Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
.16. Tak Mengira


__ADS_3

"Gara gara apa? Apa Arga ada menghubungi kamu?!" tanya Kiki dengan tatapan serius


SRIING!!! tiba - tiba hatiku sakit saat mendengar nama itu lagi hingga tanpa sadar mataku mulai berkaca - kaca.


Awalnya aku sangat ragu untuk membahas tentang dia lagi, namun perasaanku mulai bergejolak ingin mengeluarkan semua unek unek yang sudahku pendam dari kemaren, dan parahnya semakin aku mencoba menahan malah semakin berat membeban dihati dan pikiran.


Tanpa sadar airmataku pun mulai jatuh mengalir dipipi, bibir dan jari jariku bergetar, keringet dingin menitik sedikit demi sedikit didahi, aku sadar bahwa sekarang ini sedang berada didepan umum yang pastinya menjadi tempat yang paling aku tidak suka untuk menangis, tapi sayangnya itu semua tidak berlaku karena aku tidak bisa menahan emosi didepan Kiki.


"Gak apa apa Ra kalau kamu mau nangis nagis aja, kan ada aku disini!" kata Kiki yang membuat tangisku jadi mulai pecah dan terisak isak hingga dadaku terasa sesak sulit mengatur nafas.


Dinding kebohongankupun seketika runtuh, aku tidak bisa lagi berkata kalau aku sedang baik baik saja, karena memang tidak bisa lagi membendung kepedihan dan kegundahan yang sudahku bertumpuk dari kemarin.


Lalu akupun menceritakan semua dari awal kepada Kiki, kejadian apa saja yang terjadi setelah pulang sekolah sabtu lalu sambil airmata terus mengalir tanpa terkendali mengiringi setiap kalimat dalam ceritaku.


Hal yang paling membuat hatiku perih adalah saat dimana aku jadi kembali mengingat wajahnya, kenangan bersamanya, apalagi kejadian pahit yang terjadi karenanya.


Kiki menghayati setiap kalimat yang kuceritakan hingga matanyapun berkaca kaca, padahal dia sendiri belum pernah merasakan berpacaran sebelumnya.


Sambil memberikan tisu ditanganku, dia terus membelai rambutku yang agak kusut karena tertiup angin saat dimotor bersama mas Irvan tadi. Semakin habis cerita dalam uneg unegku, semakin berangsur juga perasaan lega didadaku.


"Sebelumnya aku kan pernah bilang sama kamu kalau aku memang pada beberapa kali melihat Arga sedang berdua'an sama Amira, tetapi aku sendiri nggak pernah mendengar apa yang sedang mereka bicarakan." Kikipun mulai membuka cerita


"Lagian kalau aku beri tahu ke kamu pun apa untungnya? toh selama ini aku lihat Arga selalu bersikap baik baik aja kekamu jadi aku gak ada curiga apapun sama mereka!"


"Ini minuman pesanannya mba?" tanya seorang weaters yang tidak aku sadari kedatangannya. Sambil memegang gelas berisikan jus berwarna orange dengan kertas kecil bertuliskan nomor meja yang kami tempati yang sudah jelas jelas itu berarti memang pesananku. Mungkin pertanyaan dia barusan hanya supaya memastikan minuman kami tidak tertukar dengan pesanan orang lain, pikirku.


"Iya makasih mas!" Jawab Kiki ke weaters tersebut.


Namun aku hanya mengganguk sambil menutupi sebagian wajahku dengan tisu, karena aku tidak percaya diri dan juga merasa malu bila terlihat sedang menangis.


Kulihat Weaters itu beberapa kali melirik kearahku, mungkin dia sedikit penasaran melihat orang yang sedang menangis ditempat umum.


"Silahkan!" ucapnya sambil mulai melangkah kearah meja lainnya.


Kemudian setelah weaters itu pergi, Kikipun mulai melanjutkan ceritanya tadi.


"Yaa.. kirain mereka cuma ngobrol ngobrol biasa aja, misalnya lagi ngebahas tentang band atau kompetisi basketnya Arga!" cerita Kiki tentang pemikirannya dulu.


Aku mengangguk mendengarnya, karena apa yang diceritakan Kiki saat itu sama dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya, bagaimana kami bisa menaruh curiga karena sikap Arga selama ini selalu normal terhadapku, dan juga karena kedudukan Amira sebagai ketua Osis yang pastinya selalu berkaitan dengan hal yang menyangkut kemajuan Ekskul disekolah, jadi ya wajar aja kalau mereka sering ngobrol, pikiranku dulu.


