Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
.86. Menjaga Kepercayaan


__ADS_3

"Nggak, aku nggak mau sampai ada kata kata penyesalan lagi dikemudian hari, aku harus menemui dia apapun yang akan terjadi, aku akan tanggung resikonya walau harus benar benar berkorban jiwaku sendiri. Setidaknya, sekarang ini jangan sampai membuat dia merasa kurang perhatian dan kesepian lagi!"


Setelah membulatkan tekat, akhirnya Irvan mulai membuka pintu kamar tersebut dengan sangat pelan.


Dengan ditekan perasaan gugup yang menggebu gebu, pintu yang terbuka semakin lebar itupun memperlihatkan redupnya lampu didalam kamar tidak sama sekali mengahalangi wajah manis sesosok gadis yang sedang terlelap diatas kasurnya, dia terlihat bagai seorang putri tidur yang ada didalam cerita dongeng.


Walau ragu tapi pasti,


Kaki ini mulai mendekati,


Rasa was was tak terelaki,


Namun rindu harus terobati.


Bagai syair tak bertemu ujung,


mengukir awan yang terus mendung,


Hati ini tak kuat lagi membendung,


Jika mataku akan selalu termenung.


Walau kedua lutut sudah lemas bergetar,


tapi tidak sedikitpun membuat gentar,


Aah.. sudah berapa lama aku bersabar,


meratapi nasib hatiku yang selalu hambar.


Kini, Irvan sudah berdiri disamping ranjang Dara, namun dia tidak berniat duduk diatas ranjang tersebut, dia tidak ingin gadis manisnya itu jadi terbangun karenanya.


Sambil berlutut ditepi ranjang, dengan sangat hati hati Irvan meraih lalu menggenggam pelan tangan kecil itu, sesekali iapun mengecupnya dengan lembut.


Rasa gugup gemetar membuat tangannya semakin mendingin, badai rindu selama tiga bulanpun tak terbendung lagi. Setetes demi tetes airmata mengalir mengiringi suasana haru dalam hatinya, dia menangis sambil medekapi tangan yang lebih kecil darinya tersebut, dalam dada sesaknya dia terus berkata kata :


"d,dek... mas, mas kangen... kangen banget sama kamu dek hikhiks..." bisiknya.


Airmata semakin deras mengalir berjatuhan atas dijari jarinya, namun dia tetap menahan suara dalam tenggorokan karna dia sama sekali tidak ingin Dara sampai terbangun, karna dia sadar kalau dia tidak akan sanggup lagi menjauh apabila sampai melihat bola mata imut gadisnya itu.


Maka dari itu mumpung Dara masih tertidur, Irvanpun tidak berniat lagi untuk bermalam disitu, perlahan dia melepaskan genggamannya karna ingin segera pergi. Namun sebagai penutup rasa tidak enak hatinya, dia meninggalkan sebuah pesan diatas selembar kertas yang bertuliskan:


"Dara adikku... tadi saya datang menjenguk saat kamu sudah tidur, tapi maaf saya tidak tega membangunkanmu dan maaf juga kalau untuk malam ini saya belum bisa bermalam ditempatmu, tapi mungkin besok atau lusa sebelum saya pulang ke Indonesia saya akan menjengukmu lagi.


Salam Irvan."


Saat menulis surat itu hatinya hancur, karena sebenarnya dia tidak akan datang lagi, dia berniat melepaskan Dara demi kesehatannya, dia rela menanggung rasa rindunya sendiri, karena dia pikir dengan berjalannya waktu Darapun akan lupa dan dengan sendirinya akan berhenti menanyainya kelak.


Disamping bantal dia selipkan surat itu. Tidak mau berlama lama menyiksa batinnya dikamar Dara, Irvanpun memberi kecupan perpisahan sekaligus kecupan terakhir, dia berpikir karena saat ini Dara sudah berbahagia dengan kekasih yang selama ini memang hanya Argalah yang selalu dihatinya, walaupun keadaan Dara saat ini sedang tidak ingat, tapi pasti cintanya akan lebih besar lagi keArga saat dia ingat semuanya kelak. Jangankan harapan untuk jatuh cinta, bahkan menyentuh tangannya pun sudah tidak bisa, pikirnya.


"Selamat malam dan selamat tinggal sayangku..." bisiknya, CUP!


Senyuman tipis diraut wajah sedih mengantarkan dia berbalik badan menuju kepintu keluar.


TAP TAP TAP!

__ADS_1


"Tunggu!!" (baru memegang pintu)


Tiba tiba sebuah panggilan menghentikan langkah kakinya, sebuah panggilan yang sangat dia kenal suaranya.


'DA..DARA?' gumamnya terkejut. Mendadak suasana ruang berubah hening. Rasa gugup Irvan tambah menjadi jadi, dia tidak tau apa yang sedang dilakukan ataupun dipikirkan Dara saat ini, karena dia hanya berdiri kaku dihadapan pintu tanpa berani menoleh sedikitpun


GLUG...


