
"Apa sakit Kepala? Nggak terlalu, mas nggak apa apa kok!" jawabku sambil senyum memaksa
"Nggak apa apa apanya?!, mukanya sudah layu kayak begitu kok! Istirahat dikamar yuk, entar aku kompresin demamnya, besokkan kuliahku juga masih libur jadinya aku bisa ngurusin mas seharian!" katanya sambil menarik tanganku sampai dibawah tangga
"Mas naik aja duluan, aku siapin air sama baskomnya dulu!" katanya
"Iya!" sahutku, lalu aku melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kekamarku.
'Kamu malah mempertanyakan sakit dikepalaku? Dara, andai kamu tau kalau rasa sakitku itu sebenarnya terletak dihati ini! tapi aku tidak punya sedikitpun keberanian mengatakan itu.' kata dalam hatiku
Sesampainya dikamar aku tidak langsung berbaring, tapi aku membuka pintu balkon lalu bersandar dipagarnya, entah kenapa rasanya tiba - tiba ingin sekali menatap bintang subuh yang bertaburan dilangit.
'Tadi dia bilang mukaku layu? apa segitu napaknya perasaanku ini sampai terlihat diwajah? Aku tak ingin menangis dan tak boleh sampai menangis!
Aku terus menatap ke atas langit yang penuh warna, sehingga airmataku tak akan terjatuh.
Mengapa setiap orang tidak bisa hidup seperti yang mereka inginkan?
Aku ingin mencari bintang jatuh untuk mencurahkan harapanku, tapi fajar datang terlalu cepat, sebanyak apapun aku berdo’a, pada akhirnya aku takkan bisa menemukannya satu bintang pun
Tak ada hari dimana aku tak mengingatmu, karena aku tidak pernah sedetikpun melupakanmu, apalagi senyuman manis diwajahmu.
Setiap kali aku merasa sedih, aku terbiasa berkata aku baik-baik saja.
Andai saja waktu bisa dihentikan! aku ingin selalu bertemu denganmu, selalu bersama mu, namun aku sadar tidak ada yang bisa kulakukan.
Apakah benar-benar tak ada yang bisa kulakukan?
'Walaupun sedih tapi setidaknya posisi ini sudah sangat aku syukuri karena aku akan selalu dekat dengannya, dan kalau memang bisa seakrab ini sampai tua nanti pastinya sudah sangat membahagiakan, jadi apalagi yang aku harapkan, mungkin jodohku masih disuatu tempat, aku percaya itu!'
TAP!
"Mas, kok bukannya baringan dikamar malah berdiri disini sih? disinikan dingin!" kata Dara sambil menyentuh bahuku, lalu saat aku menoleh aku hanya mampu melemparkan senyum kepada sepasang mata yang menatapku dengan penuh perhatian
"Ya ampun Mata mas sampai berair gitu, pasti lagi kesakitan banget ya? aku ambilin obat dulu sebentar!"
GREEP!
Dengan cepat aku menangkap tangannya kemudian kutarik dan kupeluk erat tubuh mungilnya.
"Mas Irvan kena..." Dara berusaha melepas, namun
"Jangan dilepas, tolong biarin mas peluk adek seperti ini sebentar!" pintaku, lalu ia mengangguk pelan dan membalas pelukanku
Kuhayati aroma tubuh yang diiringi embum pagi yang mengkabutkan kami berdua diluar sini, suhu dari tubuhku menularkan panas kekulitnya namun dia tetap bertahan tanpa sedikitpun mengeluh ataupun menghindar dari demamku dan malah semakin menempelkan lehernya dipipiku.
"Kalau suatu hari nanti Arga kembali apa mas masih bisa deket sama adek?" tanyaku
"Mas nih ngomong apa sih, apa masih kurang penjelasanku tadi dibawah? posisi mas dalam hidupku lebih tinggi dari pacar, mas itu hampir setara sama papa karena dari dulu aku sudah tergantung sama mas!" jawabnya sambil mengelus elus punggungku
"Malahan aku yang harusnya bertanya seperti itu, kalau suatu hari nanti mas sudah punya istri apakah mas masih mau jagain aku?"
