
"Aku cuma masih nggak percaya aja kalau ternyata aku masih hidup!" Ucapan yang terlontar begitu mudah dari bibir Dara yang sontak membuat Arga takut dan merasa tidak akan rela bila hal itu terjadi.
GREEP!!
Dengan cepat Arga berlari dan langsung memeluk gadis yang sudah beberapa kali mengalami hal mengerikan dalam hidupnya, dan bahkan hal mengerikan itu sudah hampir merenggut nyawanya.
"Jangan beib, kamu jangan ngomong kayak gitu! Aku minta maaf, aku bener bener minta maaf... aku tau, aku sadar kalau awal mula semua ini karena aku! aku yang sudah bikin kamu salah paham atas hubunganku dengan Amira, aku yang sudah buat kamu jadi sakit sakitan, dan sekarang karena kecerobohanku juga kamu sampai dicelakai wanita itu! aku minta maaf beib, sekali lagi aku minta maaf!" Rasa penyesalan Arga yang selama ini dipendam dalam hatinya akhirnya dia ucapkan secara terang terangan.
"Nggak beib, aku nggak pernah nyalahin kamu. Dalam keadaanku yang lagi lupa ingatan kayak gini aja, aku udah menyadari kalau aku ini terlalu banyak kekurangannya, gimana kalau nanti aku sudah ingat semua? pasti hampir semua yang ada diriku ini nggak ada bagusnya, iya kan? hehee..." tawanya sangat terlihat jelas memaksa, dan dari ucapan merendahkan dirinya itu, juga sangat jelas kalau dia sudah depresi.
"Nggak sayang nggak, kamu adalah kesempurnaan buat aku!!" sahut Arga yang menambah erat pelukannya sambil mengecupi rambut Dara yang masih berantakan.
Karena mendengar pengakuan Arga barusan, tiba tiba saja langsung bertumpuk pertanyaan yang telah dia lupakan kenyataannya:
"Memangnya sejak kapan aku sakit? dan bukankah aku ini memang punya kelainan darah yang ketergantungan sama darahnya kak Irvan? terus apa hubungannya sama Arga?" tanya Dara dalam hati yang sampai sekarang belum bisa mencerna permasalahan penyakitnya itu.
"Yaa Tuhan, aku benar benar masih tidak percaya akan adanya hari ini. Kemarin jelas jelas aku merasakan seperti ada yang menarik kakiku dari dalam air, tapi aku nggak bisa lihat siapa dan apapun selain air yang sangat dalam dibawahnya, dan tiba tiba saja aku merasa kalau pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya. Setelah aku merasakan tercekik, akupun sudah mengira kalau hari itu adalah hari terakhir aku bisa melihat cahaya!" kata dalam pikirannya.
Siang harinya, Roy yang tadi pagi mengatakan akan kembali kerumah sakit untuk ikut mengantar Dara pulang kerumah, tiba tiba saja membatalkannya.
"Dara maaf, ini kak Roy ada urusan mendadak jadi nggak bisa menjemput kamu dari rumah sakit. Tapi setelah urusannya selesai, kakak bakalan langsung kerumahmu, nggak apa apakan dek?" ucapnya dari seberang telpon
"Iya kak nggak apa apa, ini Arga dan kak Paula juga sudah mulai siap siap. Mungkin sekitar satu jam lagi kami baru sampai dirumah!" sahut Dara yang tidak mempermasalahkan hal itu.
"Oowh kalau gitu kebetulan banget, kakak juga mau kasih hadiah kejutan buat kamu! coba tolong dikasih dulu telponnya ke Arga!" pintanya
"Hadiah? hadiah apa?" tanya Dara penasaran
"Kalau kak Roy kasih tau sekarang bukan kejutan lagi dong sayang... Ayo mana Arganya?"
"Hehehee iya iya... ini beib kak Roy mau ngomong!" sambil menyodorkan handphonenya.
"Hallo kak Roy?" Setelah Arga mulai bicara, Darapun berusaha ingin menguping dengan mendekatkan telinganya ke belakang handphone.
Arga yang menyadari akan hal itu, langsung buru buru keluar dari ruangannya dan segera menutup pintunya kembali, BLAM!!
