
Melihat Dara tidak mau melepaskan diri dari lengannya, hati Irvan yang sebenarnya sangat senang namun terkendala situasi dan suasana ramai didalam toko membuat dirinya sangat tidak mungkin untuk menggoda apalagi sampai menjahili si lugu.
Kepada penjaga toko yang dari tadi mengiringi nya, Irvan menitipkan beberapa lembar kaos yang sudah dia pilih ditangan nya.
"Disebelah mana tempat pakaian wanita?" tanya Irvan ke pramuniaga tersebut sembari menyerahkan tambahan kaos yang barusan dipilihnya lagi.
"Pakaian khusus wanita berada dilantai atas tuan, tangga naiknya ada disebelah sana!" jawab penjaga toko tersebut sembari menjulurkan tangan kearah kiri darinya dengan sopan. Namun belum sempat Irvan melangkah, pramuniaga itu menanyai nya :
"Apa tuan ingin langsung membayar barang yang ini?" menunjuk pakaian Irvan yang sudah ditangannya.
"Tidak, biarkan dulu, saya belum selesai memilih lagi dan kami akan segera kembali setelah mendapatkan pakaian ganti untuk gadis saya ini!" kata Irvan yang bibirnya tidak berhenti nyengir melihat tingkah Dara yang masih mengupati wajah dilengannya.
"Ayo dek!" ajaknya, lalu Dara mengikuti arah langkah kaki kakak disampingnya itu.
Tidak sampai sepuluh langkah, mendadak Irvan berhenti berjalan. Tap!
"Kenapa kak?" tegur Dara yang langkahnya jadi ikut berhenti, gadis yang masih saja menutupi wajahnya itu tidak tau kalau mereka sudah berada didepan tangga yang ditunjuk pramuniaga tadi.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Dara, lagi-lagi Irvan kembali menggendong gadisnya itu tanpa aba-aba terlebih dulu yang tentunya membuat si lugu kaget.
"KAKAK!!" teriaknya spontan dan dengan sigap tangannya melingkar kuat dileher Irvan.
Karena teriakan Dara barusan, seketika mata orang-orang disekitar memandang kearah mereka, tapi dengan cuek Irvan mulai melangkah menaiki eskalator dihadapannya tanpa sedikit pun menghiraukan tatapan orang-orang itu.
"Kakak apa-apaan sih? ini yang ketiga kalinya ngegendong aku secara tiba-tiba! Sebentar-bentar angkat, sebentar-bentar gendong, emangnya aku barang?!" dumel Dara yang tambah menyembunyikan wajahnya di bahu Irvan karena menahan malu.
Mendengar omelan gadis yang berada dekapnya itu, tiba-tiba saja mata Irvan berkaca-kaca, dia merasa seperti sudah pernah mengalami kejadian yang sama dengan apa yang sedang dia lakukan dan juga dengan apa yang barusan saja dia dengar dari bibir Dara.
Yaa, Irvan masih sangat ingat dengan semua kejadian serta semua ucapan apapun yang mana di hari itu detik-detik Dara akan sakit parah sampai lupa ingatan seperti sekarang ini.
"GLEK!!" terdengar tegukkan liur dari tenggorokan pria yang sedang memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Dara tadi.
"Kamu kan nggak pakai alas kaki dek, pijakan besi eskalator ini bisa aja nyetrum atau menjepit jari kakimu!" Alasan Irvan yang selalu masuk akal.
Sesampainya dilantai tujuan, Irvan menurunkan adik mungilnya itu dengan hati-hati,
__ADS_1
"Dek kamu pilih yang mana kamu suka, kakak tunggu kamu disitu ya?" katanya sambil menunjuk kursi tunggal didepan kamar pas.
Mendengar perintah kakak nya, Dara malah celingak-celinguk memperhatikan keadaan disekitar yang cukup ramai ramai pengunjung.
"Kak, aku malu, disini kan banyak orang!" bisik Dara sambil mengerutkan jari-jari kakinya.
"Kenapa apa kamu malu dek? kan kita disini mau beli bukannya mau nyuri!" sahut santai Irvan ke adiknya yang terlihat sedang gugup.
"Yaudah yuk kakak temenin milih!" ucapnya lagi yang akhirnya luluh karena tak tega.
Dengan penuh perhatian, tangan Irvan merangkul bahu Dara sambil mengarahkan gadis itu berjalan menuju barisan pakaian untuk seumuran nya.
Dara yang awalnya ragu dan gugup, akhirnya lupa akan rasa malunya setelah melihat model-model pakaian yang sangat cantik dalam pandangannya.
Tangan Irvan mulai mengambil salah satu pakaian yang bergantung dihadapannya, lalu dengan penuh penghayatan menyesuaikan pakaian tersebut ke badan Dara.
