
Dari dulu kami memang sudah akrab bahkan kadang terlihat melebihi seperti adik dan kakak, hanya saja sikap mas Irvan sudah agak sedikit berubah semenjak dua tahun lalu Ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil.
Dulu dia orangnya sangat humoris dan sangat terbuka, tetapi sekarang jadi lebih posesif, tegas dan bahkan serius dalam menanggapi sesuatu.
Mungkin karena diusianya yang hanya lebih tua dariku lima tahun, sekarang ini dia sudah harus menjadi tulang punggung untuk keluarganya, menjaga ibu yang juga atasan kantornya dan kedua adik yang masih bersekolah, Reza lebih muda dariku satu tahun, sedangkan Yudha seumuran Doni.
Tiba tiba langkah kakinya menjadi pelan, namum ekspresi dinginnya tetap membuat aku takut. Karena penasaran, akupun melirik kearahnya berniat memastikan apa dia benar benar masih marah.
"Ehem! Kamu mau makan dulu?" deheman yang tiba tiba sontak mengagetkanku yang sedang mencoba curi pandang kepadanya.
"Aa..aku, aku tadi sudah makan.Tadi siangkan mas sudah tanya pas aku lagi makan sama Kiki!" jawabku gugup karena berbohong.
"Kenapa memangnya? mas belum makan, mau aku temenin dulu?" tanyaku sambil menoleh dan berusaha tersenyum duluan berniat mencairkan suasana. Namun dia sama sekali tidak bergeming dengan senyuman ku, bahkan melihat kearahku pun tidak mau?
'Masa sih cuma gara gara ngebahas mitos doang sampe ngambek kayak gitu?' gumamku dalam hati
"Haaah!... Mas juga sudah makan kok, Yaudah kita langsung pulang aja!" jawabnya sambil terus berjalan dan memandang lurus kedepan.
"Terus kenapa nawarin orang kalau sendirinya sudah?!" tanyaku yang baru sadar kalau ternyata dia cuma basa basi
"Yaaa takutnya aja, bukannya kamu lagi ngambek? biasanya orang ngambek itu kan nggak ada selera buat makan!" jawabannya sambil melirik kearahku dengan senyuman menyindir.
'Aku ngambek? bukannya dia yang dari tadi lagi ngambek, apaan sih maksudnya orang ini? nggak jelas banget! malah senyumnya kayak ngolok lagi!
Oiya ya! aku baru ingat, semalamankan dia ngobrol berdua sama Arga sampe subuh, dan aku juga belum sempet nanyain apa pun tentang hal itu!' kataku dalam hati ku
Setibanya diparkiran mas Irvan melepas rangkulan tangannya dari bahuku, menggantung belanjaanku, kemudian mengambilkan helm ibu yang aku pake tadi.
NYEEeeees...!
Baru saja mau meraih helm yang disodorkan mas Irvan, tiba tiba dikepalaku seperti terbesit sesuatu yang hampa yang dalam sekejap suara disekitarku langsung kedap, seketika aku merasa sunyi senyap.
Kumudian entah kenapa aku merasa seperti ada yang hilang dari tanganku yang padahal memang tidak sedang memegang apa apa, saking penasarannya sampai aku terus membolak balikan telapak tanganku.
"Daraaaaa....? Daraaaa.....?" terdengar dengungan suara asing memanggil manggil namaku. Suara itu seperti jauh namun sangat jelas.
DEGDEG DEGDEG!
Degubpan detak jantungku yang tiba tiba terasa ngilu, dalam sekejap mengubah suasana senyap menjadi kembali seperti semula. Bisingnya mall beserta suara kendaraan yang lewat dan juga suara mas Irvan yang tau tau wajahnya sudah dihadapan ku.
