
"Kamu jangan kebiasaan yaa dek, kalau ada yang ngajakin kenalan jangan asal mau, nanti kalau kamu ketemu orang yang punya niat nggak baik gimana?!" Pesannya dengan omelan yang mulai kumat
"Tapi kan mas dia cuma ......."
"Cuma apa? mau terulang lagi yang kemaren?!.." ucapnya memotong alasanku dengan tujuan mengikatkan ku pada seseorang
"Iyaa - iya......." Jawabku pasrah dan mengalah
"Sudah - sudah kalian ini berantem terus..!
Dara, mama minta maaf ya sayang, mama nggak bisa nemenin lama - lama, soalnya besok pagi - pagi sekali mama harus sudah nyiapin bahan kue pesanan orang yang kemarin, kamu ditemani Irvan dulu nggak apa - apa kan nak?" Kata mama yang terlihat sudah tenang
"Iya mah, mama kan tadi sudah gantikan pakaianku, sudah bawain makanan kesukaanku, banyak banget lagi...." jawabku sambil memegang bungkusan makanan
"Iya, ini kan kesukaan Irvan juga, jadi mama sengaja bawaiinnya double, oiya, baju ganti Irvan sudah ada didalam laci yaa, tadi Ibu yang titipin paa mama mau kesini...
Yaudah yaaa mama pulang dulu, kalian jangan berantem lagi.." kata mama sambil mengambil tasnya lalu menciumi pipiku dan keningku
"Makasih banyak mah, aku sayang banget sama mama...." kataku sambil memeluknya dengan rindu, karena bagiku sudah tiga hari tidak bertemu.
Hatiku sekarang sudah merasa bahagia karena bisa mendalami keberadaan mereka didalam jiwaku, memang benar yang dibilang Buyut tadi kalau ternyata banyak yang sayang sama aku.
Lalu, Mumpung mas Irvan lagi ngantar mamah keparkiran sekalian mengambil keperluan mandi dimobilnya, akupun segera meminum obat yang diberikan doktet Indra tadi dan sekalinya aku menemukan secarik kertas bertulisan...
"Dara, Jangan sering telat lagi makannya yaa,, nanti kalau ada keluhan apa - apa hubungin aja saya di 08***** ditunggu yaa kabarnya cantik ❤..." Pesan dari dokter Indra yang siselipkan dalam bungkusan obat tadi
'Oalaah.. pantesan aja obatnya nggak mau dia titipin kesiapa - siapa sekalinya .......! (sambil nyengir sendiri)
Eeh! bisa berabe kalau sampe diliat sama dewa petir!' pikirku, lalu buru - buru menyimpan kertas itu didalam dompetku yang kebetulan memang barada diatas meja tepat disampingku.
Dan karena sudah cukup lama sendirian dikamar, tahu - tahu aku jadi melamun saat memikirkan lagi apa yang terjadi tadi,
'Masa iya sih baru tiga jam? Padahal aku benar - benar sudah merasa kalau disana tadi itu sudah terkurung lama banget!
Terus, apa benar kalau suasana hatiku memang lagi seperti itu?
kosong, hampa, gelap dan juga dingin?
Memang sih kuakui sejak hubunganku dengan Arga bemasalah, aku jadi sering memasang senyuman palsu didepan banyak orang, tetapi memangnya aku harus gimana lagi? kan nggak mungkin juga kalau aku harus sengaja menunjukan kesedihanku keorang - orang. Yang ada bisa - bisa aku jadi keliatan lemah dan cengeng donk! Aaah aku nggak mau kayak gitu, aku nggak suka! (sambil menggelengkan kepala) aku harus terlihat kuat walaupun sebenarnya sakit!' kataku dalam hati menyemangati diri
CTEK! CTEK! (cetikan jari tangan)
"HEEEY Dek?!"
"Eh! mas?!" aku kaget tau - tau mas Irvan sudah ada dihadapanku dengan handuk dibahu beserta tas plastik kecil ditangannya
"Kok melamun? apa sih yang dipikirin?! .....
