Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#98. Sesukanya


__ADS_3

Besok paginya saat tidak lama Arga berangkat kuliah, Ibu tiri Arga hanya membawa Dara, Sovia dan Edward untuk menemaninya pergi shoping.


Sesampainya dimall, tidak sengaja mereka bertemu dengan teman teman ibu tiri Arga yang katanya baru saja tiba dari Amerika.


Dilihat dari penampilan mereka yang keren dan elegan, sudah sangat terlihat jelas kalau mereka ini dari kalangan menengah keatas.


Dan tentunya tidak ketinggalan, selain saling menyapa mereka juga saling cipika cipiki bertukar pipi.


"Hmm.. Ini, siapa?" tanya salah satu tante yang daritadi memperhatikan Dara yang dikawal perawat dan bodyguardnya. (Dalam bahasa Inggris)


"Ini Dara, dia pacarnya Arga yang di Indonesia!" jawab si Ibu tiri memperkenalkan Dara dengan suara nyaring yang membuat semua mata tertuju padanya.


Namun entah kenapa, pada saat ibu tiri Arga mengatakan kata "Yang diIndonesia", tiba tiba saja terdengar seperti mengganjal ditelinga Dara.


Dan sampai pada akhirnya Dara berjabat tangan dengan seseorang gadis bernama Lucy yang berkulit putih, bertubuh tinggi darinya, rambut coklat, dan warna bola mata yang juga cerah, pokoknya dia terlihat sangat sempurna sampai sampai Darapun jadi minder karena kecantikannya.


"Ya ampun, kamu seperti barbie!" tanpa ragu Darapun langsung memujinya, lalu tiba tiba ibu tiri Arga memegang kedua pundak Lucy seraya memamerkan gadis itu dihadapan Dara.


"Looh memangnya Arga belum pernah cerita tentang Lucy ya?" tanya ibu tiri Arga dengan senyuman lebar, dan dengan polosnya Dara langsung menggelengkan kepala.


"Sebelum Arga daftar kuliah diJerman, Lucy inilah yang menemani dia selama dia masih sakit diAmerika. Karena saking deketnya, mereka ini sempat pacaran dan bahkan sudah hampir bertunangan looh! cuma, kata papahnya Arga nanti aja kalau Arga sudah lulus kuliah baru dibicarakan lagi!" kata ibu tiri Arga menjelaskannya dengan lempeng seperti sedang berbicara dengan orang lain.


"A,apa? tu..nang..an?" JLEGER!!


Dalam sekejap tubuh Dara bagai membatu ditengah badai petir. Dan saat Lucy melihat ekspresi kaget Dara, diapun segera membantah pernyataan tersebut :


"Ah tidak tidak! aku memang dekat dengan Arga tapi status kami hanya sebatas teman biasa!" ucapnya karena tidak enak dengan Dara


"Aah.. Lucy ini suka rendah hati deh, tapi kamu tenang aja Dara, selagi Arga belum tamat kuliah, dia masih boleh kok kalau cuma berpacaran dengan siapapun, termasuk sama kamu! iya kan?" kata ibu tiri Arga tanpa menjaga perasaan Dara. "Ya udah yuk, kenalannya kan besok lagi pas diacara, mendingan sekarang kita cari pakaian dulu buat kamu!" ajaknya tanpa merasa beban, Darapun mengangguk sambil tersenyum berusaha menutupi rasa kecewa dihatinya.


Sepanjang jalan ia terus memikirkan kata kata ibu tirinya Arga tadi, dan dia juga mengingat ucapan Arga yang pernah mengatakan kalau selama ini belum pernah dekat dengan wanita lain manapun. "Jadi, yang mana yang benar?" tanya Dara dalam hati


Sovia dan Edward yang setia dengan Arga, daritadi mereka hanya berpura pura menurut kepada ibu tiri Arga karena bertujuan demi menjaga Dara agar tetap aman.


Ditoko pakaian:


"Mmm... kamu kan badannya kecil, jadi, kayaknya kurang cocok kalau pakai gaun yang panjang!" kata ibu tiri Arga sambil memilah milih pakaian untuk Dara. "Nah, model kayak gini nih yang cocok buat kamu, coba dulu gih!" perintahnya sambil menyodorkan gaun mini berwarna magenta.


Dara yang dari tadi melamun tidak berkomentar apapun dan langsung meraihnya, namun justru Sovia yang langsung menghalanginya.