"Yaa karena aku pikir begitu, jadi aku gak pernah ngadu apalagi mau membesar besarkannya kekamu, takutnya kalau aku salah malah cuma bikin kamu jadi salah paham aja antara sama dia!


Tapi aku juga beneran gak nyangka dengan apa yang terjadi kemaren kita lihat, bahkan sampai mendengar apa yang mereka bicarakan!" sambungnya dengan nada menyesal sambil mendekatkan jus ku.


Lalu aku kembali mengingat kejadian yang sudah cukup lama, kejadian setahun lalu yang saat itu aku baru sekitar dua bulan jadian sama Arga.


Waktu itu aku pernah mencari Arga di kelasnya tapi dia gak ada, dikantin, dan dilapangan biasa dia latihan pun tidak ada.


Kemudian aku dan Kiki berpapasan didepan kelasnya, ya pas kelas satu dan dua aku dan Kiki memang tidak sekelas.


Saat itu,


"Kih, ada lihat Arga gak?" tanyaku sambil celingukan kemana mana


"Ada, tadi dia masuk ke ruang OSIS sama Amira" jawabnya enteng sambil tersenyum agak kaku.


"Oooo makasih yaa!" ucapku sambil bergegas jalan


"Kalau bisa jangan dibiasain ya Ra!" pesannya menahan langkahku


Tanpa berpikir, aku langsung saja mengangguk lalu berjalan menuju ruang osis, sebenarnya aku sama sekali gak paham apa yang maksud Kiki saat itu.


Benar saja yang dikatakan Kiki mereka memang berada didalam sana sedang membicarakan sesuatu yang terlihat agak serius, tapi aku tidak ada menaruh curiga apapun karena saat itu sudah mendekati tanggal tujuhbelas Agustus yang tentunya sekolah sedang mulai sibuk mempersiapkan menyambut hari kemerdekaan.


Lagipula Amira adalah teman sebangku saat itu dan mereka berdua memang sudah berteman lama sejak SMP, juga sebelum aku jadian pun aku tahu mereka kadang memang suka ngobrol bareng.

__ADS_1


Namun Amira tidak pernah membahas atau menceritakan apapun tentang Arga kepadaku, begitu juga sebaliknya dengan Arga, yang mereka pernah katakan hanyalah mereka adalah teman sejak SMP.


Tetapi, pesan yang Kiki sampaikan saat itu ternyata adalah sebuah kode bahwa dia sebenarnya juga sudah beberapa kali melihat Arga dan Amira berdua'an ditempat sepi.


Dan Kiki baru sebulan lalu memberanikan diri menceritakan semua yang dia lihat, hanya sebagai kecurigaan saja karena belum tahu pasti yang sebenarnya, jadi dia memberi sarankan tidak perlu dibahas apalagi sampai dibesar besarkan sama Arga.


"Kecuali sikap dan kebiasaan Arga ada berubah sama kamu, baru kamu tanyain sama dia!" pesan Kiki.


"Dara? Dara...!" Panggilan Kiki menyadarkan lamunanku


"Eeh iya Ki?!"


"Kenapa bengong?" tanyanya terlihat cemas


"Eng..nggak, enggak kenapa napa!" jawabku gugup.


Aku segera menggenggam gelas jus yang sudah dihadapanku, kurasakan dinginnya mengalir ditenggorokanku yang kering dan mulai mendinginkan denyut nadiku yang tadi memanas.


"Ra... aku memang nggak bisa ngerasain sakit hati yang kamu rasain, tetapi aku bisa ngerti rasa kecewa yang kamu alami karena kelakuan Arga dan Amira" ucapnya tiba tiba, dengan penuh perhatian dia menyisir rambutku dengan jari - jari lentiknya.


"Kamu bisa cerita sama aku, atau kalau ada yang bisa aku bantu buat kamu, kamu langsung ngomong aja ya, jangan ditahan sendiri begini malah bikin kamu jadi sakit kan?!" lanjutnya buat aku jadi terharu.


Seketika aku langsung merasa damai mendengarnya, ditambah lagi semenjak aku berteman dengan Kikk aku sudah nggak pernah dibully lagi sama temen temen yang sering mengucilkan aku karena tubuh lemahku yang sering sakit sakitan sejak kecil.


Aku tersenyum saat melihat cahaya ketulusan dari matanya bersinar, lalu aku menyandarkan kepalaku dibahunya, meresapi energi positif yang ia pancarkan menambah rasa kuat dihatiku.


