
Kami semua dikumpul kan ditengah lapangan untuk tetap mengadakan upacara bendera, jadi semua tas yang sedang kami bawapun diminta untuk disimpan dulu didalam kelas yang berada dilantai bawah tidak jauh dari lapangan, setelah upacara bendera selesai kami semua diminta memanjatkan do'a yang ditujukan untuk Nenek nya Amira yang baru saja meninggal tengah malam tadi yang ternyata disebabkan karena penyakit ginjalnya yang sudah menahun.
Setelah selesai upacara dan berdoa, khusus hari ini sekolah akan meliburkan kegiatan ngajar - mengajarnya karena semua guru dan staff akan segera menghadiri acara pemakaman sang pendiri sekolah ini.
Dari lubuk hatiku yang terdalam, sebenarnya aku ingin sekali menjenguk Amira yang mau gimana pun dulunya kami berteman cukup dekat, dan yang pastinya saat ini dia sedang berduka atas kepulangan neneknya itu.
"Kih, apa nggak sebaiknya kita juga jenguk Amira?!" tanyaku pada sahabat yang selalu berkata bijak dan memberikan solusi terbaik.
"Hmm harusnya sih, tapi apa kamu nggak apa - apa??" tanya balik Kiki sambil kaki kami mulai melangkah mendatangi kelas tempat tas kami disimpan tadi
"Yaa... gimana ya? setidaknya aku kesamping kan dulu aja masalah pribadiku..." kataku sambil menunduk
"Memang begitu seharusnya, musibah yang sedang Amira alami tidak bisa dicampur dengan masalah sama Arga!" ucap Kiki tersenyum menyemangatiku sembari merangkul pundak ku
"Kalau gitu kita bawa motor ku aja yaa?!" kataku menyarankan
"Lhooh kamu bawa motor sendiri kesekolah?!" tanya Kiki heran sambil kami memakai tas masing - masing dan berjalan menuju keparkiran
"Iya, memangnya kenapa?!" jawabku santai
"Iya nggak apa - apa sih, cuma kan jarak dari rumahmu kesekolah lumayan jauh terus kamu kan lagi kurang sehat!" kata Kiki perhatian
"Nggak kok, aku sudah mendingan! Jadi gimana nih, kamu pulang antar motormu dulu kah?!" tanyaku
"Iya boleh, tapi motorku mau ditaruh disekolah juga nggak apa - apa, kita tinggal nunggu rombongan guru siap..." katanya
"Nggak usah, takutnya nanti gerbangnya dikunci sama pak Slamet.... Eeeh, tunggu dulu!!!" Kataku karena mengingat sesuatu jadi berhenti melangkah
"Ada apa kok celingak - celinguk gitu?!" tegur Kiki yang juga ikut berhenti didepanku
"Anuu... aku mau taruh almamater di atas motornya aja..." kata ku sambil memperhatikan ke sekeliling parkiran mencari motor Arga
"Owh itu... tapi kayaknya aku juga belum ada lihat dia, mungkin dia nggak masuk sekolah hari ini...?!" kata Kiki sembari ikut mengamati semua motor yang terpakir
"Bisa jadi, terus aku titip dulu deh sama temennya yuuk...." kataku lagi sambil mengajak Kiki balik kembali kegedung sekolah untuk mencari teman - temannya Arga
Setelah berkeliling mencari teman group bandnya di lapangan, kelas dan kantin tetapi satupun tidak ada yang kelihatan, jadi aku menghampiri beberapa teman sekelasnya saja..
"Aku titip ini buat Arga yaa?!" kataku sembari menyodorkan almamater nya Arga, namun....
"Aduuh Dara, jangan titip sama aku... sama yang lain aja yaaa....!!" Katanya sambil melambai penolakan lalu menjauh dariku, Lalu beberapa temen sekelasnya juga menolak tanpa alasan yang jelas dan yang lainnya kabur duluan sebelum aku dekati..
"Ada apa sih, masa cuma mau titip almamater aja pada nggak mau, aneh deh?!!" Dumelku
"Kok pada begitu sih temennya Arga?... Yaudah yuk besok aja lagi, siapa tahu kalau besok ada yang bisa mintain tolong, nanti keburu kesiangan ketempat neneknya Amira nya!!" ajak Kiki buru - buru
"Yaudah yuuuk!!" sahutku sembari memasukan kembali almamater Arga kedalam tas ku, lalu kami pun nergegas berjalan kembali menuju keparkiran motor.
