
"MAAF YAA SAYA MASUK KESINI!!" Ucap panik seorang laki - laki berseragam supermarket.
Lalu dengan terburu - buru menghampiri kami bertiga (aku, ibu hamil, dan ibu tua yang baru datang barusan)
"Sudah mau lahir kah mah?!!" tanya dengan ekspresi cemas namun terbalut rasa senang yang terlihat dari lelah yang tidak ia rasakan lagi setelah barusan berlari - lari kesini, semua itu terlihat jelas dari keringat yang membasahi seragamnya merahnya itu yang meyakinkan aku bahwa inilah suaminya dari ibu yang mau melahirkan ini.
"~Aduuuh Pah mulai tambah sakitnya~" rintih istrinya itu yang terlihat berusaha tetap kuat tanpa meneteskan sedikitpun airmata walau sudah sangat terlihat jelas menahan rasa sakit.
DRAP! DRAP! DRAP! (suara banyak langkah kaki mendekat)
"Gimana mbak nya, langsung kita angkat aja ya?!! " suara seseorang dari beberapa orang yang tiba - tiba datang sambil membawa tandu.
Terlihat ada seorang security, mbak yang bersih - bersih tadi, dua orang pria yang berseragam merah sama persis dengan suami mbak ini, juga ada dua orang berseragam putih yang mungkin petugas kesehatan didekat mall ini.
Aku yang menyaksikan semua kepanikan orang - orang yang berada didalam ruang toilet wanita ini hanya bisa diam melihat ibu yang disebelahku sangat sibuk membantu menuntun saat ibu yang mau melahirkan ini sedanh siap digendong sendiri oleh suaminya keatas tandu.
"makasih ya bu, adek udah bantuin~" Ucapnya kepada aku dan ibu yang disebelahku saat tandunya sudah mulai diangkat.
"Iya, iya semoga lancar yaa mbak!!" Jawab ibu itu dengan semangat, lalu aku hanya mengangguk - angguk sambil nyengir lebar karena ucapannya sudah diwakilkan.
Lagian pada saat itu aku baru berumur dua belas tahun, masih kurang pandai berkata - kata untuk berbasa - basi.
Entah kenapa setelah mbaknya tadi sudah dibawa pergi aku baru merasakan kalau sebenarnya aku juga terbawa suasana ikut panik, rasa ini baru kusadari dari detak jantungku juga berdebar - debar cepat.
Padahal sebelumnya aku sudah pernah menemani orang yang mau melahirkan, tetapi tidak sampai seheboh ini atau mungkin karena situasi dan kondisinya sedang di tempat umum mungkin yaa, tidak seperti mamah yang saat mau melahirkan Doni dirumah, juga ibu-nya mas Irvan...... Ibu?
"Eeeh! ya ampun!" Setelah kerumunan orang - orang panik tadi sudah hilang dibalik pintu, Aku baru teringat kalau aku sekarang ini lagi jalan sama keluarga.
Segera aku mencuci tangan sambil merapikan sedikit rambutku dicermin kemudian langsung keluar dari toilet,
dengan berjalan terburu - buru melewati lorong (lorong khusus menuju ketoilet).
Sambil jalan aku mulai teringat kejadian sebelum aku ketoilet, perasaan kesalku juga jadi muncul lagi gara - gara tadi sudah dipermalukan mas Irvan ditoko mainan G.
"Huuufh! Dasar si mas Irvan tuuh, nggak bisa kah kalau sedikit aja nggak usil sama orang, lain kali aku nggak bakal mau nemenin dia kemana - mana lagi!" Gumamku ngedumel sendiri sambil melangkah tergesa - gesa ingin cepat mengadu ke Ibu.
*GREEP!!
"TERUS KAMU YAA!!?" Tiba - tiba ada yang menarik tanganku dari belakang hingga membuatku hampir terjatuh.
"APAAN SIH MAS?!" bentakku karena kaget, setelah melihat orang yang mengenggam tanganku itu ternyata mas Irvan yang wajahnya sudah tampak seram seperti mau menerkam.
