
Tapi...
Disisi lain hati kecilku justru berkata lain:
"Dara! coba kamu ingat, kamu pikirkan baik - baik! bukankah apapun yang mas Irvan lakukan selama ini untuk kamu dan tujuannya selalu baik? dia pasti punya alasan tertentu menyuruhmu pindah dari kampus itu! nggak mungkin kalau cuma alasan sepele dia sampe mau ngorbanin sekolahmu, bukan sifat dia banget yang kayak gitu! apa salahnya cuma pindah kampus? toh selama hubunganmu sama Amira baik - baik saja pasti dia bakal ngasih tau kalau ada kabar tentang Arga, iyakan?!" gumamnya
Beberapa saat dia termangu memikirkan kata hatinya barusan, rasa bimbang seolah seimbang didalam kalbu antara pindah dan tidak, namun ada bagian yang akhir yang memberatkan salah satu dari rasa bimbangnya itu.
Tanpa pikir panjang lagi dia langsung berubah pikiran yang tadinya kesal sama Irvan, justru sekarang berlari ingin mendatangi Irvan yang tadi sudah dia tinggalkan dalam keadaan sakit.
TOK - TOK - TOK!
"Masuk aja!" sahut ibu dari dalam kamar Irvan
JEGLEK! pintupun terbuka pelan
"Eh ndok?!" sapa ibu yang kaget melihat Dara datang setelah tadi ribut kecil dengan Irvan
"Mas Irvan gimana, sudah mendingan?" tanya Dara basa - basi namun tak berani mendekat saat melihat ekspresi Irvan yang masih kaku terhadapnya
"Sini ndok, ngapain disitu! Aduh ibu sampe lupa sama wedangnya keburu dingin deh, ibu panasin ini dulu ya Van?!" kata ibu sembari mengangkat cangkir
"Tunggu buk!!" ucap Irvan menahan
"Itu si Dara mau ngapain lagi sih kesini?!!" tanya Irvan yang tiba - tiba ketus, sontak mata Dara terbelalak mendengarnya, hati yang sudah luluh terasa seperti tertusuk panah ucapan barusan.
Dara yang tadinya berniat ingin mengabarkan kalau dirinya akan menuruti permintaan Irvan, dalam sekejap langsung terperanjat bisu saat melihat dan mendengar ucapan sinis Irvan barusan, karena baru kali ini Irvan berkata kasar seperti itu padanya!
"Aa.. aku... a..." bibirnya bergetar hanya tak mampu berucap, dan wajahnya seketika memucat. Semua kata - kata yang sudah dirangkainya tadi kini tersapu bersih oleh kalimat Irvan barusan.
"HAHAHAA!! kenapa mukamu dek, mas becanda aja, hahahaa sini!" ucapnya santai sambil menepuk kasur, dia tertawa lepas merasa puas mengerjai adik polosnya itu
Namun Dara yang terlanjur syok tetap diam terpaku sambil meremas remas baju bagian dadanya lalu tiba - tiba meteteskan airmata yang mewakili perasaan kagetnya barusan, kemudian terlihat mulai oleng dan seketika itu......
"DARAA!!" Irvan pun melompat dari kasurnya segera menangkap Dara
KLETAK!!
Tangan ibu langsung bergetar saat meletakan kembali cangkir wedang.
"ADUH VAN KAMU INI! cepat bawa dia kekasur, ibu ambilkan minyak angin dulu!" dumel ibu gregetan
"Dek, adek bangun dek, mas becanda aja!" panggil Irvan berusaha membangunkannya
"Kamu ini Van,, Sudah tau dia masih trauma, kenapa kamu ngerjain emosinya?!" lanjut omelan Ibu sembari duduk dikasur lalu dia mengoleskan minyak angin kebeberapa bagian Dara
"Memangnya dia belum pulih buk?" pertanyaan Irvan yang sontak membambah rasa kesal ibu.
kemudian dengan mata keheranan ibu memperhatikan Irvan dari atas kebawah.
"Pertanyaanmu barusan itu ibu nggak salah dengar? Biasakan sebelum ngomong tuh dipikirin dulu betul - betul!!
