
"TIGA PENGUSAHA BESAR DIKALIMANTAN MENGALAMI TRAGEDI KECELAKAAN DIJERMAN DAN SATU PRIA BERTALENTA MENINGGAL DIRUMAH SAKIT!
kecelakaan itu terjadi ditengah perjalanan menuju bandara saat mereka akan pulang ke Indonesia, dan mobil mewah yang membawa mereka adalah milik cucu dari Alm. Bu Fatma yang tidak pernah terdengar kabarnya selama hampir dua tahun belakangan ini."
(Samarinda, 22:00WITA dirumah Irvan)
"BUK! IBU...!!!" TAP TAP TAP
Reza, Yudha dan Doni yang baru saja pulang main futsall langsung tergesa gesa mencari ibunya dirumah
KRIEEET!! Dibukanya pintu kamar ibu dan mereka mendapati ibu mereka sedang melamun diatas kasurnya
"Ibu, tolong cari kebenarannya buk! bukan mas Irvan kan bu? bukan dia kan bu?!" tanya Reza mendesak ibunya
"Ibu, ibu jangan diem aja, ibu jawab! hikshiks!!" tanya Yudha menangis sambil memeluk ibunya, begitu juga dengan Doni yang sudah terisak isak dari tadi sambil bersandar kedinding.
"Ibu juga berharap begitu nak, siapa yang mau mendengar berita seperti ini? tapi terakhir ibu dengar kabar bahwa mas kalianlah yang saat kejadian tidak sadarkan diri karena pintu dibagian dia yang kena tabrak!" sahut ibu dengan tatapan kosong sambil memegangi handphone yang terpampang berita duka tadi.
"Aku sudah nyoba berkali kali nelpon tapi nomor handphone mereka bertiga gak ada yang aktif!" kata Doni
"Buk, berita ini kan masih menggantung bu, coba ibu cari berita yang langsung dari Jerman!" pinta Reza
"Gak ada lagi nak, semua berita dari Jerman mengenai kejadian ini sudah ada yang menariknya. Mungkin keluarga dari Arga, karena mobil mewah itu milik Arga!" kata ibu
"AKU GAK MAU PERCAYA SAMA BERITA ITU! AKU GAK MAU! AKU GAK PERCAYA!!" teriak Yudha meronta ronta dalam kesedihan
"YUDHA... YUDHA, SABAR DULU! JANGAN BEGINI SIKAPMU, BUKAN KAMU AJA YANG LAGI STRESS DISINI, KITA SEMUA JUGA STESS TAU GAK?!!" bentak Reza ke adik bungsunya yang memang paling dimanja Irvan dirumah, tubuh Yudha pun langsung melemas ditepi kasur ibunya.
"Hikshiks mas Irvan... mas.... aku ndak terima mas... sudah gak ada bapak moso mas pergi juga? Hiks...." ucap Yudha menangis tersendu sendu tak berdaya
'Hatiku memang punya firasat buruk tapi aku tidak merasa kehilangan anakku... Nggak, aku nggak percaya Tuhan sekejam itu sama aku!' gumam ibu membatin
(Diwaktu yang bersamaan diJerman, rumah Dara)
Saat Dara membuka mata diatas kasurnya, tiba tiba dia merasa senyap, kamar yang walaupun masih tersorot sinar matahari sore tapi seperti gelap, didalam hatinya sepeti ada yang hilang, napasnya terasa berat, sebagian jiwanya seperti pergi, sejenak dia melamun tanpa bangun. Matanya terus menatapi langit langit kamarnya yang berwarna putih polos, sepolos pikirannya yang tidak tau apa yang sudah terjadi sebenarnya.
KRIIEEET! Pintu kamarnya terbuka pelan, sosok wanita muda menghapirinya dengan senyuman tipis dibibirnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang berat.
"Nona Dara sudah bangun? gimana tidurnya, nyenyak?" sapanya yang terdengar tidak biasa karena terlalu basa basi yang malah membuat Dara jadi curiga.
