Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Tolong Jangan!


__ADS_3


(Diperjalanan)


'Ya ampun dek kamu dimana sih?' gumam Irvan yang hampir tak berkedip menatap arah kejalan dari balik jendela dalam mobilnya


"Kita mau kemana ini pak?!" tanya Johan sambil menyetir pelan, Irvanpun berpikir sejenak karena bingung tujuannya harus kemana


"Kita Kekampus F Joh!" pinta Irvan dengan nada terpaksa


Zzzrrrrttt!! (getar handphone Irvan)


"Gimana Dhi udah ketemu?!!" tanya Irvan panik saat menerima telpon tanpa melihat namanya


"Ketemu siapa Van?" sahut yang menelpon


"Eh, ya ampun! sorry Ren gak liat nama panggilannya!" Ucap Irvan yang baru menyadari kalau panggilan tersebut bukan dari Adhi


"Aku cuma mau tanya apa bener rapat pembukaan cabang kita sore ini ditunda?" tanya Reno dari seberang telpon


"Iya bener Ren maaf banget ya? nanti kita atur lagi waktu buat rapat, soalnya adikku yang cewek tiba tiba hilang dikampusnya, dan sekarang ini aku mau cari tapi masih bingung harus kemana soalnya GPRSnya gak aktif!" jawab Irvan sampai matanya berkaca - kaca


"Tapi Adhi sudah bantu kamu cari kan? kalau dia yang cari pasti sebentar aja bisa ketemu, Yaudah kamu hati hati dan masalah kerja nanti aku tunggu kabar darimu aja oke!" kata Reno menenangkan


"Iya Ren makasih ya!" sahutnya. Tanpa Irvan sadari ternyata diam diam Johan sedang memperhatikan dia dari tadi lewat kaca spion tengah.


TIIING!! (pesan masuk)


"APA?!!.... Jo kita putar arah kerumah sakit C sekarang!" pinta Irvan saat menerima sms dari Adhi


(Sesampainya dirumah sakit)


TAP TAP TAP!


"Huh, huh... Dimana? dimana Dara?! huh huh.." tanya Irvan terengah engah yang habis berlari kencang menghampiri Amira dan Adhi


"Didalam kak, ada Betrand juga didalam lagi transfusikan darahnya!" Jawab Amira menunjuk IGD


"APA, Betrand?!!"


"Van Van, Sabar dulu Van!" kata Adhi sambil menahan Irvan yang ingin menerobos masuk


"Kenapa kamu biarin laki laki itu memberikan darahnya buat Dara!!" protes Irvan sambil berusaha memberontak


"Aku datang dia sudah didalam!" sahut Adhi


"Iya kak Irvan, soalnya tadi bilang dokter gak bisa nunggu lama lagi buat nyari, dan kebetulan golongan Betrand yang sama dengan Dara, kalau sama denganku pasti aku yang sudah mendonorkan buat dia!" kata Amira menjelaskan


Mendengar ucapan Amira barusan, Irvan langsung menyandarkan punggungnya kedinding lalu terjongkok


'Kenapa, kenapa tiba tiba begini? kenapa tahun ini setelah Arga pergi kamu jadi sakit sakitan begini dek? dan sekarang ada lagi yang akan...... bahkan parahnya anak itu udah sering...... Aaaagh!!' Gumam Irvan dengan penuh geram


JEGLEK!! (Pintu terbuka)


"Kak Betrand, gimana?" tegur Amira antusias keBetrand yang masih menutupi lengannya dengan kapas, dan dengan wajah memelas Betrand cuma menggeleng menanggapi pertanyaan Amira.


Irvan yang sedang memperhatikannya langsung berdiri dengan emosi,


"Apa? apa maksudmu me...... "


"Van, cepat kesini!!" Panggil dokter Indra yang tau tau muncul dari balik pintu, dan tanpa pikir panjang Irvanpun segera mengikutinya masuk kedalam. Betrand yang sempat terkejut dengan sikap Irvan yang tiba tiba membentaknya jadi terheran heran,


"Amira, dia kah yang namanya Irvan, yang kakak angkatnya Dara itu?!" tanya Betrand ke Amira


"Iya bener, ngomong ngomong Dara kenapa kak? kok keluar keluar kakak melas begitu?" tanya Amira penasaran


