Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Firasat Buruk


__ADS_3

SHAAASH!!


Tik.. Tik.. Tik... suara cipratan air dari landasan ban mobil yang menerobos derasnya rintikan hujan diluar sana, mengiringi derasnya linangan airmata Irvan dan adik adiknya selama diperjalanan. Keadaan Dara yang melemah ditambah napasnya yang terlihat semakin pendek, membuat Irvan tak mampu sedikitpun merenggangkan dekapannya.


"Dek, kamu harus tahan sebentar lagi! kita kan sudah sepakat, kita sudah berjanji nggak akan saling meninggalkan satu sama lain, kamu gak boleh ngingkarin janjimu dek!" dengan pipi yang sudah basah, Irvan tersedu sedu mengingatkan janji mereka berdua satu setengah tahun yang lalu, dia berharap Dara mendengar dan tidak mengingkarinya.


Doni yang melihat Irvan sudah luarbiasa panikpun menjadikan dirinya juga ikut cemas ketakutan, ditambah saat dia mengingat kembali pesan pesan terakhir kakaknya tadi,


"Kak Dara! Hiks... tadi papah sudah ninggalin kita, masa kakak juga tega mau ninggalin aku sama mamah? kalau maksud omongan kakak tadi mau buang perangai karena berniat mau pergi buat selamanya aku gak akan izinin, aku gak mau nurutin permintaan kakak biar kakak gak bisa tenang! tapi kalau kakak sembuh aku janji gak akan pernah lagi ngejahilin kakak.. hiks..." ucap Doni dengan polos membujuk kakaknya agar mempertahankan rasa sakitnya membuat suasana hati Irvan jadi semakin bergemuruh mendengarnya


Tidak terkecuali dengan Reza yang baru saja punya pacar yang pastinya sedang merasakan indahnya jatuh cinta, diapun langsung ikut terbawa perasaan melihat prilaku kakaknya dibangku belakang sudah seperti sepasang kekasih yang sedang takut akan dipisahkan


"Mas Irvan didepan ada klinik 24jam, kita kesitu dulu aja kah mas?" tanya Reza yang suaranya jadi serak karna menahan tangis


"Ii..iya Za, hati hati parkirnya ya!" pesan Irvan karena adiknya belum terlalu lama bisa bawa mobil.


Dengan sangat hati hati Rezapun memakirkan mobil pas didepan klinik tersebut. Setelah mobil terparkir Irv tergesa gesa mau keluar yang padahal masih hujan deras,


"Tunggu dulu mas biar aku yang bukain pintunya!" ucap Doni sambil membentangkan payung yang sudah dia siapkan dari rumah.


JGLEK.. TAP TAP!


Dengan dipayungi Doni Irvan pun berjalan cepat membawa Dara kedalam Klinik yang dijaga satu dokter dan beberapa perawat laki laki.


"Pak tolong langsung pasangkan oksigen ke adik saya ini sudah sesak napasnya!" pinta Irvan sambil masih menggendong Dara didekapannya


"Ah iya cepat baringkan disini pak!" kata dokter jaga sambil buru buru menyiapkan selang oksigen


Setelah beberapa saat oksigennya terpasang, napas Darapun mulai terlihat normal namun mimik wajahnya masih meringis menunjukan adanya rasa kesakitan ditubuhnya.


"Dek, yang mana yang sakit dek?" tanya Irvan lirih


"Pak, tekanan darah adik bapak sangat rendah bahkan bisa dikatakan sudah diambang batas terendah, ini sudah nggak normal pak!" kata dokter tersebut menambah rasa kepanikan


"Dok kalau saya minta dirujuk ke rumah sakit Citra sekarang masih sempatkah?" tanya Irvan ragu ragu, lalu dokter tersebut moleh ke jam dinding yang menempel dibelakang meja kasir


"Iya pak bisa asalkan sampai disana langsung transfusi darah dan usahakan jangan sampai putus oksigennya ya!" pesan dokter


"Kalau gitu bawa kami pake ambulan dari sini aja pak, bisa?"

__ADS_1


"Ah iya bisa bisa, itu malah lebih aman! kalau gitu bapak silahkan urus administrasinya biar saya urus kepeluannya!" kata dokter tersebut yang langsung bergegas sibuk menulis surat rujukan.


"Reza, Doni kalian pulang aja duluan mas bawa Dara kerumah sakit pake ambulan dari disini, tapi sampai rumah gak usah bangunin mamah, nanti tunggu dia bangun baru kasih tau kalau mas sudah bawa Dara kerumah sakit Citra yang kemaren dulu ya! Dan kamu juga Za, ingat jangan ngebut, pokoknya harus hati hati soalnya kalau sampe ketangkep polisi bisa berabe!" pesan Irvan keadik adiknya


"Iya mas, mas juga hati hati ya!" pesan Reza lalu mereka pulang duluan.


NGuuiiNG!! 2x


Sirine pun dibunyikan agar ambulan yang membawa Dara dan Irvan diberi jalan saat menuju rumah sakit yang sudah ditujunya.


Selama diperjalanan Irvanpun segera menelpon Indra agar dia segera mempersiapkan keperluan transfusi untuk Dara, dan tidak lupa mengirim pesan singkat untuk Rina agar secepatnya menjenguk Dara setelah jam kerjanya nanti.


(Sesampainya dirumah sakit)


Srrreeerr! suara roda kasur rumah sakit yang tergesa gesa membawa Dara diatasnya menuju IGD pun sudah disambut Indra dari dalam, tanpa banyak tanya dan basa basi mereka langsung bersiap siap melakukan transfusi darah untuk Dara.