"Iih pelit banget kamu beib!!" Dumel Dara yang jadi tambah penasaran. "Apa sih yang mereka omongin, kok pake rahasia rahasiaan segala? hmm... jangan jangan kak Roy mau kasih aku teddybear besar yang kemaren aku liat dimall? Asiiik!!" gumam harapnya menebak nebak sendiri. Paula yang melihat tingkah nona mudanya bersikap seperti anak kecilpun jadi tersenyum senyum sendiri.
Setengah jam kemudian, Arga yang dari tadi masih mengantongi handphone Dara, tau tau kembali dengan membawakan seikat bunga dengan pita lebar yang melilit ditangkainya.
__ADS_1
"Ini beib buat kesembuhan kamu (sambil menyodorkan) setelah ini aku bakalan lebih ekstra lagi menjaga kamu!" kata Arga yang membuat Dara jadi tersentuh mendengarnya.
"Yaa ampun beib, selama ini aku selalu merasa aman didekat kamu! dan kamu, kamu sempet sempetnya belikan aku ini, cantik banget... Terima kasih beib!" ucap terharunya sampai berkaca kaca
"Bunga ini jadi cantik karena kamu yang pegang!" gombal Arga yang membuat pipi Dara jadi tambah merona. "Yaudah yuuk kita pulang, kak Roy juga bilangnya sudah dalam perjalanan kerumah, mungkin dia bakal nyampe duluan!" ajak Arga yang dijawab anggukan oleh Dara, kemudian Arga mencium kening gadis itu karena gemas melihat wajah polosnya.
Selama diperjalanan dari rumah sakit menuju kerumah, Arga yang menemani Dara duduk dibangku belakang mobilnya, tidak merenggangkan sedikitpun dekapan dada untuk gadisnya itu. Dia ingin terus merasakan detak jantung dan aliran darah mereka saling berirama satu sama lain, dan berharap tidak akan ada lagi pemisah dalam bentuk apapun kedepannya. Dara yang daritadi masih memegangi seikat bunga darinya, merasa nyaman bersandar didada pacarnya yang selalu perhatian itu.
"Beib... sekali lagi maafin aku ya? karena kemarin kurang ngejagain kamu dari mamah tiriku. Yaa walaupun sekarang dia sudah dipulangkan keAmerika, tapi aku janji nggak akan diam atas semua kelakuannya terhadap kamu!" kata Arga, dan karena trauma yang dia alaminya saat ini, membuat Dara jadi melamun mendengarnya.
"Aku juga nggak tau apa yang bakal papahku lakukan kedepannya, soalnya aku lihat tadi malam kalau papahku sudah sangat marah sama dia, bahkan Edward sama Mark pun jadi diganti gara gara dia!" cerita Arga yang sontak membuat Dara langsung terkejut mendengarnya.
"A,apa? mereka berdua diganti?! kenapa beib? mereka berduakan nggak ada salah apa apa, kenapa diganti? keduanya selama ini sangat baik sama aku, bahkan sudah kayak kakakku juga sama kayak kak Sovia dan kak Paula!" rengek Dara tidak terima.
"Iya sayang iya, nanti kalau Papahku sudah kembali keIndonesia kita minta mereka kembali lagi. Tapi untuk sementara biarin anak buah papahku itu yang bakal jagain kamu, soalnya papahku bener bener nggak enak hati sama kamu sekeluarga!
Dan sekarang... karena sudah mau sampe rumah..." Tiba tiba tangan Arga menarik pita yang melilit dibatang bunga, kemudian merenggangkan dekapan dadanya. "Kita tutup matamu dengan ini!"
"Loh kenapa harus ditutup beib?" tanya Dara karena bingung, namun pasrah saat matanya mulai ditutup pita lebar itu.
"Ini permintaan kak Roy, jadi kamu nurut aja dulu!" sahut Arga sambil mengikat kedua ujung pitanya dibelakang kepala Dara
Mobilnya disupirkan pak Robert pun berhenti. Dalam kegelapan, Dara hanya mempercayai uluran tangan Arga yang menuntunnya masuk kedalam rumah.
DEGDEG.. DEGDEG..
"Aduuh, Kok tiba tiba aku jadi deg degan begini ya?" gumamnya dalam hati.
Semakin kakinya banyak melangkah mendekat kepintu, semakin terasa debaran jantung didadanya. Yang ada dipikiran Dara saat ini, kemungkinan besarnya adalah boneka teddybear yang dia inginkan dimall saat itu, yang kebetulan cuma Sovia yang mengetahuinya.