"Maaf nyonya, bukan maksud saya mau menentang atau tidak menyukai pilihan nyonya, tapi kondisi fisik nona kami tidak memungkinkan untuk berpakaian terbuka yang bisa membuatnya kedinginan!" kata Sovia sambil tangannya menahan Dara yang hendak ke Vitingroom.


"Kok kamu yang cerewet? Dara nya aja diem kok! lagian kan bisa dikombinasikan dengan jaket!" sahut ibu bermuka dua itu lebih mengeras membuat Dara jadi serba salah kalau sampai mereka berkelahi ditempat umum seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Ee... nggak apa apa kak Sovia, kan aku juga baru mau nyoba dulu, gaun secantik ini belum tentu cocok sama badanku yang kecil begini!" kata Dara tersenyum lebar karena takut menyinggung keduanya


Tidak sampai lima menit Darapun selesai mencoba dan langsung membuka tirai untuk memperlihatkan hasilnya ke ibu tiri Arga, Sovia dan juga Edward.


"Mmm, kayaknya yang itu memang kurang cocok soalnya dadamu terlalu kecil!" kata si tante bawel sambil mata dan tangannya mencari cari model lain.


Hingga hampir dua jam mencari dan mencoba berbagai warna dan model, akhirnya Dara mendapatkan satu gaun yang paling pas dengan tubuhnya. Gaun berbahan sutra putih tanpa banyak corak ataupun renda, dengan satu pita di pinggul dan hanya sedikit terbuka dibagian bahunya yang membuat dirinya terlihat seperti peri yang baru menetas dari kuncup teratai, bahkan Sovia yang seorang wanitapun sampai hampir tak berkedip melihatnya apalagi Edward yang umurnya setara dengan Irvan yang tentunya masih satu selera saat memandang wanita.


"Okeh, kita ambil yang ini untuk kamu pakai besok, dan yang biru sama yang merah itu juga cantik buat kamu, jadi diambil aja ketiganya!" kata si tante sembari tangannya menunjuk nunjuk kemudian ia berjalan menuju meja kasir dan langsung mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya.


"Tante biar saya aja yang bayar sendiri!" kata Dara karena sungkan


"Apa bedanya uang saya dan Arga, jadi kamu anggap aja kalau ini semua Arga yang beliin, iya kan?" Darapun menurut karena takut menyinggung


"ii,iya.. Makasih tante!"


"Sudahlah, yuuk sekarang kita tinggal cari sepatu sama aksesorisnya lagi, pasti belum ada juga kan?!" ajaknya lagi tanpa terlihat lelah sedikitpun


"Apa nona sudah lelah?" tanya Sovia agak cemas


"Nggak kak, kayaknya aku merasa ini seperti hal biasa!" jawab Dara


"Ooh ya? apa mungkin saat diIndonesia kebiasaan nona juga suka belanja?!" tanya Sovia menebak nebak becanda


Sesampainya ditoko sepatu, ibu tiri Arga hanya menanyakan ukuran kaki Dara saja lalu setelah itu dia tidak ada lagi bertanya apapun misalnya, suka model yang seperti apa, mau warna apa ataupun kesanggupan tinggi haknya semana,


"Edward, bawa ini!" tau tau dia langsung menyodorkan tiga kotak sepatu ke Edward bermaksud menyuruhnya menentengkan.


Dara dan yang lainnya sama sekali tidak tau sepatu seperti apa yang sudah dibungkuskan untuknya itu. Namun karena ingin menghargai pemberian ibu dari pacarnya itu, Dara pun tidak berani bertanya atau berkomentar apapun kepadanya.


Dan kini mereka semua sedang mengikuti si tante ketempat tujuan akhir, yaitu toko Aksesoris!


"Aah!.. tu,tunggu tante?" panggil Dara karena bingung, tante sexy itupun menoleh dan menghentikan langkahnya yang hendak masuk kesebuah toko perhiasa mewah


"Tante katanya mau carikan aku aksesoris dulu?"


"Memang iya, ya disini tempatnya!" jawab si tante yang ikut bingung


"Ii,ini kan toko perhiasan tan? yang har...."


"Looh memangnya aksesoris yang kayak gimana yang kamu mau? ditempat tante dan semua teman teman tante yaa rata rata memakai perhiasan seperti ini aksesorisnya. Disesuaikan dong sayang, kamu ini kan bukan anak orang susah! bahkan alm. kakekmu saja sudah banyak menyisihkan hartanya untuk kamu bukan? masa mau pakai barang KW?!" ucapnya menegaskan status ekonomi, tapi tidak tau kenapa Dara agak tidak senang saat mendengar kata kata yang mengungkit ungkit harta, apalagi saat kata kata itu sampai menjurus menyombongkan diri.


