Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Astaga!


__ADS_3


"Apa? rontgen?! aku nggak tahu..." jawabku sambil menoleh kearah mas Irvan yang langsung memegangi dahinya


"Astaga iya dek, mas sampe lupa, hari ini kamu mau medical check up!" katanya dengan mimik wajah terlihat pusing


"Aah, Yaudah mas, mas urus kerjaan aja dulu, aku bisa sendiri kok nanti!" Ucapku agar mengurangi bebannya yang menumpuk


"Iya Van kamu kerja aja, kan ada aku juga! nanti Dara biar aku aja yang nemenin, gimana?!" kata dokter Indra sambil melihat ke-jam tangannya dan reflek aku langsung jadi tersenyum sendiri mendengarnya


'Aduh beneran nih? aku sih mau banget kalau dokter ganteng ini yang bakal nemenin aku!' ucapku dalam hati sambil ngebayangin


"Jangan mimpi kamu!!" Sahut mas Irvan yang seketika memecahkan khayalanku


"Kamu kenapa sih Van? sudahlah, coba percayain aja adikmu sama aku?!" Setelah mendengar ucapannya dokter Indra barusan, mas Irvanpun langsung menatapku dengan serius seperti sedang berpikir, dan tentunya aku berharap dia akan menjawab 'oke!'


Setelah beberapa detik dia menatapku, terlihat dokter Indra pun sedang menunggu jawaban izin darinya, kemudian dia mulai menjawab namun tanpa ekspresi diwajahnya:


"Nggak, hari ini aku nggak jadi turun kekantor, nanti pekerjaanku biar sekertaris yang antarkan kesini!" jawabnya dengan nada datar, seketika aku dan dokter Indra pun jadi putus asa


"Haaaaa.... Ya sudahlah kalau begitu aku mau pulang dulu, Dara, kalau ada keluhan apa - apa cepet telpon kenomornya saya yaa..?!" pamitnya sambil melambaikan tangan dan melemparkan senyum padaku.


'Daaaagh ganteng!' kata dalam hatiku sambil membalas lambaian tangan dan senyumannya.


Setelah dokter Indra menghilang dibalik pintu, Seketika aku merasakan seperti ada aura menegangkan diruangan ini. Dalam sekejap aku segera menghentikan lambaian lalu menurunkan tangan dan menghapus senyuman dibibirku, perlahan dengan takut - takut kulirik mas Irvan yang baru aku sadari ternyata dari tadi dia memperhatikan ku dengan tatapan dingin dengan kedua tangan dilipat didadanya.


.


.


.


.


.


.


(Dua Hari kemudian)


TIK.. TOK.. TIK... TOK...


Suara detikan jam mengisi kesunyian dalam ruang kamar rumah sakit yang satu ini.


Ku lihat jam yang sudah menunjukan pukul lima sore, mungkin sebentar lagi Kiki akan tiba disini setelah tadi sms aku bilangnya dia akan datang lagi sepulang dari bimbel disekolah.


Kulirik mas Irvan yang sedang duduk disofa dengan dokumen dan laktop dihadapannya, sudah dari dua hari lalu dia masih saja mendiamiku tanpa bicara sedikitpun.


'Masa cuma gara - gara aku balas senyumnya dokter Indra dia marah sampe segitunya sih? biarpun dia selalu disini nemenin aku tapi kalau diam - diaman begini sama aja aku kayak lagi sendirian!


Aaah, daripada suntuk mending aku mandi dulu aja deh sambil nunggu Kiki datang!' gumamku dalam hati


Mungkin, ada sekitar lima belas menit aku berada dikamar mandi selain karena kebiasaan mandiku yang lama, juga karena infusan ditangan membuat aku jadi agak kesulitan saat membuka dan memakai baju.


Setelah rapi aku segera keluar dari kamar mandi, dan ku lihat Kiki sedang menutup pintu depan kamar yang kebetulan dia baru sampai.


"Heey... Gimana hari ini? sudah mendingan kah Dara?!" Sapa Kiki berjalan sambil menghampiriku dan matanya melirik sekilas kearah mas Irvan yang lagi cuek.


