Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#114. Perdebatan Yang Tidak Disangka


__ADS_3

Setibanya di halaman belakang rumah Dara, tepatnya dikursi santai samping kolam renang, Arga mendapati Irvan yang terlihat sedang serius membaca sebuah buku ditangannya.


Bahkan saking serius nya dia membaca, kakak angkat pacarnya itu sampai tidak menyadari kedatangan tetangga sebelah rumah yang sudah berdiri didepannya.


"Kak Irvan?" sapa Arga sambil menarik bangku didepannya.


"Eh Arga? kapan datangnya, kok aku gak liat?" sahut Irvan yang langsung tertegun dari fokusnya. Pandangan matanya yang dari tadi terpaku kearah buku, kini jadi berpaling melihat Arga yang baru saja duduk dihadapannya.


"Gimana mau lihat? orang kak Irvan serius banget bacanya! memangnya kakak lagi baca buku apaan sih?" tanya Arga yang jadi penasaran.


"Biasa, cuma buku pengembangan bisnis lokal aja kok!" jawab Irvan sambil memperlihatkan sampul buku yang ditangannya.


"Aduuuh! jujur aja ya kak, aku ini langsung pusing kalau baca buku tentang usaha atau bisnis-bisnisan kayak begitu!" kata Arga menanggapi buku yang diperlihatkan Irvan.


"Hehehe.. Ada-ada aja sih kamu Ga! bukannya kamu juga udah sering liat buku beginian, bahkan papahmu pasti pernah minta supaya kamu belajar ilmu bisnis kan?!" tanya Irvan yang bibirnya tersenyum karena merasa lucu atas kata-kata Arga barusan.


"Emang sih kak... malahan bukan cuma pernah, tetapi udah sering banget!


bahkan semenjak aku masih duduk di SMK, papah itu sudah menyuruh-nyuruh aku mendalami ilmu bisnis! apa lagi kalau dilihatnya aku lagi nggak ngapa-ngapain, udah deh pasti aku langsung disuruh keruangan kerja nya!"


"Ooh ya? Apa beliau yang mengajari kamu secara langsung?" tanya Irvan yang jadi terbesit kenangan alm.Bapak nya karena mendengar cerita Arga.


"Tergantung sikon, kalau papah lagi gak sibuk dia yang ngajarin aku langsung dan yang paling sering itu tentang usaha pemula, tapi kalau dia lagi banyak kerjaan ya palingan aku disuruh nya baca-baca buku yang kayak kak Irvan pegang itu!"


"Yaa harusnya kamu bersyukurlah Ga, karena beliau masih sehat dan juga dia sendiri yang ngajarin kamu. Kalau aku ini dulunya mana pernah belajar bisnis, jadi semuanya ku kerjakan dadakan! tau sendiri aku kuliah jurusan komunikasi, tapi karena alm.Bapak kena musibah jadi mau gak mau aku harus nerusin bisnisnya yang aku belum tau sama sekali ilmunya!" cerita pengalaman Irvan yang sedikitnya membuka pikiran Arga.


"Iya juga sih kak.. Yaaa walaupun sudah bertahun-tahun papah sering memaksa aku untuk mempelajarinya, tapi mau gimana lagi kalau memang bukan hobby ku? ya jadinya gini nih, yang nyangkut diotakku sedikit banget dan itu pun cuma garis besar pada intinya aja! Parahnya lagi, aku malah lebih cepat paham baca buku resep masakannya Dara!" Kata Arga yang lagi-lagi membuat Irvan tertawa.


"Hehehe..!! Ya-ya-ya... Aku paham kalau jiwamu itu sudah melekat di seni musik. Kalau gitu kenapa kamu nggak menekuni dunia musik aja? kan kamu mampu ngasih modal awal buat ngembangin grup band mu yang dulu, bukannya jadi tambah mengasikkan kalau hobby bisa jadi sumber pendapatan?" saran Irvan memberi masukan.


"Iya sih kak, dulu waktu SMK aku juga sempat berpikiran begitu. Tapi kan kakak tau sendiri keadaanku semenjak kecelakaan waktu itu, boro-boro mau menggapai cita-cita sesuai keinginan, yang ada hampir seratus persen kehidupan ku sekarang ini dibawah naungan kendali papah!" kata Arga memelas, dia merasa hidupnya tidak sesempurna seperti yang ada dipikirkan orang-orang yang selama ini cuma melihat dia dari luarnya saja. Irvan yang paham dengan kondisi nya pun hanya mengangguk tak mampu memberinya saran lagi.


Kemudian Arga langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka yang dirasa membosankan.