"Kak Sovia, kakak kenapa?" tanya Dara
"Kenapa? kenapa apanya nona? saya tidak kenapa napa!" jawabnya sambil tersenyum memaksa yang membuat Dara tambah curiga, lalu Dara bangkit dan duduk bersandar disandaran kasurnya
"Kak Sovia, aku selama disini setiap hari cuma sama kakak, jadi sikap kakak seperti apapun aku sudah hapal dan terlebih lagi kak Sovia juga tidak pintar berbohong seperti aku. Jadi, bicaralah sama aku kalau memang kak Sovia masih mau menganggap aku sebagai adik!" desak Dara dengan jurus kata kata menusuknya
"Tidak ada apa apa nona, saya tidak sedang menutupi apapun dari nona. Saya hanya sedang berpikir, apakah nona bahagia tinggal dan hidup disini dengan tuan Arga, apa nona bisa menghilangkan rasa keinginan untuk kembali ke Indonesia negara yang sudah tidak ada memorinya diingatan nona?" tanya Sovia sambil duduk ditepi ranjang
"Kalau ditanya bahagia ya aku bahagia, terlebih aku disini sama Arga yang selalu baik sama aku. Tapi, mau gimana pun Indonesia itu adalah negara tempat aku lahir dan tumbuh disana. Walaupun aku sudah betah disini tapi rasa penasaran dan keinginan tahuanku tentang negara yang satu itu nggak akan hilang selama ingatanku belum pulih kembali!" jawab Dara sambil membayangkan seperti apa tempat tinggalnya
'Mungkin saat ini keluarga nona Dara sedang berharap agar ingatan nona tidak akan pernah kembali lagi. Mungkin harapan ini terdengar kejam, tapi bagi saya pribadi itulah yang terbaik!' ucap Sovia dalam hati karena dia sudah sangat tau seluruh kisah kehidupan Dara sebelumnya
"Oiya kak Sovia, sekarang ini sudah jam berapa?" tanya Dara yang baru ingat kalau dia harus kerumah Arga sebelum dia pulang kuliah.
"Sekarang sudah jam empat nona!"
"Yaa ampun, hari ini kan jam pulang kuliah Arga jam dua! kenapa kak Sovia tadi tidak membangunkan aku?" kata Dara yang langsung tergesa gesa turun dari ranjang
"Tidak perlu nona tadi tuan Arga sudah kesini dan dia sengaja tidak mengijinkan saya membangunkan nona!" Sovia berusaha menahannya
"Kalau gitu aku akan segera kerumahnya!"
"Tidak perlu nona, tuan Arga sedang tidak ada dirumah, tadi sudah pergi bersama paman William dan mungkin malam baru kembali!" kata Sovia menahannya lagi
__ADS_1
"Kok kak Sovia tau?" tanya Dara kebingungan
"Barusan saya bercengkrama dengan Paula didepan!" jawabnya
"Oooh, kalau gitu saya mau mandi saja!" kata Dara yang langsung melangkah menuju kekamar mandinya
Pheeeew... Soviapun menarik napas panjang karena bingung harus menahan seperti apalagi kedepannya, diapun berpikir keras untuk mencarikan kesibukan untuk Dara.
Dikamar mandi Darapun tidak langsung mandi melaikan dia hanya berdiri didepan cermin. Dia berusaha menerka apa yang sebenarnya telah terjadi. Perasaan gelisah yang dia rasakan semenjak bangun tidur tadi sampai sekarang belum juga mereda dan malahan semakin menguat dihatinya.
Ucapan dan sikap Sovia terhadapnya barusanpun sangat tidak biasa yang membuatnya semakin curiga.
"Ada apa sebenarnya? siapa pun, tolong bantu aku yang sedang lemah dan tidak berdaya ini!" harapnya dalam hati
Setelah lima belas menit dikamar mandi Dara pun keluar dengan sudah berganti pakaian dengan wajah yang terlihat lebih berseri seri dari biasanya. Sovia yang sedang merapihkan tempat tidurnya pun merasa ada yang aneh dari raut wajah berserinya itu.
"Nona Dara, apa anda ada memakai sesuatu yang tidak biasa diwajah nona?" tanya Sovia penasaran
"Wajah? saya tidak ada makai apapun kecuali sabun yang biasanya. Memangnya ada apa diwajah saya?" Darapun bergegas berlari kedepan cermin meja riasnya. "Tidak ada apa apa kok!" katanya
"Memang tidak ada apa apa nona, hanya saja wajah nona terlihat lebih sangat manis dan bercahaya seperti bulan purnama!" puji Sovia sambil menghampiri dan membawakan boneka barunya. "Kalau tidak percaya tanya saja pada tuan teddybear ini!" kata Sovia menggodanya.
