Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Dalam Ruang Hatiku


__ADS_3


"Mas Irvan ngelarang aku tidur, tetapi mataku sulit banget dikompromiin.... aaah, sebentar aja nggak apa - apa kan cuma tidur ayam sambil nunggu dia datang panggil dokter." Ucapku Dalam hati sambil mulai memasrahkan mata yang memang masih sangat berat untuk dibuka.


Tidak lama kemudian,


JEGLEK! Tap - Tap - Tap


(Suara pintu terbuka lalu langkah kaki mendekat)


"Dek?" suara mas Irvan memanggilku dengan suara pelan sambil tangan hangatnya menggenggam tanganku


"Dek?.." panggil mas Irvan lagi sambil membelai rambutku dengan lembut.. aku ingin sekali menyahuti tapi mata dan bibirku sangat berat dibuka


"Dara?!.." panggil mas Irvan dengan nada mulai menekan sambil menggoyangkan pipiku..


'Iya mas, aku dengar, aku bukannya nggak mau bangun ataupun nggak mau menanggapi panggilan mas Irvan! tetapi,


tunggu, ini beneran! ini kenapa, aku nggak bisa bangun?!


Telingaku sangat jelas mendengar suara mas Irvan yang terus memanggil dan sangat terasa saat dia menyentuh ku, tetapi perintah dari otakku seakan - akan tidak direspon oleh anggota tubuh lainnya,.


'Aku tidak mengerti kenapa? aku merasa diriku sangat tidak bertenaga walau hanya sekedar membuka mata atau memberi isyarat lainnya !'


"Dara, Daraaaa.......?!"


'Aaah suara yang kemarin ini lagi?' gumamku dalam hati dengan perasaan mulai takut


Tiba - tiba terdengar suara asing yang mengdengung didalam telinga, dalam sekejap suasana bising rumah sakit yang tadinya masih terdengarpun menjadi sunyi, bau aroma obatnya juga menghilang, dan tahu - tahu aku sudah berada ditempat yang sangat gelap, sunyi dan hampa, hanya ada kabut putih tipis disekitarku.


'Di dimana aku ini??' gumamku panik


"Daraaaa?" Panggilnya


"Si siapa? siapa kamu? i ini dimana? kenapa aku disini?! Tolong! mas Irvan tolongin aku mas!!" Teriakku gugup ketakutan


"Dara.... Kamu nggak usah takut Nak, saya buyutmu, dan kamu juga tidak perlu berteriak karena hanya ada kita disini!" Katanya, suaranya ini terdengar jauh namun sangat jelas kata - katanya.


Walaupun dia sudah menjelaskan seperti itu, namun perasaan takut dihatiku tetap saja tidak bisa berkurang, terlebih lagi disini tidak ada sedikit cahayapun.


Saking sunyinya bahkan suara detak jantungku yang berdebar - debar seakan terdengar jelas keluar, akupun terjongkok sembari memeluk - meluk gugup diriku sendiri.


"Hik...Mama.... papa.... mas Irvan.... siapa pun tolong aku.... aku takut.....huuhuu ...!" kataku berbisik gemetar dengan tetesan airmata yang mulai berjatuhan


"Kenapa kamu menangis nak? saya tidak akan menyakitimu ..... kamu sekarang ini sedang berada didalam ruang hatimu sendiri...." Ucapnya


"Apa?! dalam hatiku sendiri? ma maksudnya apa? aku nggak ngerti!" dalam sekejap tangisanku terhenti karena kebingungan


"Apa yang sedang terjadi didalam hatimu sekarang ini, yaa seperti inilah suasananya... kesedihan, kehampaan, kegelapan, biarpun sebenarnya kamu tahu bahwa disekitarmu banyak yang menemani dan menyayangimu tetapi kamu selalu merasa kesepian! bukankah begitu?!


Kamu tahu ada Mama papamu yang selalu memberikan yang terbaik untukmu,


kamu tahu adikmu selalu menghiburmu,


kamu tahu sahabatmu selalu siap membantumu, dan bahkan kamu tahu keluarga angkatmu selalu ada disampingmu...


