datang dilantai bawah yang sontak membuatnya panik karna takut orang itu akan masuk kekamarnya dan melihat bercak darah diatas sprei itu.
'Dibawah itu suaranya siapa ya? jangan jangan mas Irvan, soalnya samar samar aku dengar tadi dia bilang mau balik lagi, aduuh, tuh orang jangan sampe lihat keadaanku lemes begini apalagi darah ini!' gumam Dara sambil celingak celinguk cari barang untuk menutupi.
TAP TAP TAP! terdengar suara langkah kaki mendekati kamarnya.
"Aah kayaknya nggak sempat lagi, pake ini aja deh!" SRRT! dengan cepat Darapun menarik selimut yang berada tepat dikakinya.
KRIEET! (pintu terbuka)
"Dek bangun dek....bla bla bla!"
'Tuh kan beneran mas Irvan kan, untung aja aku masih nutupin badan sana bekas muntahku ini!' pikir Dara dalam selimut sambil berusaha menutupi diri yang masih sedikit gemetar dan juga menutup rapat rapat bercak darah dari muntahannya barusan.
Irvan yang penasaran karena persembunyian Dara dalam selimutpun berusaha membukanya dengan cara menarik narik selimut tersebut sampai jari jemari Dara yang lemas hampir saja melepas selimut karena tidak kuat lagi menahan tarikan tersebut yang akhirnya secara spontan Dara jadi mengusir dengan bentakan juga mengancam tidak mau makan kalau Irvan masih saja mencoba membuka selimutnya itu.
Yaa tentu ancamannya itu sangat ampuh karna Dara tau betul kalau kakak cerewetnya itu tidak akan tega kalau terjadi sesuatu yang mengancam fisik lemahnya.
Dan sekarang,
"Jadinya gimana ini? mau gak mau aku harus segera mengganti seprei ini karna cepat atau lambat dia pasti masuk lagi kekamar ini!"
Dengan teruyun uyun, Darapun berusaha mengganti seprei kotornya dengan yang bersih dari dalam lemari pakaian,
"Sudah, aku sanggup begini aja! biarpun gak terlalu rapi tapi setidaknya bersih. Dan masalahnya sekarang ini aku harus taruh dimana dulu ya seprei kotor ini? aku gak mungkin langsung bawa kebawah (mesin cuci) pasti mas Irvan curiga kalau tiba tiba aku ganti sprei, tapi kalau aku taruh dikamar mandi juga takutnya pas kebetulan dia masuk kesitu!" Gumam Dara sambil melihat kesekeliling kamarnya
"Aduh kepalaku jadi tambah pusing gak bisa mikir lagi! udah deh aku sembunyiin disini dulu nanti baru aku cuci kalau mas Irvan sudah pulang!" sembari menyelipkan seprei kotornya kebawah meja belajar lalu menghalanginya dengan kursi.
Setelah itu Darapun segera bersiap turun kebawah, namun saat dia baru saja mau membuka pintu kamarnya tiba tiba,
JEGLEK JDAAK!!
"AAAH!" Tiba tiba saja pintu itu terbuka mengenai kepalanya yang sedang pusing
Oleng~ Oleng~
"Ya ampun!" GREP! dengan cepat Irvan menangkap Dara yang termundur hampir jatuh
"Kamu sih Van gak hati hati, ketuk dulu kek pintunya!" protes Indra sambil membantu Dara naik kekasur
"Mas.." sambil meringis memegani dahinya Dara yang setengah sadar tau tau mengalir darah dari kedua lubang hidungnya lalu langsung pingsan seketika
"Van Van cepat ambilkan tisue Van!" pinta Indra sambil menahani leher Dara agar kepalanya congkak keatas
"Aduh dimana yah Dara taro tisunya?" tanya Irvan celingukan sendiri
"Itu didepan matamu apa, CEPETAN!" bentak Indra
__ADS_1
Karena panik Irvanpun tidak menyadari kalau benda yang dicarinya itu ternyata berada diatas meja tepat dihadapannya!
"Ah iya iya, nih!" Irvan buru buru menyodorkan
"Tolong bantu luruskan badannya!" perintah Indra
Rasa bersalah Irvan membuat dirinya yang biasanya bertentangan dengan Indra jadi langsung menurut semua perkataan musuhnya itu yang memang lebih ahli mengenai medis, dan selagi Dara pingsan Indrapun mengecek kondisi lainnya mulai dari mata, lidah, denyut, dan lain sebagainya yang diperlukan.
Irvan yang sedang duduk dikursi sambil memperhatikan Indra yang sedang menangani Dara, tidak sengaja kaki yang sedang berayun ayun menyenggol seprei yang disembunyikan Dara tadi.
"Looh kok, ini kan seprei yang dia pasang tadi?" Gumam Irvan sambil melihat kasur yang baru dia sadari kalau spreinya baru saja diganti, dan karna curiga Irvanpun membentangkannya lebar lebar.
SRAAB!!
Seketika mata Irvan dan Indra pun langsung tertuju pada satu titik.
"Sini biarku lihat, keliatannya masih segar!" kata Indra yang tanpa ragu dan rasa jijik langsung meraba dan mengendusnya (Profesional)
"Aduh Van, kayaknya bener ini kecurigaanku barusan!" kata Indra mencemaskan
"Ada apa Dra? itu beneran darah?" tanya Irvan khawatir sampai mengerutkan alisnya
"Jelas bau darah bercampur asam lambung dan juga ada bau obat yang terakhir dia minum, ini menandakan kalau luka dilambungnya sudah sangat parah Van, ini sudah cukup sebagai bukti kalau adikmu itu baru aja abis muntah darah!" kata Indra menjelaskan sambil menyerahkan sprei itu, dan dengan gugup Irvanpun meraihnya.
"Dra, aku mau kebawah dulu, tolong jagain sebentar ya, kalau dia sadar sebelum aku kembali kamu gak usah cerita masalah penyakitnya juga masalah kejadian semalam, soalnya dia gak tau kejadian sebenarnya!" pinta Irvan
"Kalau masalah itu kamu tenang aja, aku sudah tau kok dari Adhi, memangnya kamu mau ngapain kebawah?" tanya Indra cemas melihat ekspresi Irvan sedih
"Aku cuma mau cuci seprei ini sebentar!" jawabnya, lalu Indrapun merespon dengan anggukan iba
Sesaat Irvan keluar dari kamar, Indra langsung duduk termangu memperhatikan Dara yang baru saja dipasangkan selang infus olehnya. Dengan mata yang mulai berkaca kaca dia berbisik menyebutkan nama seseorang,
"Indri, kalau bisa jangan lagi ada yang bernasib sepertimu....."
(Dilantai bawah)
SREEET NGUUNG! suara putaran mesin cuci
'Apa maksudmu berbohong dengan mengatakan tidak ada keluhan sama sekali?
Darah yang kamu muntahkan ini apa nggak ada rasa sakitnya?
bahkan setelah kamu tau papah sudah mengkhianatimu, tadi juga kamu gak keliatan sedih saat menceritakannya, kenapa?
apa kamu sudah mati rasa?
kalau kamu memang mati rasa kenapa bisa menangis dalam mimpi?
kenapa kamu gak jujur aja sih dek?
kenapa gak kamu curahkan semua rasamu sama mas?
apa kamu sudah nggak mau percaya lagi sama mas?
__ADS_1
Kenapa dek, kenapa? Hiks...' Gumam Irvan bersedih