
"Udah yuk kita masuk dulu! alasan lukamu itu gak akan ketemu temu jawabannya kalau dipikirin terus mending kita langsung hadapin aja, kadang ide omongan itu kita bisa dapat secara spontan kalau pas ketemu sama orangnya langsung!" ajak Adhi sambil mulai membuka pintu
"Ada benernya juga tuh kata kak Adhi biasanya memang gitu, ayoo kak Irvan!" sahut Amira yang menyusul Adhi dari belakang dan akhirnya Irvanpun terpaksa ikut juga masuk kedalam walaupun diotaknya belum ada bayangan ide sama sekali untuk alasan lukanya.
Dalam ruang IGD,
Dara yang sedang berpelukan dengan mamanya tiba tiba terpaku saat melihat Irvan datang menghampirinya membuat mereka berdua jadi saling memandang satu sama lain, rasa greget dihati Irvan seketika muncul saat mengingat kejadian tadi membuat tatapannya jadi agak sinis kepada gadis lugu itu.
Namun saat Irvan sudah berdiri tepat disamping ranjang Dara, tiba tiba Dara langsung menundukan pandangannya tak berani meneruskan melihat mata Irvan yang semakin tajam menatapnya, bibir dan tanggannya bergetar seolah olah sedang bersampingan dengan binatang buas yang siap menerkam.
'Segitu menakutkannya kah aku?' gumam Irvan dalam pikirannya saat melihat jari jemari Dara yang bergetar
"Dek, kam......" mendengar suara Irvan yang mulai menegurnya, Darapun dengan sangat sangat cepat langsung memotong bicaranya
"Mas maafin aku!! a, aku kemaren udah bohongin papah, aku, aku memang bilang mau jalan sama Amira yang padahal aku udah janjian sama kak Betrand dikampus soalnya dia bilang pertemuan ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pindah, jadi aku nurutin permintaannya!" ucapnya
Bagai dihipnotis, Irvan yang tadinya mau marah tiba tiba sajan emosinya luntur dalam sekejap setelah mendengar pengakuan gadis yang pertama kali disukainya itu.
"Iya sudah, tapi janji yaa ini bener bener yang terakhir dan nggak ada lain kalinya apapun alasannya?!" pesan Irvan sambil mengusap rambut yang sedang mengangguk kepadanya.
Dengan mata bulat dan bibir yang tipis, Darapun mulai mempertanyakan kejadian yang terjadi padanya. Dan akhirnya semua pertanyaan yang sudah diprediksipun satu persatu benar benar keluar dari mulut Dara yang untungnya mereka yang berada disitu sudah mempersiapkan dan sangat kompak menjawabnya, membuat Dara yang lugu itupun langsung saja mempercayai karangan cerita dirangkaian keluarga dan temannyq tadi, namun saat pertanyaan yang satu itu tiba:
"Terus mas Irvan kenapa bahunya kok diperban?" tanya Dara yang sontak mengalihkan semua pasang mata tertuju pada Irvan, karena untuk pertanyaan yang satu itu memang belum didiskusikan jawabannya.
Irvan yang saat itu juga bingung akhirnya membuat alasan dadakan,
"A, aduh kebelet!! sebentar ya aku mau ke toilet dulu!" kata Irvan yang langsung keluar dari ruangan itu membuat orang yang sedang menunggu jawaban darinyapun jadi saling menatap kebingungan.
'Semuanya maaf ya aku bukan niat mau melarikan diri, tapi lidahku memang tidak begitu lihai untuk berbohong! terserah kalian mau jawab apa pertanyaan Dara barusan, nanti aku tinggal ikuti aja alurnya!' gumam Irvan sambil berjalan menuju meja perawat untuk melapor kalau Dara sudah bangun, yaa masalah ketoilet tadi memang cuma alasan aja untuk menghindar.
Setelah mereka berdua diperiksa ulang,
Irvan yang diluar tadi sudah kompromi sama dokter agar tindak menyebut lukanya disebabkan tembakan,
"Dok, saya sudah lebih sehat, kalau boleh saya mau rawat jalan aja karena lebih tenang kalau istirahat dirumah!" kata Irvan meminta izin
Karena Dara juga tidak mengalami sakit atau luka yang serius, akhirnya dokter mengizinkan mereka pulang subuh itu juga.