(beberapa detik sebelumnya, Dara)


'Hmm... harum ini? harum ini seperti tidak asing bahkan sangat akrab, tapi dari mana asalnya?' Dara tersadar kalau bau harum yang diciumnya itu bukannlah dari mimpi,


SREK! seketika terbuka matanya, dia terkejut saat melihat punggung seseorang sedang melangkah pelan pelan menuju kearah pintu keluarnya, sontak bibirnya langsung berucap menghentikan langkah orang tersebut. Buru buru Darapun memiringkan tubuhnya karena ingin bangkit, namun tak sengaja melihat kertas pesan yang Irvan tulis barusan yang saat itu juga langsung dia baca.


SNIIFT!! (terisak)


" Ternyata ka,kamu..kamu kak Irvan?" tanya Dara sambil menggenggam erat kertas itu lalu bergegas turun dari ranjangnya.


TAP TAP.. GREB!!


Tanpa banyak pikir Dara langsung berlari dan memeluk lelaki itu dari belakang. Irvan yang masih diam kaku karena kaget, hanya bisa pasrah karena terlanjur ketahuan.


"Kamu tega! kamu ini kakak macam apa? mana ada kakak yang mengatakan 'menjenguk' kepada adiknya yang sedang sakit, apa itu pantas, hah?!" tanya Dara kesal


Irvan ingin sekali menyebut namanya dengan sebutan "Mas" tapi entah kenapa lidahnya kelu karna Dara terlanjur memanggilnya kakak.


"Ka,ka... kamu kenapa bangun Dara?" tanya balik Irvan pura pura tegar


"Jangan mengalihkan topik! jawab dulu pertanyaanku barusan!" bentak Dara yang masih memeluk erat Irvan bermaksud menahannya.


"Kamu sudah baca suratnya ya? kalau gitu nggak perlu dijawab lagi kan? kan jawabannya ada disurat itu!" kata Irvan datar, dimasih berusaha menutupi perasaannya dengan pura pura cuek


"Kakak, kamu itu yang tadi siang dirumah sakit kan? kamu itu yang aku tabrak dan kertasnya berjatuhan kan?" sontak mata Irvan terbelalak mendengarnya


"Bukan, kamu pasti salah orang!" jawab Irvan membantah


"Nggak, aku nggak salah orang, mataku nggak buta! bahkan aku mencium wangi parfum yang sama dan sosok punggung yang sama! ditubuhku mengalir darahmu, tentu aku bisa merasakan kehadiranmu." kata Dara,


Seketika raut wajah Irvan berubah sedih... Hiks,hiks..!!


dengan cepat dia berbalik badan dan segera membalas pelukan Dara.


"Maaf, maafin kakakmu ini sayang!" Ucap Irvan sambil mendekap


"Kakak jahat, kakak jahat!" puk,puk,puk! rengek Dara sambil memukul mukul dada Irvan dan diapun pasrah dengan pukulan Dara yang tidak terasa sakit baginya, tapi justru suara cengeng Dara itulah yang menusuk hatinya.


Akhirnya Irvan tidak mampu lagi menahan kerinduannya, dia memeluk sambil menciumi rambut gadis dihadapannya itu. Berulang kali dia kecup gemas kening dan pipi Dara tanpa mengingat lagi kalau Arga sudah kembali. Saking bergejolak rindu, hampir saja Irvan mencium bibir Dara yang sudah basah karena linangan airmatanya.


"Kakak bohongkan kalau selama ini sibuk sampai gak sempat nemuin aku?"


"Sudah yaa... kamu gak usah tanyain itu lagi sekarang, dan, kertas ini juga sudah gak berguna jadi mending dibuang aja!" tangan Irvan langsung merebut, mengucel lalu melempar surat buatannya ketempat sampah samping meja.


"Kakak aku...." sempoyongan


"Kamu abis minumkan tadi, pasti masih ngantuk, ayoo sana kembali tidur!" perintah Irvan sembari menyorong

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mau tidur, nanti kakak pergi lagi!"


"Nggak, kakak nggak bakal pergi lagi sekarang!"


"Kalau gitu temenin aku! mamah bilang kakak yang sering nemenin aku kalau aku lagi sakit, tapi kayaknya mamah udah bohongin aku!" kata Dara sambil menarik tangan Irvan menuju ke kasurnya lalu mereka duduk bareng


"Kok kamu bisa bilang begitu? mana mungkin mamah bohongin kamu!"


"Buktinya dari aku mulai dirawat sampe sekarang, kakak nggak ada kan datang nemuin aku? walaupun sekedar videocall aja gak pernah, dan jauh jauh datang dari Indonesia ke Jerman sini malah menghindari aku, kakak macam apa itu? kakak sama kayak papah!" ucap Dara memarahinya.


Mendengar ucapan Dara barusan perasaan Irvan terasa bagai disambar petir, bagaimana tidak? dengan sangat jelas dia mendengar sendiri kalau Dara telah menyamainya dengan seseorang yang saat itu telah memicu penyakitnya jadi kritis.


