
"Mas Irvan? bangun mas, mas kenapa?" Samar - samar aku mendengar suara panik memanggil. Perlahan aku membuka mata dan kulihat Dara yang tau - tau sudah bersimpuh disamping bahu, tepukan lembutnya menyadarkanku.
"Uh, Mas nggak apa - apa dek, cuma pusing aja.." jawabku merintih
"Aduuuh Ibu mana ya kok belum juga kesini?! Mas, mas bisa bangun gak? kalau bisa biar aku bantu!" tanya Dara sambil menggenggam tanganku
"Uuuhg!" lalu aku mencoba bangun, tetapi badan lemasku terasa sangat berat
"Udah mas udah jangan dipaksa! tunggu sini sebentar ya biar aku panggil orang dulu dibawah!" katanya sambil siap berdiri
GREP!
Dengan cepat ku tahan tangannya yang masih memegangi tanganku agar dia tetap disini disampingku
"Dek?" panggilku lemah
"Iya mas, mas mau butuh apa?" tanyanya perhatian
"Mas nggak butuh apa - apa, mas cuma mau bilang kalau mas akan pergi dengan tenang ka......"
"MAS INI NGOMONG APAAN SIH? mas jangan suka ngomong sembarangan, mas kan udah janji gak bakal ninggalin aku jadi mas nggak akan kenapa - napa!!" bicaranya menyerobot memotong penjelasanku yang belum selesai, airmata yang dulu jarang ia tampakkan tiba - tiba dia teteskan untukku sontak akupun jadi sangat terkejut
"Adek?! ugh.." segera memaksakan diri untuk bangkit
"Dek, kamu nangis kenapa? maksud mas pergi mau....." dia langsung memelukku
"Mas, aku tau kalau terakhir kali kita ketemu aku sudah ngomong kasar sama mas, aku sudah mengusir dan juga sudah minta supaya mas jaga jarak sama aku, tapi sebenarnya aku......"
"Sudah - sudah, ayo kita pindah kekamar dulu.." pintaku karena posisi kami sekarang ini masih didalam kamar mandi
Walaupun masih sangat pusing tetapi aku sudah mampu bangkit dan melangkah pelan - pelan menuju kasur, Dara yang menuntunku pun ikut duduk dipinggir ranjang.
"Tadi bilangnya mau ganti baju, tapi kok rambutnya basah, pasti mas abis mandi ya?" tanyanya mengalihkan topik sambil menghapus airmata, kemudian akupun membantu menghapus airmatanya dengan jari
"Iya, tadi mas gerah. Dek, Ponimu sudah panjang sekarang, tadi mas sampe pangling loh liatnya!" kataku yang merasa dia terlihat lebih cantik dan dewasa tanpa poni
"Aku gak kepikiran mau potong poni mas!" jawabnya
"Iya gak apa - apa, bagus kok! Kamu ada apa sih dek, kok sampe nangis begini?" tanyaku bingung sambil membelainya
"Gimana nggak sedih kalau mas ngomong mau pergi dengan tenang segala, aku baru aja kehilangan, masa mau kehilangan lagi!!" jawabnya sambil manyun jadi terlihat gemes
"Jadi, adek gak rela mas pergi? dulu katanya mas pergi aja suruh cari jodoh!" kataku mulai menggodanya
"Ya bedalah mas, kalau mas cuma cari jodoh kita kan masih bisa ketemu tapi kalau mas perginya ...hiks!.. a..aku sudah susah payah menerima hilangnya Arga, sekarang kalau mas pergi juga aku gimana? hiks... bisa - bisa aku mati bunuh diri!!" ucapnya lirih
"HEY, Sudah - sudah! kok ngomongnya bikin mas takut gitu sih? kalau gitu mas nggak akan pergi, tapi jangan nangis dan jangan sesekali ngomong mau bunuh diri, mas nggak suka dengarnya!" kataku menekankan
"Tapi mas janji gak akan pergi?"