"Oiya kak, apa Dara sudah lama tidurnya?" tanya Arga yang tanpa dia sadari sudah ada Paula sedang menghampiri nya dari belakang.


Belum sempat Irvan menjawab pertanyaan Arga barusan, Paula lebih dulu menyelipkan pertanyaan untuk menawarkan sesuatu kepada dua tuan muda yang sedang santai sore itu.


"Tuan Irvan, tuan Arga, apa mau sekalian minum atau nyemil sesuatu?" tanya Paula dengan ramah.


"Aku mau coffee late saja, kalau kamu Ga?"


"Samain aja, tapi kalau saya....." belum selesai Arga bicara, Paula memotongnya.


"Hanya satu sendok gula?" sela Paula yang seketika itu membuat Arga langsung menggangguk dan melempar senyum kearah mantan perawatnya itu, dia tidak menyangka kalau Paula masih saja mengingat seleranya, bahkan sikapnya tidak terlihat berbeda sedikitpun terhadap Arga. Rasa hormat Paula masih sama ketika dia masih menjadi perawat Arga saat itu.


Setelah menerima pesanan, tentu saja Paula langsung segera pergi menuju ke dapur untuk membuatkan coffe late mereka.


Namun alangkah terkejutnya saat dia baru saja menginjakkan kakinya beberapa langkah dilantai dapur.


HAP!!


Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang dengan gerak cepat menjulur kearahnya, lalu tangan itu menarik lengan serta tubuh Paula untuk mengajak nya bersembunyi dibalik tembok dapur. Dan karena dia terkejut membuat suara Paula reflek menjadi nyaring!


"HAH SOVIA? ADA AP.. EMMP!!" buru-buru tangan Sovia menutup mulut Paula yang baru saja akan bertanya kepadanya.


"Sssstttt.... Paula, bicaranya pelan-pelan saja?" pinta Sovia yang direspon angganggukkan oleh Paula dan Sovia pun langsung menurunkan kembali tangannya dari mulut Paula.


"Sovia, ada apa?" tanya Paula dengan ekspresi bingung, dia heran melihat tingkah aneh Sovia yang sesekali mengintip ke arah samping kolam renang.

__ADS_1


"Paula, apa kamu mau membantu saya?" tanya Sovia memelas sambil celingukan ke segala arah untuk memastikan bahwa tidak ada siapapun yang melihat mereka sedang berduaan dibalik tembok tersebut.


"Apa yang kamu ragukan? kita ini kan tinggal dan makan dibawah atap yang sama, tentu saya akan selalu membantu mu semampu saya, katakan ada hal apa yang sampai membuatmu terlihat ketakutan seperti ini?" tanya Paula penasaran.


Namun pertanyaan Paula justru membuat Sovia jadi bingung harus memulai awal ceritanya dari mana.


"Iya Paula, saya tidak pernah merasa ragu terhadap mu. Maka dari itu saya hanya menemui mu untuk menceritakan masalah yang bagi saya ini sangat besar. Paula, saya memiliki sebuah rahasia penting yang membebani saya saat ini! Saya butuh masukkan dan juga saran darimu!"


"Ya Sovia tenang saja, kamu sudah menemui orang yang tepat! (sambil tangannya memegangi bahu Sovia). Berbagilah kepada saya, karena saya tidak mau kamu menangung beban itu sendirian dan percaya saya akan menjaga baik rahasia itu sampai kapan pun!" ucap Paula seraya berusaha mengurangi rasa cemas sahabatnya itu.


"Yaa saya sangat percaya kalau kamu mampu menjaga rahasia ini untuk saya!" kata Sovia yang perasaannya sudah lebih membaik dan juga mulai bangkit kembali dari kegelisahannya.


"Sovia, saya ingin sekali kamu menceritakan semua yang ada dibenak mu saat ini, tapi karena saya juga harus membuatkan minuman untuk kedua tuan muda. Jadi begini saja, bagaimana kalau kamu ceritakan itu dimeja dapur?" saran Paula.


"Oo tentu saja, ayoo! saya juga akan membantu mu!" sahut Sovia yang dengan semangat menarik tangan Paula menuju ke meja dapur yang mana disitu sudah tersedia lengkap bahan minuman juga cemilan.


Seperti yang Paula katakan tadi, bahwa dia ingin sekali Sovia menceritakan rahasia penting yang sudah membebani pundaknya. Kemudian, sambil membantu Paula membuat minuman untuk Irvan dan Arga, Sovia pun menceritakan secara terperinci inti rahasianya.


Tidak sampai sepuluh menit dua cangkir coffee late asli Eropa pun sudah siap disajikan. Selesainya mereka membuat minuman tersebut, selesai juga cerita rahasia yang dipersingkat Sovia.