'Nyiiit! tiba - tiba muncul rasa perih dihatiku saat mendengar pertanyaannya barusan, ternyata hari ini aku baru tau jawaban atas diriku sendiri kenapa sampai saat ini aku tidak pernah bisa menyukai wanita lain diluar sana, dan kini aku benar benar baru menyadari bahwa aku sudah sangat mencintai gadis ini, karena tidak sekalipun aku pernah berpikir akan mencintai apalagi sampai menikahi wanita manapun bahkan dengan gadis yang dijodohkan bapak, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan nya!'
Karena sudah tidak tahan lagi memendam rasa akhirnya kukumpulkan keberanian untuk mengakuinya, mungkin karena ini adalah yang pertama dalam hidupku maka jantungku berdebar lebih cepat dibandingkan saat sedang terkejut.
Kulepaskan pelukanku dengan tetap memegang kedua bahunya, kutatap dengan serius mata lentiknya, kemudian kutarik napas panjang:
"Dek, mas akan selalu jagain kamu, enggak akan pernah ada istri manapun yang akan menghalangi itu! karena mas sayang sama kamu dan mas, mas... mas cinta sama kamu!" ucapku gugup
Dalam sekejap kami berdua terdiam saling mandang satu sama lain, desiran angin subuh meniup lembaran rambut tipis yang melambai lambai didepan wajah kakunya. Aku tau mungkin dia tidak akan suka dengan ungkapanku barusan karena jelas jelas dia tadi sudah mengatakan kalau dia hanya menganggapku kakak, hanya saja aku juga tak mampu memendamnya lagi.
Bibirnya yang mulai bergerak membuat aku jadi tegang, lalu aku segera mempersiapkan mental untuk mendengarkan protes atau bahkan marahnya.
GREEP!!
"Mas, aku juga sayang dan cinta sama mas dari dulu sampai sekarang, makasih mas sudah selalu ada buat aku dan makasih udah mengatakan seperti itu padaku!" katanya sambil memelukku
"A..aa.apa? adek nggak marah? dan adek juga....." lidahku kaku karena tidak menyangka hal ini akan terjadi, saking terlalu senang aku jadi bingung harus berkata kata apa, hanya tanganku saja yang menjawab dengan belaian kerambutnya. Lalu ia melanjutkan bicaranya,
"Gimana aku bisa marah? justru ucapan mas barusan sudah membuat hidupku jadi bersemangat lagi, membuat aku percaya kalau cinta dalam hatiku pasti bisa kembali! dan bahkan kalaupun Arga suatu hari nanti datang, atau mungkin aku sudah bersuami......" seketika tanganku berhenti membelai
"Aku ingin terus dekat sama mas Irvan supaya kita tetap bisa saling menjaga!" lanjutnya
'Ternyata... ternyata dia sudah salah paham menanggapi ungkapanku? jadi dari tadi sebenarnya dia tidak mengerti apa maksudku? atau jangan jangan justru kalimat yang aku ucapkan memang salah? yaa Ampun!!' gumamku dalam hati
__ADS_1
"Mas kok senyum senyum sendiri ih, kenapa?" tanyanya
"Nggak ada apa apa, mas cuma senang mendengar adek ngomong gitu, yaudah kedalam yuk, katanya mau ngompresin mas!" jawabku sambil tersenyum
'Biarkan saja sudah, setidaknya aku sudah mencurahkan isi hatiku padanya yang membuat perasaanku kini jadi sedikit lega. Mungkin aku terlalu terburu buru mengungkapkannya hingga diapun tidak peka karena didalam hatinya masih dipenuhi cinta untuk Arga!
Fajar yang mulai terbit ini akan menjadi saksi ungkapan cinta pertamaku!'
.
.
.
.
(Tiga bulan kemudian, dikampus F)
"Dara?!!"
