Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#92. Keras


__ADS_3


Besok paginya pada pukul enam tiga puluh waktu setempat, Sovia yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian perawat dibuat terkejut oleh Dara yang dilihatnya sedang tertidur disofa ruang tengah.


"Nona, nona Dara? nona kenapa tidur disini?" panggilnya dengan suara lembut membangun Dara yang hanya menggunakan selimut tanpa bantal.


"Emm, kak Sovia?.... kak Irvan, apa kak Irvan sudah kembali dari luar?" tanyanya dengan mata bengkak masih sayup sayup


"Kembali? memangnya tuan Irvan ada keluar rumah?" tanya balik Sovia yang tidak tau apa apa masalah kejadian semalam


Dara yang baru sadar kalau dirinya sudah terselimuti oleh selimut dari kamar Irvan pun sontak merasa curiga dan langsung berlari kekamar kakak yang habis memarahinya semalam.


JGLEG, KRIEEET!!


"Aaaaaah?... hiks!" seketika itu dengan cepat tangannya menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut, kemudian tanpa terkontrol airmatanya langsung mulai berjatuhan.


Kedua lututnya terasa tak bertulang yang membuatnya duduk terjulur melemas disamping pintu. "Hikshiks...hiks...!"


"Nona, ada apa?!" Sovia yang mendengar tangisan anak majikannya itupun segera berlari menghampirinya karena cemas.


Sesampainya didepan kamar Irvan, Sovia sempat tertegun kebingungan.


"Nona,barang barang tuan Irvan kemana?.." tanyanya karena dia pikir tidak mungkin Irvan akan pergi tanpa pamit. Sovia langsung berjongkok sambil tangannya merangkul pundak Dara yang terlihat badannya tambah melemas. "Nona, tuan Irvan......" belum selesai Sovia bertanya, dengan cepat kepala Dara mengangguk angguk duluan


"Iya.... dia, dia sudah pergi, dia pulang ke Indonesia!" kata Dara yang airmatanya semakin deras bercucuran jatuh kelantai.


"Yaa ampun nona, ada apa sebenarnya? saya lihat tuan Irvan begitu sangat menyayangi nona seperti adik kandung!" ucap Sovia keceplosan, sontak Dara yang tadi menunduk langsung menoleh kearahnya


"Apa! seperti adik kandung katamu, maksudnya apa?" tanya Dara kebingungan


"Aaah maksud saya...(mikir) maksud saya tadi melebihi adik kandung! yaa seperti itu maksud saya!" jawab Sovia gugup salah tingkah


"Aku sangat tau kak Sovia tidak pintar berbohong, katakan padaku yang sebenarnya!!" desak Dara menatap tajam membuat Sovia jadi ketakutan


"No,nona.. nona tolong jangan paksa saya!!"


(Dibandara Tegel Berlin)


Masih didalam mobil sport Arga,


"Kak Irvan, apa kakak tidak terlalu pagi datang kesini? kan jam penerbangan kakak masih tiga jam lagi!" tanya Arga bingung dengan sikap Irvan yang masih terlihat murung dari semalam


"Nggak apa apa, aku memang sengaja datang lebih awal karena sudah ada janji dengan seseorang. Dan ini, tolong nanti kamu kembalikan dikamar Dara!" sambil menyodorkan handphone


"Handphone Dara?!" gumam Arga tertegun bingung


'Untuk apa kak Irvan membawa bawa handphone Dara kesini?' tanyanya dalam hati karna tidak berani bertanya langsung ke Irvan yang ekspresi wajahnya dingin


"Arga kamu langsung pulang aja, takutnya Dara keburu bangun. Terima kasih yaa dan... tolong jaga dia baik baik!" pesan Irvan sambil membuka pintu lalu turun dari mobil.


"Kak Irvan!.." Panggil Arga tiba tiba membuat gerak Irvan berhenti sejenak.


"Aku akan tetap mengirimkan kabar tentang Dara ke kakak!" ucapnya. Walau Irvan mendengar tapi dia tidak merespon dan malah langsung menutup pintu mobil. Kemudian Argapun langsung menancapkan gas dan pergi dari situ.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, mata Arga sekilas kilas melirik ke arah handphone Dara yang berada disampingnya. Dia masih bingung sekaligus penasaran dengan apa maksudnya Irvan membawa handphone tersebut dari rumah Kebandara.