Tapi kenapa hanya karena kehilangan satu orang yang baru saja dekat denganmu kamu sudah merasa kesepian?!" Jelasnya


Seketika akupun jadi tertegun dengan ucapannya barusan,


'Iya, kenapa aku selama ini sampai melupakan mereka yang justru ada setiap saat untukku, mereka yang dengan tulus menyayangi aku, dan bahkan mereka yang tidak pernah sekali pun meninggalkan aku' Gumamku dalam hati


"Apa kamu sudah mengerti maksud buyut nak?!" tanyanya lalu akupun mengangguk dalam tatapan kosong


"Terus...... bagaimana aku bisa keluar dari kegelapan ini? bagaimana aku bisa menemui mereka lagi kalau aku masih disini?!" tanyaku


"Kamu hanya sekedar tahu, tetapi kamu belum menyadarinya, kamu belum menghadirkan mereka disini jadi bagaimana kamu bisa bertemu sedangkan mata hatimu masih tertutup?!" Ucapannya membingungkanku


"Buyut, bagaimana buyut bisa disini sedangkan kita belum saling kenal sebelumnya? tolong bantu aku keluar dari sini!" kataku memohon


"Saya bisa berada dihatimu tanpa kamu kenal terlebih dulu karena semasa hidup saya dulu memang pernah bersumpah untuk selalu mendampingi anak cucu yang hampir kehilangan arah... Jadi sekarang buyut hanya bisa membimbingmu saja,


Bukalah pintu hatimu, hadirkanlah mereka disini, jadi kamu bisa bertemu lagi seperti biasa dengan mereka.." Karena sudah terlalu panik jadi penjelasan buyut barusan justru membuat aku jadi tambah bingung


'Apa makdudnya dengan menghadirkan mereka disini? bagaimana caranya? sedangkan akupun sedang terjebak disini, didalam penjara hatiku sendiri?!' Gumamku merasa ini adalah hal yang tidak masuk akal bagiku.

__ADS_1


Lalu buyut itupun tidak berbicara lagi kecuali aku yang bertanya duluan, dan setiap aku bertanya jalan keluarnya diapun hanya memberi jawaban yang selalu sama.


"Buyut, aku merasa sudah sangat lama disini, bagaimana caranya aku keluar?" tanyaku


"Iya, kamu sudah tiga hari disini, dan jalan keluar satu - satunya hanyalah kamu harus memberi arti dalam kehidupanmu dan orang - orang disekitarmu.." Jawabnya yang lagi - lagi membingungkan


'Apa, tiga hari? aku sudah disini selama tiga hari tanpa makan, minum dan tidur? tetapi entah mengapa akupun tidak merasakan lapar, haus ataupun mengantuk, yang aku rasakan hanya kesunyian dan kedinginan!'


Selama tiga hari ditempat gelap ini aku hanya memikirkan apa maksud dari ucapan buyut tersebut, namun karena sudah merasa bingung dan buntu, akhirnya pikiran lelahku menghasut hati agar pasrah, dan tiba - tiba suasananya juga bertambah gelap dan dingin, akupun tergeletak meratapi nasib.


'Apakah aku akan mati disini? mama aku kangen belaian lembut mama, masakan mama, manjaan papa kepadaku, seru - seruannya papa sama Doni, perhatian Ibu, pengertiannya Kiki, kekonyolan dan cerewetnya mas Irvan ..... aku kangen semuanya...!' Kurenungi dan kubanyangi semuanya yang aku rindukan berada disini.


Kubayangi mereka sedang mengelilingiku, hangatnya tangan mama dan ibu, papa, mas Irvan, Kiki, dan adik - adik yang sangat perhatian.... Lalu aku bangkit dan duduk bersimpuh ditengah - tengah mereka


'Aku minta maaf kalau selama ini aku mengabaikan kehadiran kalian semua, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dialam nyata, walaupun kalian hanyalah bayanganku saja, tetapi aku mohon, kalian tetap disini menemani aku!' Ucapku sambil menunduk pada semua bayangan - bayangan yang sedang tersenyum padaku itu


"Dara...cucuku...." Suara buyut yang tiba - tiba muncul tanpa aku panggil


"Kamu sudah menyadari kehadiran mereka semua disini sekarang..." Ucapnya, aku jadi bingung karena semua inikan hanya bayangan ku saja, pikirku


Ku angkat perlahan kepalaku saat melihat cahaya terang menyinari ruang yang tadinya gelap dan dingin ini, bayangan mereka semua yang masih mengelilingiku ternyata mengeluarkan cahaya dengan warna yang berbeda - beda seperti aura yang indah dan hangat...


"Kehadiranmu disini sama seperti mereka, sama - sama bayangan saja" ucap buyut lagi


SRIIIIING JLEB!