Hmm?!" tanyanya sambil menatap tajam, dan saking penasarannya sampai dia membengkokan lehernya didepan wajahku
"Nggak kok! nggak ada! sono gih mandi udah bau!!" alibiku mengusirnya padahal cuma mau mengalihkan pertanyaannya.
Lalu dia menatapku dengan tatapan curiga, kemudian dengan konyolnya dia berjalan mundur menuju kekamar mandi sambil terus melihat kearahku, lalu berbicara dengan nada datar:
"Yaudah mas mandi dulu, kamu jangan kebanyakan mikirin yang nggak penting!" pesannya
"Iya!" sahutku singkat sambil membalas tatapannya. Ku perhatikan tingkah aneh berjalan mundurnya itu sampai dia masuk dan menutup pintu kamar mandinya.
Huuufh! (aku menghela nafas)
"JANGAN NGINTIP!!"
__ADS_1
Dengan cepat dia membuka pintu lalu menutupnya lagi hanya untuk berkata seperti itu.
"IiH SIAPA JUGA YANG MAU NGINTIP!!" Sahutku kesal karena kaget.
"Awaslah! untung tanganku masih lemas buat dibawa bergerak, kalau nggak, sudah aku lempar barang!!" dumelku
Aku yang masih menatap pintu kamar mandi sejenak jadi terdiam, lalu tersenyum sendiri, kututup bibirku karena menahan haru setelah melihat tingkah konyolnya barusan.
'Yaa ampun, kalau aja aku nggak bisa kembali lagi, pastinya aku nggak bisa lihat tingkah dia yang seperti sekarang ini, yang dari dulu tidak pernah berubah terhadapku, walaupun dia sempat tinggal DiBandung selama dua tahun tetapi sosoknya sebagai kakak tidak pernah hilang disisiku' pikirku sambil merasa syukur
"Buyut, aku nggsk mau jauh lagi dari mereka yang menyayangi ku..." Bisikku kepada Buyut karena aku tahu dia pasti mendengarnya.
Tidak sampai lima belas menit mas Irvan pun selesai mandi dan ganti baju, kemudian dia duduk dikursi samping ranjangku.
"Udah diminum belum tadi obat lambungnya?" tanyanya
"Udah. Looh kok mas tahu itu obat lambung?! tanyaku
"Apa sih yang mas enggak tahu?!" jawabnya sombong
"Yeeaah pede - nya! jadi, kita makan yang mana dulu nih?!" katakuku sembari melongok kebungkusan makanan yang tadi dibawain mama, lalu mas Irvan segera berdiri sambil mengeluarkan satu persatu makanan dari dalam bukusan.
"Mamah bawainnya banyak banget nih dek, padahal kita kan cuma berdua aja, ditambah lagi yang dari rumah sakit!" katanya kebingungan
"Yaaa mungkin karena dipikir mamah Mas kan habis tranfusikan darah ke aku, jadinya butuh makan yang banyak!" Ucapku, lalu dia menoleh dengan cepat kearahku
"Apa? memangnya adek bilang sama mama kalau tadi itu mas yang donorkan darah!?" dia memberi pertanyaan yang bikin aku jadi bingung
"Nggak ada sih Mas,, Looh emangnya nggak ada yang tahu kalau tadi itu darahnya mas? kalaupun tahu memangnya kenapa?!" kataku yang balik bertanya. Lalu dia duduk diatas ranjang pas disampingku sambil jarinya membelai rambutku, dengan serius dia menjawab
"Bukannya kenapa - napa dek, cuma kalau tadi mas ada bilang dulu sama mereka bisa - bisa nggak diizinin, soalnya Mamah sama Ibu kan sudah berpesan supaya Mas jagain kamu, takutnya aja mereka nanti berpikir kalau mas bisa sakit karena kekurangan darah, terus kalau mas sakit siapa yang ngawasin anak nakal yang satu ini!! hee?" ucapnya sambil menoel hidungku sambil tersenyum
"Iiiiiiiih Siapa yang nakal? mas tuh yang sering usilin aku! ( jawabku manja)
Kemudian tangannya mengelus pipiku, dengan bola matanya yang bersinar menatap serius kemataku seakan hanya ada aku dimatanya.