Yaa, tapi, lagi lagi Dara tidak mau mengecewakan tante yang dari tadi sudah rela repot repot membelikan bayak barang untuknya. Dan saat ditanya mau model yang mana Darapun jadi tidak berani memilih karena takut memboroskan uang keluarga Arga.

__ADS_1


"Terserah tante aja, saya rasa apapun pilihan tante pasti cantik!" kata Dara berusaha menyenangkannya yang akhirnya dipilih kan lah satu set anting dan kalung putih untuknya.


"Ini pasti cocok banget sama gaun yang tadi!" kata tante itu dengan mata berbinar binar kagum


Setelah mendapatkan semua barang yang dicari, ibu tirinya Argapun mengajak mereka makan ke restaurant termewah dimall itu.


"Sebelum pulang kita makan dulu, jadi pas sampe rumah bisa langsung istirahat, oke?" ajaknya yang langsung diikuti oleh semua.


Saat mereka menunggu pesanan datang, Darapun mulai bertanya tanya karena keheranan.


"Mmm.. tante, kata tante pestanya kecil kecilan aja, tapi kenapa begitu banyak barang yang tante belikan untuk saya? dan semua barang barang ini adalah barang mewah, jujur saja selama ini saya sendiri belum pernah berbelanja sampai seroyal ini!" tanyanya polos


"Apa Arga tidak pernah membelikan atau mengajakmu berbelanja seperti ini sebelumnya?"


"Arga? mm... sebenarnya dia sering sih mengajak saya jalan, tapi saya sendiri yang tidak mau saat dia tawarkan banyak barang. karena saya pikir untuk apa, toh saya juga jarang keluar rumah kecuali hanya mundar mandir masuk rumah sakit!" jawab Dara memelas


"Kalau gitu anggap saja ini semua hadiah pertemuan pertama kita!"


"Pertemuan pertama? bukankah sebelumnya aku dan tante sudah saling kenal saat diIndonesia? bukankah kata Arga, tante adalah sahabat sekolah mamah saya?" tanya Dara bingung


"Tante yang mana dulu sayang? Oooh.. sepertinya Arga belum banyak cerita tentang masa lalu kalian ya? apa jangan jangan kamu juga belum tau kalau sebenarnya kamu yang sudah menyebab Arga sampe kecelakaan disekolah saat itu?!" ungkap seceplosnya


"A,apa tante? a,aku yang.... Uugh!" DEGDEG! DEGDEG!


"NONA?! nona jangan percaya omongan itu nona!" kata Sovia yang panik saat melihat Dara mendadak pucat sambil memegangi dadanya setelah mendengar ungkapan itu.


"Da,Dara kenapa?!" tanya ibu tiri Arga yang memang tidak tau atau mungkin sedang berpura pura tidak tau tentang kondisinya Dara saat ini.


Sovia dan Edward yang dari tadi memperhatikan sikap ibu tirinya Arga terhadap Dara, dengan sinis menatap tajam kearah wanita itu karena sudah terlalu kesal. Dan kemudian si tante bermulut lemes itupun terdiam karena takut diadukan!


"Nona Dara apa mau kerumah sakit?" tanya Sovia cemas sambil tangannya mengusap usap punggung Dara


"Tidak, tidak perlu, hah..hah..hah..." jawab Dara terengah engah karena sesak.


"Aku tidak boleh kalah dengan penyakitku ini, aku harus kuat, aku harus tahan, aku tidak mau berbaring lagi, aku mau sehat aku mau normal, aku tidak mau merepotkan orang lagi, aku pasti bisa, aku yakin bisa!" ucap Dara dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


"Huuuufft... aku nggak boleh percaya begitu saja mendengar dari satu orang, aku ini lagi lupa ingatan, suatu hari aku pasti tau sendiri kebenarannya!" gumamnya dalam pikiran yang membuat dirinya sedikit tenang.


Dengan terlihat takut si tantepun langsung mengusulkan:


"Kalau Dara sakit lebih baik pesanan tadi dibungkus saja, terus kita makan dirumah, gimana?" saran si tante karena takut Dara jadi kenapa napa karenanya. Dara yang merasa dikhawatirkan pun berniat menyahutinya agar si tante tidak cemas.


"Ti...."

__ADS_1


"Iya nyonya, saya pikir lebih baik seperti itu agar nona kami bisa cepat istirahat!" jawab Sovia yang tanpa sungkan menyerobot jawaban Dara barusan.


__ADS_2