"Kamu nggak ada rasa curiga kah Ra? kok Arga sama temen seGroup bandnya nggak ada yang masuk sekolah, terus juga temen sekelasnya nggak ada yang mau kamu titipin almamater nya dia... ada yang aneh nggak sih?!" tanya Kiki mencurigai sesuatu yang menurut nya ganjil
"Yaaa ada sih sedikit tapi mungkin aja cuma kebetulan doang..." kataku santai sembari mengeluarkan motor dan Kiki sudah memakai helm dan siap meluncur
"Oiyaa, kamu bukannya tadi mau nelpon mas Irvan?!" katanya mengingat kan
"Oiyaa yaa... entar aja dah pas dirumahmu, sambil nungguin kamu ganti baju...!" jawabku sambil membuka jok dan langsung memakai helm
"Yaudah kalau gitu.. yuk..!" ajaknya sambil menyalakan mesin motor lalu mulai melaju pelan didepanku, aku pun mengikuti nya dari belakang.
.
.
(sesampainya dirumah Kiki yang hanya berjarak kurang lebih seratus meter dari sekolah)
"Aku tunggu kamu disini aja Ki sambil nelpon mas Irvan!" Kataku sambil turun dari motor
"Yaudah sebentar ya,, nih!" Sahutnya sembari meminjamkan handphone, lalu dengan cepat dia masuk kedalam rumahnya
"Mmmm...." aku terdiam sejenak untuk berpikir alasan apa yang harus aku katakan sama mas Irvan, jelas pasti dia bakal nanya alasan kenapa aku sampai nekat berangkat kesekolah tanpa bilang sama dia pula.
"Aah telp aja deh dulu, nanti bilang aja jadwal hari ini mata pelajaran penting, rugi kalau sampe ketinggalan..!! iyaa gitu aja alasannya.." kataku dalam hati sambil menekan nomor tujuan ponsel ku sendiri.
TUUUUT!...
..
__ADS_1
TUUUUT!...
..
TUUUUT!...
...
"Kok lama banget ngangkatnya? apa dia lagi sibuk yaa?! Ahh nanti dicoba lagi deh!" Gumamku sembari mematikan kembali panggilan Keluarnya.
Kemudian baru saja aku ingin masuk kerumah Kiki namun .....
ZZZRRRT!!! ZZZRRRT!!! (getar hape)
"Eeh dia telpon balik!! Hallo??" dengan cepat aku segera mengangkatnya
"Kiki mana Dara?!!!" tanya langsung to the point.
"I - ini aku mas....." jawabku takut - takut
"OOOH BAGUS KAMU YAA?! DIMANA KAMU SEKARANG, MAS BARUSAN DARI SEKOLAH MU TAPI SEKOLAHMU DILIBURKAN HARI INI DAN KAMU NGGAK ADA DISANA?!!!" Mendengar pernyataannya yang sambil marah - marah seketika bibirku jadi terbuka alias mangap
"Aaapa?! mas lagi disekolahan ku?" tanya ku memastikan lagi ucapannya barusan
"IYA! DIMANA KAMU SEKARANG?" Ya ampun kakak ku ini ngeri banget sih! pikir ku
"Mas mau ngapain nyusulin aku kesekolah? aku ini udah sehat kok!" Jawabku, sayangnya aja dia tahu sesuatu yang sedang ingin aku sembunyi kan dulu dari mamah, kalau nggak aku pasti males banget ngadepin sifat posesifnya dia itu! dumelku dalam hati
"MAS TANYA KAMU DIMANA SEKARANG?!! APA KAMU LAGI DIRUMAH KIKI HHAA?!!" tanya nya memaksa
"Iya aku kasih tahu, tapi mas jangan marah - marah gitu?!" kata ku menawarkan kesepakatan
"Ya sudah, kamu dimana biar mas susul!" Seketika nada marah nya pun langsung mereda
"Iya mas aku lagi di rumah Kiki, tapi kan aku bawa motornya mama jadi untuk apa mas susul aku,, terus aku juga baru mau jalan lagi sama Kiki kami mau ke ....." Seketika saja aku berhenti bicara
"Mau kemana lagi?!!" Sambung tanyanya yang tahu - tahu mobil putihnya sudah berhenti didepanku dengan kaca jendela yang terbuka membuat aku sangat jelas melihatnya sedang menyetir sambil tangan kirinya memegang handphone yang masih tersambung oleh ku sekarang ini.