(Dalam sekejap aku sepeti terseret pusara angin dan masuk kesuatu tempat)


Suara bising dan aroma obat dirumah sakitpun kembali lagi seperti semula,


Sontak aku terkejut dan langsung membuka mata dengan plafon putih sudah dihadapanku


"MAS?!!" teriakku


"DEK!?" seseorang memanggil dengan antusias dari samping kiriku


Napasku terengah - engah seperti habis berlari, ku lirik mas Irvan sedang duduk disampingku dengan pipinya yang basah menciumi tanganku.


"Syukur, syukur dek... hik...!!" katanya sambil terus menciumi lenganku


"Mas?... mas Irvan, ini beneran mas?!" panggilku, dengan bibir yang bergetar aku benar - benar ingin memastikan kalau ini bukan mimpi


"Iya dek ini mas! kamu jangan takuti mas lagi ya.. hik..!" Sahutnya sambil berdiri menciumi keningku


Kupaksakan mengangkat tangan lemasku keatas punggunggnya, kupeluk dan kurasakan kalau ini benar - benar nyata...


"Hik.. Mas.... aku takut..Hik.. aku takut sendiriian.... hik.... jangan tinggalin aku sendirian...."


Kataku sambil menangis katakutan dengan kejadian tadi


"Mas ada disini terus, mas janji nggak bakal ninggalin kamu... kamu nggak bakal sendirian...?!" Dengan wajahnya sangat dekat dihadapkan wajahku hingga hidung kami saling bersatu, Jawabannya sangatlah menenangkanku


"Udah, jangan nangis lagi, sebentar mama datang, kamu nggak mau kan baru bangun terli nangis...." ucapnya sambil menghapusi airmataku dengan jarinya


"Mas juga.... kenapa nangis?!" kataku sembari mengusap perlahan pipinya yang pucat, dia tersenyum dan menjawab


"Gimana mas nggak nangis, kamu dari siang sudah tidur, baru bangun sebentar terus tidur lagi dengan darah yang tiba - tiba sangat kurang.... Untung aja golongan kita sama...!" Ucapannya


"Darah?!" tanyaku heran dan ngeri


"Iya darah, dipemerikasaan sebelumnya tekanan darahmu memang sudah rendah, tetapi seharusnya setelah diinfus akan kembali membaik, tapi tadi tiba - tiba malah kekurangan banyak sampe kamu pingsan!" Jelasnya sambil cemas


Kuperhatikan selang infus yang sedang menempel ditangan dan baru aku sadari ternyata .....


Berwarna merah pekat!!


Aaaiiiiissss....Seketika saja aku memejamkan mata merasa ngeri dan melemas seluruh badan setelah melihat sekantong darah yang sedang terhubung denganku.


"Dek! jangan pingsan lagi...!!" panggilas Irvan


"Aku nggak pingsan mas, tapi aku nggak sanggup lihat darah sebanyak itu.....!" Ucapku sembari masih memejamkan mata


"Kayaknya kamu pasti gagal jadi dokter!! hehe.." katanya sambil mencubit pipiku.


"Eeh? (membuka mata, teringat ucapannya tadi) tadi mas bilang dari kapan aku tidur?!" tanyaku

__ADS_1


"Dari siang jam pas kita mau beli makan, tadi sore sempat diperiksa katanya mulai normal, terus nggak lama adek bangun sebentar sekitar jam enam, eh tahu - tahu adek pingsan dan bilang dokter harus tranfusi darah... hmmm (sambil melihat jam tangan) sekarang udah hampir jam sepuluh.. kenapa nanyain jam?" katanya


"Apa? jadi sekarang masih hari yang sama?!" tanyaku lagi dan diapun mengangguk


"Kenapa memangnya dek?!" tanyanya


"Nggak apa - apa, tanya aja ..." jawabku singkat


'soalnya kalau aku jelaskanpun pasti malah cuma bikin bingung dan bahkan tidak percaya dengan ceritaku yang padahal sudah tiga dari disana..' gumamku dalam hati


"Udah, jangan banyak pikiran, kita pindah kamar dulu ya sekarang?! (aku mengangguk)


kalau gitu mas paggilin perawatnya sebentar, tapi janji jangan tidur lagi...!" pesannya sembari mencolek hidungku


"Iyaaa mas...." jawabku tersenyum, lalu diapun menghilang dibalik pintu putih tinggal aku sendiri disini


'Buyut?' panggilku dalam hati ingin mengucapkan terima kasih sudah dikembalikan


'Buyut?' beberapa kali ku panggil tetapi tidak ada sahutan darinya


'Masa iya tadi aku cuma bermimpi?! tapi kalaupun bermimpi kenapa terasa sangat nyata?!' gumamku lagi


JEGLEK!! (suara pintu terbuka)


Mas Irvan datang bersama seorang Dokter muda tampan dan juga dua orang perawat dibelakangnya.