'Huuftt... akhirnya pulang juga, aku beneran nggak betah lama lama dirumah sakit!' gumam Irvan bersyukur diizinkan pulang
"Van, kamu pulang ikut sama papah aja yaa, biar mobilmu nanti diantar sama jasa pengiriman, gimana?!" tanya papa khawatir yang langsung disetujui Irvan karena diapun merasa bahwa tangannya juga memang masih keram,
Dan dia juga tidak berniat ikut sama Adhi yang harus mengantar Amira terlebih dulu kerumahnya mengingat kondisi Amira saat ini juga sangat tidak memungkinkan untuk berkendara sendiri dijarak sejauh ini.
Selama diperjalanan pulang,
Sesekali mata Irvan melirik kearah gadis yang duduk disebelah kirinya, dalam benaknya dia sangat penasaran dengan jawaban keluarga mereka tadi mengenai luka bekas tembak dibahunya.
'Kira kira pertanyaan Dara tadi dijawab apa ya, tapi nggak mungkinkan mereka jawab jujur? soalnya kalau sampai jujur pastinya malah menimbulkan pertanyaan baru dari Dara yang lebih merepotkan! Tapi, dari tadi Dara nggak ada negur ataupun membahas lukaku lagi? tumben, biasanya kan si cerewet ini selalu kepo dan heboh anaknya! tapi baguslah, justru kalau dia tidak membahasnya lagi lama kelamaan juga pasti bakal lupa, lebih baik aku tanya sama yang lain aja nanti.' pikir Irvan sambil memandangi keluar jendela
Sepuluh menit kemudian,
__ADS_1
"Mas-mu sudah tidur sayang?" tanya mama dari bangku depan
"Iya mah, sudah! tadi tumben dia gak marah marah? biasanya kan dia itu lang...." jawab Dara takut takut
"Ssssstt.... dia nggak marah bukan berarti nggak perhatian sama kamu, tapi ingat janjimu kalau nggak akan mengulang hal seperti tadi dan jangan bahas lukanya!" pesan mama
"Iya mah aku ingat!" sahut Dara dengan nada penuh penyesalan sembari menoleh memandangi sepasang mata yang sedang terpejam disamping kanannya.
Rasa lelah Irvan sangat nampak dari paras wajahnya yang terlihat kelabu, bagaimana tidak? dari pagi sampai sore pekerjaan kantor sudah mengikat seluruh pikiran dikepalanya, dan setelah pulang bukan istirahat yang dia didapat melainkan suatu kejadian panik yang memaksa pikiran dan tenaga terakhirnya terkuras habis karena harus menghadapi seseorang yang hampir saja merusak gadis kesayangannya, jadi wajar aja kalau kini dia sudah lemas kehabisan energi!
'Aku janji, setelah ini aku akan jadi anak penurut! maafin aku mah, pah, ibu, teman teman, terutama pahlawanku, mas Irvan!' gumam Dara dalam hati sambil menggenggam erat tangan Irvan yang ada dipangkuannya.
.
.
(Paginya didapur rumah Irvan)
"Loh bu, kok banyak banget makanan diatas meja nih?" tanya Irvan yang terkejut saat melihat meja makannya dipenuhi beragam makanan
"Iya, tadi pagi pagi sekali Dara yang antar, katanya dari pulang dari rumah sakit gak bisa tidur lagi jadinya dari subuh dia sengaja buat banyak kue buat sarapan terus mengantarnya separuh kesini!" jawab ibu menjelaskan
"Hmm boleh juga nih, jadi diBandung nanti gak perlu repot repot cari sarapan setiap pagi heheee!" gumam Irvan sambil nyengir sendiri
"Apa Van?" tanya ibu yang kurang jelas mendengarnya
"Aaah nggak, nggak apa apa bu, enak, rasanya enak semua ini!!" jawab Irvan mengalihkan sambil camat cimit, dia nggak berani berterus terang kalau ingin menjadikan Dara sebagai kokinnya, sebab ibu bisa ngomel kalau tau wedoknya akan dia manfaatkan nantinya
"Inget kata Dokter, mulai hari ini kamu istirahat total dulu sampai lukamu bener bener sembuh!" kata ibu mengingatkan
"Urusan itu biar ibu yang nanganin, nanti sisanya yang memang perlu tanda tanganmu biar ibu minta Johan antar kesini, pokoknya kamu harus fokus sembuh dulu, dan jangan lupa setelah obatnya habis kamu segera cek lagi tulang bahumu yang retak itu!"