"Lhooh kok cepat banget mas?!!" tanya ku terheran - heran sambil menurunkan tangan dari telinga yang masih menggenggam handphone.
"Woooy! ngapain pada bengong? ayo cepetan naik!!" tegurnya dari dalam mobil
"Tapi mas?? ...." aku baru mau bicara
"NGGAK ADA TAPI - TAPIAN, CEPET NAIK!!!" bentaknya
"Aah iya - iya...!!!" perintahnya menekan membuat aku dan Kiki jadi kalang kabut dan segera langsung menaiki mobil minibus nya.
CKLEK, BRAK!
CKLEK, BRAK!
(aku duduk didepan samping mas Irvan dan Kiki duduk tepat dibelakangku, lalu mas Irvan langsung menutup kaca jendela dan mulai menjalankan mesinnya dengan sangat pelan)
Aku dan Kiki terdiam membisu, walaupun sebenarnya banyak kata dan pertanyaan yang ingin aku katakan sama mas Irvan namun suasananya sudah keburu dingingin duluan melebihi dinginnya suhu ac didalam mobil ini.
"Mas?!"
"Dek?!"
Tidak sengaja aku dan mas Irvan saling betabrakan panggilan
"Mas aja dulu yang ngomong!" kataku canggung
"nggak, kamu aja duluan, kamu kan perempuan!!" jawabnya melemparkan obrolan pertama kepadaku lagi
"Mas aja, mas kan lebih tua dari aku!" kataku melempar lagi
"Justru mas ngalah sama yang lebih muda!"
dilemparnya lagi padaku
"Sudah - sudah, aku aja duluan yang ngomong!" Sahut Kiki yang kedua tangannya tiba - tiba langsung muncul diantara kami untuk memisahkan debatan
"Nhaa dari tadi kek!"
__ADS_1
"Nhaa dari tadi kek!"
Sahutku ke Kiki yang lagi - lagi bersamaan dengan mas Irvan, lalu Kiki yang heran melihat tingkah kami hanya melirik kerah ku lalu mas Irvan...
"Haiiiiss! lama - lama disini aku tertular sama kalian!" kata Kiki menyindir kelakuan kami berdua, yang seketika membuat aku sama mas Irvan jadi nyengir mendengarnya.
"Hehehe, ada - ada aja Kiki nih?!..." kataku, dan seperti yang pernah aku bilang sebelumnya kalau sahabatku ini memang sangat pintar mencairkan suasana yang kaku.
"Jadi mau kemana dulu ini?!" tanya mas Irvan masih sambil menyetir pelan
"Mau kerumah Neneknya Amira yang punya gedung sekolahan kami, tadi malam dia meninggal tapi mungkin kita sudah ketinggalan sama rombongan guru yang mau kesana.." Jawabku murung
"Owh kesitu,,," jawabnya singkat
"Memangnya mas tahu rumahnya dimana?!" tanya ku
"Dikota ini siapa yang nggak kenal sama Bu Fatma? Dia pemilik saham terbesar dibeberapa perusahaan ternama dan juga semua anaknya rata - rata sudah punya perusahaan sendiri - sendiri!" Jelasnya
"Aku kok nggak tahu..." kataku
"Yaaa kamu kan masih anak sekolah, kalau nanti terjun keperusahaan atau dunia bisnis yaa pasti tahu...!" jelasnya lagi
"Lhoo, katanya Kiki mau ngomong duluan tadi? ngomong dong!!" kata mas Irvan sambil melirik Kiki dari kaca spion tengah.