Bukannya sudah dua tahun inipun kamu masih merasa sakit hati sama Prisil?
masih terus terbayang alm.bapakmu?! apalagi Dara yang baru ngalamin tiga bulan lalu!!" ucap ibu menjelaskan sekaligus mengingatkan masa - masa suram Irvan yang membuat dia langsung terdiam dalam sekejap.
"Iya buk, maaf aku salah.." ucapnya menyesal
"Minta maaf sama Dara kalau dia sudah bangun! Huuuh, jangan diganggu, sekarang biarin dia istirahat dulu, mungkin dia juga kecapean kan tadi pulang kuliah langsung kesini!" kata ibu sembari turun dari kasur
"Entar kalau dia bangun kasih tau ibu ya, ini wedangnya ibu panaskan dulu na...."
"Nggak usah buk, sini biar aku minum aja, yang namanya jahe biar dingin tetap hangat!" Ucap Irvan lalu menegak habis wedang tersebut.
"Yaudah, kamu juga istirahat situ, ibu kebawah dulu mau nonton tv, nanti kalau perutmu sudah nggak mual lagi langsung makan ya?!" pesan ibu
"Iya buk!" kemudian Irvan langsung berbaring disamping Dara.
Sebelum menutup pintu, sejenak ibu memperhatikan mereka berdua yang berbaring diatas kasur,
"Aaah cepatnya! mereka berdua dari kecil memang sudah selalu bersama, dan kini tidak terasa waktu sudah menumbuhkan mereka beranjak dewasa!" gumam ibu dalam hati
__ADS_1
(IRVAN) Tengah malamnya:
"Sudah bangun dek, apa masih sakit?" Tanyaku yang memang dari tadi berbaring ausah menunggui dari sampingnya.
"Kok aku disini mas?" Tanya baliknya sambil terus menatapku, dan tak lama kemudian mimik wajahnya berubah sedih
"Mas Irvan...." mulai merengek
"Ssssstt! Mas tadi mau ngerjain aja, maaf yaa? mas janji nggak lagi - lagi becanda kayak begitu!" kataku berusaha menenangkannya.
Kubelai rambut halusnya sembari menyesali kesalahan yang telah ku ulang lagi dan lagi!
Yaaa, Ini bukanlah pertama kalinya aku bercanda keterlaluan padanya, awalnya aku selalu menganggap sepele ingin mengerjainya tapi sekalinya aku selalu salah waktu dan keadaan.
Tadi tidak lama saat ibu menutup pintu aku segera menelpon dokter Rina yang aku percayakan menangani masalah Dara, dan setelah aku ceritakan kejadian tadi Rina pun juga menasehatiku :
"Van, usahakan hindari kejadian ataupun perkataan yang bisa mengguncang emosinya, sekarang ini perasaannya masih sangat sensitif, dia butuh dukungan dan semangat supaya dia bisa cepat move on! paham?!" Pesannya via telpon
Seketika itu aku langsung lemas karena sejak sore tadi aku sudah beberapa kali membuat dia menangis!
'Haduuuh, gawat!!' gumamku
*(ckckck!! Bang Irvan lagi, bang Irvan lagi yang bikin masalah, terlalu usil sih!
Irvan: DIAM!!)
"Mas, ini jam berapa?" tanya Dara yang terlihat masih linglung
"Jam dua pagi dek, kenapa, sudah lapar kah?"
"Hah? jam dua malam maksudnya?" tanyanya lagi meyakinkan
"Iya sayang... memangnya kenapa sih? makan dulu yuk? dari tadi perutnya udah bunyi - bunyi terus loh!" bujukku
"Aah mama?!" sebutnya sambil beranjak
"Heey!" tanganku menariknya hingga dia terjatuh pas diatas dadaku dengan posisi berpelukan
"Terus ibu sekarang mana?" tanyanya sambil kedua bola mata imutnya menatapku
DEGDEG!!
"I.. ibu? ibu yaa... ya sudah tidur!" jawabku gugup, 'aduh, aku ini kenapa merasakan debaran seperti ini lagi saat bersamanya?" tanyaku sendiri
"Loh kok, Mas Irvan?!" tatapan imutnya berubah terkejut
"Ada apa dek?!" tau - tau dia menempelkan telinganya kedadaku membuat aku semakin begetar
"Detak jantung sama napasnya mas kenceng banget! suhu badannya juga masih panas! udah minum obat? aku kompresin ya?" tanyanya beruntun namun aku diam sejenak karena tambah gugup,
"Aa.. anu.. mas cuma lapar, belum makan!" jawabku ngasal
"Ya ampun, kok jam segini belum makan? yuuk aku temenin!" katanya
"Iya, tadi tunggu adek bangun!" sahutku, kemudian kami berdua turun ke dapur untuk makan bersama.
