
Akhirnya hari H pun tiba, dimana Mamah, Kakek dan Irvan harus kembali pulang ke Indonesia karena mereka semua harus melakukan tugas dan kewajiban yang tidak bisa terlalu lama ditinggalkan.
(Berlin, 08:00AM)
Sebelum berangkat, semuanya berkumpul diruang tengah untuk menunggu waktu chek-in sekalian bercengrama. Tidak lupa mamah dan kakekpun saling memberikan pesan kepada Dara yang lagi lagi akan ditinggal sendiri dirumah besar itu.
"Sovia, Edward, saya titip putri saya lagi bersama kalian ya?.. Saya harap kalian betah dan bersabar selama direpotkan olehnya!" pesan bu Aina (Bahasa Inggris)
"Jangan khawatir nyonya, nona Dara sama sekali tidak pernah merepotkan kami, dia selalu membersihkan kamarnya sendiri bahkan hampir setiap hari membuat masakan enak untuk kami sampai sampai saya sering merasa malu karenanya!" cerita Sovia memuji yang membuat Irvan jadi gatel ingin mengerjainya
"Sovia kamu tidak perlu menutupi kebenaran, kalau memang ada keluhan bicarakan saja terus terang, saya sangat hapal kalau adik saya ini bersifat sangat keras kepala!" sindir Irvan sambil mencet hidung Dara yang dari tadi memeluk dirinya diatas sofa.
"Ooh tidak tidak tuan muda! tidak ada yang saya tutupi, saya sudah berkata dengan jujur!" sahut Sovia dengan menegaskan
"Ehem Irvan!! yang sedang kamu sindir itu Dara atau saya?" tanya kakek yang sekalinya merasa tersindir
"Loh kok malah jadi kakek yang tersinggung sih? aku kan lagi ngomongin Dara kek!" jawab Irvan bingung sampai dia nepuk jidatnya
"Yeehehee... peluru sindiran kak Irvan salah sasaran, tau rasa kan!" olok Dara
"Hahahaa.. Dara, Dara, justru sindirannya Irvan barusan sangat tepat sasaran, kamunya aja yang kurang peka. Kamu itukan cucu saya yang tentunya banyak sifat saya yang turun ke kamu!" ucapan kakek langsung terasa menancap didada Dara yang seketika membuatnya terperanga, mamah dan yang lainnya jadi nyengir menertawakannya.
"Sudah sudah, ayo pak, Irvan, kita berangkat sekarang?!" ajak mamah yang langsung memakai tas kecilnya.
"Kakak... Kakak gak usah ikut pulang ke Indonesia ya, disini aja temenin aku?" bujuk Dara dengan manja dan tidak mau melepas pelukannya ke Irvan
"Dek, nantikan pas tiga bulan kakak kesini lagi!" jawab Irvan dengan tatapan meyakinkan
"Tapikan itu masih lama, semenjak tiga bulan aku disini kakak baru tiga hari ini nemuin aku, itupun harus dipaksa!" sahutnya manyun sambil semakin mempererat pelukannya
"Sayang, Irvan kan banyak tugas! harus kuliah, harus kerja...."
"Tapi aku masih kangen sama kak Irvan!" Pengakuan Dara yang membuat hati Irvan jadi lirih mendengarnya.
Tanpa canggung, didepan mamah dan kakek Irvanpun langsung membalas pelukan erat Dara karena merasa tidak tega dan sebenarnya diapun masih sangat kangen sama Dara.
Lagi lagi bu Aina dibuat terharu oleh putrinya yang akan hidup sendiri dinegara ini dan lagi lagi Darapun harus merasakan berpisah dengan orang yang dia sayangi.
"Ayolah Dara, masa kamu lebih menangisi Irvan ketimbang kakekmu ini? kakek jadi cemburu nih!" kata kakek menggodanya yang seketika itupun Dara jadi malu lalu langsung menghampiri dan bermanja kekakeknya.
(Beberapa menit kemudian, didepan pintu)
"Dara, kamu gak usah antar sampe kedepan gerbang! mamah gak tega liatnya, Emuuah, emuuah! Jangan nakal ya sayang ya, mamah pulang dulu!" pesan bu Aina sambil cipika cipiki pipi Dara lalu pergi menghampiri mobil yang sudah disiapkan Arga beserta supirnya, dan tidak lama kemudian kakek menyusul.
"Jangan sampe lupa pesan pesan kakek tadi!"
"Iya kek!" jawab Dara sambil menciumnya.
