
Walaupun rasa rindu terhadap Dara sudah sangat menggebu gebu disetiap waktunya, namun saat tiba dikota Berlin Irvan menolak tawaran bu Aina yang mengajaknya tinggal serumah dengan Dara, dia takut kerinduannya terhadap gadis itu tidak bisa terkontrol yang akhirnya malah membuat dia dilema dikemudian hari bila harus berpisah lagi.
Irvanpun dengan sopan menyebutkan berbagai macam alasan penolakkannya,
'Karna cuma seminggu diJerman' dia bilang akan tinggal dirumah salah satu sahabat lamanya yang memang kebetulan ada dikota yang sama. Tanpa mencurigai apapun, akhirnya bu Aina tidak memaksa kemauan anak angkat yang sangat dipercayai itu.
Selama tiga hari berturut turut, setiap bu Aina menelpon mengajaknya jalan jalan, Irvan selalu menolak dengan alasan yang beragam, namun sekalinya Irvan yang ditemani sahabatnya itu selalu memantau dari jauh kemanapun Dara pergi.
(05:30pm, dikaffe)
"Van, kamu kok dari kemaren cuma ngintip ngintip aja sih? kenapa gak ikut rekreasi sama keluargamu?" tanya Roy salah satu sahabat satu TIMNAS-nya dulu.
"Gak apa apa, aku gak mau ganggu adikku sama pacarnya!" jawab Irvan sambil ngopi
"Ganggu pacaran? memangnya kamu ini kakak atau pelakor, sama adik sendiri kok takut ngeganggu?" tanya Roy keheranan
"Susah kalau diceritain dari awal, yang jelas aku cuma mau dia bahagia!" jawab Irvan berusaha tegar melihat kebersamaan Dara dan Arga didepannya.
"Kamu sebenernya suka kan sama dia? dia kan bukan saudara sedarahmu, jadi gak masalah dong kalau memang kamu mau deketin dia!" saran Roy
"Kalau dia memang lebih bahagia seperti ini biarin aja, aku lebih baik ngalah daripada melihat dia menanggung sakit seperti dulu!" gumam Irvan sambil melamun. Dalam lubuk hatinya, Irvan sangat tersiksa karena ingin sekali bertemu Dara secara langsung, namun karena gadis itu juga sedang tidak ingat kepadanya jadi percuma aja ditemui, pikirnya.
Besoknya setelah melakukan beberapa test dirumah sakit, Irvan yang sedang serius bertelponan dengan sekretaris dikantornya tidak fokus melihat jalan, begitu juga dengan Dara yang tidak menghiraukan orang disekitarnya saat sedang asik ngobrol dengan Arga yang menemaninya chek up.
BUG! SRAAAK...!
Tangan Irvan yang sedang memegang beberapa lembaran kertas hasil testnya, tidak sengaja bersenggolan dengan bahu Dara yang saat itu tanpa sadar mereka berpapasan dikoridor rumah .
"Aaah maafkan saya Tuan!" ucap Dara dalam bahasa Inggris yang langsung berjongkok buru buru memunguti kertas yang berserakan tersebut disusul Irvan yang juga langsung membungkuk.
"Tidak apa apa biar sa......" DEGDEG DEGDEG!! dalam sekejap Irvan tersadar saat mendengar suara gadis dihadapannya itu, dia segera menolehkan kepalanya kearah laki laki yang berdiri tepat dibelakang gadis itu. Sontak Argapun terperanga melihat sosok yang selama ini membuat Dara penasaran karena lupa akan wajahnya.
Awalnya tangan Arga sudah menjulur berniat ingin menyentuh Dara bermaksud memberi tau kalau orang yang dihadapannya itu adalah orang yang selama ini dia tanya tanya, namun dengan cepat Irvan memberi kode dengan gelengan kepala yang membuat Arga jadi mengurungkan niatnya.
"Ini tuan!" kata Dara sambil menyodorkan, namun baru sekilas melihat, Irvan langsung merebut kertas ditangan Dara sambil membalik badannya lalu tergesa gesa pergi menjauh tanpa kata kata.
__ADS_1
"Orang itu kenapa ya beib, apa dia marah sama aku?" tanya Dara yang tangannya belum sempat diturunkan
"Emm.. mungkin dia lagi buru buru.." jawab Arga yang juga bingung
Sesampainya dirumah Dara,
"Uuh orang itu...aku kan sudah minta maaf!" dumel Dara saat baru masuk kerumah
"Hey anak gadis kok masuk kerumah bukannya ucapin salam malah marah marah?" tanya bu Aina keheranan
"Tadi itu loh mah, pas dirumah sakit akukan gak sengaja nyenggol tangan orang terus kertas ditangannya berhaburan, ya aku sadardiri langsung aku pungutin. Tapi dia langsung pergi begitu aja tanpa ngomong sedikitpun, udah ah aku gerah!" keluh Dara kesal, lalu pergi kekamarnya untuk mandi
Arga yang daritadi cuma diampun akhirnya mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena sudah lama dia juga penasaran dengan sikap Irvan yang sama sekali tidak mau menampakan diri didepan Dara. Bu Aina juga sebenarnya bingung dengan sikap Irvan yang seperti itu, padahal Irvan dan Dara adalah dua orang yang paling gak bisa jauh sebelumnya kecuali, kalau ada sesuatu diantara mereka misalnya Irvan marah atau sebaliknya.