"Dek, kalau uang Mas masih bisa dicari, tapi kalau kamu yang sampe hilang mas pasti bakal nyesel seumur hidup! memang darah itu bisa aja beli dirumah sakit, tapi mas lebih yakin sama darah mas sendiri buat adek..!" JLEB!! . . . . .
sontak kata - katanya barusan terasa begitu menusuk kedalam hati.
Seketika aku meneguk liur yang terasa sangkut ditenggorokanku,
Ku resapi ungkapannya barusan yang telah meluluhkan jiwaku,
Cahaya dimatanya yang membinar - binar membuat mataku jadi berkaca - kaca karena terharu,
Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali hanya memeluknya.
"Mas! maafin aku mas kalau selama ini aku sudah ragu sama mas, sebenarnya memang banyak hal yang sudah aku tutupi, termasuk tentang kejadian tadi yang memang mau aku ceritain sama mas cuma takut mas nggak akan percaya sama ceritaku. Tetapi terserah nanti mas mau percaya atau nggak, yang jelas aku memang sedang butuh seseorang untuk berbagi cerita tentang hal yang memang nggak masuk akal ini!" kataku sambil kembali merasakan takut kehilangan
"Kok kamu bisa berpikir kayak gitu? percaya sama mas, apapun yang kamu ceritain mas pasti akan dengarkan dengan baik karena mas nggak mau kamu nyimpen masalahmu sendiri, denger (sembari memegang kedua pipiku) mulai sekarang setiap ada masalah apapun itu kamu harus cerita sama mas yaa?! (akupun mengangguk)
Jangan ada yang ditutupi lagi? Janji?! (aku mengangguk lagi)
Ya udah, kalau gitu sekarang kita makan dulu habis itu kamu cerita.!" Ucapnya, lalu akupun jadi bersemangat.
Kami makan bersama sambil gurau dan bercerita masa - masa kecil yang nggak pernah terlupakan, dan cerita saat - saat dua tahun belakangan dimana mas Irvan tinggal di Bandung, tetapi enggak tahu kenapa dia sama sekali tidak ada menyinggung sedikitpun tentang Arga selama kami bercerita padahal sebelumnya dia sangat antusias dan penasaran.
Kemudian setelah selesai makan, akupun mulai menceritakan semua kejadian aneh mulai dari saat pulang dari mall sampai kejadian tadi bersama Buyut. Mas Irvan dengan seksama memperhatikan setiap kata - kataku seakan dia mempercayai kejadian yang bahkan aku sendiri sangat ragu dengan pengalaman itu, apalagi dia itu orang yang sangat terpelajar, jadi mana mungkin percaya dengan hal tahayul kayak gitu, pikirku.
Namun setelah aku selesai menceritakan semuanya sampai akhir, mas Irvan pun mulai menanggapi hal tersebut dengan positif dan anehnya dia bahkan meyakinkanku bahwa cerita yang aku alami itu beneran.
"APA?!!" Kaget ku heran
__ADS_1
"Iya dek beneran, jadi saat kamu pingsan tadi sore itu mas bahkan sempat mencium wangi alm.Bapak lewat pas didepannya Mas, ya lansung mas jadi takut banget! soalnya pernah denger konon katanya kalau ada orang yang lagi sakit terus didatangi sama "sosok" keluarga yang sudah meninggal duluan bisa jadi dia itu lagi dijemput!" ucapnya sambil menatapku dengan khawatir
"Jadi, apa Buyut itu adalah alm. Bapak?!" tanyaku
"Kalau itu sih mas kurang tahu juga, tapi mas berharap itu nggak akan pernah terjadi selama mas masih hidup,
Karena mas nggak akan sanggup kalau harus kehilangan lagi, jadi mas berharap kalau itu sampe terjadi, maka mas harus duluan yang di jemput!." . . . . . . .
"AGH JANGAN!! (dengan cepat memeluknya)
kalau ditinggal sama si brengsek itu aku masih sanggup! tapi, tapi nggak bakal sanggup kalau ditinggalin sama mas! lebih baik aku duluan aja, aku nggak sanggup kalau melewati hari tanpa mas yang dari dulu sudah jagain aku, lagian mas kan tadi udah janji nggak akan ninggalin aku!!" Ucapku dengan bibir yang mulai bergetar
Sesaat mas Irvan hanya terdiam saat aku memeluk dan berkata seperti itu. Tidak lama kemudiam dia langsung membalas pelukanku dengan erat yang dadandan suaranya yang mulai bergetar.