Darapun memeluk bonekanya sambil bercermin.
"Kenapa belum ada yang menghubungi saya, apa mereka belum tiba diIndonesia?" tanya Dara yang belum tau apa apa
"Mungkin belum nona, kan biasanya juga nyonya menghubungi nona saat besok pagi karena beliau langsung sibuk dengan pekerjaannya!" alasan Sovia sambil menyisirkan rambut Dara yang masih lembab
"Maksud saya kak Irvan dan kakek. Saya kan baru kali ini berjumpa mereka berdua dalam waktu yang singkat, apalagi kak Irvan yang malah sempat berusaha bersembunyi dari saya!" ucapnya sambil membelai belai boneka lembutnya
"Emm.. Nona mau makan apa untuk sore ini? tadi siang nona makannya sangat sedikit, kalau sekarang tidak makan takutnya sakit lambungnya luka lagi!" kata Sovia. Tatapan mata Dara tiba tiba menjadi kosong saat memandang boneka ditangannya.
"Nona?... Nona Dara?!" panggil Sovia
"Nona, apa nona tidak kasihan dengan orang orang yang sayang terhadap nona? bagaimana kalau mereka tau keadaan nona disini tidak baik bahkan makanpun tidak mau!" bujuk Sovia
"Saya akan makan roti panggang saja, karena saat Arga kembali pasti saya akan diajaknya makan lagi!"
"Kalau gitu saya akan segera siapkan!" kata Sovia yang langsung meletakan sisir lalu melangkah keluar kamar.
Dara yang daritadi termenung tanpa jelas kegelisahan dihatinyapun tau tau tangannya meraih parfum pemberian Irvan yang ada dihadapannya. Tanpa sadar dia menyemprotkan parfum itu ke pakaiannya yang dalam sekejap mengubah suasana hati gelisahnya menjadi lebih tenang. Dia merasakan ada sosok Irvan disampingnya, sosok yang begitu hangat manjaannya.
"Kak Irvan...." bisiknya merasa rindu
Segera Dara mengambil handphone yang dikunci pola olehnya, dia berniat ingin melihat foto fotonya saat bersama Irvan namun tidak lama kemudian tangannya bergetar tidak terkendali.
SYUUUUNG... BRAAK!!!
Handphone dan boneka ditangannya jatuh bersamaan.
Tanpa banyak pikir lagi dia berlari tergesa gesa mencari Edward.
"Ce,cepat! cepat antarkan saya kerumah sakit!" pinta Dara gugup
"Tapi nona tuan......"
"CEPAT!!" Bentak Dara karena sudah hilang kendali, Edward yang melihat wajah Dara tiba tiba memucat pun akhirnya menuruti perintahnya.
"NONA!!" Panggil Sovia yang lari terbirit birit berusaha mengejarnya namun kalah cepat karena Edward sudah terlanjur menginjak gasnya lebih laju dari biasa. "Yaa Tuhan selamatkanlah mereka sampai tujuan!" ucap Do'a Sovia karena khawatir.
Selama perjalanan menuju kerumah sakit bibir Dara sama sekali tidak terbuka, namun didalam hatinya terus berbicara dan berdo'a tanpa henti. Kedua bola matanya bergetar dengan bendungan air yang sudah berkaca kaca ditepinya. Pikirannya berusaha menepis apa yang sudah dilihatnya barusan dilayar handphonenya. Sebuah berita yang belum terlalu jelas dibacanya, hanya saja potret mobil, nama Kalimantan, jam kejadian dan nama rumah sakitnya yang sangat dia paham maksudnya.
Tidak sampai sepuluh menit merekapun tiba dihalaman rumah sakit, namun Dara tidak mendapati apa yang dicarinya didalam gedung kesehatan tersebut, Edward yang tidak tegapun berusaha membantu dengan bertanya tanya pada pihak rumah sakit dan sekalinya mereka mengatakan kalau jenazah dan keluarganya baru saja diberangkatkan menuju bandara. Tanpa Banyak pikir Edward segera menarik tangan Dara menuju kemobilnya.
__ADS_1
"Nona percaya sama saya?" tanya Edward sambil terburu buru menguncikan sabuk pengamannya, Dara pun mengangguk mempercayainya. "Kalau begitu pegangan yang erat!" perintahnya, lalu dia mulai menginjak gas dengan kecepatan lebih tinggi dari yang tadi.