"APA - APAAN? KAMU YANG APAAN!! keluyuran sendiri!!" Gerutunya dengan sinis melirikku.
"Ayoo balik!!" ucapnya ketus sambil menarikku secara paksa,
Lalu lenganku dijepitnya dibawah ketiak hingga membuat aku tidak bisa berontak lagi.
__ADS_1
"Dari mana aja sih ini?! GGRRTTT!" tanyanya gregetan dengan hanya menggerakan bibir tanpa membuka mulut, dan terdengar suara gesekan giginya yang membuat aku ngilu sekaligus ngeri.
Wajahnya dan tatapan mata sinisnya mengarah kedepan, membuat aku yang tadinya mau marah jadi langsung menciut takut, dan akhirnya karena tidak berani berontak lagi akupun hanya mengikuti langkah jalannya yang sangat cepat.
"BISU?!!" Bentaknya saat pertanyanya barusan belum sempat kujawab.
Lagian gimana aku mau berfikir jawaban dengan cepat? kalau belum apa - apa dia sudah membuat jantungku dag dig dug duluan! Huuuuuft akupun jadi menghela nafas dulu sebelum membuat alasan.
"Da - dari wc aja mas..." jawabku hati - hati sambil sekejap ku lirik kewajahnya lalu berpaling lagi menunduk kebawah.
"Kamu sudah hilang hampir setengah jam, nggak mungkin kan kamu dari tadi cuma berada didalam wc selama itu? kecuali kamu memang mandi disitu?!!" Ucapnya lagi sambil melihat jam tangan di lengan kanannya dan kali ini dia menoleh ku dengan tatapan tajam, sambil langkah kaki kami sedang besiap menaiki tangga eskalator yang mengarah turun kelantai dua.
Aku sebenarnya bukan takut dimarahin atau dipukul oleh mas Irvan, bahkan dia itu sebenarnya belum pernah memukulku sama sekali, hanya saja ucapannya sangat berpengaruh terhadap kedua orang tuaku yang sangat mempercayai kata - kata jujurnya itu dan bisa - bisa membuat aku jadi diceramahin satu bulan penuh dirumah.
Dan akhirnya aku yang saat itu sudah sangat gugup dan takut, hanya bisa berkata jujur apa adanya tanpa mengurangi atau melebih - lebihkan cerita, aku berharap dia percaya dan tidak akan mengadukanku pada orang rumah.
"Anu mas.... tadi, pas ditoilet ada Ibu - ibu mau melahirkan, terus pas mau dipanggilkan suaminya aku dimintai tolong nemenin ibu itu dulu karena nggak ada orang lagi didalam toilet itu...." Jelasku tanpa titik koma sepanjang menaiki eskalator itu, aku sedikitpun tidak memberi dia celah untuk memotong cerita dan alasanku sampai kami tiba dilantai dasar pas didepan arena bermain.
Huuuuufth....!
Lalu mas Irvan menghela nafas sambil menghentikan langkah kakinya,
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" tanyanya dengan nada lemah sambil mulai melanjutkan melangkahkan kakinya pelan dan santai.
Ekspresi yang tadinya garang langsung berubah menjadi seperti biasa, lengan kirinya yang tadi menghimpit tangan kananku dengan kuat akhirnya berpindah kebelakang bahuku lalu merangkulku santai, sikapnya dia itu membuat aku jadi merasa canggung sekaligus senang karena kelihatannya dia benar - benar percaya pada alasan ku barusan. 'Untung lah!' gumamku dalam hati sambil mengelus dada karena syukur
"Gimana mau bilang, abisnya mas udah narik tanganku sambil marah - marah duluan!" jawabku sambil mengeluarkan jurus pura - pura meraju dan manyun.
"Tadi katanya biarin aja kalau aku hilaaaang....." ejekku manja mengingatkan perkataannya tadi didepan Ibu, lalu dia nyengir mendengarnya dan mulai membalas gurauanku
"Iya sudah hilang lagi aja sana! mas nggak akan cariin lagi deh!! nanti mas tinggal bilang KePapa kalau kamu tadi ngilang karena lagi ngejar - ngejar cowok, hahahaa!!" canda konyolnya mulai kumat.
