Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Rintihan


__ADS_3


'Astaga, tadi aku lupa minum obat lambung sebelum makan! uugh, udah terlanjur, ku tahan aja dulu deh nanti baru diminum pas mau makan siang!' pikirku sambil menyudahi sarapanku lalu bergegas menghampiri rak sepatu.


Setelah selesai memakai kaos kaki dan sepatu, akupun segera berdiri dari jongkok namun tiba - tiba kepalaku terasa berputar.


BRAAK!!


Dengan sigap tanganku menahan dan menyandarkan tubuhku yang hampir terjatuh kebadan pintu.


'Aduuuuh! aku ini kenapa lagi, padahal beberapa hari ini sudah baik - baik aja, kok sekarang jadi pusing lagi sih?' (mikir)


TAP! TAP! TAP! (suara sandal mama menuruni tangga)


Aku segera berusaha berdiri tegap walau kepalaku masih agak muter - muter sedikit.


"Sudah siap Sayang?" tanya mama yang terlihat sudah cantik walau hanya bermake - up tipis


"Sudah mah, yuuk!" Jawabku sambil membukakan pintu.


Entah kenapa saat diluar rumah sebelum masuk kedalam mobil tiba - tiba aku ingin sekali menoleh kearah kamar mas Irvan yang lampu balkonnya masih saja menyala.


'Tumben, biasanya subuh sudah bangun..' gumamku


Dan selama diperjalanan, aku hanya mendengarkan mama bercerita tentang kesibukannya beberapa hari belakangan ini.


"Kok Dara dari tadi banyak diem sayang, masih sakit, istirahat dirumah aja dulu yaa?" saran mama


"Aku nggak apa - apa mah, cuma terbawa kebiasaan selama dirumah sakit aja kalau jam segini masih tidur - tiduran jadinya kayak masih pengen malas - malasan gitu, hehehe" alasanku yang padahal lagi nahan perih lambung dan pusing.


"Dasar, yaudah tiduran aja lagi, nanti pas mau nyampe mama bangunin kalau memang ketiduran!" kata mama, tanpa basa - basi akupun segera menurunkan sandaran joknya lalu berbaring.


Sesampainya disekolah aku langsung menuju kekelas, kudapati Kiki sedang mengobrol dengan Sinta dan beberapa teman lainnya yang saat melihatku mereka langsung menyapa, dan kamipun sedikit berbincang sebelum jam pelajaran dimulai.


TEEEET!!


(bunyi bell masuk)


Mereka langsung bubar menuju kursinya masing - masing.


Aku juga segera duduk lalu menyiapkan buku sambil menunggu guru masuk.


"Ra, kamu naik apa kesini?" tanya Kiki yang duduk satu meja denganku.


"Diantar mama" jawabku


"Ooh bagus deh, kirain kamu bawa motor sendiri lagi.... sudah baikan belum sama mas Irvan?" aku hanya menggeleng


"Aku saranin lain kali nurut aja Ra, mas Irvan itu niatnya baik mau melindungi kamu. Coba kamu bandingin sama kakak - kakakku, biarpun saudara kandung tapi pada cuek sama aku kan?!" Jelasnya, namun aku berusaha membantah


"Iya sih, tapi kan dia perhatian juga karena ada tekanan dari Ibunya dan terus ....."


"Beda Ra! (memotong alasanku)


memang sih aku nggak terlalu akrab sama mas Irvan, tapi dari dulu ku perhatikan sikapnya dia kekamu memang beda, apalagi pas kejadian kemaren pas kamu tidur nggak bangun - bangun, duh kayaknya dia sampe pucet dan lemas banget!"


(Kiki nggak cerita kalau dia sempet mendorong Irvan sampai terjatuh)


"Masa sih?" nggak yakin


"Bener Ra, kan yang lihat aku bukan kamu!" Ucap Kiki,


"Iya mudah - mudahan aja..." kataku, namun aku tetap kurang yakin, karena ku pikir kebaikannya mas Irvan menurut ku karena terpaksa pas aku lagi sadar aja karena takut diaduin sama Ibu.


Sebenarnya aku pengen banget cerita sama Kiki tentang kejadian tiga hari bersama buyut tapi takutnya dia malah nganggap aku lagi halu, soalnya pemikiran logika Kiki lebih cermat daripada aku.


"PAGI SEMUA!!" sapa guru matematika saat masuk kelas yang menandakan pelajaran akan segera dimulai.