"Iya Bu..." sahut Irvan mengalah yang tidak mampu membantah perintah atasannya.
"Oiya Van, kemaren siang om santoso (sahabat alm.bapaknya) nelpon lagi, dia nanyain kapan kamu keJawa buat ketemuan sama anaknya?"
"Uhuk, uhuk! Uhuk!"
"Aduh Van pelan pelan makannya!" kata ibu sambil menuangkan air
"GLEG, GLEG, GLEG, Aaah!!
Bu tolong jangan bahas itu dulu, kan ibu tau sendiri aku sebentar lagi mau ngelanjutin kuliah, jadi mana sempat mau mikirin perempuan?! apalagi umurku aja masih dibawah dua lima tahun, aku sama sekali belum ada mikirin punya istri!" jawab Irvan dengan berbagai alasan
"Apa salahnya kalau cuma kenalan terus tunangan? biar om Santoso juga gak nagih nagih terus, lagian ibu juga nggak mau kalau sampe terlalu tua baru nimang cucu!" kata ibu mulai mendesak
"Kalau memang jodoh gak kemana bu! sudah aah bu masa pagi pagi kita ngebahas beginian, ibu tolong sampaikan aja sama om Santoso kalau aku belum sempat keJawa buat ketemuan sama anaknya, soalnya aku lagi fokus sekolah sama kerjaan dulu!" sahut Irvan menolak secara halus
"Namanya juga ibu mengharap Van, habisnya sampai saat ini kamu kan belum pernah menunjukan tanda tanda suka sama perempuan, jadi wajarkan kalau ibu jadi khawatir sama selera kamu!" kata Ibu sambil mengunyah
"Khawatir? ibu khawatir apa maksudnya nih?" tanya Irvan curiga
"Yah takutnya aja anak sulung ibu ini jiwanya tidak suka perempuan!" jawab ibu menyindir santai
__ADS_1
"Aaah ibu ini! aku masih normal bu, tenang aja, nanti kalau sudah tiba waktunya aku bakal bawa pacar perempuan kehadapan ibu, yaah itupun kalau dia nerima sih, heheee!" kata Irvan percaya diri namun kurang yakin dikalimat terakhir
"Lho emangnya kamu sudah ada naksir perempuan Van? sudah kamu tembak, cantik gak, tinggalnya dimana, bisa masak gak, bla..bla..blaa?" tanya Ibu antusias
"Ibu nanyanya banyak banget, jadi bingung mau jawab yang mana, apapun pendapat orang tentang dia buat aku dia sangat manis nggak bosen dilihatnya, walaupun sering ceroboh, pemarah, pelupa, tapi selalu ngangenin, bahkan belakangan ini sering bikin aku pengen selalu deket sama dia, hmm tapi sayangnya pas aku coba ngutarakan perasaanku tahun lalu entah dia sengaja nolak atau memang nggak paham dengan kata kataku, tapi waktu itu juga kondisi dan suasana hatinya memsng lagi kurang bagus siih jadi aku pikir kalau nanti ada kesempatan bakal aku coba lagi nembak dia!" curhat Irvan sambil memandangi makanan diatas meja
"Emangnya kalau kelamaan gak keburu diambil orang apa? Yaa sudah kalau gitu, setidaknya sekarang Ibu merasa sedikit lega setelah denger kalau bujang ibu ini ternyata masih normal diantara adik adiknya (Reza dan Yudha sudah punya pacar)! tapi inget ya Van kalau sampe selesai kamu kuliah S2 dan masih belum juga dapat pacar, itu artinya kamu memang harus segera ngelamar anak om Santoso!" kata ibu menekan kan
"Iya bu iya, aku kekamar dulu ya mau minum obat!" sahut Irvan sambil melangkah kearah tangga
'Aaah tuh kan, sampe lupa mau tanya masalah tadi malam tentang jawaban apa yang mereka katakan sama Dara mengenai alasan lukaku! ibu sih pagi pagi udah bahas anaknl orang, bikin aku pengen cepat cepat menghindar aja, padahal lidahku masih pengen makan kue buatan Dara lagi, huhuuuu!' merengek dalam hati
Setelah minum obat Irvan berencana mengisi waktu pagi yang biasanya berangkat kerja jadi hanya membaca buku dibalkon kamarnya, namun baru saja hendak duduk tiba tiba pandangannya terfokus pada kursi diseberang kamarnya itu, yaa apa lagi kalau bukan kursi dibalkon kamar Dara!