"Iiih apaan sih segala cowok! nanti aku juga bakal bilang, kalau aku ditinggal sendirian dimall, gara - gara mas mau kenalan sama cewek! heheheee...!!" balasku, lalu karena menyebut kata cewek tiba - tiba saja terbesit ingatan kejadian saat ditoko mainan G yang aku sudah ditertawakan SPG cantik tadi, langsung saja aku jadi ingin menuntut kejahilannya yang bikin aku malu.
"Tadi itukan salahnya mas juga! sudah becanda keterlaluan sama aku, segala ngaget - ngagetin pake topeng yang kayak begituan, aku kan malu tau diketawaain sama orang - orang!!" kata ku sambil sambil manyun.
"Iya sudah, mas minta maaf lagi, mas janji nggak bakal berbuat begitu sekali lagi sama kamu ...... nantinya cuma berkali - kali aja deh...!" katanya sambil tersenyum licik yang membuat aku jadi curiga.
Awalnya aku sangat senang mendengar pengakuannya itu tapi, kok ending dari kata - katanya barusan kayak ada yang ngeganjel yaaa?! pikir ku.
Dan setelah beberapa detik kupikir - pikir memang ....
(maklum Dara lemot)
"Aaah mas Irvan jahat..! aku nggak mau lagi..!" rengekku sambil memukul - mukul pelan bahunya.
"Hahahaa!!!... kamu ini kok lola banget sih dek!!" katanya sambil tertawa terbahak - bahak menggoda ku, karena saking senangnya dia mengolok - olokku sampai - sampai dia tidak peduli lagi tatapan orang yang lewat dan melihat kelakuan kami berdua.
"Temani mas kesitu dulu yuk?!!" ucapnya tiba - tiba sambil jarinya menunjuk kesuatu toko yang bewarna kuning keemasan yang membuat mataku silau saat ingin membaca papan namanya.
__ADS_1
'Toko apa sih itu? ngeJreng banget!' gumamku dalam hati sambil mengikuti langkahnya.
(DARA end)
(IRVAN)
Bagaimana aku nggak kesal coba, masa cuma gara - gara aku kagetin dia pakai topeng karet doang tiba - tiba aja Dara langsung lari keluar dari toko sambil menangis pula!
Masalahny aku sangat tahu anak itu paling tidak suka kalau sampai airmatanya kekihatan orang apalagi didepan ditempat umum yang rame kayak gini.
Pasti banyak yang heran yaa kenapa sih siDara itu paling nggak mau sampai kelihatan kalau lagi nangis didepan orang?
Jadi yang aku tahu sih begini nih, dari kecil dia selalu kami (keluarga dan teman - teman didekat rumah) olokin kalau sedang menangis, yaa sebenarnya wajar aja sih kalau dia itu sering menangis alias cengeng diantara teman - teman sebayanya, soalnya memang cuma dia satu - satunya anak perempuan diperumahan blok bagian kami, dia terbiasa dimanja sama orang rumah dan para tetangga lainnya, saking cengengnya kalau cuma ada salah - salah sedikit saja dia langsung nangis, pokoknya cengengnya dia itu termasuk golongan akut deh!
Nah, karena sudah bosan dan takut cengengnya menjadi kebiasaan sampai besar, akhirnya Papa mama menyarankan kalau dia nangis kasih tahu aja kalau "anak yang cengeng nggak usah ditemenin!" akhirnya dari semenjak itu dia mulai mengurangi dan selalu menahan emosi nangisnya daripada nggak ada yang mau main lagi sama dia!
Dan kalaupun dia nangis secara diam - diam ataupun bersembunyi, pasti tetap bisa ketahuan karena mukanya dia itu langsung merah dan sembab kalau setiap habis menangis walaupun cuma sedikit, terus kami olok dengan sebutan si bengkak jadinya dia malu terus - terusan deh! segitu aja sih sejarah yang aku tahu alasan kenapa dia takut nangis.