"Iya mas Janji, tapi, mas ada satu permintaan sama adek, boleh?" tanyaku mulai manfaatkan kepolosannya
"Satu permintaan? kalau itu memang bisa bikin mas tetap bersamaku pasti aku kasih? Apa mas mau minta apa? apa mau darah mas dikembalikan lagi?" tanya Dara yang benar - benar polos membuat aku ingin tertawa namun aku hanya sanggup tersenyum karena disisi lain hatiku justru menjadi sedih melihat sikap lugunya ini yang mudah dimanfaatkan orang, karena terlalu gemas aku langsung memeluknya.
"Adek, kamu ini kelas berapa sih? kok masih aja polos begini, mas nggak minta darah atau apapun yang ada didiri adek, walaupun mas sudah sekarat sekalipun mas lebih rela menyerahkan hidup mas daripada kamu kenapa - napa! jadi kamu jangan pernah lagi berpikir untuk memberikan sesuatu yang berkaitan dengan hidupmu karena mas gak butuh itu, yang mas butuhkan cuma adek yang selamat dari bahaya apapun, dan mas akan menemani sampai adek menemukan seseorang yang benar - benar bisa melindungi kamu! paham?" Jelasku yang ingin dia terhindar dari orang - orang tidak baik
"Melindungi aku? memangnya ada orang yang seperti itu selain mas sendiri? bahkan papahku aja sebatas memberi materi sama aku!" jawabannya sontak membuat aku terdiam karena haru,
'Apakah dia bicara jujur apa adanya? apa benar - benar selama ini dia berpikir bahwa akulah yang selalu ada untuknya? ya ampun, kalau memang seperti itu bagaimana bisa aku jauh darinya lagi sekarang?'
"Terus mas mau minta apa?" tanyanya, lalu aku melepaskan pelukanku bersiap meminta
"Dek, mas mau minta kamu pindah kampus, gimana?"
__ADS_1
CTAR!! seketika bola mata Dara langsung terbelalak menatap Irvan
"Apa, mas mau aku pindah kampus? apa karena kampus itu pernah jadi kenangan buruk buat mas Irvan?" tanya Dara terkejut dan langsung berdiri
"Bu.. bukan begitu maksudnya, tolong kamu jangan salah paham dulu, dengerin penjelasan ma...." mulai panik
"Demi masalah pribadi mas tega ya mau mengacaukan masa depanku! jadi apanya yang mau melindungi kalau egois begitu!?" katanya sambil berjalan mundur kearah pintu
Seketika pertanyaan Dara membuat Irvan merasa serba salah, karena pusing diapun tidak mampu banyak memikirkan kata - kata untuk membuat alasan yang tepat.
"Dek, tolong dengerin alasannya dulu, mas beneran mau melindungi kamu!" ucapnya sembari berdiri ingin menahan Dara yang akan pergi
"Dek~" mulai oleng
"MAS?!!"
TAP
Irvan yang kondisinya sedang sakit langsung tumbang setengah sadar dipelukan Dara yang berbadan kurus.
"Mas, ayo berbaring dikasur!" Irvanpun langsung mengangguk lemah,
Dara yang menopangnya meringis kewalahan menahan tubuh Irvan yang kekar.
"Loh mas Irvan kenapa mbak?!" tanya Reza yang tau - tau muncul dibelakang Dara dengan masih memakai seragam, dia langsung membantu membaringkan Irvan yang lunglai
"Tadi pas pulang dia langsung sakit begini! ibu mana Za?" tanya Dara sambil menyelipkan bantal kekepala
"Itu ibu ada didapur. Terus gimana ini, apa mas Irvan kita bawa kedokter?"
"Nggak usah Za.. palingan mas cuma masuk angin, dibawa istirahat sebentar juga sembuh.." sahut Irvan yang matanya masih dipejamkan
"Yaudah aku mau mandi dulu, nanti kalau butuh apa - apa langsung panggil aja yaa?!" pamitnya Reza langsung keluar kamar
"Mas, bener kata Reza mending diperiksa kedokter ya, kalau mas sakit gimana mau kerja?!" bujuk Dara, lalu Irvan menggeleng
"Buat apa sehat, kalau punya satu adik perempuan aja susah diurus!" ucapnya menyindir sambil buang muka
"Mas kenapa sih keras kepala banget!! terserah sudah mau sehat apa nggak, urus aja sendiri!" Ucap Dara ketus sambil melangkah keluar meninggalkan Irvan sendirian dikamar
Irvan yang masih bingung mencari alasan kenapa dia meminta Dara pindah kampus tiba - tiba meneteskan airmata saat melihat Dara marah dan pergi begitu saja dari kamarnya.