"Bagaimana menurut mu Paula? apa yang sebaiknya harus saya lakukan untuk menyelesaikan dua tanggung jawab ini?" tanya Sovia yang ekspresi bingungnya masih belum hilang dari tadi.


"Yaa Sovia, saya punya solusi untuk masalah mu, tapi kamu tunggu saya sebentar disini karena saya harus mengantarkan pesanan ini dulu ke halaman belakang!" kata Paula sembari mulai mengangkat nampan dihadapannya.


"Tentu Paula. Cepat pergi, jangan buat dua pangeran disana itu menunggu terlalu lama!" sahut Sovia sembari mengangguk dan tersenyum.


Paula pun pergi meninggalkan Sovia sendirian didapur untuk mengantar dua cangkir minuman hangat itu.


Saat jarak Paula masih beberapa meter dari kolam renang, dia melihat dua tuan mudanya sedang serius bercengrama. Saking seriusnya, tidak ada satu pun diantara mereka ada yang menoleh atau sekedar melirik kearah Paula, bahkan sepertinya mereka juga tidak menyadari ke datangan perawat itu sudah berada disekitar mereka.


Dan tentunya semakin bertambah dekat langkah Paula kepada mereka, semakin jelas juga suara perbincangan mereka yang walaupun wanita itu tidak mengerti bahasa Indonesia, tetapi sedikit banyaknya dia agak paham apa yang sedang dibahas, yang sekalinya .......


"Tidak bisa! kamu itu baru pacar, belum jadi calon apalagi sah menjadi suaminya. Jadi kamu belum punya hak untuk mengatur apapun untuk Dara!" kata Irvan menepis ucapan Arga sambil meletakkan buku ditangannya keatas meja.


"Toh setelah aku lulus nanti, kami juga akan segera menikah dan dia akan ikut kemanapun aku akan membawanya!" kata Arga berusaha memperjelas status nya. Dan setelah mendengar ucapan Arga barusan, ekspresi Irvan mendadak serius seperti tidak terima.


"Apa?! Arga, kamu jangan egois seperti itu, bagaimana pun Dara masih punya keluarga, walaupun nanti dia sudah nikah pun dia tetap punya hak untuk bertemu dan tinggal bersama keluarganya! apa kamu ingat pepatah dinegara kita? kalau janur kuning belum melengkung, maka belum ditentukan jodohnya, berarti bisa saja bukan kamu jodoh untuk Dara!" sahut Irvan yang didalam hati kecilnya masih mengharap Dara menjadi miliknya.


Menyaksikan kedua tuan nya sedang berselisih paham, Paula pun hanya berbasa-basi sesingkat-singkatnya sebab ia tidak ingin terlihat berlama-lama diantara suasana tegang mereka.


"Emm... Tuan-tuan sebelumnya saya mohon maaf telah mengganggu, ini pesanan coffee late nya!" Kata Paula sembari mulai menurunkan satu cangkir kopi panas keatas meja, dan saat sadar atas kehadiran Paula, dalam sekejap mereka langsung menghentikan sejenak perdebatannya.


"Iya Paula, letakan saja disitu!" kata Arga menunjuk dengan lirikan mata kearah meja karena kedua tangannnya sedang dia lipat didepan dada.


Karena takut, tangan Paula jadi sedikit gemetar yang menimbulkan suara guncangan sendok kecil diatas lepek (lapik/tatakan gelas)


KLETIK-KLETIK-KLETIK!!


Mantan perawat Arga itu nampak terburu-buru meletakan cangkir yang kedua dari nampannya, dia merasa cemas berdiri didepan meja yang mana ada Irvan dan Arga saling berhadapan disitu.


"Terima kasih Paula!" Ucap Irvan setelah Paula berhasil meletakan dengan baik kopi pesanan mereka.


"Iya silahkan tuan-tuan, saya permisi dulu!" kata Paula yang langsung mundur sambil sedikit membungkuk lalu segera pergi kembali lagi ke dapur.


Namun, saat satu kali Paula menoleh kebelakang dan melihat kedua tuan muda tidak ada yang memperhatikan dia, langkah berjalannya pun dia tambah percepat hingga membuat napasnya jadi terengah-engah ketika dia sudah tiba didapur.


TAP-TAP-TAP!


"Hoosh..Hoosh.. Huuuft....!" suara langkah dan hela napas Paula yang terdengar sangat jelas membuat Sovia jadi curiga kalau telah terjadi sesuatu kepada Paula.

__ADS_1


"Apa yang telah terjadi padamu Paula? seperti nya sangat berbahaya!" tanya Sovia to the point dan dia langsung menghentikan gerak tangannya yang sedang merapihkan barang-barang diatas meja. Dengan penuh perhatian, wanita berambut pirang itu segera menghampiri sahabatnya yang terlihat lunglai ditepi meja tersebut.


