Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#101. Tenggelam


__ADS_3


Dengan tatapan mata sinis, ibu tiri Arga memperhatikan Dara yang sedang duduk sendirian dikursi tepi kolam.


Si tante bermuka dua yang baru selesai menghias dirinya itupun langsung menghampiri sigadis lugu dengan mengubah ekspresi ramah diwajahnya terlebih dulu.


"Dara kok diem aja? kamu nggak sambil makan atau minum sesuatu sayang?" tanyanya lemah lembut


"Nanti saja tante, saya lagi menunggu kak Paula menyelesaikan pekerjaannya. Soalnya tadi saya sudah meminta tolong sama dia untuk mengambilkan mantel dan juga handphone saya yang tertinggal dirumah!" Jawab Dara sambil tangannya mengusap usap bahu lengan karena kedinginan.


"Yaa ampun Dara, ternyata kamu benar benar nggak tahan dingin ya? padahal gaun yang kamu pakai ini lebih terlihat cantik kalau tanpa mantel loh!


Ooh iya.. kalau begitu tunggu sebentar ya? tante tau caranya supaya kamu tetap hangat!" ucapnya yang kemudian bergegas kembali kedalam rumah.


Dan tidak lama setelah itu, si tante kembali lagi dengan membawa dua gelas berukuran sangat kecil ditangannya. Dan didalam kedua gelas itupun sudah berisikan cairan berwarna bening.


"Nih sayang!" tangannya menyodorkan lalu Dara langsung menerimanya.


"Minuman ini bisa bikin tubuh menjadi hangat, ayoo dicoba!" perintahnya yang membuat Dara segera mendekatkan gelas itu kebibirnya.


"Haah?!" karena terkejut dengan baunya yang menyengat, reflek gerak tangannya menjauhkan lagi gelas itu dari wajahnya.


"Ini alkohol tante?"


"Iya, ini namanya tequila, minuman ini memang mengandung alkohol! tapi kamu tenang aja, kadar alkohonya tidak terlalu tinggi kok dan rasanya juga agak manis, ayo cepat diminum, biar badanmu jadi cepat hangat!" desaknya.


Awalnya Dara ragu ragu saat mulai menempelkan bibir sloki itu kebibir bawahnya, tapi karena dia sendiri tidak paham dengan minuman sejenis itu, jadinya dia mempercayai begitu saja ucapan si tante.


"Selama ini tantekan selalu mengarahkan aku supaya menjadi lebih baik, pasti dia tidak akan membohongiku kan?" gumam Dara dalam pikirannya berusaha meyakinkan diri supaya tetap berani mencoba.


Walaupun perlahan, tetapi pasti, dari tadi gerakan Dara selalu diperhatikan wanita yang duduk didepannya itu, seolah olah wanita itu sedang menunggunya untuk segera meminum suguhannya.


Pelan pelan gelas seloki itupun mulai miring menumpahkan cairannya kedalam mulut Dara.


Namun, bau menyengat dari minuman yang belum pernah disentuhnya itu, belum apa apa sudah membuat kepala Dara terasa pusing saat menciumnya, yang akhirnya, dia terpaksa langsung menghabiskan cairan itu dalam satu kali tegukkan.


"Gimana, enak kan?" tanya wanita itu sambil tersenyum puas.


Dan karena ingin menjaga perasaannya, Darapun terpaksa mengangguk dan tersenyum, walaupun didalam tenggorokannya terus menerus menelan liur karena tidak tahan.


Setelah sepuluh menit mengobrol, Dara yang baru pertama kali ini mencoba meminum minuman beralkohol sepertipun kini sudah terlihat mulai pusing.


ZRrrt... ZRrrrt...


Tiba tiba handphone si tante bergetar yang membuat mimik diwajahnya langsung sumeringah saat melihat layarnya.


"Hallo?... iya ya bener disitu... apa?..owh kalian sudah mau sampe?... oke oke saya akan tunggu kalian didepan, Bye!" setelah menutup telponnya, si tante langsung berpamitan hendak kedepan.


"Dara, kamu tante tinggal disini dulu ya? soalnya teman teman tante sudah pada mau datang!" ucapnya sambil bangkit dari duduk


Karna mulai kehilangan kesadaran diri, Dara yang belum pintar memakai high heels itupun malah ikutan berdiri.