"Terus almamaternya sekarang masih sama kamu?" tanyanya


"Iya, rencananya besok aku mau titip sama teman band atau teman sekelasnya!" jawabku sambil mengaduk aduk jus dengan sedotan.


Aku segera menegakkan tubuhku dari sandaran bahu Kiki lalu meminum sedikit jusku, tidak lama kemudian makanan pesanan Kiki pun datang, Mie ayam pangsit dengan pentol dan ceker ayam diatasnya!


"Hmm.. enak kayaknya!" kataku sambil tersenyum palsu karena sebenernya aku gak selera.


"Mau ya mau, ini buat kamu biar aku langsung pesen lagi?" bujuknya namun aku tetap menggeleng.


Suara sms dihape, dengan segera akupun mengambil lalu membukanya.


"Jangan lupa makan yaa!" isi pesan yang sekalinya dari mas Irvan


"Iya mas, ini aku sama Kiki lagi makan kok!" balasku


"Iya sudah kalau gitu, mas ngingetin aja soalnya tadi kamu pucet banget!" katanya


Kemudian aku pun tersadar kalau barusan habis menangis, dengan segera mengambil kotak bedak didalam tasku lalu becermin, memeriksa mataku yang biasanya bengkak setelah habis menangis.


Sambil tersenyum, Kiki membuka lalu mengambil sesuatu didalam tasnya dan ternyata dia mengeluarkan tas make up yang biasa dia bawa kemana mana, dia menyodorkan tissue basah lalu menyuruhku untuk membersihkan wajah.


"Nanti habis makan ku dandani sedikit ya?" katanya.


Lalu setelah makanannya habis dia benar benar mendandaniku dengan tangan lihainya, yaa ini memang biasa dia dilakukan dikelas.


Tidak sampai lima menit dia menyelesaikan memoles wajahku, dengan segera aku pun mengambil cermin. Kuperhatikan dengan seksama hanya dengan sedikit Make up yang tipis namum sudah bisa mengkuflase sembab mataku.


Kakak perempuannya memang punya salon yang cukup terkenal dengan make up artisnya dikota ini, jadi wajar saja kalau adiknyapun lihai memake over orang.


Setelah selesai makan kami mencari buku dan berjalan jalan mengelilingi Mall sambil bercerita hal hal yang menyenangkan, sejenak akupun melupakan rasa sakit hati dan juga rasa tidak enak badan tadi.


Sampai sampai tidak terasa hari sudah sore, Mas Irvan pun tiba tiba sudah mendatangi kami berdua didepan arena bermain keluarga dilantai tiga.


"Lhoo mas Irvan? sudah selesai kah urusannya? kok tahu kita berdua lagi di sini? kan aku belum ngasih tahu?!" tupukan pertanyaan karena aku keheranan


"Aduuh banyaknya, mana harus ku jawab?!" katanya sambil memegangi keningnya


"Hahahaaa!!" Kiki yang melihat kelakuan kamipun tertawa geli, membuat suasana tambah hangat.

__ADS_1


Sebelum pulang aku mengajak mereka berfoto box bersama, dengan gaya yang konyol dan lucu kami bertiga saling tertawa lepas didalamnya, dan setelah itu membagi hasil foto foto tersebut.


"Coba lihat!" Dengan cepat tangan mas Irvan merebut foto dari tanganku dan juga dari Kiki


"Kenapa sih Mas main rebut aja?!" tanyaku dogkol karena baru aja mau kulihat


"Nggak, ini loh! Kok posisinya ini? kamu terus Dek yang ditengah!!" tanyanya heran sambil mengerutkan dahi


"Mana coba lihat?!" tanyaku penasaran sambil melihat dari sampingnya mas Irvan begitu juga Kiki


"Iya yaa, baru sadar aku, gara gara keasikan sampe lupa tukar posisi! tapi emangnya kenapa kalau aku sering di tengah? mas Irvan ngiri aja sih!" kataku


"Siapa yang ngiri posisi gak bagus begini!" ucap mas Irvan bernada serius


"Apaan sih mas Irvan niih, jangan nakutin nakutin ah!!" celetuk Kiki


"Hah? memangnya ada apa sih kalau ditengah?!" tanyaku heran


Mas Irvanpun melirik sinis kearahku dengan tserius membuat aku seketika mengingat sesuatu.