'Anak itu ngapain, masa pagi pagi tidur disitu?!' gumamnya heran
Karena dilihatnya ada bungkusan obat diatas meja samping Dara membuat Irvan berpikir kalau mungkin saja Dara tertidur setelah minum obat, lalu iapun melanjutkan rencana baca bukunya.
(satu setengah jam kemudian)
PROOK (menutup buku)
"Uaaagh! mataharinya mulai naik jadi semakin panas deh diluar sini!" kata Irvan sambil merenggangkan pinggang lalu beranjak dari duduknya,
"Loh kok Dara masih tidur disitu sih?" gumamnya kebingungan sampai mengerutkan alis
Diapun segera menyusun kembali buku ditangannya keatas rak kemudian pergi mendatangi Dara yang membuatnya curiga barusan.
Sesampainya dirumah Dara dia sempat memergoki papa dan mama sedang berselisih paham didapur yang seketika langsung saling diam saat melihat Irvan datang
"Mah, pah, ada apa?" tanya Irvan bingung karena semenjak papa pulang mereka berdua sering ribut kecil.
"Nggak ada apa apa Van, mama berangkat dulu ya?" pamit mama
"Loh mamah mau ketoko, kan semalam belum istirahat?" kata Irvan
"Mamah bisa istirahat ditoko (kamar khusus), tolong sambil liatin Dara ya Van, soalnya tau sendiri selain kamu siapa lagi yang bisa diandalkan dirumah ini!" ucap mama menyindir keras kepapa yang pastinya membuat papah tersinggung dan suasanapun jadi semakin tegang
"Iya Van tolong jagain Dara, papah mau tidur dulu!" sahut papah yang langsung beranjak pergi kekamarnya
Irvan berdiri diantara mamah yang melangkah keluar sedangkan papah sudah naik kelantai dua, mereka berdua membuat irvan linglung sampai sampai lupa tujuan utama datang kerumah itu.
"Astaga, Dara!" dia pun berlari menaiki anak tangga menuju kekamar Dara.
'Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi dirumah ini, bukankah keluarga ini selalu harmonis sebelumnya?' gumam Irvan sembari perlahan menghampiri Dara yang benar benar masih tertidur dikursi balkon kamarnya.
Karena tidak tega membangunkan diapun ikut duduk dikursi satunya sambil memijit mijit kening karena pusing, lalu sejenak termenung memilirkan kembali kejadian tadi karena dia masih tidak percaya dengan apa yang saksikannya.
'Baru aja hitungan jam kami semua pulang kerumah, kok tau tau sekarang sudah timbul yang baru lagi? padahal masalah yang ada belum selesai sekarang sudah mau timbul masalah baru lagi! kapan sih selesainya?' Dumel Irvan dalam hati sambil menyandarkan tubuh kebelakang.
.
.
__ADS_1
"Mas, mas Irvan bangun?" panggil Dara yang tau tau wajahnya muncul dihadapan Irvan yang sontak membuat Irvan kaget bukan kepalang.
"Aaah! Aaaw aaw Aduh!!" teriaknya saat bahunya yang luka tersenggol sendiri dengan sandaran kursi