
(IRVAN)
"Kenapa aku berada disini lagi?
Kenapa terulang lagi?
Lagi dan lagi kembali diwaktu yang sama,
diwaktu aku menemukan seprei yang disembunyikan Dara dikolong meja riasnya, seprei yang terdapat noda bercak darah yang ternyata dari muntahannya, yang seketika membuat hatiku langsung terbakar cemas, sepasang kakiku ini rasanya ingin selalu mengikuti kemanapun dia melangkah, hanya untuk mencari kesempatan bertanya padanya :
"Apa yang sedang kamu rasakan?
dimana letak rasa sakitmu?" namun,
saat aku mendapat kesempatan itu kamu justru malah terus menghindar, kenapa?
kenapa kamu menutupinya dariku?
apa ada yang salah dariku?
atau kamu tidak percaya lagi padaku?
Sriing! (Dalam sekejap berpindah tempat dan waktu)
Aah, kenapa lagi ini, kenapa sekarang berpindah disituasi ini?
Situasi saat aku berjongkok tepat dihadapannya yang sedang duduk dikursi, dia sedang menutupi wajahnya namun aku terpaku saat melihat ada cairan merah pekat merembes dicelah jarinya, dan ketika aku tersadar dari ketertegunanku itu ternyata dia sudah berlari melewati ku. Karena cemas akupun segera beranjak ingin mengejarnya, namun entah karena aku kalah cepat atau memang karna terlalu lama tertegun tau tau dia sudah mengunci pintu kamar mandinya dari dalam.
Tidak hanya sampai disitu, lagi lagi aku dibuatnya gemetar ketakutan, bagaimana tidak? saat ini aku berpijak diatas keset berwarna cerah yang baru ku ganti setelah selesai membersihkan kamarnya, tadi sore keset ini bersih tanpa noda sedikitpun tapi kenapa sekarang ada bercak merah diatasnya? karena penasaran akupun menyentuhnya untuk sekedar memastikan dan berharap itu hanyalah sebuah kotoran yang terjatuh, tapi kenapa, ini tidak seperti harapanku tapi justru malah seperti kecemasanku? Jariku yang telah menyentuh noda itu sekarang tertempel cairan merah diujungnya.
'Ii..ini, sebenarnya dia kenapa, kenapa dia tidak mau mengatakan apapun dan pada siapapun yang dia rasakan? kenapa dia lebih memilih menanggungnya sendiri?'
Aku hanya menunggu dia didepan pintu dan sesekali memanggilnya hanya untuk memastikan kalau dia baik baik saja didalam.
semalam dia memang masuk rumah sakit tapi dokter diBalikpapan tidak memeriksa keseluruhnya, riwayat penyakitnya pun memang tersimpan dirumah sakit Citra tempat dimana Indra bekerja.
Mamah Aina bilang kalau dari lahir Dara ini fisiknya memang sudah lemah karena lahir secara prematur, tapi buatku ini bukanlah alasan utamanya karena diluar sana banyak yang terlahir prematur tapi tidak sampai begini terus terusan!
Dari dulu aku memang tau kalau dia ini sering sakit sakitan tapi aku tidak begitu memikirkannya, palingan cuma menjenguk sambil tetap mengajahilinya tanpa terlalu peduli dengan yang terjadi sebenarnya, karena dari dulu aku terlalu fokus dengan sekolah dan juga hobby olahragaku.
Tapi entah sejak kapan aku begitu sangat ingin didekatnya, ingin melindunginya bahkan aku ingin sekali kalau cuma aku yang disisinya baik itu didiri maupun dipikirannya, dan aku berharap hanya aku.. hanya aku dihatinya! Mungkin kedengeran memang gila karna aku menyukai adikku sendiri, aku yang sampai saat ini belum pernah merasakan mencintai wanita walaupun selama ini banyak wanita disekelilingku, tapi tidak tau kenapa saat aku berada bersamanya jantungku langsung berdebar, hatiku senang, bahkan aku ingin dia terlahir memang untukku.
"Dara adikku, aku sungguh mencintai mu!
__ADS_1
Bisakah harapanku terwujud?"
Apakah ini konyol atau wajar? akupun tidak tau!
Hah Ya ampun! kenapa anak ini lama banget didalam kamar mandi? perasaanku mendadak tidak tenang ditambah tidak ada suara apapun dari dalam! apakah dia.....
TOK TOK TOK!
"Dek, kamu kenapa lama banget? tadi, tadi mas kesini sekalian bawain sop ayam buatan ibu nanti kalau dingin kurang enak!" alasanku sambil menempelkan telinga dibadan pintu kamar mandi tersebut
"Iya mas sebentar!" Nyeeees.. sekejap rasa was wasku langsung mengempes beriringan dengan suara gemericik air dari dalam saat mendengar sahutannya.
Tidak lama kemudian dia berdiri dihadapannku, ku perhatikan dengan seksama dari atas kebawah hanya ingin memastikan dia........
'Ah itu, ada tetesan dicelananya, tetesan yang warnanya sama dengan yang dikeset yang dia injak sekarang!'
"Dek kamu kenapa?" tanyaku cemas
"Aa..aku aku gak kenapa napa, memangnya kenapa? ayoo cepetan kebawah aku gak sabar makan masakan ibu!" jawabnya terburu buru.
Aku tau kamu bohong karena itu memang sudah kebiasaanmu menutupi rasa sakitmu hanya supaya orang tidak khawatir! tapi aku, aku merasa seperti sudah sebagian ada dijiwamu, apapun yang kamu sembunyikan entah itu apa pasti aku tau, buktinya seprei itu!