"Eh kak Betrand, ada apa?" tanya Dara yang sempat berhenti melangkah saat mau pulang
"Kelasmu hari ini sudah selesai semua kan? terus sekarang mau kemana lagi?" tanya Betrand yang mengiringinya berjalan menuju ojeg langganan yang sudah menunggu Dara
"Aku mau langsung pulang kak!" jawab Dara sopan
"Kamu ini setiap hari pasti langsung pulang, gak suka jalan jalan dulu kemana gitu, shopping kah? biasanya cewek senang shopping, biar aku terakhir yuuk!" ajak Betrand
"Makasih kak, tapi aku lagi nggak pengen kemana mana, lagian aku nanti dimarahin kakakku kalau pulang kuliah keluyuran dulu!" Jawab Dara polos
"Kakakmu yang mana? bukannya kamu anak pertama? owh apa maksudnya tetangga yang didepan rumahmu itu ya?" tanya Betrand yang memang selalu mencari tau tentang Dara
"Dia bukan sekedar tetanggaku, yaudah aku duluan ya kak!" Jawab Dara sembari bersiap naik motor ojeg
"Kalau gitu biar aku aja yang antar kamu pulang, Ayoo!!" Kata Betrand sambil menarik paksa tangan Dara menuju mobilnya
"Aaagh! kak gak usah kak!!" Dara berusaha memberontak
"Hey mas lepasin, kalau orang nggak mau jangan dipaksa!" tegur tukang ojeg langganan Dara yang tidak lain adalah Adhi temannya Irvan
"Eh apa maksudmu? jadi tukang ojeg aja banyak mulut, bilang aja kalau takut kehilangan pemasukan!!" Kata Betrand sambil merogoh kantongnya dengan tetap menahan Dara dengan tangan satunya
"Kak Betrand? mana boleh begitu!!" tegur Dara
Seketika Adhi mengepalkan tangannya karena tersinggung, karena dia melakukan ini bukan semata karena uang tetapi lebih utama ingin membantu Irvan menjaga Dara, tapi untuk saat ini dia mencoba bersabar.
"Kenapa malah diam bukannya diambil, kurang?!" tanya Betrand sombong
"KAK BETRAND APA APAAN SIH? aku nggak suka liat orang kayak gitu, LEPASIN!" Bentak Dara ke Betrand, dan saat itu juga Betrand langsung melepaskan tangannya karena kaget melihat Dara marah
"Dara? kok kamu malah...."
"Ayoo mas Adhi kita pulang!" kata Dara yang langsung pergi meninggalkan Betrand begitu saja dengan lembaran uangnya yang berserakan dijalan
Orang orang disekitar tidak ada yang berani mendekat karena mereka sangat tau sifat temprament Betrand, tapi....
"Kak Betrand ada apa sama Dara?" tanya Amira yang barusaja berlari menghampiri Betrand lalu ia segera mengumpulkan uang yang berserakan
Dengan ekspresi geram Betrand masih saja terdiam memperhatikan Dara bersama ojegnya yang semakin menjauh.
"Kak Betrand?" panggil Amira sambil menyodorkan uangnya
"Ambil aja!" sahut Betrand yang langsung berpaling berbalik badan
"Kak tunggu! aku tau kakak suka sama Dara, tapi itu nggak akan berhasil!" ucap Amira sembari menahan tangannya, lalu Betrand menoleh dengan wajah penasaran.
"Oiya yah, kamukan temannya sejak SMA, kenapa aku nggak cari tau lewat kamu aja, kok aku baru kepikiran sih, Ayooo ikut aku kita cari tempat ngobrol!" kata Betrand sambil merangkul Amira menuju mobilnya
(didalam mobil)
"Kita makan dimana nih beib?" tanya Betrand
"Nah itu itu salah satunya!" sahut Amira
"Salah satunya apaan?" tanya Betrand bingung
"Salah satunya yang nggak disukai Dara! kakak itu terlalu mudah memanggil cewek dengan sebutan beib, sayang, honey yang padahal bukan siapa siapanya kakak!" kata Amira
__ADS_1
"Loh bukannya cewek justru malah senang dipanggil seperti itu? kan jadinya mereka merasa dimanja, di specialkan, di....."
"Iya bener! tapi yaa seharusnya panggilan itu ya cuma buat pacarnya aja! kalau cuma temen biasa apalagi sama cewek yang baru diajak kenalan yaa rasanya jadi nggak spesial, malah terkesan gampangan!" jelas Amira
"Kok gitu sih? kalau kamu sendiri senang nggak aku panggil begitu?!"
