
Setelah mengobati luka ditelapak kaki Dara Irvan pun mengajaknya kedapur untuk makan.
"Yuk mas gendong aja?" sambil menadahkan tangannya
"Ga usah mas, tangannya mas Irvan juga kan lagi sakit jadi gak u...."
GREEP!!
"Ngoceh mulu sibawel! nih mendingan kamu pegangin aja tiang infusan mu!" kata Irvan yang langsung mengangkat Dara menuju kedapur
"Mas ini loh apa apaan sih? sebentar bentar main gendong sebentar bentar main angkat, aku ini udah kayak barang paketan aja!" protes Dara karna sungkan
"Abisnya kalau nunggu kamu jalan sendiri kapan sampenya? lagi sehat aja lambat apalagi ini kakainya lagi sakit! dan sekalinya kamu ini belum ada makan apa apa ya dari pagi? Nakal!"
"Sok tau mas Irvan!"
"Ya taulah, Orang Indra yang kasih tau kok kalau perutmu kosong! Padahal pagi pagi buta kamu udah bikinin sarapan buat orang tapi kamu sendiri malah nggak makan, gimana sih? cari penyakit aja!" dumelan Irvan membuat Dara terdiam karena tidak bisa menjelaskan kalau sebenarnya dia nggak ada nafsu makan sama sekali
Dalam dekapan Irvan, Dara menyadari kalau gendongan Irvan kepadanya seperti ini sudah tidak terhitung lagi banyaknya, apalagi kalau dihitungnya semenjak mereka masih kecil.
'Mm..walaupun cerewet tapi nyaman kalau dekat dia!' kata Dara dalam hati
(Sesampainya didapur)
"Kamu duduk dulu mas mau bikinin bubur sebentar!" kata Irvan sembari meninggikan tiang infusan Dara
"Bubur buat siapa mas? iiih Coba ini dilepas aja ribet tau!" ucap Dara mengeluh
"Eeh jangan! soalnya infus ini sudah dikasih obat jadi harus sampe habis baru boleh dilepas, dan setelah makan kamu juga harus langsung minum obat yang tadi dibawain Indra ya!" kata Irvan mengingatkan
"ciee tumben akur? ngomong ngomong kak Indranya kemana sekarang, kok tau tau aku bangun udan diinfus kayak gini? aku kira dia masih ada disini" tanya Dara sambil celingukan
Karena heran Irvanpun langsung meraba kening Dara yang lebam gara gara hantupan pintu yang diakibatkan olehnya tadi.
"Dek, apa kamu gak ngerasa jidadmu ini benjol?" sambil mengelus benjolan
"Masa sih? ah iya ya, tapi nggak ada rasanya mas, emangnya kenapa aku bisa sampe benjol begini? aku nggak inget sama sekali gara garanya kenapa!" kata Dara sambil menekan nekan benjolnya tanpa terlihat kesakitan
(Mutya : Aduh Van, Kamu itu wabah ya? kerjanya bikin celaka anak orang terus, Hahahaa! 😂
Irvan : Eh mbak diem aja kamu, muncul muncul pasti kerjaannya nyindir! 😡
Mutya : Aku kan ngomong apa adanya 😜
__ADS_1
Dara : Ehem! yang harusnya protes itu aku tau, kenapa sebagai pemeran utama nasibku malah APES terus gak kayak kisah kisah peran utama lainnya yang menderitanya cuma sebentar kemudian mereka pasti bahagia selamanya? kalau kisah ku ini apaan? aku dari episode pertama sampe sekarang gak ada enaknya, bahkan penyakitku yang dari kecil bukannya membaik malah tabah para ditambah lagi keluargaku mulai nggak harmonis lagi, Hiks.. aku mau mengundurkan diri aja jadi Dara!" 😢
Irvan : Jangan resign dong dek, nanti gak ada lagi pemeran lugu yang gampang mas jahilinnsetiap hari! 😩
Dara : maksudnya mas apaan? 😤)
Cup!
"Itu benjolnya gara gara mas tadi, maaf ya dek mas beneran gak sengaja!" ucap Irvan sambil mencium benjol Dara yang seketika membuat Dara jadi merona.
'Ih kok aku jadi agak degdegan gini ya? padahal kan sudah biasa mas Irvan nyium jidatku!' gumam dalam hati
"Mmmm... tadi?" ragu ragu karna malu
"Iya tadi itu kami nungguin kamu diruang tamu tapi lama banget gak muncul muncul, Indra juga bilang gak bisa lama lama disini soalnya mau berangkat kerja jadinya mas ajak aja dia nyusul kamu kekamarmu, tapi pas mas buka pintu tau tau kamunya sudah ada dibelakang pintu, jadinya.... ya jadinya gitu deh hehee! maaf ya sayang?" cerita Irvan sambil mengusap rambut Dara
"Ooowh gitu.." respon Dara
"Sekarang udah inget?" tanya Irvan dihadapan Dara sambil tersenyum karena nggak enak hati
"Nggak inget!" DOENG!!
Jawab Dara sambil menggeleng, dalam sekejap mimik wajah Irvan berubah kaku.
Dengan wajah masih kaku Irvan pun segera merebuskan sedikit nasi untuk dijadikan bubur sambil merebus telur setengah masak dikompor sebelahnya. Tidak butuh waktu lama kedua rebusan itupun siap dihidangkan.