'Aku pernah menanyakan masalah ku ini sama Rina, dan dia bilang kalau ada yang bikin hati sering berdebar saat bersamanya dan gelisah saat jauh! berarti aku ini sebenarnya sedang jatuh cinta sama orang itu.
Aaah! Perasaan konyol apa aku ini? kenapa aku bisa merasa begini cuma sama dia? padahal keseharianku semenjak masih sekolah sampai sekarang sudah terbiasa dekat sama wanita, bahkan dikantorpun pegawaiku banyak yang cantik, tapi satupun tidak ada yang bisa bikin aku berdebar kayak gini! tapi justru anak kucing ini malah...
Aku memang sangat sayang sama dia, dan Rina bilang cinta itu bisa tumbuh dari mana saja, bahkan bencipun bisa jadi cinta!
Apa dia punya rasa yang sama terhadapku?
Aduuh! apa boleh aku tanyain sama dia ya? terus kira - kira dia marah nggak ya? tapi kalau nggak ditanya aku jadi penasaran, karena baru pertama kalinya aku memiliki perasaan ini!' kataku dalam hati saat sambil makan
"Dek, mas mau nanya, ap....."
"Sssstt! Nanti aja abis makan kita bahas lagi! aku janji bakal kasih jawaban yang memuaskan!" katanya tiba - tiba
"Apa? emangnya adek tau mas mau tanya apa?" dia langsung tersenyum dan mengangguk
'Hah! apa jangan - jangan saat dia mendengarkan suara debaran jantungku tadi, jadinya dia sudah paham apa yang sedang aku rasakan?! bisa jadi sih, diakan pernah pacaran, pastinya dia sudah lebih berpengalaman daripada aku! tapi jawaban memuaskan apa yang sudah dia siapkan, apa dia..... jangan - jangan dia sama aku juga....... Aaaah! benarkah?'
__ADS_1
Uuhuk! uhuk!!
"Loh mas? ini cepet minum!" menyodorkan segelas air
"Aduuh, mas ini kok makan sambil melamun, mikirin apa sih?" tanyanya sambil mengusap - usap punggungku
"Nggak ada, mas cuma pengen cepat selesai makannya, nggak sabar denger jawaban kamu!" kataku
"Dasar mas nih, jujur banget!" sahutnya sembari meneruskan makannya.
Selesai makan kamipun duduk berdampingan disofa ruang tamu, aku yang sudah tidak sabar mendengarkan jawaban memuaskan yang dia janjikan tadipun sudah bersiap memasang telinga dan mengatur napasku agar bisa terkendali. 'Apa dia benar - benar sudah tau pertanyaan yang belum aku katakan? apakah dia benar - benar tau artinya debaran jantungku saat bersamanya?' berjuta pertanyaan sudah menumpuk diotakku
"Ayoo dek ngomong, katanya mau kasih jawaban!" kataku mendesaknya
"Beneran nih, mas udah siapin mental belum?" tanyanya bikin makin penasaran
"Iya sudah! cepetan!!" kataku mulai gugup
"Jawabannya.... IYA, AKU MAU MAS!!" ucapnya
Telinga ku baru saja mendengar sebuah ungkapan kata "MAU!" yang membuat aku tentunya tidak langsung percaya sekaligus tidak yakin dengan itu.
"Aa.. apa? ka... kamu MAU dek? apa kamu yakin, kamu, kamu percaya sama mas?!" tanyaku meyakinkan, yaa tentu saja debaran jantungku semakin kuat hingga jari jemariku terasa dingin
"Iya mas aku mau, aku percaya dan yakin sama mas, toh selama ini apapun yang mas lakukan semuanya demi kebaikan ku, jadi mana mungkin aku ragu sama permintaan mas?!" ungkapnya
"Permintaan?"