"Iya dek~ mas janji, kita akan sama - sama terus sampai nanti!" ucapnya sambil membelai juga menciumi rambutku.
Aku yang sudah sempat merasakan kehilangan walaupun cuma selama tiga hari, tentunya tidak akan sanggup bila harus kehilangan untuk selamanya.
Dipelukannya kini aku resapi aroma tubuhnya, kudengar suara detak jantung didadanya yang sedang memompa aliran darahnya yang kini juga sudah mengalir didalam tubuhku, membuat aku terbuai dalam belaian kasih sayangnya. Sampai tidak terasa hari sudah semakin larut,
Dimalam yang panjang ini aku sangat sulit tidur, mungkin karena tadi siang aku sudah tidur cukup lama, jadinya sekarang tidak ada terasa mengantuk sama sekali, dan ditambah lagi pikiranku masih saja terus terbayang kejadian didalam ruang hati yang gelap itu membuat aku jadi takut untuk memejamkan mata.
Sesekali aku memandangi wajah mas Irvan yang sedang tertidur disofa kamar VIP ku ini, wajahnya yang terlihat pucat karena dia sudah memberikan sebagian darahnya untukku yang kini menyatu dalam hidupku.
Sempat ku berpikir, balasan apa yang pantas kuberikan untuknya? bahkan bisa dikatakan kalau (tanpa mengurangi rasa hormatku,) jasanya lebih besar dibandingkan papaku sendiri, karena mas Irvan selalu ada untuk menjagaku dari aku kecil hingga saat ini.
(PAGINYA)
"Lhooh dek, sudah bangun?" tegurnya saat melihat aku sedang bermain handphone.
"Iya..." jawabku sambil tersenyum melihat dirinya menghampiriku sambil mengucek matanya lalu mengerutkan alis mengamatiku
"Kamu bohong, kamu belum ada tidur kan?!" ah ternyata dia tahu kalau aku sudah membohonginya, aku jadi takut dimarahin
"Nggak kok, mas sok tahu niih, aku kan memang udah bangun dari tadi..." bohongku bertambah
"Dek, kita ini sudah sama - sama dari kecil, jadi kamu mau berbohong seperti apapun mas pasti tahu!" Ucapnya sambil menggelengkan kepala lalu berjalan kekamar mandi, akupun jadi terdiam karena merasa bersalah.
Karena aku nggak mau membuat dia tambagbkecewa jadinya aku berniat akan tidur setelah sarapan dan minum obat.
JEKLEK!!!
"Pagi nona cantik, gimana ada keluhan gak?!"
Tanya dokter Indra yang tiba - tiba datang sendirian
"Eeh, Pagi dok..!" Jawabku sambil tersenyum sumeringah
"Loooh kamu sendirian?!" tanyanya, dan karena aku terpesona dengan wajah tampannya, seketika jadi terus menatap dan tersenyum kepadanya
"Siapa yang sendirian?!" Dengan cepat mas Irvan membuka pintu toilet dan menyahutinya ketus.
Karena terpesona dengan ketampanan dokter Indra, aku sampai hampir lupa sama mas Irvan yang berada didalam kamar mandi.
'Waduh, nanti mas Irvan bisa ribut lagi nih!' gumamku dalam hati
"Lhoo Kamu nggak berangkat kerja Van?" tanya dokter Indra santai
"Nanti aja aku berangkatnya kalau kamu sudah ganti shift!" jawabnya sinis
"Owh gampang aja itu.. sebentar lagi juga aku ganti shift kok..." Sahutnya yang tidak kalah sinis, aku yang tidak bisa berbuat banyakpun hanya diam daripada nanti salah - salah ngomong lagi.
"Dara, hari ini ada jadwal di rontgen ya?!" tanya dokter Indra padaku
__ADS_1
'Di rontgen? memangnya ada apa dengan tulang ku?!!