"Apa yang sudah kak Irvan lakukan dengan handphone Dara? padahal aku sendiri aja nggak pernah tau kunci polanya!" tanya Arga dalam hati


Sekitar duapuluh menit kemudian Arga pun tiba dirumahnya hanya untuk memakir mobil kemudian langsung mendatangi rumah Dara disebelah rumahnya itu.


TET..!


TET..!


TET..!


Edward yang biasanya cepat datang membukakan gerbang, kini sudah lebih dari dua menit belum terlihat batang hidungnya yang tentunya mambuat Arga cemas penasaran.


"Kok lama banget sih? padahal mobilnya ada!" kata Arga berbicara sendiri dan karena sudah tidak sabar, iapun langsung membuka penutup kunci darurat yang masih terdaftar sidik jarinya.


Gerbang pun terbuka dan dengan tergesa gesa ia membuka pintu yang sudah terdengar ribut dari kejauhan yang suaranya berasal dari kamar Dara.


"DIMANA?!... DIMANA?!..." Suara bentakan Dara yang terdengar serak


"Iya nona sabar dulu nona kita cari pelan pelan!" kata Sovia. Arga yang penasaran pun langsung menghampirinya.


"Ada apa...... HAH?!.. BEIB KAMU KENAPA BEIB?!!" pupil mata Arga sontak terbelalak lebar saat mendapati pipi pacarnya tercoreng darah mimisan yang bekasnya dia lap dengan tangan ditambah penampilan lusuh dengan kamar yang berhamburan isinya. Dengan cepat Arga menangkap dan memeluknya dari belakang. Walau sudah tak bertenaga, namun tangan kaki Dara terus saja mengamuk meronta minta dilepaskan.


"Sovia Dara kenapa, dimana Edward?!!" tanya Arga panik menahaninya


"Nona Dara marah tuan dan Edward sedang mencarikan handphone nona yang hilang!"


"ii,ini, ini tuan!" menyodorkan dengan gugup


"Beib ini beb! ini handphone mu!" seketika Dara berhenti mengamuk dan langsung mengambil handphone nya.


Dengan napas tersengal sengal dan tangan bergetar, Dara terus terusan menscroll naik turun daftar kontak dihandphone yang memang cuma sedikit isinya lalu terburu buru membuka semua album galeri yang juga tidak banyak gambarnya.


PRAAAK!!


Tanpa pikir panjang dibanting kuat handphone ditangannya sampai pecah berantakan yang seketika itu membuat Arga langsung tercengang kaget melihat kelakuannya yang tiba tiba berubah.


"Beib?" panggil Arga sambil melotot melihat Dara. "Kamu kenapa beib?" kedua tangannya mengguncang bahu Dara berniat menyadarkan gadis dihadapannya yang sedang kacau.


TAK!!


Lengan Dara menepis tangan Arga yang sedang memegangi bahunya. Dengan tatapan kosong kedepan dia berjalan menuju kekamar mandi, Arga yang masih kaget melihat sikap tidak biasanya pun hanya diam tanpa bisa berpikir harus berbuat apa.


CTEK!


Pintu kamar mandi sudah terlanjur dikuncinya dari dalam, Arga yang tidak sempat mencegahnya pun langsung terduduk lemas dilantai yang banyak tetesan berwarna merah diatasnya.


"Sovia, tolong panggilkan Edward dan minta dia segera mengambil kunci cadangan kamar mandi digudang!"


"Baik tuan!" Sovia pun langsung berlari keluar kamar


Dengan napas yang sudah menyesak didadanya, Arga segera mengambil handphone lalu menghubungi Irvan agar segera kembali lagi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dara sebelum dia kembali ke Indonesia. Namun justru jawaban apa yang didapatnya :

__ADS_1


"Maaf Arga, aku nggak bisa, aku nggak akan menemuinya lagi dan untuk masalah sikapnya yang itu, sesuai seperti yang ku katakan semalam, kalau sifatnya aslinya memang penyabar, tapi kadang kala dia terlalu kekanak kanakan hingga membuat kita hampir hilang kesabaran, tapi aku yakin kamu pasti menghadapinya!" Respon Irvan acuh tak acuh.