Karena sudah dua hari nggak masuk sekolah, jadinya pas jam istirahat aku gunakan hanya untuk menyalin pelajaran yang sempat tertinggal kemarin, dan sepulang sekolah rencananya masih ingin meneruskan sisa catatan mata pelajaran yang lainnya dirumah Kiki sambil menunggu jam bimbel.


'Kalau aku nunggu disekolah nanti takut liat yang aneh - aneh lagi!' pikirku


"Udah jam satu Ra, istirahat tadi kamu belum ada makan, mending cari makan dulu yuk habis itu kita langsung kerumahku" saran Kiki, dan aku segera merapikan alat tulisku karena baru tersadar kalau dikelas ini cuma tinggal kami berdua.


"Perutku agak kurang enak, kayaknya mau beli bubur ayam yang didepan sekolah aja deh!" Kataku yang sudah siap pergi


"oowh boleh tuh aku juga mau, kalau gitu kamu duluan aja entar aku susul, soalnya aku mau keparkiran dulu ambil motor!" katanya sambil masih mengemasi buku - bukunya


"Yaudah, aku duluan yaa!" jawabku sambil melangkah keluar kelas


Sesampainya didepan pintu tiba - tiba ada seseorang yang menarikku


GREEP!!


"Aaagh!"

__ADS_1


"Sssssst!!!" Dengan cepat dia menutup mulutku dengan tangannya dan menyuruhku untuk diam.


"Ikut aku sebentar!" perintahnya sambil menarik tanganku mengikuti langkah cepatnya.


Perasaan kaget dan takut membuat aku jadi berdebar saat melihat wajah dinginnya tiba - tiba muncul dihadapanku.


"Arga, kamu mau bawa aku kemana?!!" tanyaku, namun dia sama sekali tidak merespon dan terus membawaku kebelakang kelas menuju kantin.


Kemudian langkahnya berhenti tepat disamping dinding kelas yang terlihat sangat tidak asing


"DISINI KAN?!" tanyanya dengan nada datar. Kemudian kedua tangannya memegang kedua bahuku sambil perlahan melangkah maju membuat aku jadi terpojok disudut tembok.


"Mau apa lagi sih kamu Ga?!" tanganku menepis tangannya yang memegang bahuku.


"Aku tanya sekali lagi, disini kan kamu lihat aku berdua sama Mira?!" Seketika dadaku langsung nyesek karena mengingat kembali kejadian saat dia dengan Amira.


"Gak usah dibahas lagi!!" kataku sambil membuka tas lalu mengambil sesuatu didalamnya.


"Niih, terima kasih atas kebaikanmu selama ini, sekarang kita nggak usah saling mengganggu lagi!" Ucapku sambil memberikan almamaternya dan langsung mulai melangkah pergi


PAK!!


"Beib! kasih aku waktu buat ngejelasin semua sama kamu!!" sambil tangannya kedinding menghalangi jalanku


"Mulai sekarang nggak usah panggil aku kayak gitu lagi, dan lagian apa juga yang mau kamu jelasin sama aku, kamu mau bilang kalau kamu punya hubungan dekat sama Amira yang bukan sekedar teman dan kamu pikir selama ini aku nggak tahu, Haah?!" kataku yang langsung pada intinya


"Iya kamu bener, tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan Beib, aku memang punya hubungan lebih dari teman sama Amira ta... (JLEB!)"


"CUKUP!!!" sahutku sambil menerobos tangannya yang menahan didinding dan langsung berlari menjauh darinya.


Bukan main sakitnya hatiku saat mendengar pengakuannya barusan, dan akhirnya tidak sedikitpun aku merasa menyesal karena telah memutuskan hubungan dengannya kemaren.


TAP! TAP! TAP!


Ada suara langkah berlari mengejarku yang kemungkinan itu dia.


karena terlalu kecewa, tanpa memperdulikan orang yang melihat akupun berlari tabah kencang kearah gerbang sekolah.


Dengan bibir yang bergetar karena menahan tangis, segeraku hampiri Kiki yang sedang memarkirkan motornya diseberang jalan pas didepan warung bubur yang kami janjian tadi.


Perihnya dilambungku seperti menyetrum kesemua indra perasaku, ditambah teriknya panas matahari yang menyulutkan pikiran dan otakku yang sedang kacau.


