
Beberapa orang yang melihat keadaan ku sekarang ini mungkin akan berpikir kalau aku ini habis terjatuh, kecelakaan atau sejenisnya, karena posisi ku yang sedang duduk di atas trotoar pinggir jalan yang ukurannya cukup lebar, bahkan saking lebarnya kadang ada saja pedagang nakal yang nekad berjualan diatas trotoar ini sebelum mereka kena tangkap petugas sebab jelas - jelas sudah terpampang papan larangannya.
Dan untungnya saja jam segini sedang agak sepi dari pejalan kaki, karena memang disekitar sini tidak terlalu banyak rumah penduduk, hanya ada satu bengkel mobil dan dua konter handphone yang jaraknya lumayan berjauhan dari posisiku duduk sekarang ini, bahkan di belakang ku saat ini hanya lah sebuah lahan kosong berpagar tembok cukup tinggi dan disampingnya ada bangunan belum jadi yang rusak karena sudah terlalu lama tidak terurus.
(kalau difilm - film biasanya tempat yang seperti itu cuma jadi sarang preman dan hantu! Hiiiiiii~~)
Sembari menunggu Mas Irvan datang, aku hanya berdiam mengatur nafas dalam dan pelan - pelan untuk mengumpulkan tenaga kembali sekaligus menetralkan rasa perih di lambung, dengan cara itu setidaknya aku masih bisa menahan diriku agar tetap dalam keadaan sadar, yaa itu salah satu teknik sederhana yang aku pelajari selama mengikuti PMR di sekolah.
Tak lama kemudian rasa mual dan pusing di kepala ku sudah agak lumayan berkurang, hanya saja keringat dingin nya masih saja menetes dari kening hingga pelipis ku membuat ku terasa semakin dehidrasi.
(Merasa konsentrasi diotak menurun dan tubuh semakin melemah)
Selang waktu kurang lebih sepuluh menit mas Irvan pergi, dirinya kini sudah terlihat lagi sedang berjalan namun berada diseberang sana dengan bungkusan ditanggannya..
Dengan kakiku yang masih terasa lemas aku berusaha berdiri dari duduk ku, segera memakai kembali sepatu yang telah ku lepas dan ku jadikan alas duduk tadi, kemudian perlahan - lahan melangkah mendekat ke arah motor nya mas Irvan yang terparkir di tepi trotoar dengan kedua lutut yang kadang rasanya sangat lungai.
Seketika mataku juga hanya ingin melihat kearah nya yang masih berada diseberang jalan, dengan wajah yang terlihat cemas menengok ke kanan dan ke kiri sepertinya sangat terburu - buru ingin cepat kesini!
"Kok suasana seperti ini terasa kayak nggak asing ya? rasanya aku sudah pernah mengalami kejadian ini sebelum nya!"
gumam ku.
Semilir Angin sore yang meniup - niup diwajah ku, juga suara kendaraan yang berlalu lalang dengan laju membuat aku benar - benar merasa seperti sedang dejavu.
Udara dingin sore di tambah hembusan angin yang berasal dari kibasan laju kendaraan dihadapan ku, mengeringkan basahnya dahi karena keringat dingin yang sendari tadi becucuran namun rasa dingin nya bukannya menyejukan melainkan membuat ku tambah merasa sangat tidak nyaman karena ada polusinya.
Debunya yang berhamburan pun membuat perih dimataku yang kering, ditambah bau asap knalpot yang terhirup membuat kepala bertambah pusing hingga penglihatanku jadi berkunang dan memudar.
Terlihat samar - samar mas Irvan sudah mulai menyeberangi jalan, sambil tangannya melambai sebagai isyarat meminta izin agar diberi jalan untuk menyeberang kepengendara yang sedang melintas didekatnya.
Perih lambungku membuat nafas terasa tersendat, semakin lama otakku tak mampu berpikir apa - apa lagi seperti kosong.