"Nggak, nggak, nggak.. aku nggak kayak gitu!" bantah Irvan sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Ya sudah kamu kembali tidur besok pagi kita kerumah sakit bareng ya? sekarang kakak mau ke......" TAP,TAP,TAP! baru saja Irvan hendak beranjak, tau tau dengan cepat Dara berlari kepintu lalu menguncinya yang kemudian kuncinya itu dia kantongi yang tentunya membuat Irvan jadi kaku kebingungan.


"Kakak gak boleh kemana mana lagi, pokoknya aku bangun tidur kakak harus masih ada disampingku!" pinta Dara


"Ta, tapi dek kenapa sampe pintunya dikunci? na,nanti orang jadi salah paham sama kita gimana? Ayoo sini kuncinya!" pinta Irvan gugup sambil menghampirinya.


"Nggak mau! Kakak ini aneh, masa orang bisa salah paham kalau kakak adik tidur sama sama, ngomong aja yang jujur kalau kakak memang gak mau nemenin aku, kakak memang gak sayang sama aku, kakak sama kayak papah!" Sahut Dara ngambek seperti anak kecil.


'Aduh gawat!... biarpun kami memang sering tidur bareng tapi nggak pernah sampe ngunci pintu segala, apalagi saat ini ada kakek Sultan juga disini, diakan gak terlalu tau kebiasaan kami yang dari kecil kayak gimana!' gumam Irvan dalam hatinya.


Tuuut!! klik


"Halo Van?"


"Mamah, mamah tolongin aku mah, aku dikunciin Dara dikamarnya dan kuncinya dia kantongin!" pinta Irvan panik sambil berdiri didepan pintu, dia memperhatikan Dara yang dengan santainya berjalan kembali keatas ranjang lalu berbaring


"Hahaha... memang kenapa?" tanya mamah yang malah menertawakannya


"Dia bilang takut aku kabur jadi harus bermalam dikamarnya sedangkan........."


"Iya mamah tanya sama kamu, memangnya kenapa? bukannya dari dulu kalian memang sudah biasa tidur bareng bareng?" tanya mamah yang sekalinya tidak menganggapnya serius


"I,iya mah... ta,tapikan nggak pernah sampe ngunci pintu kayak begini! nanti kalau sampe yang lain salah paham gimana, dan aku harus menjelaskan seperti apa ke kakek Sultan kalau dia sampe tau kalau aku tidur sekamar sama cucunya? mana ada temenku lagi nungguin diruang tamu!" curhat Irvan karena ketakutan


"Apa yang kamu takuti Van, mamah sangat percaya kalau kamu tidak akan melakukan hal buruk sama Dara....."


"Aku tau mamah percaya sama aku dan aku sangat berterima kasih untuk hal itu, tapi bagaimana yang lainnya, apa mereka akan berpikiran sama kayak mamah?"


"Oowh ternyata itu masalahnya, kamu tenang aja, ini mamah lagi diruang tamu sama kakek dan juga temanmu!" jawab mamah dengan santai


"Hallo Van?"


"Ah Kakek? aa,aku....."


"Kamu kira mentang mentang saya jarang keSamarinda terus saya gak tau kebiasaan kalian dari kecil? Saya sudah liat kamu tumbuh besar bersama Dara, dan kalau Aina saja sebagai ibunya sangat mempercayai kamu, jadi apa alasan saya tidak percaya kamu, bagi saya sekarang ini yang penting Dara sehat dan bahagia. Terlebih kamu adalah orang yang sudah beberapa kali menyelamatkan hidup cucu saya itu, bahkan saya belum sempat mengucapkan terima kasih secara pribadi sama kamu!" kata kakek Sultan menenangkan


"Terima kasih, terima kasih atas kepercayaan kalian, saya berjanji akan menjaga kepercayaan itu!" ucap Irvan terharu. Setelah dia menutup telponnya, Irvan pun mulai mendekati Dara yang ternyata benar benar sudah kembali tidur.


"Dasar gadis nakal, hampir aja kamu bikin aku mati ketakutan!" gumam Irvan sambil melepas mantelnya lalu berbaring disamping Dara.


Walau sedikit kecewa karena Dara tidak ingat kalau dia selalu memanggilnya dengan sebutkan mas, tapi setidaknya perasaan Irvan sekarang ini jadi lega, bahkan kecemasan yang dia takutkan selama tiga bulan terakhir ini sekalinya sia sia saja. Dara benar benar tidak mengingat apapun lagi, semua informasi yang dia ketahui hanyalah cerita dari mamahnya.


Sambil terus membelai rambut Dara dihadapannya, Irvan tidak bisa tidur karena masih tidak menyangka kalau malam ini dia bisa kembali melihat pujaan hatinya sekaligus mendapat kepercayaan yang belum tentu pacarnya dapatkan.

__ADS_1


Tiga hari berturut turut mereka tinggal bersama, jalan jalan bersama walaupun sorenya Dara bergandengan dengan Arga, tapi mereka tidak saling curiga, karena satu hal yang Dara belum tau kalau sebenarnya Irvan itu bukanlah kakak kandungannya.


__ADS_2