"Hosh.. Hosh.. Tidak, sebenarnya tidak ada bahaya... Hosh..." jawab Paula yang ucapannya jadi terputus-putus karena belum selesai mengatur napasnya.


Melihat keadaan Paula seperti itu, dengan sigap Sovia mengambilkan segelas air minum untuk nya.


"Lantas, kalau tidak ada yang bahaya, lalu kenapa kamu berjalan tergesa-gesa sampai-sampai napas mu terengah-engah seperti ini?" Sovia menatap keheranan.


"Glug-glug aah (selesai minum)... Saya hanya ingin segera pergi menjauh untuk menghindari tuan Irvan dan tuan Arga yang sedang berdebat di halaman belakang sana!".


Jawaban Paula barusan tentu saja menimbulkan tanda tanya besar dalam pikiran Sovia, dia merasa ada yang ganjil mendengar ada kejadian seperti itu.


"Ooh itu tidak mungkin dan saya tidak percaya! apa kamu sedang ingin becanda Paula? bagaimana mungkin tuan Irvan dan tuan Arga bisa berdebat?" Kata Sovia yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Sovia, asal kamu tau saja, bahkan saya pun tidak akan mempercayai hal itu jika bukan karena saya telah melihat dan mendengar nya sendiri!


Tapi nyatanya semua itu memang benar-benar terjadi didepan mata juga telinga saya, mereka inilah yang telah menyaksikan nya!" jelas Paula berusaha meyakini Sovia sambil menunjuk-nunjuk mata dan telinga nya sendiri.


"Terus, apa mereka sampai melakukan kekerasan fisik?" tanya Sovia yang akhirnya percaya dan setelah itu jadi penasaran.


"Tidak, mereka tidak melakukan kekerasan fisik bahkan sekedar saling menyentuh pun tidak!" jawab Paula sambil mengelus-elus dada karena detak jantungnya masih berdebar-debar kencang.


"Kalau begitu apa yang kamu khawatirkan sampai ketakutan seperti ini? karena saya rasa mereka pun tidak akan melakukan hal rendahan!" kata Sovia yang mengingat kan kalau dua tuan mudanya itu berasal dari keluarga terpandang.


"Hmm... lagi pula, bukannya sudah menjadi hal yang biasa kalau sesama pembisnis bisa saling berdebat saat mereka menemukan perbedaan pendapat?!"


"Sovia kamu salah, mereka bukan sedang memperdebatkan masalah bisnis, melainkan tentang dimana nona Dara akan tinggal!" cerita Paula yang mengejutkan Sovia.


"Hah!! apakah mereka akan membawa nona pindah?" tanya Sovia penuh penasaran.


"Saya sendiri kurang terlalu paham dengan apa yang sedang mereka katakan, sebab mereka sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia!


Dan saat saya berada didepan meja diantara mereka, saya sangat gugup karena takut kalau membuat mereka merasa terganggu atas kehadiran saya disitu!!"


"Tapi mereka tidak melakukan atau mengatakan hal kasar padamu kan?" tanya Sovia.


"Tidak, sama sekali tidak!


Hanya saja saya sempat membayangkannya sendiri dikepala saya, bagaimana jika saja saya berlama-lama disana, lalu mereka jadi terpancing emosinya bertambah?....


Aaah tidak! bisa-bisa cangkir kopi dihadapan mereka akan melayang kearah saya!" cerita Paula dengan ekspresi tegang membayangkan hal yang sebenarnya tidak terjadi.


Setelah mendengarkan cerita sahabatnya sampai habis, Sovia yang dari tadi menghayati khayalannya Paula pun akhirnya menanggapi cerita itu dengan......


"Ppphhfftt..!!"


CUPLIKAN:


Arga : Mbak Mut, saya jadi bingung, kan di paragraf sebelumnya aku sama kak Irvan bicara santai-santai aja, kok bisa tiba-tiba langsung berdebat sih? 🤔


Irvan : Kalau aku sih nggak heran kenapa itu bisa terjadi! 😒


Arga : Lhoh emangnya kenapa kak? kan kita gak pernah ada masalah apa-apa sebelumnya! 😲


Irvan : Hah, yakin? jangan pura-pura lupa deh!😒


Arga : Emangnya ada apa sih? coba jelasin terus terang! 😬


Irvan : Malas.. pikir aja sendiri!! 😒

__ADS_1


Arga : Idih kak Irvan nih nggak jelas banget sih? udalah masa bodo!! 😑


__ADS_2