(Gejala dehidrasi yang biasa terjadi setelah orang mengalami muntah banyak)
Aku hanya sekilas melihatnya sedang berlari menghampiri ku dengan bibirnya seperti sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa ku dengar dengan jelas ~
.
.
.
.
.
GREEP!!!
Tiba - tiba dia sudah menyongkong punggung ku dari samping.
"Duduk sini dek.." katanya, sembari menuntun ku kearah motornya, aku pun duduk setengah bersandar dijok motornya yang teparkir di samping trotoar.
"kenapa berdiri, kenapa nggak duduk dibawah pohon yang tadi aja?!" tanyanya dengan panik dan agak kesal.
Aku yang merasa ling-lung tidak bisa berfikir untuk jawabannya, bahkan membuka mulut pun susah jadi hanya seperti orang yang sedang bingung. Lalu ia membuka kan tutup botol air mineral yang barusan dibelinya lalu perlahan dia sodorkan di hadapan bibir ku.
"Aduuh, lupa minta sedotan tadi, pelan - pelan minumnya!!" katanya sambil membantu memegangi botol dengan hati - hati meminumkan nya padaku.
"Tadi lama ya? soalnya dapat warung nya agak jauh, kalau tahu jauh gitu tadi mas pake motor biar agak cepat!" katanya lagi yang, namun aku hanya bergeleng sedikit.
Dengan tanganku yang masih agak gemetar, aku berniat ingin memegang botol itu sendiri namun mas Irvan tidak melepas tangannya jadi aku bukan memegang botol malah terus memegangi tangannya.
Sambil minum mataku tertegun saat melihat wajahnya dan aku bertanya dalam hati :
"Mas Irvan ini kenapa beda ya? biasanya kalau aku lagi sakit walaupun perhatian tapi malah di ajakin becanda sama dia, kali ini kok beda?!" keheranan
Wajahnya yang biasa humoris dan konyol kini begitu serius memperhatikan ku dengan ekspresi nya yang terlihat sangat cemas, dan dari aku masih kecil baru beberapa kali melihat dia seperti ini.
__ADS_1
Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan terhadap ku kini, dan aku pun benar - benar tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan kepadanya setelah melihat tatapan matanya.
TIIN !!! (suara klakson mobil lewat mengejutkan),
GLEGUK - GLEGUK!
tanpa sadar aku sudah meminum lebih dari setengah botol berukuran sedang.
Karena malu kepergok sedang menatapnya lalu aku cepat - cepat menurunkan tangan ku kembali.
"Sudah?" tanyanya dengan lembut, aku pun menggangguk sedikit.
"Apa mungkin karena sudah beberapa waktu jarang bersama dia selama aku dengan Arga, jadi sekarang aku jadi sedikit canggung sama mas Irvan?!" pikir ku
Setelah selesai minum aku pun mulai mengatur nafas lagi yang tadinya terasa sangat berat, kini sudah agak ringan dan perlahan konsentrasi di otakku juga sudah mulai kembali pulih.
"Gimana sekarang, udah mendingan belum?!" tanyanya dengan penuh perhatian.
Dirumah aku memang seorang kakak, tetapi diantara dua rumah yang saling berhadapan ini dialah kakak tertua kami, yang selalu memanjakan, perhatian dan menghibur kami.
Walaupun masih muda, tapi pembawaannya yang dewasa membuat kami para adik - adiknya merasa nyaman kalau sedang berada didekatnya.
"Sudah yuuk mas jalan lagi!" kataku dengan lirih yang masih menahan sakit namun ingin secepatnya segera sampai dirumah.
"Yakin kamu SANGGUP dek?!!" tanyanya yang agak menekan dikata sanggup
aku mengangguk tanpa rasa curiga apapun kepadanya
"Yaudah kalau gitu kamu awas dulu.." katanya, dengan segera aku bersiap berdiri dari jok motor, dia pun membantu aku berdiri dengan memegangi tangan ku.
Setelah aku berdiri, dia terlihat terburu - buru memakai helm, naik dan duduk diatas motor bergegas menyalakan mesin lalu men-starternya, kemudian segera memutar gas dan jalan dengan pelan!