'Kalau Dara masih kuliah dikampus dengan didekati laki - laki seperti itu gimana aku bisa tenang? sedangkan aku akan pergi kuliah keluar kota yang tentunya tidak bisa lagi memperhatikan dia setiap hari seperti disini!' gumam Irvan dalam hati
Dilantai bawah:
"Loh ndok mau kemana?" sapa ibu saat kepapasan dibawah tangga sambil membawa secangkir wedang panas ditangannya
"Dara mau pulang mandi buk udah gerah pake seragam begini!" sahut Dara sambil melirik cangkir ditangan ibu
"Oh yaudah, tadi ibu kehabisan jahe jadinya minta jahe dirumahmu tapi Doni nggak tau tempatnya, makanya nyairiin dulu agak lama! Irvannya udah tidur?" tanya ibu
'pantesan aja tadi ibu dipanggilin nggak datang!' pikir Dara
"Belum buk, dia lagi baringan aja!" jawab Dara murung lalu berjalan pulang
Tentunya ibu jadi keheranan melihat ekspresi suram Dara yang baru saja turun dari kamar Irvan
"Van, kamu ada apalagi sama Dara? tadi kalian baik - baik aja kok tau - tau ibu liat Dara udah kusut pas pulang?!" tanya ibu sembari meletakan cangkir wedang dimeja
"Ah itu, aku bingung bu mau menjelaskannya gimana?" kata Irvan sembari memegangi keningnya yang pusing
"Tadi om mu nelpon nanyain kamu sudah sampe apa belum, ya ibu jawab kalau kamu sudah sampe tapi pulang - pulang langsung sakit, terus om mu ceritain semua ke ibu kalau kamu sudah kerja selama tiga hari berturut - turut buat nyelesein pekerjaan yang mustinya selesai minggu depan cuma pengen cepet pulang kesini katanya, memangnya ada apa sih nak? padahal kerjaan yang disini kan sudah terhandle!"
"Aku buru - buru mau pulang keSamarinda bukan karena kerjaan buk, tapi karena Dara!" jawabnya
__ADS_1
"Dara? memangnya dia kenapa?"
"Ceritanya agak panjang, aku bingung mulainya darimana!" jawab Irvan
"Oiya, sebenarnya waktu sorenya setelah kamu berangkat keJakarta, Dara itu ada kesini nyariin kamu katanya ada yang dia mau omongin, tapi dia nggak cerita mau ngomong apa!" kata ibu memberi tau
"Apa! berarti sebulan lalu dia kesini bilangnya mau ngomong sama aku? kenapa pas itu ibu nggak langsung ngasih tau aku?! aku udah dua bulan menahan diri mau menghubungi dia, cuma takutnya dia masih marah!" Protes Irvan
"Heh! ibu nggak ngasih tau kamu juga karna memang dia yang minta supaya jangan ngasih tau, katanya mau nunggu kamu pulang aja! lagian kalau ibu kasih tau juga buat apa, toh kamunya juga saat itu baru nyampe, nggak mungkin kan langsung balik lagi cuma mau baikan sama dia!" jelas ibu
"Yaa setidaknya aku bisa lebih mempercepat pekerjaanku diJakarta atau dia aku jemput aja buat nemenin aku disana sekalian dia liburan!" jelas Irvan kemudian ibu merespon dengan anggukkan
"Buk! apa beberapa hari lalu ibu ada liat dia diantar pulang sama cowok?"
