
(IRVAN)
Dara Opname :
Saat itu aku ketakutan setengah mati, bagaimana tidak? kalau tiba - tiba saja aku mencium wewangian khas alm.Bapak melintas didepanku bersamaan dengan kondiri Dara yang sedang sakit. Perasaan tidak enak yang mulai menyelimuti mendorong aku untuk segera berlari ke ruang IGD yang mana saat itu Dara sedang sendirian disitu.
JEGLEK!! (buka pintu)
Setelah berjam - jam dia tidur dan baru saja bangun, kini kulihat dia sudah kembali memejamkan matanya, yang entah mengapa aku merasakan hawa yang berbeda disekelilingnya.
Dengan rasa was - was mengepung kalbu, kuberanikan diri melangkah mendekatinya.
Kusentuh wajah dinginnya yang pucat pasi, detak jantung dan denyut nadinya hampir tidak teraba ditambah napas yang tidak berhembus.
"DOKTER, SUSTER!!" teriakku didepan pintu.
Dengan cepat mereka berlarian mendatangi kami dan langsung memeriksa Dara.
"Pasien kritis Dok!" ucap seorang perawat dengan panik
"APA? Kok ini Bisa begini?! bukannya tadi sore sudah dinyatakan membaik, kenapa sekarang malah tambah drop?!.." Sambil kutarik kerah kemeja dokter jaga itu
"Van tenang dulu, kita akan segera tangani, kalau kamu begini malah menghabat penanganannya!" segera kulepaskan tanganku
"HB-nya terlalu rendah dok, sepetinya harus segera tranfusi darah!" kata perawat tadi
"Apa?!" dengan cepat Indra memeriksa hasil cek-nya
"Apa golongan darah Adikmu Van?!" tanyanya
"Darah? a.. aku nggak tau!" jawabku gugup
"Gimana sih golongan darah adik sendiri nggak tau! (menyindirku), langsung tes sus.." pintanya keperawat yang disampingnya
Diriku yang sudah ketakutan ini hanya bisa duduk dipojokan berusaha mengontrol emosi sambil terus berdoa'a
"Van, golongannya A+ aku liat stok-nya dulu!" ucapnya sambil melangkah keluar
"Ambil darahku aja! golongan ku juga A+ !" jawabku cepat
Tidak sampai makan waktu lama darahku diambil, tadinya aku minta langsung disalurkan aja tapi kata Indra lebih baik diambil biar aku bisa bebas bergerak.
Selama Dara menerima transfusi, dengan perasaan yang belum kunjung tenang aku selalu berada disampingnya untuk memastikan keadaannya.
"Dek, nggak nyangka ya kalau ternyata golongan darah kita sama, setidaknya yang mengalir ditubuhmu sekarang ini bukan darah orang lain!" bisikku sambil menggenggami tangannya yang sudah mulai hangat
ZRRRRTT!! (getar handphone)
"Van gimana, sudah dapat darahnya?" tanya mama
"Sudah mah, tadi langsung dapat!" jawabku tanpa memberi tau kalau itu darah dariku
"Syukur kalau gitu, sebentar lagi mama kesana, kamu mau mama bawain makan apa biar sekalian? "
"Terserah mama aja, aku pasti suka kok!" kataku yang tak mau membebani
"Ya udah, kamu jangan terlalu cape yaa..." pesannya
"Iya mah.." sahutku
'Gimana aku mau bilang bahwa akulah yang jadi pendonor, sebab kalau aku bilang pastinya mamah jadi tambah kepikiran masalah kesehatanku!' pikirku
TAP! TAP!
"Gimana adikmu, sudah membaik?" tanya teman SMA-ku yang dari dulu sombong sembari menyamperi Dara
"Keliatannya sih sudah mendingan. Eeh, yang dokter siapa, yang nanya siapa, nggak terbalik?!" kataku
"Bukannya kamu memang suka hal yang terbalik? (menyindir) ngomong - ngomong adikmu cantik juga Van!" tangan mengelus pipi Dara
"Indra, apa - apaan kamu? kalau nggak ada kepentingan mending keluar sana!" kataku sambil menyantak tangannya
"Wew sabar broo! aku cuma mau periksa suhu tubuhnya aja kok, kamu lupa ya kalau dulu kamu sudah merebut Siska dari aku?!" ucapannya tiba - tiba
"Buat apa kamu bahas cerita basi kayak gitu disini! lagian kapan aku pacaran sama Siska? jangankan buat pacaran, sukapun nggak pernah sama dia!" protesku
"Iya, iya aku tahu, aku cuma masih heran aja, kenapa dia yang aku kejar malah sukanya sama kamu? apa itu namanya nggak terbalik?!" ujarnya
"Indra, Indra... bukannya hampir semua cewek disekolahan sudah kamu deketin, jadi kenapa harus repot sama satu cewek?!" balasku menyindir
"Iya juga yaa..(senyum masam)
Sudahlah nanti kalau adikmu bangun cepat kabari aku ya biar cepat dipindah keruangan!" Ucapnya dengan sombong lalu keluar
Huuuft...
