
Saat bu Aina tiba dirumah tante Laurent, buru buru dia menelpon Irvan bermaksud ingin memberi kabar kepadanya kalau Dara lagi lagi sudah menanyai kehadirannya.
"Gak bisa kah Van sebentar aja kamu luangkan waktu untuk menjenguk Dara sebelum kita kembali ke Indonesia? kalau cuma sebentar mungkin nggak akan sampai menimbulkan ingatan yang mendalam padanya!" bujuk bu Aina
"Aaa..aa..aku..aku..."
Roy yang dari tadi nguping pembicaraan Irvan dengan mamahnya Dara ditelpon, tau tau langsung menyambung omongan mereka
"Iya tante Irvan lagi nggak ngapa ngapain sekarang, sebentar lagi saya akan segera mengantar dia kesana menemui untuk menemui!" ucapnya nyaring nyaring karena greget sama Irvan
"Hah! Roy apa apaan kamu ini?!" bentak Irvan yang telponnya masih terhubung ke bu Aina
"Irvan, kamu ini kenapa sih? tumben, apa kamu lagi ada masalah sama Dara sampai segitunya menghindari dia?" tanya bu Aina menekan
"Ah nggak mah nggak! aku terakhir kali sama Dara baik baik aja, aku cuma takut dia kambuh mah!" jawab Irvan menyakinkan
"Kalau gitu sekarang juga kerumah ya? Kemungkinan saat ini Dara memang sudah tidur soalnya tadi dia bilang ngantuk abis minum obat, tapi mamah minta untuk malam ini kamu tidur ditempat kami, jadi besok pagi sebelum kerumah sakit kamu ketemu dulu sama dia..ya?" saran bu Aina
"Tapi mah...."
"Gak ada tapi tapian lagi!.. pokoknya kamu harus turutin mamah kali ini. Apa kamu gak kasihankah sama Dara? orang yang dikenalnya saat ini cuma sedikit aja, hari hari yang dia tanyai cuma kamu sama papahnya!. Kalau alasan ketidak hadiran papahnya mungkin masih bisa ditangani kakek, sedangkan kamu, gimana lagi mamah mau cari alasannya? apalagi sekarang ini kamunya juga lagi ada diJerman, kan gak masuk akal kalau sebentar aja kamu gak sempat nemuin?!" Irvan pun langsung berpikir, lalu bu Aina melanjutkan menasihatinya
"Van, mamah paham kalau sikapmu menghindari Dara saat ini maksudnya demi kesehatannya, tapi mau sampai kapan begini terus? sampe Dara sembuh sendiri dari penyakitnya? kan kamu tau sendiri penyakit Dara itu belum ada obatnya, bahkan penyebabnya juga belum diketahui kenapa dan darimana asalnya. Bukannya apa Van, tapi yang lebih mamah takuti sekarang ini adalah serangan penyakitnya yang kalau datang tiba tiba, iya kan?" penjelasan mamah barusan seakan mendesak Irvan dengan sebuah ancaman yang membuat Irvan jadi takut menyesal dikemudian hari.
Dengan bermodalkan tekad keberanian dalam hati, akhirnya Irvan mau juga mendatangi rumah yang ditempati Dara semenjak dia melupakan semuanya, rumah yang selama ini cuma Irvan dengar melalui ceritanya bu Aina, juga rumah yang akan membuatnya dilema setelah ia pulang keIndonesia.
Karena kebetulan Irvan dan Roy memang sedang jalan jalan malam diluar, dan kebetulan juga sekarang ini jarak mereka tidak jauh dari rumah Dara, jadi tidak sampai limabelas menit merekapun tiba didepan gerbang rumah mewah tersebut.
Irvan yang lebih dulu turun dari mobil segera menekan tombol bell disamping pagar, kemudian ia menatap cemas kearah rumah itu, dia bingung harus berkata apa, bersikap seperti apa bila nanti bertemu langsung dengan gadis yang dirindukannya itu, dan tentunya dia sangat takut menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.
BLuusssh!!...
desiran angin malam meniupkan mantel panjang yang ia kenakan. Yaa saat ini diJerman memang sedang memasuki musim dingin, semua orang yang keluar rumah pasti mengenakan pakaian tebal yang hangat untuk menjaga kesehatannya. Namun bagi Irvan, mantel ini hanyalah kedok untuk raganya saja, karena sudah tiga bulan ini hatinya memang sudah dingin dimanapun dia berada.
"Sentuhan lembut tanganmu telah mengetuk pintu hatiku yang belum pernah terbuka, tapi kenapa, setelah ku buka kini kau malah pergi?
__ADS_1
Kau meninggalkan hatiku dengan sedikit sisa cinta yang membuatku hampir kehilangan arah, dan sekarang aku berdiri disini karna terbawa pusaran angin dingin kerinduan.
Derasnya badai dalam hatiku tidak mengikiskan sedikitpun peninggalan cintamu, bahkan banyaknya waktu yang sudah berlalu tidak dapat membuang kasih sayangku yang tidak pernah berubah.
Mungkin kehadiranku kali ini akan menimbulkan sebuah bencana baru, tapi gejolak rindu ini bersikeras mengulangi kesalahan itu.