"Dek?.. Daraaa?!...." panggil mas Irvan dengan wajah cemas
"Eh! iya mas?" sahutku terkejut sambil memegangi baju didadaku
"Kamu kenapa dek kok tiba tiba bengong? kamu sakit ya, mukamu pucet gitu sih?!!" tanyanya heran sambil memberikan helm
"Eng...nggak! nggak kenapa napa, aku tadi....... Ah sini!" tanganku langsung mengambil helm lalu buru buru memakainya sebagai pengalihan atas jawabku terputus, karena sebenarnya aku juga bingung harus jawab apa
Saat aku memakai helm, kulihat dia yang juga sedang memakai helm namun matanya terus menatapku dengan penuh curiga. Aku sama sekali nggak tahu apa yang sedang dia pikirkan, bisa jadi dia cuma lagi penasaran dengan jawabanku yang tidak lengkap barusan. Tapi gimana aku jawab, karena aku juga bingung dengan apa yang sebenar terjadi barusan, karena bagiku sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata kata
Aku yang tidak nyaman dilihatin tatapan tajamnya, sampai sampai aku jadi gugup salah tingkah, karena grogi akupun langsung berpaling arah menghindar dari pandangannya.
GRP!
Tau tau ada sesuatu yang menempel pundakku yang dalam sekejap membuat hangat tubuhku, akupun menoleh dan sekalinya tangan mas Irvan sedang memakaikan jaketnya kepadaku.
"Lhoo mas, kenapa nggak dipake aja jaketnya?!" tanyaku keheranan
"Tadi bilangnya Kiki kamu kan lagi sakit, tadi mas pegang tanganmu juga memang agak dingin!" jawabnya, sambil menyiapkan posisi motor kearah luar parkiran lalu akupun melangkah mendekatinya
"Tapikan mas Irvan lagi bawa motor, kalau cuma pake kemeja nanti......"
"Sudah sudah ayoo naik! Lagian memang dari pas berangkat tadi juga mas sudah perhatikan mukamu pucat dek, jadi pas pulang ini jangan sampe tambah parah!" ucapnya memotong perkataanku barusan, lalu tanpa banyak bicara lagi akupun segera menurut naik ke atas motornya daripada dia marah kayak tadi lagi.
__ADS_1
"Sudah?" menanyakan posisi dudukku
"Iya, sudah mas!" sahutku.
Sebelum menyalakan mesin motornya tiba tiba dia menoleh sambil tersenyum, lalu berbisik :
"Soalnya kalau kamu sakit nanti ngerepotin, ujung ujungnya mas yang bakal dimarahi Ibu!" sindirnya, sambil menyalakan mesin dan mulai menarik gas
"Iiih mas ini.. tanpa aku sakitpun mas Irvan kan memang sering dimarahi Ibu!" sahutku membalas sindirannya membuat dia tersenyum lebar yabg terlihat dipantulan kaca spion.
Saat sudah keluar dari kawasan mall, diperjalanan aku mulai mengingat apa yang ingin aku tanyakan dari tadi siang kepadanya:
"Mas Irvan?! mas nggak jadi pindah diBandung lagi?" tanyaku sembari mendekatkan kepala kesamping helmnya agar suaranya terdengar jelas.
"Untuk sementara ini om Romi yang bantu ngurus kerjaan disana, Soalnya mas masih nggak tega kalau ninggalin Ibu disini, mana adek adek juga masih sekolah, pasti Ibu kerepotan sendiri nanti nya!" jawabnya dengan penuh perhatian.
(Om Romi adalah adik dari Ibunya mas Irvan yang tinggalnya diJakarta)
"Tadi aja yang mas urus itu laporan kantor yang udah dari minggu lalu, gimana kalau mas tinggal lama lama?!" sambungnya
"Iya juga sih mas.. mana anaknya ibu cowo semua lagi!" sahutku.
"Ada siih yang cewek satu, tapi yaa gitu deh!"
katanya yang membuat aku bingung
"Lhooh, masa mas Irvan punya saudara cewek, tinggal dimana, kok aku nggak tahu?!" tanyaku penasaran karena setahu ku Mas Irvan hanya memiliki adik laki laki.
"Pokoknya ada, dia tuh sibuk banget orangnya, sampe kerumah ibunya aja sudah jarang!!" jelasnya.
"Berarti saudara perempuannya mas Irvan itu kakak paling tua yaa? soalnya kalau dia itu adik pastinya aku kenal iya kan?!" tanyaku menebak nebak
"Iya, dia itu memang sudah tua banget!"
"Belum dua duanya! dia masih pengangguran juga belum nikah!" jawabnya
"Jadi sibuknya ngapain, terus tinggalnya dimana sampe jarang pulang?!" tanyaku semakin penasaran
"Sibuk pacaran, tinggalnya didepan rumah!" jawabnya lempeng.
