
"Mas,, saya juga minta maaf, tadi saya juga terlalu banyak bergerak jadi motornya kurang seimbang..." ucap ku berusaha menenangkan keadaaan
"Iya Dek, sama - sama yaaa.." katanya sambil tersenyum lega.
Dengan wajah pucatnya, lalu ia menjulurkan tangannya mengarah kepadaku untuk bersalaman, akupun menanggapi jabatnya, Arga yang tadinya masih memegangi bahuku tiba - tiba langsung memisahkan jabatan kami.
Lalu Arga segera melepaskan helm tukang ojeg dikepalaku lalu mengambil uang dari saku bajunya,
"apa mungkin dia berniat membayarkan ongkos yang seharusnya aku yang bayar? tapi aku kan masih ada uang didompet dalam tasku!" pikirku
"Kamu mau apa Ga?!" tanyaku hanya ingin memastikan dugan ku, karena pastinya aku jadi nggak enak hati kalau sampai dia bayarin ongkos ojek ku, terlebih kami ini tadi baru saja bertengkar.
"Buat Mas-nya!" jawabnya singkat tanpa menoleh atau melirik melihat ku, lalu aku buru - buru membuka tas
"Aaaah, nggak usah Ga, biar aku bayar sendiri aja ongkosnya aku ma......" Dan dengan cepat tangan nya pun menahan tanganku yang sedang membuka seretling tas
"apa - apaan sih kamu ini? Uang mu tadi kan sudah terbang! terus sekarang mau aku ambilkan dulu disana?!!" katanya dengan sikap dingin
Aku pun langsung segera menggeleng kan kepala sambil tersenyum takut setelah melihat ekspresinya!
"Nih Mas helmnya.. " sambil menyodorkan helm dan lipatan beberapa lembar uang entah berapa, tapi sekilas aku ada lihat salah satunya selembar 50 ribuan.
"Eeh Dek gak usah ongkosnya..!" kata tukang ojeg yang hanya menerima helmnya saja dan menyorong menolak uang dari Arga.
"Saya bukan mau bayar ongkos Mas, ini cuma buat ganti bensin dan mas beli minum!" ucap Arga tanpa senyuman, yang dengan paksa menaruh uangnya di telapak tangan tukang ojeg tersebut.
"Ta - Tapi, saya malah jadi nggak enak soalnya kan ......"
Arga langsung merangkul bahuku sambil memegangi tangan ku yang sakit, dan segera mengarahkan ku berbalik badan sambil melangkah perlahan mengarah ke motornya.
"Terimakasih yaa Dek, sekali lagi saya minta maaf.." kata tukang ojeg nya, lalu Arga hanya melambaikan tangannya saja, Mungkin karena masih agak kesel sama tukang ojeknya juga kesal sama aku.
Aku yang tadinya mau menolak dibayarkan pun akhirnya cuma terdiam karena ucapanku yang tadi belum selesai pun sudah dipotongnya. Lagian, kalau sampai dia mau ambil kan uangku yang sudah terbang tasi yaa nggak mungkin aku mau, pasti tuh uang sudah didapat orang dijalanan!
Kali ini aku yang sudah kalah bicara lagi dengannya, dia yang selalu tegas membuat aku tidak mampu melawan lagi.
Sesampainya disamping motornya, dia langsung membuka bagasi dan mengambilkan helm yang memang biasa disiapkan untukku.
"kamu aku yang antar pulang yaa??" katanya
"Apa? kamu mau antar aku pulang?!" tanyaku heran
"Memang kenapa, kok kamu tanya kayak gitu? aku mau antar pacar pulang masa nggak boleh?!" ucapnya
"Bu.. bukan begitu, tetapi bukannya kamu...." pertanyaan ku terputus karena takut salah bicara yang malah menyinggung nantinya
Tentunya aku jadi semakin bingung dengan sikapnya yang berubah - rubah tadi sangat kasar namun sekarang sangat perhatian.
"Sudah kamu nurut aja kenapa sih? biasanya juga aku yang antar kamu!" katanya sambil tiba - tiba tangan satunya memegang lenganku yang memar.