"Loh kamu mau kemana Dara?" tanya si tante bingung.


"Aku... aku, mau cari kak Paula, supaya dia, nemenin aku disini!" jawab Dara agak terbata bata.


"Sudah sudah, kamu tunggu disini aja, nanti kalau tante ketemu Paula atau siapapun didepan bakalan tante suruh dia kesini buat nemenin kamu!" saran ibu tiri Arga yang terlihat terburu buru ingin segera keruang tamu, dan dia tidak ingin sampai terganggu saat menyambut kedatangan teman temannya itu.


Namun karena kepalanya sudah pusing, Darapun tidak terlalu mendengarkan ucapan itu dan kakinya tepat berusaha melangkah walau berjalan tidak stabil.


"Aah anak ini, bodo amat deh!" gumam si tante tidak peduli sambil terus berjalan meninggalkannya.


Dan ketika si tante berjalan melewati meja prasmanan, tiba tiba saja langkahnya terhenti saat melihat sekeranjang buah buahan yang berada diatas meja tersebut.


Terlintas sebuah ide nakal dikepalanya karena dia gemas melihat cara bejalan Dara yang sempoyongan itu.


Kedua matanya melirik kekanan dan kekiri, hanya untuk memastikan bahwa sedang tidak ada siapapun yang sedang melihat kelakuan dirinya. Kemudian,

__ADS_1


SRAAAK!! Glundung.. glundung..


dengan cepat tangannya menumpahkan sekeranjang buah buahan itu kelantai yang tentunya membuat isi keranjang itu berserakan kemana mana.


(Duapuluh menit yang lalu, dibandara)


"Papah?!" panggil Arga ke arah orang yang sedang mengantri dibarisan pemeriksaan.


Pria paruh baya yang berparas rupawan itupun segera menghampiri anak laki lakinya sambil tersenyum.


"Maaf ya nak, dari Indonesia penerbangannya sempat delay satu jam!" ucap papahnya sambil berjalan mengikuti langkah Arga yang menggiringnya menuju kemobil.


Dan setelah masuk kedalam mobil, Argapun mulai melontarkan banyak pertanyaan kepadanya:


"Loh papah kenapa pulang dadakan begini? katanya mau nunggu sampai empat puluh hari alm. kakek Sultan?" Tanya Arga yang bingung, karena pas pulang kuliah tadi baru dikabarin sekretaris papahnya kalau beliau sudah dalam penerbangan yang dijadwalkan akan mendarat pukul empat waktu setempat / waktu diJerman.


"Papah cuma sebentar aja diJerman ini, soalnya ada yang harus diurus sendiri dan setelah itu akan kembali lagi ke Indonesia. Gimana kabar kalian, apa mamah tirimu ada berbuat masalah selama disini?" tanya papahnya dengan akrab.


"Tadi tuh aku sempat mengira kalau mamah sudah tau papah akan kembali hari ini!"


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Soalnya mamah dan teman temannya yang baru datang dari Amerika sedang mengadakan acara seperti biasa dirumah, yaa jadinya aku kira itu adalah pesta penyambutan papah!"


"Yaa ampun ada ada aja sih? lagian kalaupun dia tau papah pulang, yaa nggak perlu pake pesta pestaan segala. Apalagi orang disebelahnya kan lagi berduka (Dara) kok dia malah bikin pesta sih? Ckckck!..." ucapnya geram karena malu.


Dan tidak sampai setengah jam, mereka berdua sudah sampai dihalaman depan rumah.


"Pah, aku datangin Dara dulu ya?!" pamitnya yang langsung berlari kesebelah kiri dari rumahnya karena dia tidak tau kalau sebenarnya Dara sudah berada didalam rumahnya.


Diwaktu yang bersamaan, Dara yang dalam keadaan mabuk tidak menyadari kalau ibu tiri pacarnya itu sudah berniat mengerjainya dengan tujuan ingin membuat dia malu didepan teman teman sekumpulannya itu.


Dara yang berjalannya olengpun masuk kedalam perangkap wanita itu dengan menginjak buah buahan yang berserakan dilantai.


SREER.... "Aaah?!!..." BYUUUR!!


"Tolo..HAP!.. to... HAP!" BLEBEG BLEBEG!!