"Iya sudah, kamu kesini naik apa?" tanyaku sambil menggantungkan kantong infusan


"Aku bawa motor, tadi baru aja selesai diservice!" jawabnya


"Terus disekolah tadi gimana, ada kabar apa?" tanyaku lagi sambil menarik pelan tangannya agar dia duduk disampingku


"kalau disekolah sih biasa aja, cumaaa (menoleh ke Mas Irvan) kayaknya kamu harus cepet sembuh deh biar bisa masuk sekolah lagi!" ucapnya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu - ragu


Karena mas Irvan lagi marah, jadinya aku nggak berani memacing pertanyaan yang bisa bikin dia tambah ngambek kalau mendengarnya. Tapi, tidak lama kemudian dia bergegas merapihkan alat kantornya lalu pergi begitu saja tanpa berkata apapun kepada kami.


Melihat sikap mas Irvan yang dingin seperti itu, Kiki yang dari kemaren sudah nanya tapi ku jawab nggak tahu, akhirnya jadi tambah penasaran.


"Mas Irvan itu kenapa sih Ra, masa dari kemarin kalau ketemu diem terus?!" tanyanya yang berulang - ulang dan tambah mendesakku


"eeeh dia itu... (bingung jawabnya) dia kalau lagi kumat yaa kayak gitu! soalnya aku juga nggak tahu pasti penyebab dia marahnya kenapa, masa cuma gara - gara aku senyum sama temennya yang jadi dokter disini dia langsung marah kayak gitu?!" Jawabku sambil nginget - nginget

__ADS_1


"Senyum sama temennya? masa kalau cuma kayak begitu aja dia sampe marah sih?!" Kata Kiki yang selalu pemikir


"Yaa itu aku juga bingung, tapi memang ada yang agak aneh sih, soalnya aku perhatikan dari pertama ketemu mereka nggak pernah akur, aku juga belum ada sempet nanya - nanya sejak kapan mereka saling kenalnya?! soalnya setiap kali mas Irvan ketemu sama dia pasti bawaannya marah - marah!" Jelasku


"Terus ngapain kamu bisa senyum sama dokter itu kalau mereka aja nggak akur?" tanya Kiki


"Yaaa kemaren aku cuma balas senyumannya aja, lagian dokter Indra kalau sama aku baik banget terus dia itu juga.....(malu - malu) dia itu ganteng banget!!" jawabku sambil senyum dan memegangi kedua pipi


"Yaa ampun Dara!(Gregetan) sudah - sudah deh mata jelalatanmu itu, paling nggak bisa banget kalau liat cowok ganteng, kamu nggak belajar dari pengalaman kemaren kah?!" TRIIING!!


Tiba - tiba aku tersadar kalau ucapan Kiki barusan intinya sama kayak pesannya mas Irvan malam itu.


'Astaga!! (sambil menutupi wajah), jadi itu yaa alasannya yang bikin dia jadi marah sama aku beberapa hari ini..? Huuh bodohnya aku ini (menepuk - nepuk kepala) kenapa otakku selalu lambat untuk memahami sesuatu!' gumamku menyesali ketidak pekaanku


"Oiyaa Ki, kayaknya besok aku sudah bisa laguli sekolah deh.." kataku tiba - tiba mengalihkan topik


"Hah? Yakin kamu sudah sehat Ra?" tanyanya sambil mengerutkan alis


"Iya yakin, bilang dokter hari ini aku sudah boleh pulang, tadi siang sudah diurus papah pembayarannya, nih lagi tunggu mamah datang mau jemput. Lagian besok kalau dirumah juga ngapain, mending aku sekolah daripada ketinggalan pelajaran yang tinggal sebulan lagi!" Jawabku lalu Kiki menanggapi dengan anggukan


Kemudian dia menoleh kearah pintu depan kamar sambil berbicara dengan suara pelan


"Oiyaa Ra, tadi Arga masih belum masuk sekolah juga, terus pas pulang sekolah temen - teman band-nya langsung pada pergi semua, biar satupun nggak ada yang ikut bimbel selama dua hari ini!" katanya


"Kira - kira mereka kemana ya?!" tanyaku,


"Yaaa mana aku tahu..." jawabnya


Kemudian terbesit rasa curiga dalam hati 'jangan - jangan dia lagi sakit gara - gara malam minggu kemaren sampe subuh didepan rumah tanpa makan!' pikirku jadi nggak enak hati


"Mudah - mudahan aja besok dia sudah masuk sekolah, jadi aku bisa secepatnya mengembalikan almamaternya.." kataku pura - pura cuek


Aku dan Kiki terus berbincang sampe tak terasa sudah pukul tujuh malam.