"Aku sudah lupa mas!" sahut Kiki sambil nyengir
"Aduuh anak dua niih, banyak banget tingkah nya bikin orang cemas aja!!" Gerutunya menyindir
"Cemas?! mas cemas sama siapa?!!!" kataku tersenyum sumeringah ke Ge'eran
"Yaaa cemas sama diri mas lah, belum juga tua nanti keburu keriput dan ubanan gara -
gara ngurusin kamu aja!!" Katanya pedas namun bikin ge'er
"Aah mas itu keriput gara - gara kebanyakan ngomel sih, sebentar - bentar ngomel mulu..!!" balasku menyindir
"Hmmm kayaknya aku deh yang bakal tua duluan gara - gara ngeliat kalian belum ada satu jam sudah ribut terus!!" sahut Kiki dari belakang yang membuat aku dan mas Irvan jadi berhenti saling menyindir.
"Oiya, mas Irvan kok tahu - tahu sudah disini? kalau misalnya hari ini nggak libur gimana, kan Dara pastinya lagi belajar dikelas?!" Tanya Kiki ke mas Irvan
"Tadi pagi mas tunggu kabar dari kamu tapi nggak dikabar - kabarin, tuuh lihat sudah jam setengah sebelas! padahal mas sms dari jam tujuh kan?!!!" Jawab mas Irvan sedikit menyalahi Kiki yang membuat Kiki jadi sulit mencari alasan untuk membela diri.
"Tadi keburu bell upacara mas, terus upacara nya juga agak lama soalnya sekalian pemanjatan Do'a buat alm.bu Fatma, belum lagi pengumuman nya yang panjang lebar, sampai jam setengah sembilan baru bubaran" Jelasku untuk membela Kiki
"Terus dari setengah sembilan kalian kemana dulu sampai jam segini baru mau berangkat ketempat bu Fatma?!" tanyanya lagi yang selalu butuh jawaban mendetail
"Tadi aku nyari teman - temannya DIA dulu mau nitip almamaternya yang ketinggalan didepan rumah..." kataku menjelaskan sambil menunduk
"DIA?!! ARGA maksudnya?" Sahut mas Irvan dengan sangat jelas dan menekan saat menyebut nama itu
DEEEG!!!
Seketika saja perasaan ku sangat tidak enak saat mendengar nama itu disebut secara sangat jelas dan menekan, membuat aku jadi kembali mengingat penghianatannya terhadap ku saat itu.
"Aku sudah bertekad tidak akan menangis lagi karena dia!!!" kata dalam hatiku sambil kepala ku masih menunduk.
Aku mencoba memperkuat hati untuk menahan rasa sakit yang tiba - tiba muncul kembali, namun airmata yang ingin kutahan tidak bisa diajak kompromi dan semakin kutahan malah semakin banyak menggenang hingga membuat kabur penglihatanku.
Dengan cepat aku berpaling wajah menghadap kejendela yang berada disamping kiriku, hampir saja airmata yang hendak menetes ketahuan sama Kiki dan Mas Irvan yang membuat aku jadi terlihat lemah karena Arga kalau sampe mereka melihatnya.
GREEEP!!!
Tiba - tiba tangan kiri mas Irvan meraih bahu kiriku dan langsung menarik kepelukannya.
"Kalau mau nangis, nangis aja jangan ditahan!!" katanya sambil memberikan pundaknya untuk aku sandarkan sebagai tempat menutup wajah.
"Hik - Hik!! nggak mas, aku nggak mau nangis, apalagi nangisin dia! Hik - Hik!!" kataku mengelak namun tetap saja menangis
"Yaa nggak apa - apa Ra, disini kan cuma ada kita bertiga aja, lagian pula kejadian itu baru dua hari yang lalu jadi wajar aja kalau kamu masih ngerasain sakit hatinya!.." Kata Kiki ikut menyemangati ku sambil tangannya mengusap - usap punggungku.
"Bener tuh kata Kiki, nggak mungkin bisa cepet sembuh apalagi kalau kamu pendam sendiri, pasti jadinya malah semakin lama lagi untuk sembuh dari rasa sakitnya!! Yaudah, nih didepan sebentar lagi sudah mau sampe, jadi nggak ketempat nya bu Fatma nya?" Akupun hanya manggut - manggut mendengar nya dengan posisi masih dipelukannya
"Kalau gitu hapus dulu airmatamu, sebentar kita parkir.." Kemudian tangan mas Irvan melonggarkan pelukannya lalu akupun bangun dan segera duduk tegak sambil mengambil beberapa lembar tisue kering yang ada didepan ku.
__ADS_1