Dara yang tercebur kedalam kolam renang tanpa sepengetahuan siapapun, dengan gerak cepat tangannya mengepak ngepakan air dan juga melambai lambai kepermukaan, ia terus berusaha berteriak dengan sekuat tenaga agar ada yang memberi pertolongan terhadap dirinya yang tidak bisa berenang itu.


Dengan sisa sisa tenaga ia terus saja berusaha berteriak, namun teriakan yang tidak kesampaian malah membuat dia malah jadi terminum banyak air dan ditambah lagi air kolam itupun juga masuk kedalam keparu parunya saat dia berusaha bernapas.


(Dirumah Dara)


Arga yang baru saja ingin mengetuk pintu tiba tiba saja kepapasan Paula didepannya,


"Nona Daranya sudah berada dirumah tuan muda, tadi nyonya sendiri yang menjemputnya kesini. Dan saya cuma diminta untuk mengambilkan mantel dan handphonenya yang tertinggal!" kata Paula yang sudah bersiap kembali menemui Dara


"Ooh pantesan aja ditelponin nggak diangkat angkat, sekalinya abis mandi tadi dia langsung dijemput mamah!" gumam Arga dalam hatinya karena tau sifat ibu tirinya itu memang suka mendesak.


Akhirnyan Paula dan Argapun jalan beriringan menuju kerumahnya.


(Diruang tamu rumah Arga)


Ibu tiri Arga yang sedang asik bercengkrama dengan teman temannya, sama sekali tidak tau kalau ternyata suaminya akan pulang mendadak dan kini sudah berada didepan pintu rumahnya.


TAP TAP TAP! Suara langkah kaki pria bribawa itu langsung mengubah suasana ruangan.


Ruang tamu yang tadinya bising dengan suara obrolan dan tawa tiwi dari sekumpulan wanita wanita glamor, dalam sekejap langsung menjadi hening.


"Loh pa....." baru saja ingin ditegur istri mudanya, tuan besar yang nampak sudah lelah itupun tidak sedikitpun ingin menyapa apalagi ikut bercengkrama dengan teman teman istrinya itu.


Kakinya dengan cepet dan cuek melangkah menuju kekamar, namun tiba tiba saja langkahnya itu terhenti saat dia lewat diruang tengah yang kacanya tembus kearah kolam renang.


Matanya sontak terbelalak saat melihat ada ujung tangan yang sedang melambai lambai dipermukaan kolamnya yang terlihat semakin lemas dan akhirnya tenggelam.


"ASTAGA!!" teriak karna kagetnya.

__ADS_1


Seketika itu juga ia langsung berlari sembari membuka jas yang dikenakannya, dan tanpa pikir panjang lagi dia melompat kedalam kolam renang tersebut.


BRYUURR!!


Didalam air dingin sedalam empat meter itu, dia melihat seseorang anak gadis begaun putih sudah terpejam dan semakin dalam tenggelam menuju kedasar kolam.


BLUB! BLUB! BLUB! Dengan sekuat tenaga ia berusaha berenang secepat mungkin medekati dan menggapai tangan kecil yang lemas menjulur keatas itu.


GREB!! diapun menangkap lalu memeluk tubuh mungil Dara lalu membawanya kepermukaan, SHAAASH!!...


Arga yang baru saja ingin medatangi Dara sontak terkejut saat melihat didepan mata kepala sendiri kalau papahnya yang baru saja tiba dari Indonesia tau tau sudah berada ditengah kolam bersama gadis yang sedang dicarinya itu dalam keadaan tak berdaya.


"DARA?!!..."


TAP TAP TAP!! sekuat tenaga ia berlari.


"NONA!!.."


Begitu juga dengan Paula yang langsung ikut berlari dibelakangnya.


Dengan cepat tangan Arga mengangkat tubuh Dara ke tepi kolam, dan Paula yang profesinya memang seseorang perawatpun dengan sigap memberi pertolongan pertama kepada Dara yang sudah basah kuyup dan terputus napasnya.


"Beib bangun beib?!!" panggil Arga dengan suara gemeteran karena panik. "Ya Tuhan kenapa lagi ini?" teriaknya sambil berlinang airmata.