"Gimana Nona Dara? masih sakit kepalanya?" Tanya dokter yang kira - kira seumuran sama mas Irvan


"Nggak terlalu dok, cuma perut saya kalau nafas agak sesak sedikit..." jawabku, lalu perawat menghampiri memeriksa denyut nadiku


"Yang sebelah mana, sini... (PLAK!!)"


baru saja dokter itu mau memegang perutku tiba - tiba mas Irvan menepis tangannya


"Jangan pegang yang aneh - aneh kamu!"


kata mas Irvan mengancam dokter tersebut yang tentunya aku jadi keheranan


"Van, gimana mau diperiksa kalau dipegang aja nggak boleh?! terus tadi siang dipegang dokter Dimas kamu marah juga?!" tanyanya


"Itu lain lagi.... mbak suster, Dokter jaganya nggak ada yang lain selain dia kah?!" tanya mas Irvan kesuster disebelahku sambil tangannya menunjuk kedokter tampan itu yang terlihat mereka sudah sangat akrab


"Kalian saling kenal yaa?!" tanyaku


"Kok mau - maunya kamu punya kakak kayak Irvan sih?" tanya balik dokter itu padaku dengan tatapan perhatian lalu tanganku diraba - rabanya seperti memeriksa


"Dra, tanganmu ngapain?!" tegur mas Irvan kedokter muda ini


"Aku cuma periksa Van, takut apa sih? toh kalau sama aku juga memangnya kenapa? kan bisa menjamin kesehatannya...." katanya yang membuat aku jadi GEER


"Singkirkan pikiranmu itu, mending sekarang cepat bawa adiku keruangannya..!" Perintahnya, 'Haduuuh mas Irvan ini, nggak bisakah aku kenalan dulu sama dokter ganteng ini?!!' gumamku dalam hati kekijilan


Ketika sudah diruang kamar, tidak lama kemudian mamapun datang membawakan pakaian ganti dan juga banyak makan kesukaanku, setelah mama membantu aku berganti pakaian lalu dia ketoilet, dan ternyata dokter tampan tadi sedang menungguku didepan pintu sambil mengobrol sama mas Irvan.


"Sudah ganti pakaiannya?" tanya dokter iti sambil membuka sedikit pintu


"Sudah dok..." jawabku sungkan, lalu dia segera masuk


"Naah ini obatnya, diminum sebelum makan yaa..." pesannya sambil menyodokan sebungkus obat, akupun segera menjulurkan tanganku


"Kalau cuma ngasih itu aja kan sama aku bisa dari tadi...." celetuk mas Irvan sambil melirik sinis


"Tadikan belum sempat kenalan,, nama saya Indra..." Katanya sambil menjulurkan tangannya menyalami tanganku


"Aduuuh! sudah dah nggak usah segala modus! kembali keruanganmu sana...!" kata mas Irvan sambil melerai jabatan tangan kami, namun dokter indra malah nyengir


"Irvan ini semenjak pulang dari Bandung jadi sensitif banget..." ucap dokter Indra malah meledeknya


"Hayooo dari tadi mama dengerin ada apa ribut - ribut disini?" Tegur mama yang baru keluar dari toilet


"Oowh ini mamanya? salam kenal tante saya Indra calon mantu tante..." kata Dokter itu dengan pedenya menyalami tangan mama


"Apa - apaan sih! ayo keluar sana..! jangan sampe besok aku pindahkan Dara kerumah sakit lain dengan alasan digangguin kamu!!!" Kata mas Irvan sambil menarik paksa keluar dokter Indra dari ruanganku, lalu menguncin pintunya


"Yaaa ampun Van, kamu tega banget sih..." tegur mama

__ADS_1


"Iya mas Irvan nih, orang cuma ngajak kenalan aja kok..." sahutku sambil manyun kecewa karena dokter nya diusir.


__ADS_2