
Setelah mobil terpakir dibawah pohon, mas Irvan duduk menyamping kearahku sambil tersenyum memperhatikan aku yang sedang mengeringkan sisa airmata yang masih membasahi kelopak dan bulu mataku, dengan posisi duduk ku yang tetap lurus kedepan tanpa sedikit pun menoleh kewajahnya karena aku malu takut sembab.
"Mas nggak ada cermin kah?!" tanyaku kaku dengan suara agak sedikit serak.
"Buat apa tanya cermin? tuh kaca spion disampingmu gede!!" katanya
"Aah mas ini ngolok - ngolok terus!!" kataku sedikit meraju sebab selalu dibecandaain kalu lagi nanya serius.
"ngapain aku ngaca, dispion yang jelas - jelas harus buka jendelanya dulu yang muka sembab ku bisa terlihat orang lain dari luar sana!" Dumel ku, lalu akupun segera membuka tas mencari kotak bedak, namun seperti nya tertinggal dimeja kamar karena terlalu buru - buru saat mau berangkat pagi tadi.
"Pake punyaku aja Ra, sebentar aku pake bendaknya dulu!!" Sahut Kiki dari kursi belakang
Kebiasaan gelisahku kalau belum melihat wajah sendiri yang habis menangis membuat aku tidak percaya diri bila berhadapan dengan orang, walaupun itu adalah orang terdekatku, makanya daritadi aku selalu membuang muka kearah lain
"Niih Ra..!! aku turun duluan yaa mau lihat siapa - siapa yang udah dateng!" Kata Kiki sambil menyodorkan satu pack tisue basah dan kotak bedak miliknya ketanganku yang tidak pernah tertinggal dibawa dalam tasnya, kemudian dia keluar dari mobil. Lalu dengan segera aku membuka kotak bedak itu tapi ....
"Sini..!!" Belum sempat aku melihat wajahku di cermin bedak itu, tangan mas Irvan dengan cepat memegang pipiku dan membalikan arah pandangku kewajahnya yang membuat aku jadi kaget juga gugup dibuatnya.
Tangan lainnya Mas Irvan mengambil selembar tisue basah pemberian Kiki barusan, lalu dengan lembut dia usapkan kewajahku yang masih terpaku menatap kematanya yang dinging terlihat sedikitpun tanpa ekspresi dan jaraknya sangat dekat dihadapanku.
Wajah dinginnya itu membuat aku tidak bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan sekarang ini, dan seketika saja wajahku pun langsung merasa merona karena malu.
"Aduu, mukaku pasti lagi jelek banget ini, tapi kok aku jadi deg - degan gini sih?!" tanya ku dalam hati karena tiba - tiba saja menjadi canggung dibuatnya
Kemudian matanya yang tadi memperhatikan keseluruh wajahku, tiba - tiba saja membalas tatapan mataku yang daritadi hampir tidak berkedip melihat kearah matanya dinginya itu, dan ekspresinya tiba - tiba saja berubah menjadi serius lalu dia semakin mendekatkan wajahnya depan kewajahku.
"EEH, POSISI APA INI!? mas Irvan kan nggak pernah pacaran, nggak mungkin kan dia mauuu?!!!!" Kumat-Kamitku dalam hati yang menjadikan diriku tidak bisa berkutik apa - apa lagi kecuali hanya memejamkan mata karena ngeri!
.
.
.
.
.
Kemudian ada sesuatu yang menarik - narik bulu mataku, yaaa perlahan mata kubuka kembali, melihat ujung ibu jari dan telunjuk nya sedang menarik sesuatu yang menempel dibuku mataku.
"Kasarnya muka mu dek!!" katanya yang tiba - tiba sontak membuat aku berkedip tersadar dari rasa meronaku
"KASAR APANYA?!!" tanyaku yang jadi merasa tersinggung karenaucapannya barusan.
"Ini loh, tisue aja sampai tercabik - cabik dimuka mu!!" katanya sambil menunjukan secuil robekan tisue kering yang barusan dia pungut dari bulu mataku, dan cengir ngeselinnya dia mulai kumat lagi merusak suasana barusan berdebar!