"Kondisimu saat ini sehat kan Van?" tanya Indra memastikan sambil mempersiapkan jarum dan selang darahnya


"Iya Dra salurkan aja darahku sebanyak yang dia butuhkan!" kata Irvan yang sudah panik tidak mampu berpikir jernih


"Sssst kamu ini, mana boleh sembarangan ngambil darah orang, mau butuh sebanyak apapun tetap ada aturannya. Udah sekarang cepetan kamu berbaring dikasur yang itu!" perintah Indra sambil bersiap memoles kapas alkohol lalu menusukan jarum besarnya yang menghubungkan dia dengan Dara melalui selang bening.


(Beberapa saat kemudian)


"Memangnya sudah cukup?" jawabnya lemas


"Belum stabil sih, tapi kalau diukur ini sudah lebih dari sekantong! Kok tau tau bisa sampe begini sih, padahal aku cek tadi sore tekanannya normal normal aja, tapi ini malah bisa habis sampe begini kayak orang habis pendarahan?" tanya Indra bingung, Irvan yang matanya mulai sayup sayup tidak mampu banyak berpikir lagi,


"Tadi, pas gak lama aku abis telponan sama kamu dan Rina, ada kejadian buruk menimpa keluarganya sampe dia gak sempat makan malam dan minum obat dari kamuu... terus tuh... aku...." melemas


"Aaah sudah sudah nanti aja ceritanya!" kata Indra ngeri melihat kondisi Irvan, kemudian cepat cepat langsung menghentikan penyaluran darahnya


"Dra kenapa dilepas.... bukannya... belum selesai?" tanya Irvan yang terlihat pusing dan bingung


"Aku tau kamu sayang sama adikmu tapi bukan berarti sampai harus membahayakan diri sendiri, dan kalau kamu kenapa napa aku juga yang bakal kena imbasnya!" kata Indra mengingatkan dengan tegas


"Tapi kan Dra...."


"Sudah cukup darimu Van, liat kondisi mu aja udah lemah gitu! dulu tubuh Dara memang pernah menolak darah dari Betrand tapi siapa tau kali ini bisa menerima dari yang lain, kita coba aja dulu ya? tolong kamu jangan egois sama dirimu sendiri!" Kata Indra yang langsung keluar dari ruangan berniat mengambil kantongan darah lain. Ditinggalkannya Dara yang belum sadar bersama Irvan yang sudah melemah diranjang sampingnya.

__ADS_1


"Apa? Darahku masih kurang...." gumam Irvan berbisik sendiri sambil menoleh kearah Dara, perlahan matanya terpejam.


.


.


.


Tit..


Tit..


"Emh.. Ibu?" panggil Irvan yang pandangan masih samar samar melihat ibunya duduk disofa.


"Eh Irvan, kamu sudah bangun nak? apa yang kamu rasain sekarang, masih pusing?" tanya ibu sambil buru menghampirinya, lalu Irvan menggeleng sedikit.


Matanya melirik keseluruh arah ruangan, dia terlihat bingung saat melihat keadaan disekitarnya yang sepi, apalagi saat melihat jam digital didekatnya sudah menunjukan pukul tiga sore.


"Aku kok disini bu, Dara mana?" tanyanya mulai cemas saat menyadari kalau diri sudah berpindah ruangan VIP sendirian dengan selang oksigen dan darah sedang mengisi urat nadinya.


"Dara, Dara ada nak kamu tenang dulu ya!" kata ibu berusaha menenangkan namun ibu sendiri terlihat gugup tidak tenang membuat Irvan jadi berpikiran negatif.


"Ibu? ibu kenapa nangis, ada apa bu, Dara baik baik aja kan? aku.." sambil berusaha melepas selang oksigen dari hidungnya


"Van jangan dilepasin Van!"


"Aku mau liat dia, aku mau ketemu dia aku....." berusaha bangkit


JGLEK KRIEET!


"Van kamu mau ngapain?!" tegur Indra yang datang tepat waktu menahan Irvan yang hampir saja mau melepaskan sendiri selang darahnya.


"Indra keadaan Dara gimana?!" tanyanya panik


"Oke oke kamu tenang dulu, biar aku jelasin kondisinya!" kata Indra sambil membaringkan tubuh Irvan yang sudah dalam posisi duduk diatas ranjang, kemudian mata Indra melirik ibu yang sedang tersedu sedu menghapus airmatanya dengan tisu.


"Ibu, kan tadi saya sudah bilang ibu jangan nangis lagi apalagi sampai terlihat Irvan!" tegur Indra ke Ibu dengan sopan membuat Irvan malah jadi tambah curiga


"Sebenarnya ada apa? Apa yang kalian mau tutupi dari saya Hah?!" tanya Irvan mulai kesal bercampur takut

__ADS_1


"Nggak ada apa apa Van, tolong kamu pasang dulu oksigenmu dan jangan dilepas sendiri, apa lagi kantong darah ini kalau kamu lepas nanti bisa pingsan lagi kayak di IGD tadi!" jelasnya.


"Aku ini dari tadi cuma mau tanya keadaannya Dara Dra, bukan mau tanya masalah selang selang ini atau hal yang lainnya! kok kalian mengalihkan topik terus, sepertinya memang ada yang lagi ditutup tutupin dari aku!" tanya Irvan blak blakan karena merasakan firasat buruk


__ADS_2