"Aaaaww!!!" teriak ku meringis
"Aah beib nggak sengaja!!" matanya melotot kearah tangan memar ku.
"Aku antar kedokter yaa periksa tangan mu biar cepet dapat obat?" Katanya.
"eeh, nggak usah aku mau cepet istirahat dirumah aja, nanti di kompres juga mendingan!" jawabku canggung
"Beneran nggak apa - apa? Ya sudah kalau mau mu begitu, aku nggak mau maksa kamu apalagi sampai berdebat lagi, tapi...." Matanya tiba - tiba menatap mataku dengan tatapan seperti ada sesuatu yang ditahannya...
Dan melihat wajahnya sekarang ini, entah kenapa akupun masih merasa nyaman seperti biasanya sebelum terjadi apa - apa.
"Kamu tunggu dulu disini, aku mau ke warung sebentar" Lalu pandangannya mengarah ke sekeliling.
"Nah, aku kesitu dulu!" menunjuk warung yang ada diseberang jalan raya. Aku pun menerima helm yang dia sodorkan dan hanya menjawab nya singkat.
"Iyaa"
__ADS_1
Dengan segera ia berlari menyebrangi jalan yang cukup padat oleh lalu lalang pengendara mobil dan motor,
Entah karena aku masih merasa kaget dengan kejadian barusan atau karena kejadian disekolah tadi? kami pun jadi merasa canggung untuk bersikap seperti biasanya.
Aku heran sama sikapnya yang berubah - ubah secara drastis hari ini, sebentar marah, sebentar baik. Dia ini kenapa, ada yang aneh atau ada yang salah?!
Lagiankan seharusnya aku emosi mengingat kelakuannya, tetapi karena sekarang ini pikiran dan keadaan ku juga lagi nggak karuan, jadinya aku nurut aja.
Aku hanya ingin cepat sampai dirumah, mau cepat bersihin badan dan sesegera mungkin berbaring dikasur sambil memeluk bantal - bantal ku.
"Aku mau santai, mau tenang!!!" kata ku dalam hati
Sambil memakai helm, aku memandangi Arga yang sedang berada diseberang jalan sana sedang membeli sesuatu, dan aku seperti merasa telah melupakan sesuatu yang penting, tapi apa yaah?
Sebenarnya aku juga masih sedikit merasa takut setelah dia menatap tajam dengan penuh amarah saat ribut disekolah tadi, tetapi tiba - tiba sekarang dia berubah lagi menjadi seperti biasa.
Namun....
Lagi - lagi aku seperti merasa ada yang tertinggal atau terlupakan, tetapi aku masih sangat binggung apa itu?
Dengan perasaan ku yang masih nggak karuan aku terus saja mengarah kan pandanganku keseberang jalan sana, terhanyut dalam bayangan tentangnya sambil terus berusaha mengingat - mengingat sesuatu yang kurasa telah terlupa.
"Tiiiiiiiiiiiiiiin....!!!!" suara nyaring klakson mobil mengagetkan ku
Mobil itu yang tiba - tiba berhenti mendadak tepat tidak jauh didepan sebelah kiriku. Sontak akupun terbangun dari lamunan dan baru menyadari ternyata Arga sudah tidak terlihat ada di warung seberang sana!
Mata ku langsung terbelalak
mengarah ke mobil yang barusan membunyikan klakson tersebut, mobil hitam yang terlihat hanya bagian belakangnya saja yang mendadak berhenti tidak jauh dari posisi ku berdiri menunggu Arga.
Pikiran ku seketika menjadi kalut tak sanggup membayangkan apa yang sudah aku lewatkan barusan, yang aku ingat hanyalah Arga yang sedang berada di seberang jalan sana yang selesai membeli sesuatu dan mulai menuju ke arah ku namun karena aku melamun, tanpa sadar ternyata dia sudah tidak lagi terlihat didepan sana.
Seluruh tubuh ku mulai terasa bergetar mengikuti cepatnya detak jantungku, dengan sedikitnya tenaga yang tersisa saat ini, aku berdiri sambil mengarahkan pandanganku kemobil yang berhenti mendadak itu.