Disaat seperti ini, hanya kenangan kebersamaan kita dan janji seumur hidup yang pernah terucap yang memperkuat batinku, aku tidak tela bila semua rasa itu akan hilang diudara yang dingin ini.." gumam Irvan dalam lamunannya
KREEET!! (Pintu gerbang mulai terbuka)
Ternyata Edward dan Sovia yang sudah diberitau bu Aina kalau Irvan akan datang, merekapun dengan ramah menyambut dan segera mempersilahkannya masuk.
"Tuan Irvan, apa tuan mau langsung bertemu dengan nyonya Aina? karena kebetulan beliau sedang ada dirumah tante Laurent disebelah, saya akan segera memberi taunya kalau anda sudah tiba disini!" tanya Mark dengan sopan (Dalam bahasa Inggris)
"Tidak perlu, nanti biar saya sendiri yang memberi taunya. Hmmm ngomong ngomong... apa Dara beneran sudah tidur, dimana kamarnya?" tanya Irvan to the point
"Benar tuan, mari silahkan tuan Irvan, saya akan tunjukan yang mana pintu kamar nona" sahut Sovia yang memang sudah diberi tau bu Aina tujuan Irvan datang kerumah adalah untuk Dara.
"Van aku tunggu kamu disini aja ya!" kata Roy yang langsung menuju sofa ruang tamu.
'Langkahku ini, apakah menuju senyuman?
atau malah langkah menuju kesedihan?
atau bahkan langkah menuju malapetaka?
Rasanya seperti ada ribuan lebah sedang menyengatku. Semakin dekat semakin aku merasa sakit!' ucap Irvan dalam hati
"Yang ini tuan!" kata Sovia yang langsung menghentikan langkah kakinya dipintu pertama dalam barisan lima pintu lainnya. "Apa mau saya panggilkan dulu?" tawarannya Sovia
"Tidak perlu biar saya temui sendiri saja! terima kasih" ucap Irvan sambil tersenyum, lalu Sovia sedikit membungkuk sebelum meninggalkan Irvan sedirian didepan pintu.
Sejenak Irvan mengatur napasnya dalam dalam, rasa gugup dan takut berkecambuk dalam hati yang sedang merindukan cintanya. Dia ragu ragu saat tangannya sudah siap menurunkan handle pintu karna ada dua bisikan berbeda yang terus terngiang Mengganggu pikirannya :
si Maju : Apa lagi yang kamu tunggu Van? cepat buka pintunya! (Irvanpun menekan handle)
__ADS_1
si Mundur : Tunggu! Kalau sampe ingatannya tiba tiba kembali dan dia ngedrop lagi gimana? apa kamu sudah lupa dengan keadaan dia seperti apa saat detik detik kritis malam itu? (sontak Irvanpun mulai melepaskan tangannya dari handle karena takut)
si Maju : Kan ini sudah tiga bulan Van, kamu sudah boleh mendonor lagi kalau memang sampai itu terjadi!
si Mundur : Tapi sekarang sudah ada Arga, kamu juga gak akan bisa bersamanya lagi seperti dulu! memangnya kamu mau jadi perusak hubungan mereka?
Sejenak Irvanpun jadi terdiam mikirkan kedua bisikan dalam hatinya yang sedang berkelut itu, dia jadi bingung harus berbuat apa sekarang?
"Apakah jatuh cinta padamu adalah sebuah kesalahan? aku sudah terlanjur membuka hatiku, aku sudah pasrah akan jiwaku, sudah mengalah atas cintamu, apakah aku sudah kalah?
Ku akui kalau sebenarnya sekarang ini aku telah kehilangan separuh jiwaku!
Apa mungkin takdir tega mempermainkan cinta?
Apa mungkin nasib sedang mengolok olok kita?
apa tidak ada jalan lain menuju bahagia?
Membuka cinta untukmu, sedikit pun aku tidak menyesal. Kalaupun aku harus benar benar kehilangan diri ini dikemudian hari, biarlah semuanya bertebaran terbawa angin!"
.
.
Cuplikan:
Curhatan Irvan,
aku benar benar bingung sekarang! disisi lain aku baru tau kalau ternyata aku telah menyanyangi Dara lebih dari sekedar adik angkat, dan jujur saja aku ingin sekali memilikinya karena dia adalah cinta pertamaku! mungkin aku memang terlambat menyadarinya, tapi sekarang ini aku jadi bimbang.
Beberapa kajadian pahit telah dia alami, bahkan sudah hampir mengancam jiwanya, kejadian ini tentunya sedikitpun aku tidak mau itu sampai terulang lagi, karena aku menyaksikan sendiri dengan mataku betapa terlukanya dia, betapa kesakitannya dia, bahkan dia sempat kritis dalam dekapanku, apa kalian tau bagaimana perasaanku saat itu?
Aku cuma bisa berdo'a, aku tidak menginginkan apapun lagi selain berharap dia bisa sehat dan bahagia kembali!
Katakalah salahku apa?
__ADS_1
dan, didepan pintu kamarnya saat ini, apa yang harus aku lakukan? Masuk atau pergi?