Akupun hanya menghela napas melihat tingkah temanku yang dulunya sangat 'playboy' itu.
__ADS_1
Lalu aku mengalihkan pandanganku lagi wajah Dara yang masih membisu, semakin aku lihat hatiku semakin cemas.
Kegundahan dihatiku mulai menyelimuti pikiran, airmata yang berjatuhan diluar kendali mulai membasahi jari - jari lentiknya yang sedang ku genggam.
"Dek kamu kapan bangunnya? Hiks.." bisikku sambil menciumi tangannya
'Bapak yang sudah pergi selama dua tahunpun masih saja terus terngiang didalam sanubari, jadi mas nggak akan sanggup kalau sampe kehilangan lagi bahkan ...... ' gumamku.
Tak lama kemudian jarinya mulai bergerak - gerak
"MAS?!" teriaknya,
"DEK!? Syukur, syukur dek... hik...!!" ucapku senang sambil terus menciumi lengannya
"Mas?... mas Irvan, ini beneran mas?!" panggilnya memastikan
"Iya dek ini mas! kamu jangan takuti mas lagi ya.. hiks..!" Sahutku lalu berdiri menciumi keningnya, namun tiba - tiba dia menangis
"Hiks.. Mas.... aku takut..Hiks.. aku takut sendiriian.... hiks.... jangan tinggalin aku sendirian...." ucapnya, dengan tangan gemetar memelukku ketakutan
"Mas ada disini terus, mas janji nggak bakal ninggalin kamu... kamu nggak bakal sendirian...?!" Jawabku tepat dihadapannya hingga hidung kami saling beradu
"Udah, jangan nangis lagi, sebentar mama datang, kamu nggak mau kan baru bangun terlihat nangis...." kataku sambil menghapus airmata dipipinya
"Mas juga.... kenapa nangis?!" tanyanya
"Gimana mas nggak nangis, kamu dari siang sudah tidur, baru bangun sebentar terus tidur lagi dengan darah tiba - tiba rendah Untung aja golongan kita sama...!" jawabku
"Darah?!"
"Iya darah, memang sudah rendah, tetapi seharusnya setelah diinfus akan kembali normal, tapi tadi tiba - tiba malah berkurangan banyak sampe kamu pingsan!" jelasku,
Dia menoleh ketangannya yang masih tersambung dengan selang darah kemudian memejam.
"Dek! jangan pingsan lagi...!!" panggilku
"Aku nggak pingsan mas, cuma aku nggak sanggup lihat darah sebanyak itu.....!" sahutnya
"Kayaknya kamu bakal gagal jadi dokter deh!! hehe.." kataku menggodanya karena dia memang phobia darah
Lalu dengan bingungnya dia bertanya - tanya sekarang ini hari dan jam berapa seolah - olah dia habis berkelana,
'Mungkin karena sebelumnya dia terlalu banyak pikiran jadi memori diotaknya masih kosong' pikirku.
"Udah, jangan banyak pikiran, kita pindah kekamar dulu ya?! (dia mengangguk)
kalau gitu mas paggil perawatnya sebentar, tapi janji jangan tidur lagi...!" pesanku sembari mencolek hidungnya.
Sekitar baru sepuluh menit setelah Dara dipindahkan kekamar, mamapun datang dengan membawa bungkusan dan tas yang lumayan besar ditangannya.
"Van, mama mau gantikan pakaian Dara dulu" katanya
"Ooh iya, aku tunggu didepan..." sahutku lalu beranjak keluar kamar
Aku berdiri didepan pintu sambil membuka beberapa email yang masuk.