"Nih, ditiup tiup dulu makannya!" kata Irvan sambil menyodorkan dihadapannya
"Lok kok makan ini aja, memangnya mamah gak ada masak? terus mas Irvan makan apa?" tanya Dara bingung melihat hidangan terlalu sederhana dan Irvan sendiri tidak menyiapkan makan untuknya
"Tadi pas kamu belum sadar mas sudah makan duluan! tuh masakan mamah disamping kompor, tapi untuk sementara kamu cuma boleh makan bubur sama roti, minumnya juga cuma boleh air putih sama susu itupun gak boleh susu coklat dan kental manis!" jelas Irvan lalu tangan Dara mengarah kemangkok sambal
"Eeits ini juga gak boleh! nah, kalau yang ini boleh tapi juga jangan terlalu banyak!" dengan cepat tangan Irvan menjauhkan mangkok sambal lalu menyodorkan kecap manis dihadapannya
"Huuuft! ini sih lebih parah ketimbang makanan dirumah sakit!" protes Dara sampai menghela nafas
"Udah makan aja dulu, nanti buat makan malamnya mas minta ibu masakin sop, oke?" kata Irvan lalu mulai melangkah pergi
"Mas mau kemana?!" tanya Dara merasa ditinggal sendiri
"Mau bersihin lantai kamarmu, udah cepat dimakan cerewet!" sahut Irvan lalu meninggalkannya
(Baru saja mau menginjakan kaki keanak tangga Irvan teringat sesuatu)
__ADS_1
'Oiya, Seprei yang tadi pasti udah kering deh (mendekati jemuran) tuh kan!' gumam Irvan sembari mengangkat seprei dari jemuran lalu melanjutkan tujuannya kekamar Dara
Selesai menyimpan seprei didalam lemari, Irvan pun segera membersihkan dan merapihkan kamar cewek yang memang terbiasa hidup bersih itu, yaa walaupun ceroboh tapi Dara paling nggak senang melihat kamarnya kotor dan berantakan.
'Huaaah... Akhirnya selesai juga!' kata Irvan sembari menggesek gesekan telapak kakinya keatas keset setelah ia selesai mengepel.
.
.
(Jam delapan malam dikamar Dara)
"Aah seger! akhirnya setelah infusannya dilepas aku bisa bebas bergerak!" ucap Dara yang baru saja selesai mandi.
Sembari mengeringakan rambutnya dengan handuk, tiba tiba Dara teringat sesuatu yang telah disembunyikannya,
"Oh iya ya!" sambil buru buru melangkah mendekati meja rias lalu menarik kursinya
"Loh, kemana, perasaan tadi aku sembunyikan disini?" kepalanya celingukan berusaha mengingat ingat.
karena penasaran iapun mengelilingi kamarnya sambil memeriksa setiap kolong dan sudut ruangan.
"Aduh itu ada dimana sih? ayoo dong Dara diinget inget yang bener dimana kamu sembunyikan seprei kotor tadi? mumpung dirumah nih cuma ada Doni, nanti kalau mamah keburu pulang terus nemuin seprei tadi ada darahnya pasti mamah nanya nanya dan jadi khawatir sama aku, soalnya nggak mungkin banget kalau aku jawab "tembus" karna dia selalu ngitung jadwal datang bulanku!" Gumam Dara sambil menepuk nepuk kepalanya berusaha mengingat, karena dia tidak mau melihat mamahnya cemas terus menerus karena penyakitnya, lalu mata Dara tertuju pada lemari pakaian.
"Masa iya aku sembunyikan disitu, itu kan udah kotor masa aku masukin kedalam sih?" ragu ragu tapi tetap maju memeriksa lemarinya tersebut
"Hah! kok bisa, ini kan?" terkejut.
Dia mendapati seprei kotornya sudah terlipat rapi didalam lemari, dan karena penasaran diapun langsung membuka lipatan itu untuk memastikannya.
SRAAB!! (gibasan)
"Loh kok? bercak daranya mana? nggak, aku nggak salah ingat kan? seprei ini tadinya kan memang...(Nyut Nyut!) aduh kepalaku!" rasa bingung Dara yang memuncak hingga membuat pusing dikepalanya mendadak kumat lagi sampai keringat pun mulai bercucuran
"Aduuh! Nggak, aku nggak salah ingat, aku memang sudah muntah darah diatas seprei ini dan karena takut mas Irvan liat aku langsung buru biru menyembunyikannya dikolong meja rias dan saat itu aku.. AAAAGH! sakit!!" Sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah, ingatan dan juga semua rasa sakit dibagian tubuh lainnya mulai terasa normal.
Nyuuuut!
Nyuuuut!
"Aaah iya... iya aku ingat... sekarang aku sudah ingat semua! aku ingat kalau kepalaku tadi kejedod pintu pas mau keluar kamar dan saat bangun tanganku sudah terpasang infus, dan pas mas Irvan datang bawain susu tadi, sebenarnya, aku, aku memang sempet lupa sama mas Irvan!
Iya, sebenarnya aku nggak lagi bercanda ataupun niat mau balas dendam sama dia, tapi tadi itu aku memang beneran gak ingat apapun!" pengakuan Dara sambil meronta ronta kesakitan memegangi kepalanya
__ADS_1