"BEIB TUNGGU DULU!!" teriak Arga yang jaraknya semakin mendekat kearahku.


'Apa - apaan sih orang ini!' gumamku emosi, sampai - sampai tanpa melihat kekanan dan kekiri secepat mungkin aku berlari menyeberangi jalan.


NGEEEEENG -


TIIIIIIIIIIIIN....!!!!! (klakson)


BUUUGK!!


BRAAAAAAK!!!!


"DARAAAA!!!" teriak Kiki


"AAAAAAHG!!"


Ssssst... aku meringis perih


"DARAAA!!" Teriak Kiki sambil berlari menghampiriku dengan panik, seketika aku tersadar, diriku kini tiba - tiba sudah berada ditepi trotoar dengan posisi jatuh duduk, dan orang - orang disekitar kami berlarian menghampiri sebuah motor sport yang sudah tergeletak ditengah jalan, dan seketika aku menyadari sesuatu


"A... Arga!?" bukankah dia tadi sedang berlari dibelakangku namun sekarang tidak ada,


DEG! DEG! DEG! jantungku berdebar - debar,


'Bukan, bukan dia!!' aku segera bangkit tanpa kurasai lagi perihnya luka dilutut aku berlari menghampiri dan menerobos krumunan orang yang semakin banyak.


Dengan mataku sendiri melihat sesuatu yang paling aku ngeri saat melihatnya, yaitu darah!


Namun aku tidak mampu berpaling dari darah yang mengalir dari rambut seseorang yang sebenarnya masih aku sayangi..


"ARGAAAA!!!!!" teriakku yang seketika seluruh tubuhku bergetar dan kakiku melemas, lalu aku bersimpuh disampinnya.


"~Aaar...gaaa?!!~" Dengan suara gemetar aku memanggilnya sambil ku pengang tangannya yang berlumuran darah


"~Beib?~" sahutnya merintih dengan lemasnya berusaha menggenggamku


Kerumunan orang disekitar kami sibuk mencari pertolongan karena tidak ada yang berani mengambil tindakan sembarangan, untungnya anggota PMR sekolah dengan cepat berlari menghampiri kami dan langsung mengangkatnya.


Suara orang beserta klakson yang riuh pikuk disekitar, ditambah dengan hawa panas dan silaunya sinar matahari justru seperti senyap sunyi bagai berada ditengah gurun pasir.


Mataku hanya ingin terus menatap sosok yang sedang dimasukan kedalam mobil, dengan darah yang terus bertetesan dari tubuhnya aku tak mampu berucap apa - apa selain mengangkat tangan ingin meraihnya.


"Dara?"

__ADS_1


"Dara, ayoo bangun!" panggil Kiki dan juga Amira yang tiba - tiba sudah berada disampingku, mereka berusaha membantuku bangakit berdiri, namun


Dalam sekejap mataku menjadi gelap.


BLEB!


"ARGA!!" teriakku yang sudah berbaring diruang UKS.


"Ra, tenang Ra ...." Ucap Kiki yang sudah berdiri disamping kiri sambil memegangi tubuhku yang gemetaran


"Ki~ mana Arga? aku mau datangi dia!!" kataku sambil memegangi tangannya


"Tenang dulu Ra! Amira sama pak Darma sudah nyusul kerumah sakit!" Jelasnya, lalu aku langsung terdiam.


"Hik..Hik.. Arga, apa tadi dia yang selamatin aku? Hik.." tanyaku sambil berusaha bangun dan duduk


"Iya Ra, aku liat dia dorong kamu ketrotoar pas motor besar tadi mau nabrak kamu tapi dia yang ...."


"Agh Hik..hik..!! antarin aku kesana Ki.. aku mau lihat dia!" pintaku sambil menunduk meremas rok yang berlumuran darah dari lutut yang kini sudah diperban juga darah dari tangan Arga tadi


"Ayoo kita kerumah sakit!" sebuah tangan lain mengulur dihadapanku, seketika aku langsung mengangkat kepala.


"Mas?!" tertegun


"Aku yang kabarin mas Irvan Ra.." Ucap Kiki


Tanpa banyak pikir lagi aku segera menggapai uluran tangannya dan dengan hati - hati dia membantuku turun dari ranjang besi.


"Kuat jalan nggak?" tanya mas Irvan


"Em!" sahutku mengangguk, namun saat aku mulai melangkah tiba - tiba lututku lunglai lemas.


GREEP!!