"Edward tas hitam saya sudah kamu masukan kebagasi belum?" tanya Kakek ke Edward yang sedang menyusun barang bawaan mereka
"Sudah semua tuan!" jawab Edward lalu kakek masuk kedalam mobil sambil mulai menelpon seseorang.
"Dek? Kakak pamit ya..." Darapun menoleh kebelakang
"Kakak, kakak beneran mau pulang? gak nemenin aku semingguuuu.. lagi?!" tanya Dara dengan penuh harap
"Pengennya sih begitu sayang, bahkan maunya nemenin sampe kamu sembuh! Tapi Kakak ada kerjaan yang gak bisa ditinggal dan ka......" belum selesai Irvan bicara mulut Darapun langsung mendumel
"IYA KAKAK SAMA AJA KAYA PAPAH YANG GAK BISA MENINGGALKAN PEKERJAAN KECUALI AKU YANG MENINGGAL BARU KA..... Emmmp?!!..." Dengan cepat Irvanpun menarik Dara kebelakang jendela lalu mencium bibirnya supaya berhenti bicara, sontak mata Dara langsung terbelalak kaget dan tubuhnya terdiam kaku. Namun kejadian yang singkat itu hanya dilihat oleh Sovia yang kebetulan memang sedang berdiri disamping Dara.
"MASIH MAU NGOMONG SEMBARANG KAYAK GITU LAGI? KALAU MASIH AKU GIGIT BIBIRMU!!!" ancam Irvan karena kesal, dengan mata yang masih melotot kaget Darapun menggeleng geleng.
"Haaah!... Kalau gitu jangan lagi, jangan sesekali ngomong kayak gitu lagi, paham! (Dara mengangguk nurut membuat Irvan luluh), ya sudah, kakak pulang dulu dan.. Ada sesuatu dikamarmu nanti dipake ya?" Cup! mengecup kening Dara dengan penuh penghayatan lalu melangkah kearah mobil yang sudah siap jalan
__ADS_1
"Daagh sayang..!" semuanya tersenyum sambil melambai kearah Dara, dan seperti biasa Darapun terus melambai sampai mobil yang membawa mereka menghilang dari pandangan matanya yang sudah berkaca kaca.
Setelah gerbang ditutup Edward, tiba tiba Dara menoleh kearah Sovia lalu meneteskan Airmata yang sudah ditahannya dari tadi.
"Mereka sudah pergi lagi kak!" kata Dara bermaksud mengadukan rasa kehilangan yang terpendam, lalu Sovia memeluk dan mengusap punggungnya.
"Tenang nona, ada kami yang selalu disini!" ucap Sovia menenangkan. Edward yang takut kejadian tempo hari akan terulang lagipun segera bersiaga disisinya.
"Terima kasih kak Sovia, kak Edward!" ucapnya tersenyum sambil menghapus airmata yang sudah berhenti.
"Aku kekamar dulu ya!" katanya lagi dengan ekspresi terlihat sudah lebih tenang.
Darapun buru buru masuk kekamarnya karena penasaran dengan sesuatu yang dimaksud Irvan tadi.
JEGLK!!
Saat pintu terbuka dilihatnya sudah ada sebuah kotak kado seukuran bantal diatas kasurnya. Kotak kado berwarna softpink dengan pita biru melingkar diatasnya. Entah kenapa baru melihat kontaknya saja hati Dara sudah merasa damai dengan perpaduan warnanya.
Dengan hati hati dia membuka kado itu diiringi dengan senyuman tanpa henti dibibirnya.
SReeeeK!!
kadopun terbuka yang isinya ternyata sebuah teddybear cantik dengan bulu lembut berwarna lavender yang ditangannya sedang memeluk sebuah botol parfum dan juga sebuah gulungan kertas berpita. Dengan cepat Darapun segera membaca tulisan dalam gulungan kertas tersebut, yang isinya;
"Adikku sayang, maaf kalau kelakuan kakak sebelumnya sudah sangat mengecewakanmu. Kakak tidak bermaksud ingin menjauhi apalagi berpura pura tidak mengenalmu, hanya saja kakak tidak sanggup kalau harus menghadapi perpisahan setelah pertemuan seperti hari ini. Tapi kakak janji sesuai keinginanmu, setelah ini kita akan lebih sering berkomunikasi dan vidiocall.
I LOVE U Adik kesayanganku,
IRVAN."
Setelah membaca surat, Dara segera mengambil botol parfum yang dipeluk teddybearnya lalu menyemprotkan sekali keudara,
CIISSSS!!