"Ooalaah mas! itukan cuma 'MITOS'!" kataku enteng. Yaa aku baru teringat tentang sebuah mitos tentang terjadi sesuatu sama orang yang kalau foto bertiga sering di tengah, tapi kan itu cuma mitos! Pikirku.


"Kok kamu bilang 'cuma'?" sahut mas Irvan tidak terima aku menganggap enteng


"Mas ini nakutin nakutin aja sih, aku loh sering ditengah kalau lagi selfi'an sama mama sama Doni tapi buktinya nggak terjadi apa apa kan?!.." kataku tambah meremehkan.


Mendengar kata kataku barusan ekspresi mas Irvan malah tambah kesal, ibunya mas Irvan memang orang jawa dan sangat percaya tentang mitos dan isi primbon.


Walaupun aku juga sebenarnya berdarah jawa, hanya saja terlahir dan besar dikalimantan jadi cuma mama papa aja yang agak percaya dan paham mengenai Mitos, larangan / pamali dari jawa.


Tapi tidak tau kenapa aku tidak pernah berfikir atau ingin mengetahui tentang itu, karena bagiku itu sudah tidak berlaku lagi dijaman sekarang ini.


"Yaa udah yuuk pulang nanti keburu senja!" ajaknya dengan nada menegas sambil mengembalikan foto yang ambilnya tadi, lalu melangkah duluan menuju keluar mall.


Aku dan Kiki yanh mengikutinya dari belakang jadi saling melirik berkode mata karena keheranan.


"Kiki kamu pulangnya naik apa?" tanya mas Irvan sambil membalikan badannya tiba tiba, aku yang tidak sempat ngerem jadi menubruknya.


DUG!


Kekarnya badan mas Irvan membuat aku terpantul mundur


GREB! untungnya dengan sigap dia menahan tubuhku yang hampir jatuh kebelakang.


"Masih mau bilang gak bakal kenapa napa?!" sindiran sinisnya yang pedas menjadikan aku dalam sekejap terdiam tidak berani menyahut lagi. Kiki yang memperhatikan kami dihadapannya cuma nyengir nyengir sambil tersenyum malu.


"Aku mau naik ojek aja mas, kalo naik angkot lama muter muternya!" jawab Kiki dengan canggung yang kemudian mas Irvan pun segera melepaskan aku, dia mengangguk dan langsung melanjutkan langkahnya hingga sampai diluar mall, aku dan Kikipun saling berpamitan.


"Hati - hati dijalan yaa Ki, dan... aku terima kasih banget untuk hari ini!" kataku dengan semangat menggenggami tangannya dengan kedua tangan ku, kemudian dia malah langsung memelukku.


"Sama sama Dara, kamu jangan putus semangat yah, mulai sekarang jangan sedih lagi!" pesannya sambil mengusap usap bahuku lalu melepaskan pelukan dan mulai berjalan mundur sambil melambai


"Mas Irvan aku duluan yah, jangan ngebut ngebut bawa motornya soalnya Dara lagi sakit tuh!" lanjut pesannya untuk mas Irvan.


Akupun masih membalas lambaiannya sambil tersenyum sampai dia naik ojek.


Grrrrp!!


Tiba tiba mas Irvan mengambil barang belanjaanku dan membawakannya, kemudian tangan satunya mengenggam tangan lalu menuntunku berjalan.


Memang sih hal ini sudah biasa dia lakukan kepadaku, aku dan dia memang seperti ini dari kami masih kecil. Bahkan orang tua kami masing masing pun sudah menganggap kami seperti abang adek sungguhan. Apalagi karena orang tuanya tidak mempunyai anak perempuan, jadi aku sangat dimanja oleh Ibunya dan pernah berpesan :


"kalau lagi bersama sama Dara harus dijagain baik baik ya van, soalnya dia itu adikmu!" kata ibunya


Tetapi itukan dulu saat kami masih anak anak, kalau sekarang kamk sudah mulai dewasa jadinya kadang aku sedikit canggung, apalagi selama dua tahun belakangan jarang ketemu semenjak dia kuliah diBandung.

__ADS_1


"Mas Irvan nggak risih? dikira orang aku pacarnya mas looh, nanti cewek cewek yang mau naksir sama Mas jadi pada mindeeer!!" tau tau tangan mas Irvan malah menarik lengan sambil meraih bahuku lalu merangkulnya.


"Diam! biarin aja orang mau ngomong apa mas nggak peduli!!" ucapnya dengan dingin tanpa menoleh kearahku.


__ADS_2