"Iya permintaan, permintaan mas yang tadi sore yang masalah aku pindah kampus, aku sudah pikiran baik - baik, dan aku percaya mas punya alasan kuat akan hal itu yang pastinya buat kebaikan aku juga! iya kan?"
Seketika akupun langsung tersadar kalau sekalinya dia memang tidak tau masalah debaranku yang tentunya jawaban yang dia maksudkan ini sudah meleset dari harapanku yang lain, tapi bukan berarti aku tidak senang, tentu aku merasakan apa yang dia bilang tadi, yaitu memuaskan!
"Jadi rencananya kapan mau pindah?" tanyaku datar
"Kenapa mas? kok nggak semangat, mas nggak senang aku kasih jawaban ini?" tanyanya
"Aah, siapa bilang! justru mas seneng banget sampe bingung mau ngomong gimana!" kataku sambil berusaha tersenyum
"Tapi senyumnya maksa gitu? Yaudah aku gak jadi pindah deh!"
"Aaaaah jangan - jangan! adek harus tetap pindah, kemanapun dan apapun syaratnya nanti mas yang bantu urus, ya?! adek mau kekampus mana?" tanyaku
"Naah justru aku memang nggak punya pilihan mas, aku dikampus F itu aja cuma ngikutin Amira, yaa karena siapa tau nanti ada kabar mengenai Arga!" jawabnya
"Jadi tujuanmu kuliah disitu cuma karena mau tau kabarnya Arga?!"
"Iya mas!, mas pasti sudah diceritain sama mamah atau Kiki kan tentang Amira dan Arga yang sekalinya bersaudara?!"
"Iya sudah!" jawabku melemas, namun aku tidak mau patah semangat jadi aku nekat menanyakan perasaannya padaku
"Dek, dimata adek, mas ini sebagai apa? apa... apa adek ada perasaan khusus sama mas?" tanyaku ragu - ragu
"Sama Mas Irvan maksudnya?! mas ini kenapa, kok nanya gitu sih?" matanya melotot melihatku membuat aku langaung khawatir kalau dia akan marah
"Mas, denger ya! sampai kapanpun mas itu termasuk salah satu orang terpenting dalam hidupku, biarpun mas itu sebenarnya cuma tetangga tetapi sudah seperti, ayah, kakak sekaligus teman kecil buat aku, dan perasaan khususnya itu.... aku juga bingung gimana mengungkapkan, pokoknya aku sayang banget sama mas! jadi kalau semua itu digabungin jadinya seperti......"
"Sudah - sudah, mas sudah paham maksudnya!" kataku
'Entah kenapa rasanya aku agak kecewa saat mendengar pengakuannya barusan, demi mengetahui kabar Arga dia rela masuk kekampus yang sebenarnya bukan tujuan dan pilihan hatinya, ternyata begitu kuat ya rasa cintanya pada Arga, sedangkan aku ini apanya? setinggi - tingginya rasa sayang dia padaku tetap saja terbatas pada seorang yang bukan kakak kandungnya melainkan hanya seseorang tetangga dekat atau lebih tepat adalah teman dari kecilnya,
Mungkin aku hanya terlalu berharap yang aneh - aneh dan yang tidak mungkin padanya hingga rasa sakit ini langsung muncul saat mengetahui kenyataan ini!'
"Mas? mas Irvan kok melamun?!"
"Aah nggak, mas cuma lagi mikirin kira - kira kamu cocoknya masuk dimana ya yang sesuai sama hobby dan keahlianmu?" kataku mengalihkan topik
"Hmm daripada pusing kalau nyarinya dadakan, mending pelan - pelan aja mas, aku juga nggak enak sama Amira kalau langsung pindah begitu aja, biarin aku masuk satu semester dulu disitu jadi enak cari alasan nanti!" usulnya
"Bener juga, tumben pinter!" kataku sambil tersenyum tipis dan mengacak - acak rambutnya
"Aach mas ini, rambutku nanti kusut!" dumelnya lalu menepis tanganku
"iih tangannya mas kok sekarang panas banget, padahal tadi dingin loh! pasti kepalanya mas lagi pusing banget ya?" pertanyaannya langsung menyulutkan luka dihatiku yang rasa sakitnya melebihi sakit dikepalaku ini.
__ADS_1