Sebenarnya perasaan ku sangat ragu, tapi aku hanya ingi memastikan didepannya.
"Tidak!! kali ini pasti salah, aku pasti salah!!" gumamku, dan kali ini aku benar - benar berharap tidak seperti dugaanku yang selalu tepat sebelumnya.
Lalu aku mulai melangkah kan kaki kanan ku bersiap untuk berlari kearah mobil tersebut.
GREEP!
Tiba - tiba ada yang memegang dan menahan lenganku kiriku.
"Ada apa beib???.." Tentu saja aku langsung berbalik badan sambil menoleh
"Arga? a aku pikir ka kamu..." tanpa aku sadari ternyata dia sudah berada dibelakangku.
Aku yang terlanjur gugup jadi merasa malu sambil menunjuk kearah mobil hitam yang berhenti itu, namun aku juga jadi merasa lega karena akhirnya dugaan ku kali ini memang salah.
Sebenarnya aku pengen banget memeluk dia, tapi rasa gengsi ku yang membuat aku menahan untuk mengakui bahwa aku sebenarnya khawatir, dan juga karena masih memendam rasa sakit hati yang dia buatnya, sehingga aku pun tidak ingin melampiaskan rasa haru ku padanya.
"Kok diem, memang ada apa dengan mobil itu?!" tanyanya sambil mengerutkan alis dengan berekspresi becanda, Lalu dia membungkuk mendekati wajahnya didepan wajahku sambil menatap kedua mataku, aku pun jadi gugup dan malu terasa panas diseluruh wajahku ini, lalu dia malah tersenyum - senyum sendiri.
"Tangan ku Ga!" kata ku sambil melirik ke arah tangan, dan ia pun segera melepaskan genggamannya.
"Oooh, maaf beib! sini biar aku lihat!" katanya
"Yang inikan nggak sakit!" kataku,
"Kenapa beib? kok muka mu jadi merah semua?? kamu sakit?.." sambil masih senyum - senyum lalu menjauhkan wajahnya lalu berdiri tegak sambil membuka bungkusan yang baru dia beli.
Aku diem aja tidak mau jawab apa pun.
"Iiiih tuu kan! dia berubah - ubah, tadi bersikap dingin sekarang jadi hangat lagi!!" pikirku
TIIIIIN!!! TIIIIN!!! (suara klakson mobil)
__ADS_1
"Ada apa sih dengan mobil itu? niih minum dulu, aku mau datangi mobil itu sebentar.." katanya sambil memberikan minuman botolan kesukaanku, aku yang masih merasa malu cuma mengangguk
Sambil membuka tutup botol aku melihat Arga sedang berbicara serius dengan orang yang berada didalam mobil itu, dari tadi ku perhatikan sebentar - bentar dia melihatku, lalu membuang muka lagi, aneh!
Aku jadi bingung dibuatnya, seperti sedang dipermainkan, Setelah ini aku juga jadi nggak tahu harus berbuat dan bersikap apa pada dirinya.
Disisi lain masih marah dan sangat kecewa, namun disisi lainnya lagi masih menyimpan rasa sayang padanya.
"Siapapun, tolong beri jawaban atas keresahan hati ku ini.!!" teriak ku dalam hati.
Mataku yang tadi habis nangis sekarang menjadi terasa kering dan perih karena angin dan debu jalanan, tapi entah kenapa aku tak bisa tak melihatnya.
Aku terus saja berpikir, mengapa dia berubah baik lagi secara tiba - tiba? padahal tadi disekolah dia begitu emosi sampai lenganku sakit digenggamnya. Apa ada yang salah? sedangkan dia dengan Amiraaa..........
Ah!!
Tidak, aku tidak ingin mengingat nya!
Aku ingin mengalihkan pikiran ku dari ingatan itu.
Sebenarnya dia lagi ngobrol sama siapa sih didalam mobil itu?
walaupun aku tidak melihat orangnya tetapi tidak ada perasaan takut atau was - was kepada nya.
"Hmmm, mungkin itu cuma keluarga atau teman nya sa....... "
"HAAAAAAH!! keluarga??!!" aku langsung teringat sesuatu yang dari tadi terlupakan.