"Kamu ngapain berdiri disini Van?!" tanya Indra yang dengan percaya diri ingin menerobos kedalam
"Eeh, kamu yang mau ngapain?!" tanganku menahan pintu
"yaa mau masuklah, mau periksa pasien!" ucapnya angkuh
"Jangan mentang - mentang kamu dokter dirumah sakit ini terus semaunya masuk kekamar pasien! inget batasanmu, kamu itu dokter jaga bukan dokter pribadi!" Ucapku sambil menunjuk
"Yaa aku kan cuma mau kasih pelayanan lebih buat adik temanku, memangnya salah?"
"Kita memang pernah satu kelas, tapi bukan berarti aku menganggapmu sebagai teman!!"
ucapku kasar, namun dia seperti tidak peduli
"Oke kalau gitu, izinin aku ketemu Dara cuma mau periksa sebentar aja!" pintanya
Lalu aku membuka sedikit pintu dan bertanya kesiapan Dara didalam.
"Dek, udahkah ganti bajunya?" tanyaku
"Sudah mas!" sahutnya, lalu aku segera masuk.
Indra yang mengikuti dari belakang langsung saja mendekati Dara dengan memberikan sebungkus obat sambil mengulurkan tangan mengajak kenalan, lalu tanpa ragu Dara menangapinya yang sontak membuat aku tersulut emosi dan segera melerai jabatan mereka.
"Kalau cuma mau kasih itu kenapa nggak dititipin sama aku aja tadi?!" ucapku,
'Tadi siang aku memang sudah dikasih tau kalau pencernaan Dara sedang bermasalah, tapi walaupun begitu menurutku Indra ini cuma lagi modus supaya bisa merayu Dara dengan gombalannya' curigaku
Kemudian dengan lancang dia menyalami tangan Mama sambil mengaku - ngaku sebagai calon menantu!
Tanpa pikir panjang segera kutarik dia keluar dari kamar..
"Apa - apaan kamu, ayo keluar sana..! jangan sampe besok aku pindahkan Dara kerumah sakit lain dengan alasan diganggu kamu!!!" lalu kukunci pintunya.
__ADS_1
'Bener - bener nggak tahu diri orang ini, aku nggak bakalan ngijinin dia ketemu sama Dara lagi' kataku dalam hati
Yaaa ampun Van, kamu tega banget sih..." tegur mama
"Iya mas Irvan nih, orang cuma ngajak kenalan aja kok..." serobot Dara cemberut
Lalu saat aku nasehatin dia malah tambah ngambek!
'Ya ampun, kalian protes begini karena nggak tau aja sifat asli Indra yang playboy!' gumamku
Tidak lama kemudian mamah pamit pulang dan berpesan agar aku menjaga gadis liarnya ini, karena mau ambil peralatan mandi dimobil jadinya aku sekalian antar mama parkiran.
"Van, mama minta maaf yaah sudah ngrepotin kamu terus!" ucap mama saat didalam lift
"Mamah ini ngomong apa sih? kayak lagi ngomong sama orang lain!" kataku
"Yaa mama cuma nggak enak aja, seharusnyakan seumuran kamu lagi menikmati masa - masa muda bukannya jagain anak yang keras kepala begitu!" ucapnya, lalu aku nyengir mendengar pengakuan mama
Setelah kembali lagi kekamar, kuperhatikan Dara sedang melamun sampai - sampai tidak menyadari kalau aku sudah didepannya.
CTEK! CTEK! (ketikan jari)
"Heeey DEK?!"
Karena kaget, dia reflek mendorongku sambil marah - marah, dan akupun langsung melangkah mundur menuju toilet sambil memberinya sedikit candaan namun tidak sedikitpun emosinya mereda.
'Sebenarnya apa sih yang dia lagi pikirin?' gumamku,
Setelah selesai mandi mendadak kepalaku sangat pusing sampai - sampai membuatku tidak mampu berdiri.
'Mungkin karena dari habis donor tadi aku belum ada makan apapun kali yah!" pikirku
Selama beberapa menit aku terduduk diam diatas cover closet menunggu sampai rasa pusingnya mereda, kemudian memaksa bangkit dan kembali duduk disamping ranjang Dara.