"Aku nggak ngerti juga padahal golongan darahku sama Dara sama, tapi kenapa ya....?" Jawab Betrand setengah setengah memandangi kapas dilengannya


"Ada apa kak? dia baik baik aja kan?" karena terlalu bingung Betrand terdiam tidak bisa menjawab apa apa


"Yaa sudahlah kalau gak mau jawab! sekarang kan kak Irvan sudah datang disini, mending kakak pulang aja dulu!" saran Amira


"Loh memangnya kenapa? aku kan mau tunggu perkembangan Dara dulu disini!" tolaknya


"Aduuuh kakak ini nggak tau kak Irvan itu kayak gimana! bisa bisa....."

__ADS_1


"Bener kata Amira, keberadaan kamu disini cuma akan mancing keributan sama Irvan nantinya!" sahut Adhi dari belakang


"Eeh kamu! tukang ojek aja segala ikut ngatur!" bentak Betrand


"Kak Betraaand, lupa diri lagi ya?!" tegur Amira mengingatkan


"Aaah! iya iya maaf!" sahut Betrand kesal karena ditegur


"Minta maaf sama kak Adhi!" perintah Amira


"Apa! aku harus minta maaf sama tuk....... !" Betrand pun tidak jadi protes setelah dipelototin Amira


"Maaf yaa!" Kata Betrand terpaksa, lalu Amira mengangkat tangan mereka berdua agar saling bersalaman


"Huufh! ya sudah deh aku pulang duluan, Amira nanti kamu pulangnya sama tukang o.... sama kak Adhi maksudnya!!" pamit Betrand dengan wajah murung


Setelah Betrand menjauh, Adhi pun mulai bertanya tanya pada Amira:


"Amira, sepertinya kamu sudah tau tentang saya?"


"Maksudnya tau apa?" tanya balik Amira sambil mengeluarkan handphone dari dalam tasnya


"Kamu sebenarnya sudah tau kan siapa saya sebenarnya?!" tanya Adhi menekan


"Iyaah lumayan, hampir semua teman kak Prisil aku tau semua karena memang teman kakakku cuma sedikit! jadi akupun sedikit banyaknya tau tentang kak Irvan yang sekalinya sudah bersahabat lama sama kak Adhi!" Jelasnya dengan ekspresi datar


"Oowh gitu, kamu memang sangat berbeda jauh dengan kakakmu, dan saya juga sudah cukup lama mengagumi kepribadian kamu! kalau gitu saya minta tolong ya supaya kamu jaga rahasia saya dari Dara!" pintanya


"Tenang aja kak Adhipati, jangankan tentang status pekerjaan kakak sebagai Intel, bahkan kalau aku memang ada niat mau ngebocorin itu semua, pasti dari dulu Dara sudah aku sering ajak kedapur Restaurant yang diPlaza!" ucap Amira menyindir dengan matanya tetap fokus keponsel ditangannya, dan seketika itu Adhi sangat kaget mendengarnya!


"Kamu... kamu tau sampai situ?!" tanya Adhi dengan mata terbelalak, lalu dengan santai Amira menjawab


"Kenapa memangnya kalau aku tau? jadi kak Adhi pikir mentang mentang sudah tinggal dirumah orangtua angkat sejak SD, terus bakal nggak ada yang tau latar belakang keluarga kakak yang asli? iya aku sudah tau kalau kak Adhi dihadapanku ini adalah sang pemilik Resto yang cabangnya ada dibeberapa kota!" Adhi langsung tertegun kaku, dia tidak menyangka rahasianya selama bertahun tahun ini ada juga yang mengetahuinya bahkan Irvan sahabatnya pun tidak tau


"Kenapa, kak Adhi bingung kenapa aku bisa tau? tapi nggak penting juga aku tau darimana, karena yang penting itu kak Adhi cukup percaya aja sama aku, oke?!" Ucap Amira lalu Adhi pun hanya mengangguk tak mampu bersuara lagi,