Sesampainya dibandara, Edward membantu Dara berbicara pada petugas dan menerangkan bahwa nonanya ini adalah keluarga dari korban, dan setelah Edward menjaminkan kartu identitasnya Dara pun diizinkan masuk langsung kepintu penerbangan yang biasanya hanya petugas yang diizinkan melewatinya.
TAP TAP TAP!!
Lagi lagi Edward menarik tangannya agar berlari lebih cepat.
SRRRRT... BRUG! "AAAAGH!!"
Dara yang bertubuh mungil pun tidak sanggup mengimbangi kecepatan lari Edward yang memang badannya jauh lebih tinggi darinya, dia jatuh terseret karena tarikan kencang Edward hingga lututnya terluka.
"NONA!!" teriak kaget Edward yang langsung jongkok disampingnya. "Nona maafkan saya?!" ucapnya merasa bersalah
"Kak Edward tolong bantu aku secepatnya kesana!" pinta Dara yang luka dikakinya mulai mengeluarkan darah.
"Mari!" kata Edward yang langsung menggendongnya berlari menuju pesawat yang sudah banyak orang berpakaian hitam sedang berkrumun.
"MAMAH!!" teriak Dara saat sudah mulai mendekat
"DARA??" semua yang kenal padanya langsung terkejut cemas
Dengan lututnya yang terluka Dara tertatih tatih menghampiri mamahnya yang sudah berpakaian serba hitam.
"Mamah, mamah?!!" panggilnya sambil memeluk
"Dara kenapa kamu kesini nak? hikshiks..!!" tanya mamanya yang jadi tambah menangis cemas, Karena nyata kalau sampai dia kambuh Irvan pun tidak bisa membantu memberikan darahnya.
"BUKA!... BUKA!!..." teriak Dara ingin melihat isi peti mati yang sudah siap diangkat kedalam pesawat
"Jangan nak, kamu tidak usah melihatnya!!" kata mamah sambil berusaha menahan amukannya, karena kalau sampai dia melihat tentunya malah jadi terus terbayang bayang dan yang paling ditakutinya akan terjadi.
"MAMAH LEPASIN AKU MAH!! LEPAS!!" bentak Dara meronta ronta sampai mamahnya tidak kuat menahan, lalu Arga yang dengan cepat menangkapnya
"Beib jangan beib, biarkan beliau pergi dengan tenang, kalau kamu bersikap begini beliau pasti malah jadi sedih!" bujuk Arga sambil memeluknya erat.
"NGGAK! AKU HARUS LIHAT BEIB! AKU MAU LIHAT!! LEPASIN AKUUU!!!" suaranya tambah serak dengan tatapan mata tajam ditambah keringat yang becucuran membasahi rambutnya. "LEPASIN! LEPASIN! LEPASIIIIN!" pintanya tambah meronta berusaha melompat kearah peti mati itu.
Melihat sikap Dara yang tidak terkontrol dan kulitnya mulai menguning membuat mamahnya bingung harus berbuat apa dan akhirnya bu Aina mengijinkan putrinya bertemu dengan orang yang disayangnya untuk terahir kali.
SRRRRK! Tutup peti terbuka memperlihatkan wajah yang baru tadi pagi diciuminya didepan pintu dan melambai lambai dengan senyuman. Kini bibir itu tidak akan tersenyum lagi padanya. Bibir itu tidak akan tertawa dan memanggil sayang padanya.
Perlahan Darapun meraba wajah dingin yang tadi pagi tertawa padanya, menggenggam tangan kaku yang tadi pagi memeluk manjanya. CUP!! Darapun memberikan kecupan terakhirnya.
"Aa.. aku.. aku...." lidahnya mulai kelu,
"Aaaaku..." napasnya mulai sesak
"Aaaaku..sa, sayang....." dalam sekejap warna kulitnya memuncat bagai tak berdarah
TEK!
"DARAAAAAA!!!.." teriak histeris bu Aina saat melihat putri satu satunya telah terpejam lemah disamping peti dengan wajah yang terlihat pucat sama seperti pria yang berada didalam peti mati itu.
.
.
.
CUPLIKAN :
Rina : Woooy tisue mana tisue?!!!
__ADS_1
Indra : Elap dibaju aja!