"Mas tunggu..!" panggil ku dengan suara agak pelan karena tenggorokan masih sakit.
Langsung saja dia menge-rem namun jarak nya sudah lebih maju beberapa langkah dari ku.
"Belum saja naik ke motor bahkan aku belum juga memakai helm, namun dia sudah menjalankan motornya saja!" pikir ku
Karena masih lemas jadinya hanya mampu berdiri terdiam melihat yang dia lakukan karena jelas aku tidak mampu kalau sampai harus mengejarnya bahkan ingin berteriak pun sulit.
"Kenapa Dek?!" tanyanya dengan ekspresi pura - pura bingung, dengan dirinya yang masih duduk diatas motor sambil kakinya mengayun melangkah mundur mendekat padaku lagi.
"Aku kan belum naik mas, kok sudah jalan?!" Tanyaku polos karena otakku belum bisa berpikir banyak.
"Lhooo.. katanya adek mau jalan? yaa kalau jalan mas nggak SANGGUP, jadinya mau naik motor aja!" ucapnya sambil keluar senyum jahil yang ngeselin!
Butuh tiga detik aku baru menyadari,
"oowh ternyata dia lagi mau mengerjai ku lagi ya?!" tanyaku datar
"hmmm, Jadi dia mulai keluar lagi kalakuan usil jahil nya? cepat banget berubah nya nih orang ya!!" Pikir ku karena bingung melihat sifatnya yang bisa berubah dengan sekejap.
Dengan otaknya ku yang masih loading nya lama, belum mampu membalas candaannya, jadi aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah nya telah kembali seperti semula.
Kemudian ia segera menurunkan kembali standar satu motornya, sambil mengambil helm dia melangkah mendekatiku sekaligus membantu memakaikannya dikepalaku, aku pun lagi - lagi memperhatikan matanya yang sedang fokus mengkaitkan kancing helm di dagu ku.
Tentu aku sangat heran sendiri dengan diri ku, "Padahal sudah terbiasa melihat sikapnya nya yang seperti ini dari dulu, tetapi mengapa tiba - tiba terasa ada yang berbeda ya?!" kata ku dalam hati
"Yuuuk..!" ajaknya sambil menarik sebentar tangan ku kemudian dia naik lebih dulu kduduk diatas motor dan akupun bersiap naik dibelakang nya.
"Pegangan!" Perintahnya sambil bersiap memasang badan menahani motor
Lalu aku perpegangan dibahunya sebagai penopang saat aku naik keatas motor, kemudian setelah duduk aku kembali memegang sisi kanan kiri bajunya, dan motor pun mulai melaju dengan sangat pelan.
Namun lama kelamaan tangan ku sering terlepas dari bajunya saat berpegangan karena jari - jariku masih sangat lemas kalau ku paksa untuk menggenggam kuat dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Mas Irvan yang sadar akan hal itu pun langsung menarik tangan ku satu persatu melingkar ke depan perutnya, mengarahkan tanganku untuk bepegangan dengan erat.
Dengan posisi yang tentu saja aku jadi memeluknya dari belakang, sebenarnya nggak ada rasa risih karena dari dulu juga dia memang sering menggendongku, cuma kalau sekarang sudah agak sedikit canggung saja.
"Maaf yaa dek?!" katanya yang tiba - tiba meminta maaf sambil sedikit memutar kepalanya, tentunya membuat aku bingung karena perasaan dia tidak ada salah apa -apa.
"Maaf kenapa mas?" tanyaku heran, apa mungkin karena kejahilannya barusan? tetapi kebiasaan jahilnya kan memang sudah biasa! pikir ku.
"Seharusnya tadi mas bawa mobil aja, jadi kamu gak sampe masuk angin begini..!" jelasnya dengan nada merasa bersalah.
"Kirain minta maaf kenapa mas nih! nggak lah, malah kalau lagi begini enak pake motor, kalau pake mobil aku malah tambah eneg!" jawab ku.