'Ya tentu aja aku bisa tau karena sudah beberapa kali aku memergoki dia sedang ngobrol serius sama om Rafa anak buah alm.nenek yang gak lain adalah sesama intel dengannya, dan om Rafa yang percaya sama aku pun menceritakan semuanya. Tapi walaupun begitu apa untungnya membocorkan rahasia dia! soalnya kalau aku sampai bocorin, yang ada aku dianggap sebagai penghianat negara yang bukan cuma bisa bikin aku dihukum bahkan juga mencoreng nama keluarga bersarku!' Gumam Amira dalam hati


(Diruang IGD)


"Nggak juga sih, nggak separah kayak dulu, dia cuma kecapean dan keliatannya kurang tidur! cuma aku bingun kenapa tadi pas ditransfusikan darah dari temannya kok tubuhnya nolak ya? padahal golongan mereka sama loh!" kata Indra menceritakan


"Lain kali tolong tanya tanya dulu ya, jangan langsung mentransferkan Darah orang lain untuk Dara! Bisa aja darah anak itu terjangkit sesuatu yang malah bisa bikin Dara tambah sakit!" Protes Irvan


"Tenang tenang, sebelum transfusi tentunya kami sudah periksa dulu kok! dan lagi cara penolakan dari tubuhnya Dara itu sangat aneh, masa darah Betrand yang masuk ketubuhnya sama sekali tidak bisa tercampur dengan darahnya dan langsung keluar begitu saja melalui hidung, makanya dia mimisan dari tadi!" cerita Indra terheran heran


"Apa? maksudnya gimana, aku gak paham?" tanya Irvan bingung


"Pada intinya tidak ada darah Betrand yang berhasil masuk ketubuh Dara, kondisi dan tekanan dia saat ini masih sama dengan tadi pas baru dibawa kesini, dan kita harus coba pakai darahmu lagi seperti dulu!" Jelas Indra


"Tentu, lakukan sekarang juga!!" sahut Irvan semangat


Selama transfusi berlangsung:


"Gimana Dra?" tanya Irvan khawatir


"Aman dan mulai stabil! kok aneh begini ya, sebelumnya apa pernah Dara mendapat pendonor selain kamu?"


"Nggak pernah, ya yang pertama kali sama aku yang dulu itu aja sih!" jawab Irvan


"Ooh!" Respon Indra singkat


Setelah selesai Irvan segera menghampiri Amira dan Adhi yang masih menunggu diluar,


"Amira, kenapa kalian bawa Dara kerumah sakit tanpa kasih kabar?" tanya Irvan menyalahkan


"Tadi aku mau kasih kabar kak, tapi gak tau nomor telpon kak Irvan atau mamanya Dara soalnya belum lama ini kontak di handphoneku terhapus semua terus aku cari handphone Dara ditasnya juga gak ada!" kata Amira menjelaskan


"Iya kalau gitu seharusnya sebelum jalan kalian kasih tau dulu dong sama Adhi! dia kan ad......."


"Sudah sudah Van, mungkin tadi mereka panik jadi gak sempat kepikiran kesitu!" kata Adhi menenangkan Irvan yang mulai emosi


"I..iya kak Irvan maaf, tadi Dara sudah pucat banget jadi aku sama Betrand cuma fokus mau cepat bawa Dara kerumah sakit sampe gak inget kalau kak Adhi pasti sudah nungguin didepan." kata Amira mengakui salah


"Tuh kan Van, yang penting sekarang adikmu itu selamat, malah seharusnya kamu ucapkan terima kasih sama mereka, bukan malah dimenyalahkan!" kata Adhi mengingatkan

__ADS_1


"Aaah iya maaf, terimakasih Amira dan maaf saya tadi......" sambil terduduk lemas dikursi


"Iya kak nggak apa apa, aku ngerti kok! terus Daranya sekarang gimana?" tanya Amira perhatian


"Sudah membaik dan besok sudah boleh pulang." Jawab Irvan tersenyum tipis


"Oiya Amira, nomor saya tadi di save ya, siapa tau ada apa apa lagi nanti bisa langsung kabarin kesaya!" pinta Adhi dengan suara lembut, seketika Irvan pun melirik sinis kearah teman genitnya itu.


"Iya pasti!" sahut Amira yang membalas senyumannya


'Aah untung aja sudah aku jadikan Adhi sebagai supirnya Dara, kalau belum pastinya sekarang ini dia sudah berani godain Dara juga!' pikir Irvan


'Tapi kok Amira ngerespon baik ya? biasanya anak ini gengsinya tinggi!' gumam Irvan heran


.