"Apa sih mas Irvan niih ngeselin mulu ach!" protesku yang sekalinya dia sedang menyindirku lagi.
Tak lama kemudian aku juga ingin menanyakan tentang masalah tadi malam saat dia menemani Arga didepan rumah.
Awalnya aku sangat ragu ragu, namun rasa penasaranku juga lebih besar jadi akhirnya aku memberanikan diri buat bertanya :
"hmmm.... mas?!" panggilku ragu sambil berpikir merangkai pertanyaan diotak.
"Apa? mau tanya apa lagi?!" sahutnya sudah cetus duluan
"Iih mas ini bikin bete!" kataku meraju lalu menjauhkan diri dari punggungnya
"Iya iya iya ngomong sudah apaan... ngambek mulu!" celetuknya sambil menahanku agar tidak jauh darinya
"Itu...apa tu, anuu...." lidahku sangat sulit mengatur kalimat saat ingin menyebut namanya
"Apaan sih itu, anu anu?!! ngomong tuh yang jelas!" desak tidak sabaran
'Uuuh Cerewet banget sih! kalau bukan karna lebih tua pasti udahku getok nih helmnya!' dumelku dalam hati
"Anu mas, tadi malam, mas Irvan ada ngobrol apa aja sama Arga didepan rumah?" tanyaku dengan nada datar sok cuek.
"Owh itu, dia sih cuma cerita kalau kamu marah dan nuduh kalau dia selingkuh! dia bilang sebenarnya ada yang mau dia jelasin, tapi keburu kamunya marah marah duluan katanya! begitu aja sih ceritanya" jawab mas Irvan ikut datar
__ADS_1
"Terus apalagi? Bilangnya Doni sampe jam tiga pagi didepan rumah, masa cuma cerita segitu aja!" tanyaku mendesak
"Masa sih? mas nggak tahu kalau dia disitu sampe jam tiga, soalnya nggak lama abis cerita itu Ibu manggil, terus karna dia juga bilang mau langsung pulang jadinya mas tinggal duluan dia didepan rumah!" jelasnya
"APA? jadi.... dia diluar sampe subuh sendirian ternyata? ya ampuuun!" gumamku dengan perasaan tidak enak lalu langsung menutupi wajah
"Lagian kamu juga sih dek, seharusnya jangan langsung nuduh orang tanpa bukti! kalau ada masalah ya diselesaikan baik baik jangan digantung gitu orang kasihan tau!" ucapnya menasehati namun agak menusuk dihati, karena mas Irvan sendiri nggak tahu permasalah sebenarnya.
"Apa sih mas Irvan niih, mentang mentang sesama cowok dibela belain!" sahutku sambil manyun
"Bukan ngebelain dek, cuma ngingetin aja, tuh kan baru dibilangin langsung nuduh!kebiasaan suka suudzon sama orang kan?" ucapan mas Irvan bikin aku tambah kesel, lalu aku segera mundur menjauhinya karena malas berdebat.
'Haiiiis, baru aja moodku mulai membaik, lagi lagi orang itu udah bikin aku kesel, padahal cuma nyeritain sedikit tentang dia semalam tapi sudah mau buat orang jadi berantem karenanya!. Tega banget sih kamu Ga, Aaaah sudahlah, apa pun yang terjadi mulai saat ini aku nggak mau lagi ngungkit atau nyebut nama dia!' gumamku dalam hati karena mulai timbul lagi rada sakit hatiku mengingat kelakuan Arga.
Akhirnya aku dan mas Irvan jadi saling terdiam cukup lama hingga hampir setengah perjalanan menuju rumah.
"Deeek.... kamu ada yang mau dibeli lagi gak?" tiba tiba dia bertanya duluan, tapi rasa jengkel yang membengkak dihatiku lebih ngilu dibanding bengkak dilengan karna kelakuannya kemaren
"Nggak!" jawabku singkat karena eneg
Sejak aku mulai emosi tadi rasa pusing dan mual ku jadi kambuh lagi, ditambah rasa lelah yang mulai berkumpul karena sudah seharian belum ada istirahat, yaa tubuh penyakitan ku ini memang butuh istirahat tepat waktu.
Sekarang ini aku cuma ingin cepat sampai kerumah, mendatangi kamar dan segera berbaring diatas kasur.