"Nggak Lucu, Udah yuk turun!!" kataku Judes sambil buru - buru berbalik badan mengarah ke pintu
"Aduuh! Lagian apa sih yang aku pikirin??!" pikirku
"Heeeh..!!" Tangannya menahan diriku yang lagi cemberut dan menarik nya mendekat kepadanya
"Dengerin mas dulu!!" katanya membuat aku langsung menoleh lagi kewajahnya dan mata kami saling menatap satu sama lain
"Habis dari sini kita cari tempat, pokoknya kamu ceritain semua sama mas yaa? jangan ada yang ditutup - tutupi lagi, mas kenal kamu bukan baru sebulan, mas nggak mau kamu aneh - aneh sampe sakit kayak kemaren lagi.. Denger?!!!" Aku pun langsung mengangguk dengan mata kami yang masih saling memandang, rasanya seperti sedang diancam namun kata - katanya membuat aku merasa bahagia.
CUUUP!!
Tiba - tiba dia mengecup ujung kening ku lalu langsung turun dari mobil.
~SRRRRRT!!!~
Spontan hatik merasa melayang bersama taburan bunga warna warni yang membuat diriku tertegun dan masih duduk didalam mobil sendirian,
Kok aneh gini sih?! ini bukan pertama kalinya dimencium kening dan rambutku, bahkan ini sudah dilakukan dari kami masih kecil karena dia selalu gemas terhadapku yang memang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Tapi kali ini kok ....
__ADS_1
"Woooy Ayooo turun!!" panggilnya yang tiba - tiba sambil membuka pintu yang samping jadi mengagetkan ku, membuat buyar taburan bunga warna warni barusan..
(Haiiiss!!!)
Saat turun dari mobil, bukan main terkesimanya aku melihat pemandangan didepan ku, sebuah rumah mewah bak istana megah seperti yang berada didalam negeri dongeng.
Sambil berjalan tanganku menggandeng lengannya mas Irvan, melewati parkiran yang selebar lapangan sepak bola dengan hamparan batu kali kecil - kecil diatasnya.
"Whaaa.. Perlu berapa orang buat membersihkan rumah sebesar ini?" tanyaku berbisik sambil menggandeng tangan Mas Irvan, karena malu kalau pertanyaan ku sampai terdengar orang lain.
"Yang pasti lebih dari sepuluh orang!" jawabnya yang membalas berbisik disamping telingaku
"Pintu depannya sebelah mana?!" tanyaku lagi karena norak
"Disana!" jawabnya sambil menunjuk dengan lirikan mata
"Waduh jauhnya mas kita jalan?!!" kataku yang baru saja melihat jaraknya sudah merasa pegal duluan.
"Biasanya kalau orang rumah turun dari mobilnya langsung didepan teras, dan parkiran khusus yang punya rumah juga ada disamping rumahnya sebelah sana!" jelasnya, seperti sudah hapal keadaan disini
"Owh..." jawabku singkat kehabisan kata - kata.
Sesampainya rumah megah itu, kami langsung menuju keruang tengah yang luas dengan berbagai macam barang mewah yang sudah dipenuhi oleh keluarga dan para pelayat.
Kemudian disitu aku dan mas Irvan tak sengaja bertemu banyak banget orang yang dia kenal, dan juga sekalinya kakak perempuan nya Amira adalah teman satu fakultas sama mas Irvan di kampus yang sama juga tentunya.
Awalnya mas Irvan berbasa - basi bertanya tentang kronologi meninggalnya Almarhumah Bu Fatma yang sekalinya jenazah beliau sudah dikebumikan dari pagi tadi, karena pesan alm. sebelum meninggal dia minta dikebumikan dipagi hari.
"Ngomong - ngomong ini siapanya kamu Van?!" tanya nya kakak Amira yang memang kami belum pernah bertemu sebelumnya.
"Ini adik ku..!" Jawab mas Irvan sambil menepuk - nepuk pelan bahuku
"Aah bohong! seingatku kamu kan nggak punya adik perempuan?!!" tanyanya lagi karena tidak percaya dengan pengakuan mas Irvan barusan
"Ini ....." mas Irvan baru mau menjawab
"Sekalinya begitu ... hehee" respon Kakak Amira terhadap jawaban ku sambil tersenyum manis.