Karena Dara lupa ingatan, diapun jadi lupa kalau sebenarnya parfum itu adalah parfum yang dipakainya juga. Jadi timbulah perasaan bingung, dia merasa entah kenapa seketika itu hatinya langsung tenang, dia merasa seperti berada ditempat yang tidak asing, merasa nyaman dan mendadak semua perilaku tentang Irvan dari awal bertemu sampai yang saat mencium bibinya tadi langsung terbayang kembali dalam ingatan yang membuat dia bahagia...
DEGDEG! DEGDEG!
Tiba tiba detak jantungnya berdebar debar debar kencang...
DEGDEG! DEGDEG!
Sebuah bayangan yang tidak begitu jelas gambarannya mulai berkelebatan dipikirannya....
DEGDEG! DEGDEG!
Suara canda tawa, suara panggilan lembut, suara tangisan manja, suara marah perhatian, teriakan histeris..... AAAH?!
.
.
(Didalam mobil)
"Dek, pasti kamu sudah lihat kadomu sekarang, aku bisa merasakannya, rasa gelisahku kini mulai berubah menjadi ketenangan dibatinku, rasa rindu yang menggebu gebu mulai menjadi semangat baruku. Aku sudah tidak peduli lagi akan menjadi sebagai apa dihidupmu nantinya, asalkan aku tetap bisa melihat dan mendengar suaramu, cukup begitu saja sudah membuat aku sangat bahagia!" gumam Irvan dalam hati sambil melihat keluar jendela.
DAAGK!! CIIIIIIIT!!
"GAWAT!! BANNYA PECAH!!" teriak panik supir yang sedang membawa mereka menuju bandara, walau panik dia tetap berusaha mengimbangi setirnya yang sudah oleng namun mobil yang mereka tumpangi sudah terlanjur keluar jalur.
"AWAS MOBIL DIDEPAN PAK!! AAAAAAaa!!" teriak histeris mamah saat melihat ada mobil melaju kearah mereka.
BLAASSH!!...
__ADS_1
Diwaktu yang bersamaan tau tau Dara merebah pingsan diatas kasurnya dengan darah yang mulai mengalir dari hidung, namun kedua tangannya masih erat memeluk boneka pemberian Irvan barusan.
(Sorenya dirumah Arga)
"Paula, dimana Dara?" tanya Arga bingung karena biasa Dara sudah ada dirumahnya setiap sore saat dia pulang kuliah. Walaupun dari minggu lalu ada keluarganya datang, tapi kebiasaan itu tidak pernah ditinggal hanya saja dia tidak masak seperti sebelumnya.
"Nona Dara dan yang lainnya (Edward dan Sovia) seharian ini belum ada datang tuan, semenjak tadi pagi keluarganya pulang mereka belum ada terlihat lagi!" jawab Paula menjelaskan
"Apa! belum ada kelihatan? (tiba tiba terbesit ingatan) Aaah jangan jangan?!.." bergegas Argapun berjalan agak cepat mendatangi rumah mewah yang dulu ditempatinya itu. Dengan rasa penuh curiga dan waswas, dia menekan bell berkali kali tanpa jeda karena tidak sabaran menunggu dibukakan gerbang.
Tidak lama kemudian, Edwardpun keluar dari rumah dan segera membukakan gerbangnya.
"DIMANA DARA?" tanya Arga to the point cemas sambil melangkah buru buru masuk kedalam rumah
"Nona ada dikamarnya tuan, dia aa....." Edward takut takut menjawab sambil agak menunduk karena ngeri duluan melihat ekspresi Arga, dan Argapun tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia fokus menuju kekamar Dara.
JEGLK!!
Saat membuka pintu kamar Dara, dia melihat pacarnya berbaring tertutup selimut dengan ditemani Sovia yang sedang duduk dikursi samping kasurnya. Rasa curigapun semakin menjadi jadi, saat dia melihat selang oksigen dalam keadaan berantakan disamping bantalnya.