Tuan besar yang badannya gemetar karena kaget sambil terengah engah naik kepermukaan, dan dia jadi sangat marah saat melihat para tamu sosialita istrinya itu tiba tiba menghampiri Dara hanya untuk merekam peristiwa itu, parahnya lagi ada yang membuat life streaming yang pastinya langsung akan tersebar kesosial media yang cuma dalam hitung menit sudah bisa tertonton orang disepenjuru dunia, termasuk yang di Indonesia.


"KALIAN SEMUA KELUAR DARI SINI, CEPAT!!" amuknya yang membuat semua tamu berlarian keluar rumah karena takut.


PLAK!!


PLAK!! Dalam keadaan basah kuyup, papahnya Arga menampar kuat kedua bodyguard yang baru saja tiba dilokasi karena tadi sibuk mengurus pekerjaan lain atas perintah istrinya. Dan tentu saja Edward dan Mark tidak bisa berkata apa apa lagi selain diam dan bersiap menerima konsekwensi darinya nanti.


Diwaktu yang bersamaan, saat ini diBandung sudah menunjukan pukul dua dini hari.


TAP, TAP, TAP!


Sudah lebih dari tiga jam Irvan hanya mundar mandir didalam rumahnya.


Sesekali ia keluar dan berdiri diteras depan, dia bingung dengan perasaannya yang sudah gelisah semenjak sore tadi yang membuat matanya tidak bisa dipejam hingga saat ini.


Sudah berkali kali dia mencoba berbaring untuk tidur, namun setelah ia menutup matanya, malah semakin banyak bayangan bayangan aneh bermunculan dikelopak matanya, "Mas?.. Mas Irvan?" beberapa kali ia mendengar suara manja itu memanggilnya.


"Tidak, itu tidak mungkin Dara, sedangkan saat ini aja dia memanggilku kakak. Itu pasti cuma halusinasi aja!" pikirnya.


Sambil berusaha menenangkan diri, tiba tiba ia mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya,


CTEK, CESS!!


Melalui kepulan asap putih yang keluar dari mulutnya, ia berusaha ingin menepis bayangan Dara dari otaknya.


Dan saat ia sedang termenung, tiba tiba saja ada seseorang menghampirinya,


"Loh pak Irvan, kenapa jam segini belum juga tidur? maka diluar sini embunnya udah turun, apa bapak nggak kedinginan?" tegur security-nya yang sudah paruh baya dalam logat Sunda.


"Nggak ada apa apa mang, saya cuma lagi nggak bisa tidur aja inih!" jawab Irvan ramah namun nampak jelas ekspresi gelisahnya.


"Nggak ada apa apanya gimana? tuh ditangan pak Irvan apa, tumben bapak merokok? coba cerita aja atuh sama mamang mah bebas mau curhat apa aja!" bujuknya karena memang sudah akrab


"Iya nih mang, dari sore tadi perasaan saya kok nggak enak banget ya? tadi saya sudah nelpon ibu, tapi keluarga disana lagi baik baik aja!" curhatnya


"Setau mamang ya, biasanya kalau kayak gitu mah berarti orang yang kita pikirin atau ada orang yang lagi mikirin kita, dia itu lagi kenapa napa! Soalnya dulu mamang pernah kayak begitu, dari bangun tidur hati mamang nih rasanya uring uringan nggak tau kenapa, dan yang mamang pikirin itu si Asep terus anak mamang yang bontot tuh, eh tau taunya pas sore mamang dengar kabar kalau dia keserempet motor! nah dari semenjak itu tuh mamang sudah mulai wanti wanti kalau tiba tiba hati terasa gelisah!" cerita pengalaman si mamang yang membuat Irvan langsung kepikiran lagi tentang Dara.


Seketika itu juga Irvan jadi teringat kejadian kejadian yang pernah dialami Dara yang sebelum kejadian pasti membuat hatinya tidak tenang seperti sekarang ini.


"Iya ya, seperti kemarin lusa yang saat pagi pagi aku buka handphone ternyata ada kabar kalau Dara kambuh!" gumam dalam hatinya.


"Terima kasih ya mang, ini buat mamang aja!" ucap Irvan sambil menyodorkan kotak rokoknya yang masih penuh lalu terburu buru ingin masuk kedalam rumah menuju kamarnya untuk segera memeriksa handphone.

__ADS_1


__ADS_2