Dan yang bikin tadi aku jadi marah sama dia bukan hanya karena dia tiba - tiba lari saja dari toko G, tapi pastinya karena aku khawatir.
Eheem! bukan khawatir apa, tapi masalahnya kita inikan lagi dikota Balikpapan, kota ini masih sangat asing bagi kami karena sangat jarang kesini, ditambah lagi dia juga anak gadis yang masih sangat belia, pengalaman minim, dan yang pastinya bisa mengundang orang jahat berbuat macam - macam karena memanfaatkan kepolosannya itu, ditambah lagi pikirannya dia itu tuh yang masiiih.....
Lemot! hups hehee.
Tadi aku memang tidak langsung mengejarnya, karena kupikir palingan dia langsung balik mendatangi Ibu dan Bapak kearena bermain, jadinya aku santai saja dulu melihat - lihat barang lainnya, tetapi setelah aku bosan akupun turun kelantai dua untuk mendatangi mereka, namun ketika aku baru sampai diarea bermain, dari kejauhan aku memperhatikan yang ada cuma Ibu, Bapak dan adik - adik lainnya kecuali Dara!
Sambil menyelip diantara kerumunan orang lain aku mempertegas pandangan ku keseluruh ruang area, awalnya aku pikir mungkin dia sedang bermain permainan lainnya yang agak bejauhan dengan Ibu, namun entah kenapa perasaanku tiba - tiba sangat tidak tenang sebelum aku benar - benar melihatnya dan memastikan kalau dia memang ada didekat kami.
Dengan tergesa - gesa sambil menghindar dari pandangan keluargaku, karena takutnya kalau sampai sekalinya Dara memang belum tiba disini tentunya aku bakal disemprot habis - habisan oleh Bapak dan Ibu.
Dan benar saja apa yang aku takutkan, setelah semua box dan bangku setiap permainan sudah ku periksa, dia benar - benar tidak ada dimanapun!
Seketika akupun menjadi sangat gugup dan panik, langsung saja aku berlari keluar area bermain untuk segera mencarinya.
Dengan perasaan yang semakin gelisah aku terus berpikir tempat yang kira - kira akan dia datangi di mall sebesar ini! aku mengarahkan pandanganku kesemua arah, karena perasaanku semakin cemas sampai - sampai aku berlari saat menaiki tangga eskalator.
Awalnya ku utamakan mencarinya ketoko aksesoris, boneka, kosmetik, baju cewek, bahkan kutanyai juga setiap orang yang baru keluar dari toilet wanita dari mulai lantai paling bawah hingga dilantai empat/ paling atas.
Dan padahal tadi aku sempat nyari dia ditoilet wanita yang berada lantai tiga, dan didepan pintu toilet cewek aku bertemu teman sekelas ku yang kebetulan dia memang lagi berkunjung kerumah tantenya dikota ini.
"Linda? kamu ngapain didepan pintu sini?!" tanya ku yang melihatnya sedang seperti orang syok.
"Eeh Irvan, anuu Van ada darah didalam aku takut...!" katanya,
"Apa, Darah?!!" sontak aku jadi kaget dan penasaran tentang darah yang dimaksudnya, akupun berlari mendekati pintu itu ingin menerobos masuk namun aku nggak berani masuk sendiri kedalam karena takut mengganggu privasi dan aturan (toilet cewek), akhirnya aku bertanya lagi untuk memastikan bahwa itu bukan darah dari orang yang sedang kucari.
"Darah apa Lin? siapa yang berdarah?!!!" tanya ku panik,
__ADS_1
"Itu Van ada Ibu - ibu mau lahiran kayaknya, didalam ada mamah ku sih yang baru masuk barusan!" Mendengar penjelasannya aku langsung tenang karena darah itu bukanlah darah Dara, dan tidak lama kemudian banyak orang datang dengan tergesa - gesa langsung masuk kedalam, karena takut menghalangi jalan aku pun mundur menghindar dari tempat itu lalu langsung lari lagi menuju ketoilet yang ada dilantai paling atas kemudian menanyai lagi orang yang kebetulan baru keluar dari dalamnya.