Tiga menit kemudian :
"Eeh mas kapan ganti baju, bukan nya tadi pas berangkat pake kaos abu - abu?" tanya ku yang baru saja menyadarinya
"oowh ini? tadi ganti di kantor, kan nggak enak kalau lagi ngurus kerjaan pake kaos!" jawabnya
"Yaa siapa tau ada pengecualian khusus tanggal merah!" kataku
"Iya, kalau pegawai lainnya tadi memang pake kaos bekerah, tapi mas ngikutin kebiasaan alm.bapak aja kalau kerja pake kemeja!" jelasnya
"owh gitu.." jawabku singkat sambil menambah erat pelukan ku ke dirinya.
Mungkin karena aku lagi kurang enak badan, posisi ku seperti ini lama - kelamaan malah membuat ku menjadi terasa nyaman, kalau saja bukan sedang diatas motor bisa jadi aku sudah tertidur karena saking nyamannya.
Selama sisa perjalanan kami tidak banyak bicara, hanya sesekali tangan kirinya mas Irvan yang hangat memegangi dan mengusap - usap kedua tangan dingin ku yang sedang memeluknya, dengan lembut kadang dia menggenggam nya.
Tak terasa kami pun sudah sampai depan rumah, perlahan aku mulai melepaskan pelukan ku darinya.
Mas Irvan yang sudah terbiasa parkir dihalaman depan rumah ku pun dengan pas mengarahkan posisi parkir nya, lalu segera menuruni standart motor samping nya.
"Dah sampe!!" katanya
Dengan cepat ia langsung membuka helmnya dan mengantung nya di atas spion, namun badanku yang masih lemas membuat aku merasa berat untuk bergerak, dengan sekuat tenaga aku berusaha turun sambil berpegangan di bahunya.
Setelah turun aku langsung berdiri di sampingnya berniat ingin mengembalikan helmnya sambil berusaha membuka pengkaitnya yang entah mengapa agak sulit terbuka, mas Irvan menoleh memperhatikan ku :
"Bisa nggak? sini..!" kemudian dia turun dari motor membantu membuka kan pengaitnya, aku jadi tersenyum malu karena hanya buka pengait saja nggak bisa!
"Nhaa.. memang kadang macet ini..!!" katanya, sambil melepaskan helm dari kepada ku, aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih!
Setelah itu aku menjulurkan tangan ku ke arah depan jok berniat mengambil barang belanjaanku yang masih bergantung dimotornya, namun dengan cepat dia merebut nya duluan.
"Udah, mas aja yang bawa kan... yuuk!" katanya, sambil tangan satunya merangkul ku menuntun menuju pintu rumah, dan akupun hanya diam mengikuti langkah nya.
Ia melepas sepatu sambil tangannya yang me membawa balanjaan ku membuka pintu :
"Sore..." ucap kami bersamaan, namun suara ku pelan
"Iyaa..." sahut mama yang sedang duduk nonton tv diruang tengah, lalu segera menghampiri menyabut kami.
Aku yang sedang berusaha ingin membuka sepatu, karena pusing jadi agak sempoyongan saat membungkuk namun lagi - lagi dengan sigap mas Irvan segera membantu membukakan nya, membuat aku juga lagi - lagi tersenyum
"Lhoo Dara kenapa..?" tanya mama agak panik
"Nggak apa - apa Mah la..." kataku yang mulai berbohong namun tiba - tiba
"Dara masuk angin Mah, tadi dijalan pas pulang sempet muntah!" serobot mas Irvan menjawab dengan jujur.
Aku sebenarnya juga tidak berniat bohong sama mama, hanya saja aku tidak mau membuat mama menjadi cemas, jadi aku pun langsung mencubit pinggangnya mas Irvan yang dirinya masih merangkul punggungku.
"Tuuh kan! mama memang sudah curiga dari tadi pagi, mama perhatikan Dara kelihatannya lesu!" katanya sambil tangannya memeriksa suhu badanku.
__ADS_1