Matahari senja sudah mulai semakin meredup, angin sore mulai berubah dingin sampai menusuk tulang, rasa tidak enak badanku semakin menjadi jadi.
BRRRRRT!! tiba tiba aku menggigil kedinginan tanpa sebab, jelas jelas pakaian yang aku kenakan saat sudah berlapis lapis tapi kenapa dinginnya masih tembus?
"kenapa ini? padahal aku sudah pakai sweeter ditambah jaket dari mas Irvan, tapi kenapa masih kedinginan yaa?" tanyaku dalam hati, sambil menggenggam tangan ku sendiri yang semakin terasa dingin dan kaku, Semakin aku tahan malah semakin menjadi jadi, AKU GAK TAHAN!
"MAS IRVQN!.. MINGGIR DULU MAS!!" pintaku panik sambil melambaikan tangan kiri
Mas Irvanpun segera mengikuti permintaanku, sambil melirik kespoin kirinya dengan hati hati menepikan motornya.
Belum sempat terpakir dengan benar, aku turun lalu berlari keparit yang tingginya cukup dalam dengan air yang lumayan deras, ada pohon yang cukup rindang disampingku yang dapatku jadikan pegangan sekaligus dapat menghalagi pandangan dari orang lain, segera aku membungkuk dan,
UUGGGH... Ueegh!!
Isinya yang cuma minuman langsung keluar mengosongkan lambung yang mulai perih.
Lutut beserta semua sendi sendi tulangku terasa tak bertenaga yang membuat tidak sanggup lagi untuk berdiri, akhirnya aku terjongkok lemas dengan semua ujung jari jemari mulai bergetar.
Mas Irvan yang melihatpun dengan cepat berlari menghampiriku, membantu melepaskan helm yang membuat kepalaku berat, kemudian menopang badanku bersandar kepadanya, dan karena sudah tak berdaya akupun mempasrah diri didekapannya
Tanpa rasa jijik dia membersihkan bibirku dengan sapu tangan yang diambil dari sakunya. Rasa segan saat dia melakukan itu, membuat aku canggung jadi langsung merebut sapu tangan tersebut dari tangannya.
"Kan tadi mas bilang jangan sampe sakit! Mas antar kedokter yah?" bujuknya
"Nggak usah mas, aku ini cuma masuk angin aja kok, dibawa istirahat juga nanti sembuh!" tolakku dengan suara pelan dan bibir masih bergetar. Dengan lembut tangannya menyapukan keringet yang merembes di keningku, dengan sesekali membelai rambutku yang mulai basah oleh keringet dingin.
"Yaa udah kalau gitu, memang susah kompromi sama anak keras kepala! Bawa minyak angin nggak?!" tanyanya sambil ngedumel
Sambil masih menutupi bibirk dengan sapu tangan miliknya, aku cuma menggeleng kepala menjawab pertanyaannya barusan. Tahannya dia berjongkok menobang tubuh sembari masih terus membelai rambut basahku.
Beberapa menit kemudian badankupun sudah mulai ringan, walau masih kedinginan namun sudah mulai berisi tenaga kembali, karena takut terlalu membebaninya aku memaksakan bangkit dari sandaran ditubuhnya.
"Sudah mendingan?!" tanyanya dengan suara lembut, lalu aku mengangguk.
"Kalau gitu tunggu sebentar disini mas belikan minum dulu" perintahnya, kemudian ia beranjak dari jongkok dan mulai berjalan mencari warung.
Karena sudah terasa keram, Akupun segera melepas kedua sepatu untuk dijadikan sebagai alas duduk agar dapat meluruskan kakiku. Rasa pusing, pering lambung, dan juga lemas, membuat aku sampai tidak menghiraukan lagi pandangan orang yang sedang lewat, walaupun sebenarnya malu tapi mau gimana lagi?
__ADS_1
'Sudah lah biarakan saja orang mau berpendapat seperti apa, lagian siapa juga yang ingin sakit tiba tiba seperti aku ini?' pikirku, bahkan sebenarnya aku ingin sekali berbaring untuk melepas sakitku, ya itu tidak mungkinku lakukan sekarang disini! maka dari itu sama mampunya ku kuumpulkan tenaga agar bisa segera sampai kerumah.