"Kak Irvan kamu itu kenapa sih? apa ada seseorang kakak mengabaikan adiknya yang sedang dalam keadaan terpuruk?" tanya Arga menekan, lalu terdengar suara teman Irvan yang biasa nguping ikut menasehatinya


"Van, kenapa tiba tiba sikapmu begini lagi terhadap Dara? bukankah kalian baru aja bertemu dari sekian bulan berpisah? harusnya kamu baik baik dulu sebelum pulang, masa caramu berpamitan seperti ini sih? aku rasa justru malah kamu yang bersikap kekanak kanakan daripada Dara! kalau dia yaa wajar aja karna baru minggu lalu ditinggal kakeknya, mana papahnya gak pernah peduli, dan sekarang kamu juga gak mau peduli? Irvan, Irvan, kakak macam apa kamu? hatimu terbuat dari batu ya?!!" dumel nyerocos Roy yang sedang berada disampingnya.


"Terserah kalian mau ngomong apa aku nggak akan berubah pikiran!" sahutnya tetap tidak peduli


Dalam waktu yang bersamaan Edward dan Sovia pun datang dengan kunci cadangan ditangannya dan langsung membuka pintu kamar mandi yang dari tadi tidak ada suaranya itu.


"NONAA!!!" teriakan Sovia dari depan pintu kamar mandi menyulut kepanikan Arga yang langsung meletakan handphone nya lalu berlari kekamar mandi.


Suara ribut tangisan Sovia bercampur teriakan Arga dan Edward sangat terdengar jelas dihandphone Irvan yang masih terhubung dengannya.


"TAP TAP TAP!! Sovia tarikkan selang oksigennya! Edward ambilkan handuk dan kotak obat! ini tuan, ini, ini selimut!" Irvan yang tidak tahan mendengar suara kepanikan dikamar itupun langsung menutup telponnya


"Van, ayoo van kita datangi dulu adikmu! kita harus liat keadaanya seperti apa sekarang!" ajak Roy khawatir


"Nggak perlu, sudah ada Arga disana!" sahut Irvan cetus


"Kamu ini waras apa nggak sih Van? kebanyakan makan mecin ya?!!" ucap Roy mulai kesal


"Haaaah!! Memangnya mau sampai kapan harus aku yang menangani kenakalannya? Kan dia sudah ada pacarnya, sudah saling mencintai, jadi buat apa lagi aku ada disana?! sudahlah aku mau balik kebandara sekarang!" sambil beranjak dari duduk


"Oooowh jadi itu masalahnya!" kata Roy


"Masalah apa?"


"Haiiiz... segala pura pura sama aku lagi! kamu itu lagi cemburu sama Arga kan Van? ngemeng dong Broo!!"


"Cemburu?! siapa yang lagi cemburu? aku seneng kok kalau mereka bersama!" bantah Irvan


"Halaah.. Senang apanya kalau saling menyiksa diri? udahlah Van kamu gak usah berusaha nutup nutupin dari aku! kita nih bersahabat udah sepuluh tahun dan diantara tim kita cuma kamu yang paling gak pinter bohong. Ayoo cepatan kita datangin Dara kerumahnya!"


"Aku nggak mau!"


"Ayolah Van, mereka itu baru pacaran belum sampe nikah, jadi apa yang kamu khawatir kan?" kata Roy lalu Irvan menggeleng mendengarnya.


"Denger ya Van, kan ada pepatah mengatakan sebelum janur kuning melengkung berarti belum pasti jodohnya, nah.. siapa tau sekalinya Dara itu memang jodohmu!" bujuk Roy merayunya


"Roy! aku bilang nggak mau ya nggak mau. Kamu itu nggak tau betapa mereka saling mencintai dan mereka itu sudah gak mungkin terpisahkan! aku tau itu karena aku yang selama ini tinggal sama mereka, bukan kamu!" sahut Irvan dengan keras hatinya


"Yaa sudahlah kalau memang kamu mau ambil keputusan seperti itu, setidaknya aku sudah menyuport kamu dan satu hal yang perlu kamu inget, yang namanya penyesalan itu selalu datangnya belakangan, kalau datang duluan namanya pendaftaran, camkan itu!!" ucap Roy mengancam membuat Irvan sejenak jadi berpikir


.


.


.


CUPLIKAN :


*Kira kira Irvan balik lagi kerumah Dara apa langsung ke Indonesia?

__ADS_1


__ADS_2