Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#115. Tak diduga


__ADS_3

Sorenya, tak lama setelah bertukar pikiran dengan Paula, Sovia melakukan pergantian tugas menjaga Dara.


"Siapa yang akan mandi terlebih dulu? apakah kamu?" tanya Sovia ke Paula.


"Tidak, lebih baik kamu duluan yang mandi, dan saya yang akan menjaga nona!" jawab Paula yang langsung berdiri dari duduknya.


"Baiklah kalau begitu, pakaian saya juga sudah bau karena tadi banyak berkeringat!" sahut Sovia yang juga ikut berdiri. Kemudian mereka berdua berpencar, Sovia menuju kekamar mereka sedangkan Paula ke kamar Dara.


(*Sovia dan Paula menempati kamar yang sama dengan fasilitas dua tempat tidur didalamnya.)


Selang waktu kurang lebih 20 menitan, Paula yang baru selesai marapihkan kamar Dara, menerka-nerka kalau Sovia kemungkinan sudah menyelesaikan mandinya, lalu ia keluar dari kamar Dara berniat ingin bergantian mandi.


Tetapi sebelum masuk ke kamarnya, Paula terlebih dulu mengintip ke halaman belakang hanya sekedar ingin memastikan kalau kedua tuannya masih duduk dibangku tepi kolam.


Setelah melihat Irvan dan Arga masih asik mengobrol, dengan perasaan tenang Paula pun masuk kedalam kamarnya untuk bertukar tugas dengan Sovia.


Dan benar saja dugaannya tadi, saat dia membuka pintu, sahabat nya itu sudah berdiri didepan cermin. Dan dengan ekspresi terkejut, Sovia menegur Paula yang sedang menuju ke kamar mandi.


"Paula, kamu kesini? bagaimana keadaan nona? apa dia sudah bangun?" tanya Sovia yang langsung buru-buru merapihkan rambutnya. Dia cemas kalau Dara tidak ada yang menjaga.


"Tenang Sovia, nona masih tidur dan saya juga sudah memastikan kalau kedua tuan muda masih cukup lama dihalaman belakang!" jawab Paula dengan santai yang membuat Sovia merasa lega dan kembali melambankan gerakannya.


Namun, baru saja Paula mengambil handuk dan mau masuk ke kamar mandi, dua perawat yang posisi kamarnya tidak jauh dari dapur itu mendengar suara dua pria yang baru saja mereka bicarakan.


"Astaga!" Sovia tercengang menatap Paula.


"Tuan muda? tidak mungkin!" kata Paula tak kalah terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka kalau dua tuannya yang tadi dia lihat masih bersantai, tiba-tiba sudah masuk kedalam rumah.


Reflek dia kembali meletakan handuk yang baru saja dia ambil, dan Sovia juga langsung melempar sisir yang ada ditangan nya!

__ADS_1


KRIIEET!!


Dengan cepat mereka membuka pintu kamar, dan sejenak celingak celinguk mencari pria yang suaranya belum lama lewat didepan kamar mereka.


"Kemana ya mereka?!" Sovia mengira kemungkinan Irvan sedang menuju ke ruangan depan mengantar Arga pulang sampai pintu, tetapi perkiraan dia tidak sama dengan yang sedang di pikirkan sahabat nya.


Dengan cepat Paula menarik tangan Sovia menuju ke kamar Dara.


"Ayo Sovia, jangan banyak berpikir lagi, jangan biarkan mereka lebih dulu sampai di kamar nona!!" .


Dan lagi-lagi benar saja dugaan Paula, baru saja mereka tiba di tikungan menuju kamar utama, mata Paula dan Sovia seketika itu juga melebar saat melihat hal yang mereka takutkan.


Yaa, apalagi kalau bukan menemukan kedua tuannya yang sudah sangat dekat dengan kamar Dara, bahkan tangan Irvan sudah siap menjulur meraih handle pintunya.


TAPTAP-TAPTAP!!


Dua perawat yang dari tadi sudah was-was menutupi keadaan Dara, kini mereka berlari terbirit-birit berusaha mencegah tuan mudanya memasuki kamar tersebut.


"Ooh tidak! jangan sampai mereka sempat membukanya!".


Sovia yang sudah berucap janji kepada Dara untuk menutupi keadaan nya, terpaksa memanggil nyaring hingga membuat ke dua tuan jadi menoleh bingung kepadanya.


"TU-TUAN!!" teriaknya sambil terus berlari mendekat.


Seeet!!


Tanpa ragu Sovia menyelinap cepat menghalangi pintu kamar nona nya yang kemudian disusul Paula disampingnya.


Tangan Irvan yang tadi sudah menjulur ke arah handle, langsung diturunkan kembali sambil matanya menatap heran.

__ADS_1


"Ada apa Sovia, Paula?" tanya Irvan dengan alisnya sedikit mengkerut. Tentu saja dia merasa bingung melihat tingkah aneh mereka yang barusan berlari terengah-engah, lalu menghalangi pintu dihadapannya.


"Apa... apa tuan sudah lupa dengan pesan nona tadi?" jawab Sovia mengingatkan.


Irvan menoleh kearah Arga yang berdiri tepat disampingnya, dan mereka jadi saling menatap sejenak, kemudian Arga kembali melihat ke Arah Sovia.


"Hmm... Iya, saya ingat pesanmu yang tadi ruang depan. Tapi ini kan sudah hampir senja, mana mungkin Dara belum bangun?" tanya balik Arga yang membuat Irvan jadi langsung curiga, sebab dia memang tau keadaan Dara tadi siang yang wajahnya sudah pucat.


"SOVIA, APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!" tanya Irvan dengan suara agak meninggi yang membuat Sovia jadi kaget dan takut.


"Ti-tidak, tidak ada tutuan!" kepalanya menggeleng kaku. Wajah cemas dan panik nya semakin terlihat jelas diwajah Sovia membuat rasa curiga Irvan semakin bertambah.


"Saya tidak percaya, menjauh kamu dari pintu itu!" perintah Irvan sembari tangannya kembali menjulur ke arah handle pintu.


"Tuan saya mohon jangan ganggu istirahat nona tuan, biarkan saya yang me......"


"SAYA BILANG MINGGIR!!" tegas Irvan memotong permohonan Sovia, reflek Sovia dan Paula pun langsung melangkah mundur menjauhi pintu.


Tingginya tingkat kegugupan saat melihat tangan Irvan sudah meraih handle pintu, membuat ekspresi ngeri diwajah kedua perawat itu tak mampu ditutupi lagi.


JEGLEG!!


Mulai terbukanya pintu kamar tersebut!


Sovia dan Paula saling melirik sambil meringis. Tentu saja pikirannya sangat kacau saat ini, mereka membayangkan hal mengerikan apa yang akan terjadi sebentar lagi.


Dan baru saja dua langkah memasuki kamar Dara, mata Irvan terbelarak lebar. Tap! Tap!


"Haaah?!..."

__ADS_1


Cuplikan:


Maaf sebelum nya, saya kehilangan banyak episode di laptop saya, rasanya lemes banget! 😅


__ADS_2