"Senang sih, tapi kalau sebagai pacar kakak, kalau cuma dianggap teman biasa terus dipanggil begitu yaa rasanya HAMBAR!" Jelas Amira menekankan
"Owh begitu ya, memangnya mantan Dara yang namanya Arga itu gimana sih sifatnya, gimana dia memperlakukan Dara?" tanya Betrand yang tidak tau kalau Arga sebenarnya saudara Amira
"Hah?.. Kak Betrand tau darimana kalau mantan Dara namanya Arga?" tanya Amira bingung
"Sudahlah yang kayak gitu gampang aja taunya!" jawab Betrand sombong
"Yaa Kalau Arga itu bukan hanya memperlakukan Dara secara special, bahkan dia selalu bersikap dingin sama cewek lain yang mendekatinya, malahan yaa kak, Arga itu biarpun banyak yang suka tapi jangankan buat dideketin, menatapnya aja cewek pada segen!!" kata Amira menjelaskan
"Jadi maksudnya disekolah itu Arga cuma dekat sama Dara gitu?"
"Iya!" Jawab Amira menegaskan
"Gila!! kok ada yaa cowok setia kayak gitu?!" kata Betrand tak menyangka
"Yaa ada dong, Arga buktinya!" ucap Amira bangga
"Oke oke, aku ngerti sekarang! yaudah ku antar kamu balik lagi kekampus aja yaa Amira!" kata Betrand yang tiba tiba mutar balik mobilnya dan menyebut Amira dengan nama
"Eeeh kok gitu, tadi bukannya mau ngajakin makan?!" tanya Amira bingung
"Nggak jadi deh, aku mau sama Dara aja jalannya!!" jawabnya jutek
"Iiih kakak Jahaaaaat!!" kata Amira panik
"Hahahaa.... aku kan mau belajar supaya mirip Arga biar bisa deketin Dara!"
"Tetap aja gak akan samaaaa!!..." rengek Amira dalam mobil karena kecewa
.
.
.
(Malamnya, Dirumah Dara)
TOK TOK TOK!
"Masuk!" sahut Dara dari dalam kamarnya
JEGLEK! (buka pintu)
"Eeh mas? kebetulan banget mas datang, bantuin aku kerjakan ini mas!" pinta Dara saat Irvan masuk kekamarnya
"Tugas apa sih?" Irvan langsung mengambil dan membaca sejenak buku yang sedang dikerjakan Dara
"Cuma beginian aja nggak bisa!!" kata Irvan menyepelekan
"Iiih mas nih sombong banget mentang mentang selalu dapat nilai tertinggi dikampus!" ucap Dara yang langsung mengingatkan tujuannya datang
"Sini dulu mas mau ngomong!" kata Irvan sambil menarik tangan Dara kearah kasur
"Tapi mas tugas ku?"
"Iya nanti mas bantu kerjakan!" sambil mengajaknya duduk bersebelahan
"Ada apa mas, keliatannya serius banget?!" tanya Dara yang melihat ekspresi Irvan yang tegang
Sejenak Irvan terdiam memikirkan kata kata yang ingin diucapkan sekaligus mencari alasannya.
"emm...dek, bisa gak kalau pindah kampusnya dipercepat aja?"
"Lhoh kenapa memangnya mas? bukannya kita sudah sepakat kalau aku pindahnya nunggu satu smester dulu, lagian aku belum sempat cari kampus baru loh!" jawab Dara
"Aa... Itu... soalnya.... aaa..." Irvan bingung harus menjelaskan kalau sebenarnya tadi dia dapat kabar dari Adhi kalau Betrand sudah mulai berani sama Dara
"A apa mas? kok dari tadi a a aja?" tanya Dara yang sudah tidak sabaran jadi ikut mangap mangap
"Anu, itu, apa tuh ,ck , eh.... begini dek... jadi, tadi, ada temennya mas lewat depan kampus, terus dia liat adek pas mau pulang katanya ditarik tarik cowok, iya gitu!" kata Irvan sambil garuk garuk kepala karena tidak terbiasa berbohong
__ADS_1
"Oowh itu, iya mas, tadi memang ada kakak senior ku pas aku mau pulang dia maksa aku supaya ikut pulang sama dia, terus mas Adhi langganan ojeg ku sampe dilemparin uang banyak banget kemukanya gara gara cuma negur dia pas narik aku, yaa aku marah terus langsung pulang deh sama mas Adhi!" cerita Dara menjelaskan
*Mohon jangan meniru perlakuan tidak baiknya ya