.


(Dua hari kemudian, dirumah Dara)


"Dek, bangun sudah siang nih..." bisik Irvan dengan lembut ditelinga Dara


"Uum? memangnya udah jam berapa sih mas?" sahut Dara dengan matanya masih terpejam


"Sudah jam delapan lewat!" Jawab Irvan, lalu Dara melirik Irvan yang sudah rapi siap kerja sedang duduk disampingnya


"Apa?! aku kesiangan mas! kenapa alarmku tadi gak bunyi? kenapa gak ada yang bangunin aku!!" kata Dara yang langsung bangkit dari malas malasnya,


Irvan yang melihat Dara sedang tergesa gesa membawa pakaian ganti kekamar mandipun jadi nyengir nyengir sendiri memperhatikan kelakuannya.


"Dek, sudah sepuluh menit loh!" teriak Irvan yang masih duduk ditepi kasur Dara


JEGLEK!


"Iya iya aku udah siap! pasti mas Adhi sudah pergi lagi ya?" tanya Dara yang langsung menyisir rambutnya didepan cermin setelah keluar dari kamar mandi


"Pergi lagi darimana?" tanya Irvan menahan tawa


Mendengar pertanyaan Irvan barusan Dara pun segera berbalik badan menoleh kearah orang yang lagi senyum senyum sendiri dibelakangnya itu, karena merasa curiga diapun baru ingat kalau sekalinya....


"Loh? sekarang kan hari minggu! iiiiih mas Irvan resek deh, bikin kaget aja! aku sampe buru buru mandi, buru buru ganti baju!!" rengek Dara merasa dikerjain


"Hahahaaa..!! Kok mas yang disalahin sih? mas kan cuma bangunin adek aja tadi, nggak ada ngomong apa apa! haha..." sahut Irvan terbahak bahak melihat Dara yang lagi cemberut


"Abisnya mas sudah rapi kayak mau berangkat kerja, kirain sekarang sudah hari senin!" kata Dara sambil melanjutkan menyisirnya


"Hehee iya mas memang mau meeting sebentar abis tuh pulang, adek mau jalan jalan gak hari ini?" tanya Irvan sembari menghampirinya lalu membantu Dara menyisir


"Kayaknya nggak deh, kerjaan rumahku kan banyak setiap minggu!" jawab Dara melas


"Kalau itu nggak usah dipikirin lagi!" kata Irvan, kemudian dia keluar dari kamar tanpa sebab


'Apa sih maksudnya? mas Irvan nih kadang kadang nggak jelas! Aaah, harus ganti baju lagi deh!' gumam Dara sambil melangkah menuju lemari pakaian.


TOK TOK TOK!


"Apa sih mas segala ketok ketok!" teriak Dara


TOK TOK TOK!


"Iiiih mas Irvan apa apaan sih kan dia baru aja dari sini!!" Gumam Dara kesal sembari menghampiri pintu dan segera membukanya


TOK TOK.... JEGLEK!


"Ap..... paa..... PAPAH!!" teriaknya dan langsung meloncat ke pria dihadapannya


"Papah darimana aja sih, susah banget dihubunginya? aku kan kangen! mau pulang juga nggak ngasih tau dulu!!" tanyanya sambil memeluk haru


"Maafin papa ya sayang, kerjaan papa nggak bisa ditinggal dan jaringan telpon disana juga agak susah!" Jawab papanya


"Iyaa... tapikan seharusnya cepat ngabarin kalau sudah dapat signal! papah tuh udah gak sayang sama kami jadinya sering lupa!" ucap Dara manja, sejenak papanya tertegun mendengar ucapan Dara yang membuat Irvan yang berdiri disampingnya jadi heran melihat ekspresi papa


"hEmm.. kamu kok pake seragam Dara? hari minggu gini memangnya ada kuliah ya?" tanya papa mengalihkan


"Nggak ada pah! ini gara gara mas Irvan ngerjain aku tadi!!" Jawab Dara menyalahkan

__ADS_1


"Kamu ini Van, masih aja ngusilin adek adekmu ya?!!" ucap papa pura pura marah


__ADS_2