
HIKS..HIKS..
HUUU..HU.....
Mama dan Doni masih menangis terisak dimeja makan karena keributan barusan, Mereka tidak menyangka kalau papah yang selama ini selalu memanjakan keluarga tiba tiba berubah kejam dalam sekejap, ucapan dari lidah yang biasanya humoris tanpa diduga bisa mengeluarkan kata kasar yang menyakitkan, bahkan sakitnya itu sampai menembus kesum sum tulang. Terlebih kepada putri yang dulu sangat disayangainya itu, tidak ada yang menyangka hari ini dia telah tega melayangkan tangannya!
"Aku nggak apa apa, ayok kita lanjutin makannya..." kata Dara dengan suara lemas sembari tangannya meraba raba meja makan, walaupun dia berkata tidak apa apa namun tatapan kosong dimatanya yang terlihat bingung menandakan sebaliknya bahkan dia sampai tidak sadar sudah terbalik memegang sendok.
"Ya Ampun ada apa?!" kata Ibunya Irvan yang tiba tiba datang dan langsung menghampiri Mamah
"Aina, kamu kenapa nangis Na? aduh... Irvan sebenarnya ada apa Van suara ribut ributnya sampe kedengeran kerumah?" tanya ibu jadi panik saat melihat mamah dan Doni berlinangan airmata
Irvan yang daritadi duduk menyamping memperhatikan Dara yang sedang termangu, hanya mampu menggeleng menahan tangis saat menjawab pertanyaan ibunya. Keringat yang membasahi rambut sampai becucuran dikeningnya ditambah airmata yang membendung ditepi matanya sudah cukup menjadi jawaban bagi ibu kalau baru saja terjadi sesuatu memilukan, karena ibu sangat hapal dengan sikap anaknya yang tidak mudah menangis itu.
Tap Tap Tap!
Suara langkah kaki yang terdengar terburu buru menuruni anak tangga membuat ibu penasaran siapa pemilik suara langkah tersebut, dan saat menoleh sekalinya suara itu berasal dari papah yang turun tergesa gesa dengan tas koper ditangannya.
"PAPAH!" Teriak Irvan berlari menahannya didepan tangga
"Pah tolong jangan pergi pah, kasian Dara dan Doni yang masih kangen sama papah!" bujuknya
"KAMU GAK DENGAR KAH MEREKA TADI BILANG APA? MEREKA GA BUTUH SAYA, MEREKA LEBIH BUTUH KAMU! BAHKAN ISTRI DAN ANAK SAYA SUDAH MENGUSIR SAYA DARI RUMAH INI, JADI BUAT APA KAMU MENAHAN SAYA BEGINI?!" ucap papa sengaja teriak teriak
"Pah kalian kan sudah dewasa, terlebih papah ini adalah kepala rumah tangga jadi pikirkan baik baik sebelum mengambil keputusan jangan terbawa emosi!" kata Irvan berusaha meredam
"Keputusan? Jangankan keputusan, bahkan pendapat sayapun sudah tidak didengar lagi dirumah ini berbeda dengan suaramu yang langsung mereka turuti, jadi kamu saja yang jadi kepala rumah tangga disini!"
"Papah ngomong apa sih? bukankah papah sendiri yang dari dulu sudah menganggap dan minta aku jadi kakak tertua dirumah ini, menjaga mamah beserta adik adik selama papah kerja jauh dan jarang pulang, kenapa sekarang papah malah menuduhku mengambil posisi papah? nggak pah aku nggak begitu, aku sayang semua yang disini sudah seperti keluargaku sendiri, jadi tolong papah jangan pergi!" ucap Irvan memohon sampai memeluk lutut orang yang sudah dianggap ayahnya sendiri
"Iya kamu bener Van, memang saya sendiri yang pernah meminta kamu menjaga keluarga saya, tapi sekarang saya malah melihat kamu jadi pagar makan tanaman!"
"Nggak pah nggak, aku nggak akan seperti itu!" ucap Irvan meyakinkan
"AaaH... SUDAH SANA!!" BUUG!
__ADS_1
dengan kuat papah mendorong bahu Irvan kearah tangga berniat melepaskan kakinya dari pelukan Irvan.
"IRVAN!! sudah Van gak usah kamu tahan laki laki idung belang ini, biarkan dia bahagia sama perempuan jalangnya!" ucap mama langsung menghampiri Irvan yang terjatuh dianak tangga.
Irvan terjatuh bukan karena dia lemah, melainkan karena dia tidak berani sedikitpun mengeluarkan tenaganya untuk melawan orang tua.