"Kak saya mau ketemu Amira, apa dia ada?!" tanyaku, sontak mas Irvan menoleh melihat ku dengan tatapan kaku
"Ada, dia disana tuuh sama yang lain...!" jawabnya ramah sambil menunjuk kebagian ruang tamu dengan sofa yang berukiran dari kayu jati yang terlihat sangat mewah dan mahal.
"Aku kesana dulu ya mas!!" Kataku sambil mulai melangkah meninggal kan mas Irvan berduaan.
Sebenarnya aku mau cari Kiki dulu baru datangi Amira, dari kejauhan aku melihat Amira dan teman - teman sekelasnya yang sedang menghibur dirinya dari segala sisi.
"Mungkin Amira tidak lagi ingin berteman denganku...!" pikirku sambil memelas, lalu kembali mengingat yang dia lakukan sama Arga juga saat ditoilet sekolah hari sabtu lalu. Seketika aku merasa sedih karena kecewa, namun aku tidak akan menangis lagi disini...
PAAAK!!
(tepukan dibahuku)
"Kok lama banget!!? lagi liat apa?" tanya Kiki yang tiba - tiba muncul dari belakang ku
"Eh, nggak juga... aku lagi cari kamu.." Jawabku yang langsung membalikan badan kearahnya
"Lhoo, mas Irvan mana?!!" tanyanya
"Disana lagi ngobrol sama Kakaknya Amira!!" jawabku sambil menunjuk
"Oiyaaa... eeh sini deh, aku mau kasih lihat sesuatu sama kamu...!!" katanya sambil menarik tanganku kearah samping tangga yang berada disisi kiri paling ujung ruang tengah ini, dan tentunya masih banyak tamu juga keluarga Amira yang sedang saling bercengkrama.
"Coba kamu perhatikan betul - betul anak cowok ditengah itu..!" Katanya sambil menunjukkan sebuah foto yang sedang tidak digantung melainkan disimpan dibawah tangga, tidak kusam juga tidak berdebu, seperti baru saja diturunkan dari pajangan.
Sebuah foto keluarga yang anggotanya terlihat masih sangat muda dengan memakai seragam sekolahnya masing - masing.
Yang aku lihat sangat jelas adalah foto anak perempuan didepan juga kakak perampuan yang dibelakangnya , itu sangat jelas sekali Amira dan Kakaknya yang baru saja aku temui, dan anak laki - laki yang di maksud Kiki ...
__ADS_1
"Mirip siapa menurut mu?!!" tanya Kiki
"Agak mirip sama dia sih tapi... mungkin cuma model rambut nya aja yang sama jadinya mirip..!!" Jawabku membantah pendapatku sendiri.
"Bisa jadi sih, kamu punya atau pernah lihat fotonya dia pas masih SMP nggak?!" tanya Kiki lagi yang sifatnya penuh rasa ingin tahu juga rasa curiga
"Nggak pernah lihat sih...!" jawabku sambil menggeleng,
"Kiki, Dara, ngapain disini?!!" tiba - tiba Amira muncul sendirian dan menegur kami dari belakang dengan mata yang bengkak
"Amira?! Kami....." Kagetku, dan saat aku baru saja mau cari alasan ...
"Kami lagi nyari kamu dari disini!! tadi kata kakakmu kamu lagi diruang tengah, yaa luas banget ruang tengahnya sampe kami nggak nemu - nemu kamu.." Dengan cepat Kiki menjawab alasannya
Beberapa detik Amira terdiam melihat kami berdua, dan aku pikir mungkin dia mau marah karena kami sudah lancang melihat barang yang ada dibawah tangga rumah neneknya ini.
"HIK, HIK, HIK!!!! terima kasih yaaa kalian berdua udah mau datang...." katanya yang tiba - tiba sambil memeluk kami berdua
Aku yang sempat bingung pun hanya mampu berkata - kata seadanya...
"I - iya Amira, kamu yang sabar yaaa...!" kataku
"Iya Mira, jangan sedih terus, kasihan Nenekmu disana kalau melihat kamu terus - terusan menangis. ..." ucap Kiki kepada Amira yang membuat aku juga jadi tersentuh dan seketika saja ikut meneteskan airmata.