"Udah diminum belum tadi obat lambungnya?" tanyaku basa - basi memastikan dia masih marah atau nggak
"Udah. Looh kok mas tahu itu obat lambung?! dengan polosnya malah balik tanya
"Apa sih yang mas enggak tahu?!" jawabku angkuh
"Yeeaah pede - nya! jadi, kita makan yang mana dulu nih?!" tanyanya dengan semangat yang menandakan dia tidak marah lagi, lalu aku langsung memeriksa dan mengeluarkan bawaan mama yang menurutku terlalu banyak untuk kami yang hanya berdua.
Dengan penuh curiga kutanyai Dara yang kemungkinan ada cerita sama mama kalau aku sudah mendonorkan darah untuknya, dan sekalinya dia menjawab tidak ada cerita apapun yang seketika membuat perasaanku lega mendengarnya.
Namun dengan lugunya dia menanyakan alasanku kenapa tidak mau sampai orang rumah tau kalau aku sebagai pendonor untuknya,
Sepasang mata bulat yang sedang menatapku ini menambah keimutan dan kepolosan didirinya membuat siapapun yang melihat pasti ingin menyayanginya, aku pun duduk sambil membelai lembut rambut tipisnya, lalu dengan detail ku jelaskan alasanku,
"Memang darah itu bisa aja beli dirumah sakit, tapi mas lebih yakin sama darah mas sendiri buat adek..!" jelasku, seketika dia menatap dengan mata mulai berkaca - kaca dan langsung memelukku erat.
Dalam ketidak berdayaan dia mulai mengakui bahwa selama ini memang memiliki banyak masalah yang dia pendam sendiri, bukan tidak ingin berbagi cerita, namun dia hanya takut apa yang dia ceritakan nanti cuma akan menjadi angin bagi pendengarnya.
Dengan gemas kuhimpit pipinya dengan kedua telapak tanganku, ku yakinkan dirinya agar selalu percaya padaku.
"Habis makan kamu ceritain semuanya, jangan ada yang ditutupi lagi, Janji?!" dia mengangguk seperti kucing penurut
Dan setelah makan diapun mulai menceritakan semua kejadian yang dia alami dari mulai dari mall sampai kejadian tadi saat dia pingsan.
Tentunya aku sangat terkejut dengan pengakuannya itu, terlebih dia mengatakan bahwa sudah tiga hari dia terkurung dalam kesunyian yang membuat aku merasa iba.
Dalam pelukan kamipun saling berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain sampai nanti yang akupun tidak tau 'nantinya' itu kapan.
Hari semakin larut, dan aku yang seharian sudah melewati hari yang menegangkanpun akhirnya menyerah dengan rasa lelah yang membuat aku tertidur diatas sofa sampai pagi.
Saat bangun, kulihat dia sedang duduk dengan handphone ditangannya
"Lhooh dek, sudah bangun?" tanyaku sambil mendekati
"Iya..." jawabnya senyum - senyum, dan saat kuperhatikan kantung matanya membiru
"Kamu bohong, kamu belum ada tidur kan?!"
kataku mulai kesal, lalu dia tetap membantah dan memperkuat kebohongannya.
"Dek, kita ini sudah sama - sama dari kecil, jadi kamu mau berbohong seperti apapun mas pasti tahu!" tambahku sambil masuk ketoilet untuk cuci muka dan silat gigi
"Pagi nona cantik, gimana ada keluhan gak?!"
Suara Indra yang sontak menambah rasa jengkelku
"Eeh, Pagi dok..!" jawab Dara dengan semangat, dan dengan cepat kuselesaikan cuci mukaku
"Loooh kamu sendirian?!" tanyanya lagi dan dengan segera aku keluar
"Siapa yang sendirian?!" kataku ketus merasa orang ini benar - benar tidak tau malu sudah ku usir
Kemudian dia mengingatkan kalau hari ini Dara ada jadwal medical chek up yang aku benar - benar lupa, lalu dengan pede-nya dia menawarkan diri untuk menemani Dara seharian selama aku kerja.
"Aku nggak kekantor, nanti kerjaanku biar dibawa kesini!" kataku,
__ADS_1
Sekejap ekspresi Dara langsung berubah kecewa saat mendengar pernyataanku barusan, namun dengan manisnya dia tersenyum sambil melambaikan tangan ke Indra yang pamit pulang padanya.
'Anak ini, apa nggak paham - pahan kalau aku sudah sangat khawatir padanya, apa dia nggak belajar dari pengalaman setelah dia terluka oleh Arga?" pikirku sambil menatap serius kearahnya