Sriing! (Dalam sekejap berpindah tempat dan waktu)
dan akhirnya tanpa pikir panjang akupun memberi napasku untuknya, yaa kuberikan napas buatan melalui mulutku ke mulutnya.
Kurasakan dingin bibirnya menyentuh sisi bibirku, dalam rongga mulutnya begitu kering begitu hampa hampir tak berudara, dalam setiap napas yang kuhembusakan untuknya kupanjatkan do'a harapan agar bukan hanya darahku, melainkan napas dan separuh jiwaku juga untuknya, selama aku masih hidup diapun harus tetap hidup untuk menemaniku.
Sriing! (Dalam sekejap berpindah tempat dan waktu)
Aah kenapa sekarang aku disini lagi? diatas kasur rumah sakit tepat disampingnya. Aku tidak percaya kalau darahku masih kurang cukup untuknya, bahkan saat ini dia masih memejam tanpa reaksi sedikitpun. Kepalaku sangat pusing, aku mulai mengantuk...
Nggak, aku nggak boleh tidur ataupun sampai pingsan, aku ingin tetap terjaga agar aku bisa terus menemaninya, aku tidak ingin ini menjadi saat saat terakhir aku melihatnya, aku tidak ingin dia pergi jauh tanpa sepengetahuanku, aku tidak ingin dia sampai melupakanku, aku tidak rela, tidak rela!
Tapi kenapa dengan mataku ini? jangan, kumohon jangan terpejam, jangan biarkan dia hilang dari pandangan ku, jangan..
"JANGAN!!.." HAH..HAH..HAH..
"Irvan bangun nak!" panggilan ibu yang tau tau sudah berdiri disamping ranjangku
"Hah.. hah.. ibu? aku, aku..." sahutku terbangun engos engosan
"Kamu mimpi buruk lagi nak?" tanya ibu cemas sambil mengelap keringat didahiku
__ADS_1
"Aku nggak ngerti bu, kenapa aku terus terusan bermimpi hal yang sama bahkan rasa takutnya pun juga sama? aku, aku.." jawabku sambil berdebar debar
"Nyebut nak nyebut! ini sudah hampir seminggu semenjak kamu disini masa sampai sekarang kamu masih aja mimpiin Dara seperti itu? jujur sama ibu, apa kamu ada melakukan kesalahan sama Dara disaat saat terakhir sebelum dia sakit? ayo ngomong?" desak ibu
"Nggak bu, aku nggak ada melakukan apapun yang aneh aneh, aku beneran cuma mau nolong dia secepat mungkin! ibu bisa tanya sama Doni dan Reza kalau memang gak percaya sama aku?" kataku menekan
"Iya iya ibu percaya, ibu sudah tanya sama mereka kemaren dan menurut ibu yang kamu lakuin itu wajar aja, bahkan semua orangpun pasti akan melakukan hal yang sama jika dalam situasi seperti itu, hanya saja ibu heran dengan mimpi yang kamu alami, bisa jadi ini sebuah firasat yang....."
"Udah bu udah jangan dilanjutin, aku nggak mau mendengar apa apa!" sela ku memotong omongan ibu yang belum selesai. Walaupun sebenarnya aku nggak tau apa yang mau ibu katakan, tapi aku sudah keburu parno duluan takut ibu mengatakan hal yang tidak baik tentang Dara.
TOK TOK TOK! JEGLK!
"Van kamu sudah bangun?" sapa Indra saat masuk keruanganku bersama Rina dibelakangnya.
"Dra, apa aku sudah bisa keluar hari ini?" tanyaku tidak sabaran
"Kenapa, kamu udah gak betah banget ya sampai setiap aku datang pasti nanyain itu mulu?" jawab Indra sambil mulai memeriksa bahuku
"Kalau bukan karena kelicikanmu yang sudah memaksa aku berjanji yang gak penting begini aku pasti sudah keluar dari sini minggu lalu!" sahutku jengkel
"Oowh jadi informasi mengenai Dara ternyata gak penting ya?"
"Ah! bu..bukannya begitu, cuma..cuma..."
"Cuma apa? cuma bikin stres aja iya?" ucapnya mengejek namun aku tidak bisa membalas, karena itu memang benar.
Ku perhatikan dari tadi Rina hanya tersenyum senyum sendiri menatapku, aku tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan dokter psikolog itu padaku dan malahan dia yang pastinya bisa membaca pikiranku saat ini.
"Lukamu sudah sembuh Van, tadi kata dokter spesialis tulang juga paling nanti agak ngilu ngilu sedikit tapi lama kelamaan hilang sendiri kok dan kamu sudah bisa pulang besok!" kata Indra memberi kabar gembira
"Syukur deh kalau gitu! yaudah sekarang ibu pulang ya takut kemalaman soalnyakan masih harus tutupin toko mamahnya Dara dulu, palingan sebentar lagi Reza sampe disini!" pamit ibu terlihat lega
"Iya bu, hati hati ya!" kataku sambil menerima ciumannya dikeningku.
"Aku juga mau buat laporan dulu ya Van, nanti kalau ada apa apa cepat kabarin, oke!" pamit Indra
"Iya makasih ya bro!" sahutku yang sudah jadi sangat akrab bersamanya.
Kemudian saat Ibu dan Indra pergi jadi tinggal aku berdua, Rina pun perlahan mulai mendekat kearahku diruangan sepi ber-ac ini. Sejuk, tenang dan nyaman, suasana saat ini sangat pas untuk kami berdua saling ber......
Cuplikan:
Waaah, kira kira Rina mau ngapain ya sama Irvan? mana senyum senyum sendiri dari tadi sambil ngeliatin Irvan.
__ADS_1
Kalau menurut kalian kira kira mereka mau ngapain?