Ibunya Irvan yang dari tadi diam membiarkan anaknya memohon tanpa tau kejadian sebenarnya langsung terperajak kaget setelah mendengar ucapan mamah Dara barusan yang mengatakan kalau suaminya ternyata ada main serong dengan perempuan lain. Seketika itu hati nurani perempuannya bergejolak, terlebih karena pernah dikhianati alm.suaminya jadi dia bisa ikut merasakan apa yang sedang bu Aina rasakan saat ini.
"Oowh jadi karena kamu sudah ketahuan punya perempuan simpanan jadi mau melemparkan kesalahanmu sama anak saya yang jelas jelas sudah menganggapmu sebagai orang tuanya! SAYA KECEWA, SAYA MENYESAL SUDAH MENGANGGAP KAMU SEBAGAI SAUDARA! AYOO VAN KITA PULANG, BIARKAN KEPALA RUMAH TANGGA SATU INI MENYELESAIKAN MASALAHNYA SENDIRI!" Marahnya ibu ke papah Dara
"MBAK!!" panggil mamah menahan ibunya Irvan
"Kamu tenang aja Aina, saya tetap menganggap kamu dan anak anakmu sebagai keluarga, hanya saja selama laki laki ini disini saya dan anak anak saya tidak akan kerumah ini agar dia tidak akan melemparkan kesalahan demi menutupi aib yang dilakuannya! dia mau pergi dari sini dengan alasan posisinya sudah direbut Irvan, kalau begitu kita liat apa dia akan kembali bertanggung jawab pada kalian? Ayoo Van!" ucap ibu bernada kesal
Dara yang dari tadi masih diam dimeja makan tiba tiba merasa tidak rela kalau harus berjaga jarak dengan keluarga diseberang rumahnya itu, terlebih tanpa kehadiran Irvan kalau papahnya ada dirumah.
'Nggak, nggak bisa, aku gak bisa jauh dari mas Irvan!' pikir Dara, lalu dia mendatangi mereka didepan tangga.
Dengan membelakangi papahnya dia berusaha meredakan emosi ibu dengan mengatakan:
"ANAK DURHAKAAAAA!!" teriak papah sambil mencari barang disekitarnya untuk dia lempar.
"DARA AWAS!" Teriak Ibu dan Mamah
"HAh!" mata Irvan terbelalak
BUUG! PRAAANK!!
"Aaaagh!"
"Irvaaan?!" panggil mamah kaget
Kejadian yang begitu cepat membuat Dara bingung dengan apa yang terjadi barusan karena tau tau Irvan secepat kilat sudah memeluknya dari belakang.
"Ssssttttt!!...aaagh!"
__ADS_1
"Hah? mas Irvan?" Dara menoleh ke Irvan yang meringis
Ces!
Warna darah mulai merembes dari pakaian Irvan, bukan karena dia terluka oleh lemparan vas bunga yang papah layangkan ke Dara, melainkan karna lemparan itu mengenai pas diluka bahunya yang jadi terbuka lagi.
"Van luka tembakmu!" kata mamah keceplosan
"Apa luka tembak? luka tembak apa?!" tanya Dara yang langsung melotot karna kaget
"Bu.. bu... bukannya kalian bilang... kalian bilang mas Irvan tertusuk ranting pada saat menolongku dari mobil Betrand yang terperosok dihutan? kenapa... kenapa sekarang mamah bilang luka tembak?" tanya Dara dengan suara mulai bergetar dan tatapan bingung melihat Irvan
'Jadi itu yang mereka ceritakan sama Dara masalah luka ku ini?" gumam Irvan dalam hati yang juga belum mengetahui alasan yang mereka buat untuk lukanya.
"Dek ini cuma luka kecil aja, mas nggak apa apa kok dan ini se......." Dara tidak mau mendengarkan alasan Irvan dan malah memotongnya
"Ada apa... ada apa ini? apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam pas aku sama Betrand?..." seketika semuanya bungkam membuat Dara jadi semakin curiga
"KENAPA SEMUA DIAM? JAWAB YANG JUJUR!" Bentak Dara mendesak
"Kamu mau tau yang sebenarnya iya? baik papah bakal kasih tau sekarang juga!" ucap papa menantang
"PAPAH!" tegur Irvan
SET! dengan cepat Dara mengangkat tangannya bermaksud membungkam Irvan yang hendak menahan cerita papah.
Kemudian tatapan mata Dara tertuju kepapah bagai tak berkedip sambil kakinya mulai melangkah mendekat lalu berdiri dihadapan papahnya.
"Iya aku mau tau, Ceritakan!" pinta Dara dengan nada dan ekspresi kaku bersiap membentengi hatinya agar kuat
"Dara jangan dengerin nak, tadi mamah asal ngomong aja!" bujuk mamah
"CEPAT CERITA!!" bentak Dara tidak sabaran
"Kemarin malam sebenarnya kamu sudah dibawa dan ditidurin Betrand dihotel Balikpapan!" ucap Papah tanpa ragu
__ADS_1