"Hmm... yang ini simple, apa kamu suka model ini?" tanya Irvan karena takut Dara tidak menyukainya.
"Iya kak, aku suka, warnanya juga lembut!" jawab Dara terpesona melihat warna magenta muda kesukaannya, akhirnya tanpa ragu Irvan mulai terus-terusan mengambilkan lagi dan lagi pakaian dengan model dan warna yang berbeda-beda, lalu menunjukkan nya kepada Dara.
Dan karena yang dipilihkan Irvan hampir semuanya sesuai dengan seleranya juga, tidak terasa sudah hampir setumpuk berbagai model pakaian gadis yang sudah ditampung diatas tangan pramuniaga toko tersebut.
Mendengar pertanyaan penjaga toko barusan, Irvan pun sadar akan perasaan Dara yang dari tadi sudah tidak sabar ingin segera mengganti pakaian, yang kemudian menyuruh nya memakai dari salah satunya.
"Tentu dia akan mencoba semua dan akan langsung makai salah satunya!" jawab Irvan sembari membelai rambut Dara.
Kemudian dengan senyuman ramah, pramuniaga itu pun segera mengantar Dara kekamar pass.
Belum sampai lima menit Irvan duduk dikursi tunggal, si gadis mungil sudah keluar dari ruang ganti dengan masih tanpa alas kaki dengan pakaian pertama yang dipilih Irvan tadi.
Mini dress tanpa banyak hiasan, namun warna magenta muda yang lembut itu membuat warna kulit Dara yang aslinya putih pucat menjadi cerah merona.
Dan karena sudah lama tidak melihat Dara tampil berbeda, membuat sepasang mata Irvan sampai tidak rela berkedip sekalipun.
"Kak, gimana? apa ini cocok?" tanya Dara yang selalu merasa kurang percaya diri dengan sesuatu yang baru.
__ADS_1
"Cantik... cantik banget sayang...!" jawab Irvan yang nada suaranya tidak kalah lembut dengan warna baju yang sedang melekat ditubuh adiknya itu.
"Baiklah tuan, jadi yang ini positif diambil? nona akan mencoba yang lainnya lagi!" sela pramuniaga memecahkan lamunan Irvan.
"Aah, iya iya... silahkan!" sahut sang kakak dengan tumpukan kedip yang sudah tertahan dari tadi.
Dalam durasi hanya antara tiga, empat dan lima menit, setiap kali Dara keluar dari ruang ganti, dengan model dan warna pakaian yang dipilihnya tadi, tidak ada satu pun yang merusak pandangan Irvan.
Hampir semua yang Dara sudah coba sangat cocok dipakainya.
Sampai satu jam berlalu, kini Dara akan mencoba pakaian terakhir pilihan kakak angkatnya tadi.
Namun tidak tau kenapa, kali ini sudah lewat dari sepuluh menit tapi sosok gadis kesayangan nya itu belum juga muncul dari balik tirai ruang ganti didepannya.
Sesekali Irvan memeriksa jam logam yang melingkar dilengan nya yang semakin dia lihat putaran detiknya semakin membuat debar jantung nya juga ikut terpompa semakin cepat.
"Dara?.." Gumamnya sembari beranjak dari duduk yang sudah terasa mulai gelisah.
Rasa cemas yang menggebu karena mengingat gadis nya itu baru saja keluar dari rumah sakit, mendorong dirinya untuk segera mendekati tirai rapat yang tidak ada suara dari dalam nya.
Tanpa ragu, dengan langkah kaki yang cepat sambil tangan menjulur kedepan, Irvan membuka tirai kamar ganti tersebut.
SREEEEK!!...
Dilihatnya sang gadis berada sendirian didalam dengan dress terakhir yang sedang dicobanya.
"Da, Dara?!...."
Cuplikan :
Irvan : Mbak Mut, kok lama banget up nya? mana cuma sedikit pula isinya?
Mutya : Ii, iya maaf.... Maaf banget saya juga gak ada niat mau hiatus eeh malah libur kelamaan begini! Jangan marah yaa Van....
Irvan : Iya deh saya maafin, tapi lain kali jangan kayak gini yaa mbak, saya merasa nyangkut diatas pohon kalau kelamaan begitu!
__ADS_1
Yaa mumpung baru Lebaran jadi kali ini saya maafkan, dan untuk para pembaca setia Dara, saya juga sekalian mewakili semua tokoh mengucapkan,
"Minalaidin walfaidzin, Mohon maaf lahir dan batin bagi yang merayakannya🙏🏻. Dan untuk semua semoga kita dilindungi dari segala macam bahaya termasuk dari Pademik yang sedang merajalela, semoga virus dan masalah yang dibawanya cepat teratasi, Aamiin!"