"Kalian memang teman yang baik... Hik, Hik, Hik!!!" bisiknya sambil tersedu - sedu diantara bahuku dan Kiki..
"Dara, sudah kah? yuk nanti keburu kesorean!" Tahu - tahu mas Irvan menghampiri kami dan langsung mengajak pulang, dengan cepat tanganku menghapus airmata yang barusan terjatuh.
Amira yang juga mendengar panggilan itu pun langsung melepaskan pelukannya dan berbalik badan kearah mas Irvan...
"Lhooh? Dara kenal sama kak Irvan?!" tanya Amira agak terkejut dengan suara yang sudah serak sambil bibirnya memaksa tersenyum
"Bukan hanya kenal, tapi Dara ini adiknya kak Irvan.." Jawab mas Irvan yang lagi - lagi memperkenalkan aku sebagai adiknya, namun dia memperkenalkan nya kepada orang yang sebenar nya juga sudah tahu silsilah keluarga kami, yang membuat wajah Amira yang bengak terlihat kebingungan.
"Bukan adik, tetapi tetangga...." Sahut kakaknya Amira yang tahu - tahu ikut nimbrung sama kami berempat.
"Yaa udah yuuk pulang..." ajak mas Irvan lagi
"Baru datang langsung mau pulang lagi, kok cepet banget sih? makan dulu yuuk ..!!" Sahut kakaknya Amira yang berdiri disamping mas Irvan sambil tersenyum manis berbasa - basi
Aku dan Kiki sempat kebingungan, namun mas Irvan memberi kode dengan kedipan mata.
"Aku masih ada urusan kerjaan Sil, lain kali kami mampir lagi..!" Kata mas Irvan sembari melemparkan senyuman singkat kepadanya yang membuat aku dan Kiki tidak bisa bekata - kata.
"Amira, kami pulang dulu yaa, jaga kesehatan jangan sampai sakit..." pamitku sama Amira sambil cepika - cepiki, yang disusul juga Kiki mengikuti gerakanku
Saat kami berjalan beriringan bertiga, sekalinya kakaknya Amira mengikuti kami dari belakang, mungkin dia hanya kebiasaan saja mau mengantar tamu sampai depan pintu, pikirku.
Belum juga sampai keluar dari pintu, tangan mas Irvan langsung merangkul bahuku dengan erat, namun akupun tidak bisa berontak karena posisi kami sedang berada didepan banyak orang seperti sekarang ini, yang cuma bikin malu kalau sampe ribut disini.
Kiki yang ikut heran melihat tingkah mas Irvan pun hanya menggeleng - gelengkan kepala sambil menahan ketawa.
Baru saja keluar dari pintu utama, handphone mas Ivan berdering dan dia mengobrol ditelpon sepanjang perjalanan menuju keparkiran yang seluas lapangan bola ini.
ketika jarak kami sudah didekat mobil, aku menoleh kearah belakang hanya untuk sekedar memastikan kalau keadaan sudah tidak banyak orang seperti tadi.
"Iiih mas Irvan niih apa - apaan sih?!!!" kataku sambil berontak melepaskan tangannya dari atas bahuku namun genggamannya malah bertambah erat!
"Aduh mas... sakit tau..!!" Dumel ku sambil meringis, namun Kiki yang sudah tidak tahan jadi menutup mulutnya dan mulai tertawa
"Oooiya - iya... nanti kita lanjut lagi, kabarin aja yaa kalau sudah mau sampe!!? oke - oke siap!" Kata mas Irvan yang sudah mulai mau menutup pembicaraan nya di telpon.
"Kenapa sih Dek?!!" tanyanya sok polos seakan - akan tidak ada terjadi apa - apa.
"Niih tangan nya!!!" Kataku sinis sambil menunjuk tangan nya yang masih menempel erat dipundakku.
"Oowh....!!" responnya santai yang langsung melepas rangkulannya lalu berjalan lebih cepat dari kami sambil mengeluarkan kan kunci mobil dari kantong celananya.
__ADS_1
"Ayoo cepet naik, ngomel mulu, tinggal nih!!" perintahnya mengancam sambil dia membuka pintu bersiap naik kedalam mobil, aku dan Kiki segera menurut.