"Waktu itu sih alasannya cuma karena dia nggak mau menekan ingatan Dara yang bisa membuat penyakitnya kambuh mendadak, kan kamu tau juga kalau Irvan dan Dara sudah dari kecil selalu bersama, kebiasaan mereka sudah seperti saudara kandung pastinya sudah banyak banget kenangan diantara mereka berdua. Tapi masalahnya, Irvan sendiripun belum diperbolehkan untuk mendonor darah dalam waktu dekat ini, jadi mau gak mau harus menghindari hal yang memicu ingatan Dara cepat kembali, karena kalau sampe kembali dalam waktu dekat, takutnya dia syok lagi... ya kamu tau sendiri kan akibatnya?!" cerita bu Aina
"Pantesan aja sampai ngirim fotonyapun dia gak mau, Huuuft... Kalau kayak gitu alasannya ya masuk akal juga sih tan, aku juga akan melakukan yang hal yang sama kalau ada diposisi dia saat ini!" sahut Arga menanggapi
'Padahal tadi aku sempat lihat matanya kak Irvan sudah berkaca kaca pas dihadapan Dara, pasti dia udah kangen banget sama adik angkatnya itu!' gumam Arga dalam hati.
BLAAM!!
Dengan tergesa gesa Irvan masuk kekamar yang disediakan sahabatnya. Melihat sikap Irvan yang tidak biasa, Roy pun segera masuk menghampiri Irvan yang sedang melamun ditepi kasur.
"Kamu kenapa Van?" tanya Roy ragu ragu
"Kamu sakit?" Irvan pun menggeleng
"Aku barusan ketemu sama Dara dirumah sakit." jawabnya datar
"Yaa bagus dong, jadi kamu gak perlu lagi kucing kucingan sama dia! tapi kenapa kamu malah murung?" tanya Roy bingung
"Aku cuma kepapasan aja, gak sampe ngomong apapun!" jawab Irvan dengan tatapan kosong
"Astaga Van!! kalau cuma kepapasan kenapa sampe galau begini? asli...sahabatku yang satu ini nggak jelas banget kelakuannya, kalau memang mau kamu kejar ngomong aja, pasti aku bantu!" kata Roy berusaha menyemangati
__ADS_1
"Makasih Roy, tapi gak perlu, aku lebih senang liat dia seperti sekarang ini" sahut Irvan tambah kaku
PUKPUKPUK! Roy menepuk pelan bahu Irvan sambil mulai melangkah keluar kamar,
"Yaa terserahmu aja deh, tapi kalau perlu apa apa cepat ngomong ya! atau kita jalan jalan aja nanti sore gimana? kan kamu disini cuma tinggal tiga hari lagi, masa mau disia sia'in waktunya?" Irvan cuma mengangguk sambil tersenyum tipis menanggapinya
Setelah Roy keluar dan menutup pintu, seketika itu airmata Irvan mulai berjatuhan dilengannya. Dia tidak kuat menahan tumpukan kerinduan yang sudah sangat menggebu gebu dihatinya. Dia terus membayangkan rambut Dara yang sudah dihadapannya tadi, rasanya ingin sekali memeluk dan menciumi gadis kecilnya itu.
Tiga bulan baginya sudah terlalu lama tidak melihat Dara, tidak mencium wanginya, tidak berbicara langsung dengannya, tidak becanda, menyentuh dan membelainya.
"Mas kangen banget sama kamu dek, mas kangen! hiks..." gumamnya sambil menangis dan geram sendiri
(08:00PM, dikamar Dara)
"Kamu sekalinya dikamar sayang, Arga mana?" tanya bu Aina yang tiba tiba masuk kekamar dan mendapati putrinya sedang duduk diranjang
"Arga besok masuk pagi mah, jadi dia mau cepat istirahat katanya. Aku juga sudah ngantuk, soalnya tadi abis minum obat resep baru. Oiya mah, kak Irvan mana sih? masa saking sibuknya sebentar aja gak sempet ketemu aku? aku kan penasaran kayak apa orangnya!" curhat Dara
"Iya, mamah juga udah berkali kali minta dia datang, tapi yaa kayak apa? selama disini juga dia sambil ngurus kontrak kerja, jadinya setiap abis dari rumah sakit langsung kerja dan pulangnya pasti malem!" alasan bu Aina
"Sibuknya dia kayak papah ya mah? jadi dirumah Indonesia pun aku memang jarang ketemu sama dia?" tanya Dara yang lupa akan kebenarannya. Melihat ekspresi Dara mulai murung, bu Aina pun buru buru mengalihkannya.
"Hhmmm... Oiyaa tadikan kamu bilang ngantuk, kalau gitu kamu cepat istirahat ya biar besok fit lagi! mamah juga mau nulis resep dulu sama tante Laurent, emuuah!" kata bu Aina sambil mengecup rambutnya
"Kakek dimana mah?" tanya Dara berniat menahannya
"Kakek... dia dihalaman belakang lagi ngebahas kerjakan sama yang lain, udah yaa mamah takut ditungguin tante Laurent!" jawabnya lalu segera keluar dari kamar.
"Aaaah..!" Darapun merebahkan tubuh. Namun saat baru mulai memejamkan mata, tau tau sosok pria yang bertabrakan dengannya tadi muncul dalam pikiran dan tanpa sebab membuatnya hatinya langsung gelisah.
"Cowok aneh tadi itu.... padahal aku cuma sempat melihatnya sekilas, tapi kok rasanya kayak pernah kenal lama ya? apa mungkin karena dia berwajah asia jadinya gak asing diliat?" gumam Dara sambil mengingat ingat wajah Irvan yang kurang jelas.
"hmm.. tapi pas kecium wangi parfumnya itu aku suka banget, aromanya bikin aku merasa akrab, coba aja orangnya gak ngeselin, pasti tadi udah langsung aku tanyain merk parfumnya, Hihii..!" tanpa sadar Dara tersenyum senyum sendiri saat membayangkan kembali orang yang sebenarnya sedang dia tunggu tunggu.
*Gimana perasaanmu?
__ADS_1