"Ada, tapi dia nggak sendirian, ada sama Amira juga kok!" jawab ibu santai
"Cowoknya kayak gimana buk?" tanya Irvan penasaran
"Cowoknya ada dua, tapi yang bawa mobil agak banyak ngomong sama Dara sebelum pulang, Kalau tampangnya sih masih kalah ganteng sama Arga, tapi lumayan kerenlah terus keliatannya dia bukan anak sembarangan, soalnya ibu liat dia bawa mobil mewah pake plat nomor cantik!" jawab ibu menjelaskan
"Memangnya ada apa? bukannya bagus kalau Dara sudah bisa melupakan Arga?!" tanya ibu
"Masalahnya anak itu berbeda sama Arga, dia itu....(bla - bla - bla)" Irvanpun menjelaskan semua tentang Betrand ke Ibu
"Yaa Ampun!! terus gimana dong, bisa bahaya kalau Dara bergaul sama anak kayak gitu, bisa hancur masa depan wedokku!" kata ibu cemas
"Yaa itu alasannya aku mau cepat pulang supaya aku bisa ngawasin dia secara langsung! tapi tau - tau malah jadi sakit begini, terus tadi dia ngambek gara - gara salah paham saat aku minta dia pindah kampus, dia pikir aku nyuruh dia pindah karena masalah masa laluku dikampus itu! padahal aku mau ngejauhin dia sama Betran, gimana dong buk cara ngejelasinnya?" tanya Irvan kebingungan
"Yaa kamu ceritain aja kalau kamu mau dia jauh sama Beran itu karena kelakuannya iya kan?!"
"Namanya Betrand bu bukan Beran!"
"Yaa itulah pokoknya, kayak gitu protes aja!" sahut ibu
"Haiiih ibu ini susah kalau dikasih tau yang bener!
Hmm..Tapi buk, mana bisa aku langsung ngejelasin begitu aja sama dia, pasti dia bakal heran kalau tiba - tiba aku tau semua tentang kelakuan Betrand yang lagi deketin dia dikampus?!"
"Yaa kamu bilang jujur aja kalau kamu dapat infonya dari Adhi temanmu yang selama ini jadi ojek pribadinya!" saran ibu
"Ibu ini sembarangan! kalau aku jujur tentang Adhi adalah temanku, apa dia jadi gak tambah marah sama aku? pasti dia jadi curiga kalau selama ini aku sudah memata - matainya lewat Adhi dan kedepannya aku jadi susah buat nguntilin dia! apalagi aku berencana mau nerusin kuliah S2 ku diBandung, tapi mana aku bisa tenang disana kalau adikku terancam disini, masalahnya keadaan sekarang sudah sangat berbeda jauh daripada dua tahun lalu, papanya aja sudah lima bulan ini gak ada pulang sama sekali, iyakan?!" Jelas Irvan
"Iya nak kamu benar juga, dan ada apa sama papanya ya? soalnya ibu juga gak ada dengar kabarnya!" kata ibu
"Waktu itu aku sempat nanya sama mamah, tapi mamah langsung nangis terus lari kekamar! kalau nanti ada waktu aku mau coba cari tau tentang papa, ada apa sih sebenarnya?!" kata Irvan curiga
Dirumah Dara:
"Uuh segernya abis mandi!
emm.. tadi itu, apa aku keterlaluan lagi sama mas Irvan?" gumamnya sembari menggosok - gosok rambut basahnya dengan handuk, lalu dia menatap depan kamar Irvan dari jendela kamarnya.
Terbesit semua ingatan tentang perlakuan baik dan perhatian Irvan padanya sepanjang waktu terutama saat dia sakit.
"Kok aku.... Ah!!" dengan tergesa - gesa Dara menggantungkan handuk lalu menyisir rambut panjangnya didepan meja rias.
'Apa - apaan sih aku ini, bisa - bisanya jadi orang yang nggak tau diri dan nggak tau terima kasih!'
PAAK!
Seketika dia menepakkan sisirnya diatas meja lalu menatap serius wajahnya dicermin sambil berbicara sendiri :
"Mas Irvan, kenapa mas mau minta aku pindah? apa hubungan ku sama masalah mas dikampus itu? sekarang aku nggak peduli mau masuk fakultas apa karena yang terpenting sekarang cuma belajar supaya mendapat gelar sambil menunggu kabar Arga dari Amira! apa mas sama sekali gak mengerti perasaanku?!" Gumamku kesal
Tetapi....
__ADS_1