"Dara, Kiki? maaf nih mama agak telat sayang... (kami berdua langsung menoleh dan tersenyum) Looh Irvan kemana?!" sapa mama saat baru datang


"Mas Irvan? nggak tahu mah, kayaknya tadi masih ngurus kerjaannya..." sahutku karena sudah dua hari ini setiap mama datang nggak ketemu sama mas Irvan, dan aku menutupi kemarahannya padaku


"Kamu beneran hari ini sudah mau pulang? udah nggak pusing lagi?" tanya mama sambil memegang - megang wajahku


"Aduuuh, kalau sekolah jangan dulu deh! nanti kenapa - napa disekolah..." larang Mamah


"Yaah mamah, nanti aku ketinggalan banyak pelajaran Mah, lagiankan ada Kiki yang nemenin aku..." alibiku sambil memberi kode kedipan mata keKiki


"Aah! (Kiki mengangguk) Iya tante, nanti kalau ada apa - apa aku langsung cepet - cepet kabarin tante!" ucap Kiki membantuku


"Yaaah terserah dah, kamu ini memang keras kepala... yang penting jangan kecapean sama jangan makan sembarang yaa..." pesannya yang akhirnya mengijinkan


"Kalau gitu sekarang siap - siap, mama mau ambil kwitansi sama obatnya dulu" katanya sambil melangkah keluar kamar.


Setelah selesai semua urusan dirumah sakit, kamipun langsung pulang tanpa menunggu mas Irvan datang dulu karena aku tadi memang ngelarang mama buat menghubungi mas Irvan dengan alasan takut mengganggu pekerjaannya.


Dan setelah kami sampai dirumah, ternyata mobil mas Irvan sudah terpakir dihalaman depan rumahnya.


"Loooh sekalinya Irvan sudah pulang duluan?!" tanya mama heran sambil memakirkan mobilnya


"Aaah, mungkin dia lagi ada yang diambil atau lagi ngerjain sesuatu dirumahnya Mah..." kataku mengalihkan kecurigaan 'Mamah jangan sampe tahu kalau mas Irvan lagi marah, karena bisa - bisa aku diceramahin!" gumamku sambil memegangi ujung kening


"Dara, kamu masih pusing?" tanya mama


"Cuma sedikit kok mah!" aku jadi tertegun


"Kalau gitu, kamu cepat langsung istirahat kekamar aja gih, nanti biar barang - barangnya Doni yang bantu bawain masuk!" kata mama, lalu aku segera mengangguk dan turun dari mobil duluan.


Saat aku baru masuk kedalam rumah, aku menoleh kearah mamah yang sekalinya sudah menyeberang sambil membawa barang - barangnya mas Irvan yang tadi masih tertinggal dirumah sakit.


"A, apa?! mamah mau kerumah mas Irvan?! aduh gawat niih!" kataku ngeri


'Mending aku langsung kekamar aja deh daripada nanti diintrogasi!' gumamku sambil berlari menaiki tangga menuju kamarku


"Looh kak?!"


"Besok aja nanyanya!" Sahutku ke Doni yang barusan memanggilku.

__ADS_1


Sesampainya dikamar aku langsung berbaring diatas kasur dengan menutupi seluruh badan dengan selimut, pikiranku yang cemas membuat kepala jadi terasa cenat - cenut.


'Kira - kira mas Irvan bakal ngadu nggak yah kalau dia lagi marah sama aku, terus dia bakal cerita nggak yah kalau aku sama Arga udah putus?!! Aduuh gimana ini?? (mikirin bakal ditanya - tanya)


Udah deh, kalau memang dia cerita ya mau diapain lagi?cepat atau lambat pasti bakal ketahuan juga kan?!' pikirku pasrah sambil terus melamun


TAP, JEGLEK. . . . . (segera kupejamkan mata pura - pura tidur, jantung berdebar - debar)


BLAM. . . .


'Siapa yaa yang barusan buka terus langsung menutup pintu lagi? Jangan - jangan mama langsung mau menanyakan masalah ku, aduuh!' pikirku was - was


.