"Oiya ya, bukannya dia ada janji mau antar mamanya??" kata dalam hatiku.
Tidak lama kemudian Arga selesai mengobrol, lalu berjalan kearah ku kembali, lmobil hitam itupun berkelakson sekali lalu pergi.
Aku mau bertanya tetapi bingung harus mulai dari mana, aku nggak mau pertanyaan ku jadi salah paham yang membuat dia berpikir kalau aku masih peduli terhadapnya.
Jadi aku cuma mau basa - basi saja, sambil membuka pengait helm dileherku.
"Ooiya Ga, bukannya katamu kamu mau antar mama mu tadi?? kamu nggak usah antar aku! aku bisa pulang naik ...."
"Apa - apaan siih kamu beib?! (dia sambil memakai helmnya) dimobil tadi itu mama ku yang sudah mau diantar sama om, jadi kamu nggak usah pikirin itu ayoo naik" Dia langsung memakai helm sambil duduk, lalu menaikan standart nya.
Sebenarnya aku ragu, karena rasa kecewa ku mulai tumbuh lagi seiring dengan ingatan kejadian disekolah membuat aku muak mengingat nya
"Nggak usah deh Ga, aku pulang sendiri aja kamu nggak usah antar! lagian ini sudah dekat. Terimakasih kamu sudah membatu aku tadi dan juga minuman nya.." kataku sambil menyerah kan helmnya.
Dengan cepat dia menurunkan kembali standar motornya dan meraih tanganku tanpa menerima helmnya,
"Kamu kenapa siiih beib, kenapa? aku salah apa kamu tiba - tiba berubah saat mau pulang sekolah tadi?? kamu sudah nuduh aku macam - macam, sekarang mau ku antar nggak mau?! Jadi mau mu apa!!!" omelnya sambil tetap duduk dimotor tapi tidak bernada tinggi justru malah bertanya lagi tentang kesalahan nya..
"Nhaaah! tangan mu sudah dingin begini, kamu ini sakit kah? ayoo aku antar dulu ke dokter ya?" Ucapnya yang tanpa jeda hingga aku tidak ada kesempatan berkata.
"Kamu tahu nggak sih kalau aku paling nggak suka dibawa ke dokter!!?" tanyaku menekan.
Wajah nya terlihat cemas terhadap ku tetapi aku malah makin jengkel, ditambah aku yang sudah malas berdebat dengannya.
kenapa sikapnya dia yang masih saja berpura - pura seperti tidak punya salah apapun setelah yang dia lakukan bersama Amira tadi siang, benar - benar membuat ku tidak habis pikir olehnya.
"Nggak Ga, aku nggak apa - apa... yaa sudah antar aku pulang!" jawabku sambil melepaskan tangan darinya, daripada ribut dijalan nanti ditonton banyak orang, jadi di iyain aja deh! pikirku
Namun dia malah turun dari motornya sambil melepas Almamater sekolah yang dia pakai, yaa aku dan dia memang satu sekolah tetapi kami beda jurusan. Dia SMK jurusan traveling jadi seragamnya lebih lengkap dibanding aku yang di SMA jurusan ipa.
"Iyaa sudah, kamu masih mau marah - marah sama aku yaa nggak apa - apa yang penting aku antar kamu dulu sampe rumah yaa, lagian ini kan sudah mau senja nanti kamu tambah sakit.." ucapan nya sambil memakaikan Almamater miliknya, dengan nada khawatir terhadap ku membuat aku tak berdaya menolak lagi.
Kemudian dia memegang kedua bahuku,
"Sudah cukup kejadian hari ini, aku nggak mau ada terjadi apa - apa lagi sama kamu, jadi aku harus pastikan kamu sampai di rumah dengan selamat..." lanjut nya
DEGH!! tiba - tiba didalam dada ku berdegub kencang, kata - katanya bagai suatu isyarat bagiku yang entah itu apa.
__ADS_1
Kemudian dia membantu memakai kan helm di kepala ku, aku yang tadinya marah malah jadi luluh terkesima dengan kata - katanya barusan.