"Sini!" dengan sigap diangkatnya badan kecilku


"Eh, biar aku jalan sendiri aja, nggak enak diliatin orang!" kataku berusaha menghentikan langkahnya


"Nggak apa - apa Ra, sekolah juga sudah sepi kok..." Ucap Kiki yang berjalan mengiringi kami, lalu akupun dengan pasrah menyandarkan kepalaku dibahunya mas Irvan.


Kegundahan hatiku kini membuat aku tak mampu lagi berkata - kata, hanya ada tetesan airmata mewakili rasa ke khawatiran yang memenuhi pikiran dan hatiku.


'Arga, aku mau lihat kamu secepatnya!'


Sesampainya dirumah sakit:


"Ra, aku masuk duluan yaa?" kata Kiki, lalu aku juga tergesa - gesa ingin secepatnya turun dari mobil


"Tunggu sebentar!" Ucap mas Irvan sambil menahan tanganku, lalu dia turun dan segera membukakan pintu untukku.


"Mas, aku jalan sendiri aja" kataku karena takut dia mau menggendongku lagi disini, lalu tanpa mengatakan apapun mas Irvan langsung memasang badan kemudian menopang aku berjalan.


Baru saja sampai di IGD ku lihat Amira bersama pak Darma duduk dikursi, juga ada dua orang yang berseragam hitam - hitam sedang berdiri pas didepan pintu ruang darurat itu.


"Dara, kamu kenapa nyusul kesini?" sapa Amira sambil menghampiriku


"A.. aku mau liat keadaan Arga, dia kecelakaan gara - gara aku.." kataku dengan perasaan bersalah


"Tapi, (dia menoleh kearah ajudan) kamu tenang aja aku bakal bantu jelasin masalah kecelakaan ini, lagian siapa juga yang mau kena musibah, iya kan? mendingan sekarang kamu rawat lukamu dulu, aku janji secepatnya bakal kasih kamu kabar kalau sudah ada perkembangan tentang Arga.." ucapnya seperti mengusir halus namun tatapannya sangat cemas terhadapku.


"Yang dibilang Amira bener Ra, kamu juga kan baru sembuh dari sakit..!" kata Kiki


Diriku yang masih bertopang dalam rangkulannya mas Irvan hanya mampu memejamkan mata lalu mengangguk terpaksa.


"Mumpung lagi dirumah sakit kita periksa dulu luka mu sekalian ya dek?!" saran mas Irvan, namun aku menggeleng sambil menahan tangis


"Nggak usah mas, nggak ada yang sakit, luka ku nggak seberapa dibandingkan luka yang Arga alami, kita langsung pulang aja!" kataku pasrah.


(Dua hari kemudian, dalam kamarku)


"Sayang mau sampe kapan termenung terus?makan dulu yaa, 'Aaa.." kata mama sambil menyuapi bubur padaku diatas kasur, dan aku tetap membuka mulut dengan tatapan kosong


"Mah, tante Maria apa sudah ngasih kabar keadaan Arga?" tanyaku tanpa melihat kearahnya


"Belum sayang, mama juga heran masa anaknya lagi kena musibah begini dia nggak ada pulang keSamarinda sih?!" jawab mama seperti mencurigai sesuatu


"Mah, kecelakaan Arga ini gara - gara aku, kalau aja saat itu aku nggak... Hik..hik..!" aku tidak sanggup meneruskan kata - kataku lagi, ku peluk lututku sambil menutupi wajah yang sudah sembab


"Sudah sayang, kamu jangan terus - terusan menyalahi diri sendiri, sekarang kamu harus sehat biar bisa cari tahu kabarnya Arga.." Ucap mama dengan tangan lembutnya membelai rambutku


"Gimana aku bisa tenang Mah Hik..hik.., bahkan Kiki bilang Amira yang sudah janji mau kasih kabarpun malah belum ada masuk sekolah sampe sekarang!" kataku


"Sini Mah biar aku aja, (suara mas Irvan yang tiba - tiba datang)


Tuh dek dengerin apa kata mamah, kalau kamu terus - terusan gini gimana mau lihat Arga? ayoo sini mas yang suapin!" bujuknya yang kini sudah bertukar duduk sama mama.

__ADS_1


'Iya, hari senin aku harus masuk sekolah buat cari tahu sendiri kabar Arga!' gumamku dalam hati menyemangati diri.


__ADS_2