.


(Paginya)


CIIIT..CUUUIT...! CUIT!


CICIT... CUUUIT..!!


Hooooammms!!! Mmmmm..... kurenggangkan kaki dan tanganku yang terasa kaku.


Dengan mata yang masih sayup - sayup kulirik jam didinding sudah menunjukan pukul setengah enam pagi, namun rasa malas dan ngantuk masih membebani seluruh tubuhku.


'Sebentar dulu...'


Sejenakku memejam lagi hanya untuk sekedar mengumpulkan energi dan nyawa yang sebagian masih tertinggal dikhayangan.


SREK!


Seketika aku buka mata lebar - lebar, badan yang sudah pulih dengan semangat segera bangkit dan langsung melipat selimut merapihkan tempat tidurku.


(Heheee kayak lagu! 😆)


Hawa pengap diruang kamarku ini seakan memaksaku untuk segera membuka jendela.


kuhampiri jendela yang didepannya terdengar beberapa burung yang sedang hinggap sambil berkicau diatas kabel.


Ku seka gordeng dengan jari hanya untuk mengintip kearah jendela kamar seseorang yang berada tepat diseberang kamarku ini, Ku perhatikan jendela dan pintunya yang masih tertutup rapat dengan cahaya lampu balkonnya masih menyala.


'berarti dia belum bangun!' dengan segera ku buka kaca jendelanya agar kesejukan udara pagi menggantikan bau apek dikamarku yang sudah beberapa hari ditinggal.


Kemudian aku bergegas mandi dan memakai seragam, setelah rapi akupun langsung turun kedapur yang ku dapati mamah sudah berdandan rapi sedang menyiapkan sarapan diatas meja makan.


"Mamah?!" tegurku


"Lhoo Dara beneran mau turun sekolah, sudah nggak ada yang sakit lagi?!" tanya mama khawatir


"Dara sudah sehat mah, niih!!" kataku sembari memutar badan, lalu duduk dikursi dan mengambil makanan


"Yaa sudah kalau gitu, tapi Irvan nganterin kan?!" tanya mama


"HAH, mas Irvan?! a.. aku belum ada ketemu, semalam kan aku langsung tidur sampe pagi tadi. Tapi, bukannya semalam mamah sudah ngobrol sama dia?!" tanyaku takut - takut


"Nggak ada tuh! (perasaanku langsung lega), semalam pas kita pulang sekalinya dia kerumah sakit pake motor, jadi begitu sampe dia langsung nelpon mamah, terus bilangnya nanti habis selesai urusan dia langsung mau nemuin kamu! tapi semalem mamah sudah ngantuk banget, jadinya pintu depan nggak mamah kunci deh karena mama pikir dia mau datang, tapi, tadi pagi mama lihat pintunya terkunci, jadi yaa mama kira dia udah nyamperin kamu semalam!?" Jelasnya


"Nggak ada ..." jawabku menggeleng sembari mengunyah sarapanku


"Jadi siapa dong yang kunci pintunya?!" tanya mama kebingungan


"Mungkin Doni mah, dia kan biasa bangun minum tengah malam!" jawabku pake logika


"Mmmm... iya - iya!! tapi tu anak kayaknya hari ini masuk siang deh, soalnya dari tadi nggak ada kedengeran bunyi alarmnya. Terus, jadinya kamu mau naik apa dong kesekolah?!" tanya mamah sambil menghabiskan sarapannya, lalu aku segera melihat jam yang sudah menunjukan pukul enam lewat sepuluh


"Aku naik motor aja kayaknya mah biar lebih cepat!" jawabku,


"Hmmm... jangan! nanti kenapa - napa dijalan, biar mamah antar aja!" katanya sambil berdiri menaruh piring sarapannya diwashtuffel


"Nggak usah mah, mamah udah capek mondar - mandir dari kemaren!" kataku nggak mau ngerepotin mamah lagi


"Capek apanya orang cuma duduk aja dimobil kok! tunggu yaa mama mau ganti baju sama ambil tas dulu dikamar!" sambil menaiki tangga

__ADS_1


"Iya mah,," jawabku sambil masih menyelesaikan sarapanku


Lalu tiba - tiba perutku terasa perih dan mual.


__ADS_2