"Pasti kak Sovia sudah cerita sama kak Roy kalau aku pengen banget punya boneka itu, tapi karna malu sama mamahnya Arga aku jadi cuma ngeliatin doang deh!" harapan dalam pikirannya.
TOK TOK! Krieeeet...
"Selamat darang nona, tuan muda!" Sapa Sovia yang sekalinya sudah menunggu kepulangan mereka didepan pintu.
"Iya kak Sovia, kak Roy nya mana?" tanya Dara yang sudah terlihat tidak sabaran dengan hadiahnya.
"Kakak disini dek! ayoo kesini, ambil hadiahmu!" sahut Roy yang terdengar tidak jauh dari hadapannya. Argapun melepas tangannya agar Dara menghampiri sendiri hadiah yang dimaksud.
__ADS_1
Sambil merentangkan tangannya kedepan, pelan pelan Dara mulai melangkah menghampiri arah sumber suara Roy yang memanggilnya tadi.
Selangkah demi selangkah dirinya semakin dekat dengan hadiah itu, semakin kuat juga detak jantungnya berbunyi sampai membuatnya hampir sesak bernapas.
"Kak Roy, masih jauh kah?" tanya Dara yang bibirnya tidak berhenti tersenyum.
"Tiga langkah lagi sayang..." Sahut Roy yang membuatnya tambah gugup. Kemudian Dara menghitung langkah kakinya sampai tiga kali dan TEG!!
Tau tau tangannya sudah menyentuh tubuh orang yang dihadapannya.
Namun dia agak sedikit bingung,
"Kak Roy, kenapa kakak pakai parfumku?" tanya Dara yang sangat hapal dengan wangi miliknya itu. Namun pertanyaannya barusan tidak direspon sama sekali yang membuat tangannya jadi meraba raba bahu dan wajah pria dihadapannya itu.
"Aah?" DEGDEG! DEGDEG!! Sejenak ia terpaku, kemudian bibirnya yang tersenyum tadi langsung bergetar dan semakin memerah dengan hidungnya yang juga langsung mengembang kempis.
"Hiks.... Hikshiks...." Debaran jatung yang semakin menyesakan dada, tidak mampu lagi menahan isak tangisnya yang sudah lama terpendam.
Kemudian ia merasa seperti ada yang melepaskan pita penutup matanya.
Shaaahh.... pitapun terjatuh, kemudian pelan pelan ia membuka matanya yang sudah berair itu.
"Kenapa kok malah nangis? apa ini sambungan tangismu yang malam itu?" tanya pria dihadapannya sambil sedikit menundukan kepala karena tinggi tubuh Dara terlalu mungil dibandingnya.
"Kakak jahat! kakak jahat!!.." ucap Dara yang tangisnya semakin menjadi jadi.
GREEP!! Tanpa ragu Darapun langsung memeluknya walaupun sudah tau kalau dia itu bukanlah kakak kandung yang sebelumnya dia kira.
"Hikshiks.. kak Irvan jahat!! kak Irvan tega!!" rengeknya yang membuat tangan Irvan langsung membalas pelukannya dengan erat.
"Iya dek, kakak memang jahat, kakak sudah tau itu!... Maaf sayang, maafin kakak, kakak janji nggak akan ngulangin itu lagi, kakak nggak akan meninggalkan kamu kayak dulu lagi, apalagi menjauhi kamu, nggak akan, nggak akan terulang lagi, kakak janji!!" Ucap Irvan sambil ikut menangis karena sudah sangat menyesali perbuatannya waktu itu.
"Beneran ya kak jangan tinggalin aku kayak gitu lagi, jangan jauhin aku lagi hikshiks!.." Irvan pun langsung melepas pelukannya lalu memegang kepala Dara dengan kedua tangannya.
"Iya sayang iya kakak janji, kamu jangan nangis lagi ya? kakak nggak tahan liat airmatamu!" pinta Irvan sambil mengusap pipi Dara yang basah lalu menciumi kening dan rambut gadisnya karena rasa rindu yang menggebu gebu.
Arga yang sudah pernah melihat Irvan mengecup Darapun tidak sedikitpun merasa cemburu dan malah ikut terharu dengan mata berkaca kacanya, begitu pula dengan yang lainnya yang berada diruangan itu, mereka semua jadi ikut meneteskan airmata harunya saat menyaksikan pertemuan kakak beradik yang sering terpisah itu.
__ADS_1