"Tuan muda!" sapa Sovia yang langsung berdiri memberi hormat
"Kesini kamu!" panggil Arga mengajak Sovia keluar kamar, setelah itu menutup rapat pintu kamar Dara
"Apa yang terjadi, apa dia kumat lagi? kan saya pernah bilang kalau ada apa apa cepat hubungi saya!" tanya Arga menekan
"Maaf tuan muda, tadi kami terlalu panik sampai sampai lupa memberi kabar. Tadi pagi saat tidak lama tuan besar dan nyonya berangkat, kami mendapati nona Dara pingsan dengan sedikit mimisan. Namun siang tadi nona sudah sadar kembali, dan sekarang ini ia sedang tidur biasa karena habis minum obat, tapi karena saya masih khawatir jadinya saya menungguinya!" jawab Sovia menjelaskan. Lalu mimik wajah Arga terlihat menyesal,
"Aaah.. Seharusnya aku tidak usah turun kuliah dulu tadi!" gumam Arga sambil memegangi keningnya. "Yaa sudah, saya yang akan menungguinya sekarang, kamu boleh mengerjakan hal lain!" ucapnya lalu masuk kedalam kamar Dara
Setelah didalam kamar, Arga baru menyadari sekalinya ada boneka teddybear disamping Dara. Boneka yang memang kesukaannya dari dulu dengan warna lavender yang juga warna favoritnya, dan.....
'hmm? harum ruangan ini sudah berubah menjadi harum pakaiannya saat masih sekolah dulu!' gumam Arga dalam pikirannya, lalu ia melihat kesekeliling kamar Dara yang selama seminggu ini tidak berani ia masukinya karena ada orang tuanya, matanya tiba tiba terfokus pada botol parfum dan surat diatas meja.
Argapun menghampiri dan langsung memegangnya, tiba tiba dia baru menyadari kalau sekalinya parfum Dara dan Irvan ternyata sama yang seketika itu langsung timbul rasa cemburu dihatinya, apalagi setelah ia membaca surat dari Irvan itu, terlintas perasaan tidak enak bercampur curiga terhadap Irvan yang aslinya hanyalah tetangga Dara.
Tapi saat dia mengingat kata kata Irvan semalam, rasa curiganya langsung luntur dalam sekejap.
(Flash back)
Semalam saat Dara sudah tidur duluan, Irvan mampir kerumah Arga bertujuan ingin lebih mengenal sosok yang akan berada disisi gadis kesayangannya itu.
"Mari kak Irvan kita ngobrol ngobrol dihalaman belakang aja biar lebih santai!" ajak Arga yang Irvanpun langsung mengikutinya kearah kursi dipinggir kolam renang.
Sesaat mereka baru duduk, Paula yang muncul dari dalam rumah membawakan sebotol wine diatas nampan beserta cemilannya.
"Silahkan tuan muda!" kata Paula sambil menaruhnya diatas meja diantara kursi mereka
"Aaa... Maaf, saya tidak minum alkohol!" tolak Irvan tanpa segan
"Paula, sebaiknya lain kali kamu tanya dulu kami mau minum apa, jangan langsung dibawakan seperti ini!" tegur Arga
"Tidak Ga, tidak masalah kalau kamu memang mau minum minuman beralkoh silahkan saja, sebenarnya wajar karena kalian memang tinggal dinegara bersuhu dingin seperti ini, hanya saja saya memang tidak terbiasa, dan juga darah saya harus bersih karena takut masih dibutuhkan Dara kedepannya!" ucap Irvan menjelaskan maksudnya supaya Arga tidak memarahi anak buahnya.
"Iya kak Irvan bener, Paula tolong buatkan kami teh panas saja ya!" pinta Arga
''Baik tuan kalau gitu wine nya saya bawa masuk lagi!" sahut Paula menuruti
"Oiyaa kak, saya heran kenapa kakak gak menyebut diri kakak dengan panggilan 'MAS' didepan Dara? kalau dipanggil kakak seperti sekarang ini bukankah Dara jadi lama ingatnya?" tanya Arga penasaran
"Jujur saja, saya juga sebenarnya agak kagok dengan panggilan kakak darinya. Tapi saya pikir lebih baik dia seperti ini saja dulu, biarkan dia melupakan sejenak kesedihannya, toh apapun keadaannya sekarang dia tetap mengakui kamu sebagai pacarnya bukan? jadi apa masalahnya?"
"Iya, saya sudah menduga pemikiran kak Irvan akan seperti itu. Terlebih saya juga sudah tau kalau awal mula penyakit langkanya Dara ini terpicu semenjak kepergian saya. Kalau saja saat itu saya dalam keadaan sadar pasti saya juga akan menolak dipindahkan.." cerita Arga mengenang
__ADS_1
"Sudahlah Ga, semua itu sudah berlalu, dan tidak ada juga yang menyalahkan kamu atas penyakitnya. Bahkan kami sekeluarga sangat berterima kasih atas pengorbananmu, karena tanpa penyelamatan kamu waktu itu tentunya keadaan Dara bisa lebih parah daripada sekarang ini!" ucap Irvan yang secara tidak langsung sudah mengalah terhadap Arga atas cinta Dara