Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#93. Demi Kita Semua


__ADS_3

(Didepan pintu rumah Dara)


"Selamat pagi!"


"ii,iya selamat pagi. Anda siapa?" tanya Arga pada pria seumuran Irvan


"Oiya perkenalkan nama saya Roy temannya Irvan!" jawabnya sambil menjulurkan tangan


"Oooh iya iya, kak Irvan sering menceritakan kakak, katanya waktu itu dia tinggal sama kakak!" sahut Arga membalas jabatan tangannya


"Iya bener!"


"Kak Irvan nya?.." tanya Arga sembari celingukan mencari Irvan kesekelilingnya


"Nah itu dia, tadi pas kamu telpon dia saya yang ada disamping dia, tapi maaf, saya gak berhasil membujuknya untuk kembali lagi kesini! dan kedatangan saya kesini atas kemauan saya sendiri mau menjenguk Dara, apa boleh?"


"Tentu saja boleh, ayoo silahkan kak!" sahut Arga sambil mengajaknya kekamar Dara dan sambil sedikit bercengrama


"Tapi Daranya belum siuman kak!"


"Dari tadi?" kaget


"Iya, dari pas dia jatuh dikamar mandi!"


"Apa dia terluka? kenapa gak dibawa kedokter?"


"Dia cuma sedikit memar dan tadi saya sudah memanggilkan dokter pribadi papah saya untuk memeriksanya!" jawab Arga seadanya.


Sesampainya dipintu, mereka berdua kepapasan dengan Sovia yang baru saja keluar dari kamar Dara dengan membawa alat pembersih.


"Apa Dara sudah bangun?" tanya Arga berharap


"Belum tuan muda, saya cuma baru selesai membersihkan sisa darahnya dilantai!" jawab Sovia ramah


"Oh iya, terima kasih!" sahut Arga datar,


"Mari kak Roy!" mulai membuka pintu lalu masuk kedalam, Roy pun mengikutinya dari belakang


Setibanya langkah kaki mereka disamping ranjang Dara tiba tiba Roy menghela nafas dan terlihat kaget.


"Huuuuuft.... ja, jadi ini yang namanya Dara?! selama ini saya cuma melihatnya dari jauh, tidak disangka parasnya sangat manis bila dilihat lebih dekat!" kata Roy memuji, kemudian Arga duduk ditepi ranjang Dara tepat disamping Dara berbaring.


"Iya kak, dia begitu manis sampai sampai dari awal saya bertemu dengannya hingga sekarang ini saya nggak bisa melupakannya sedetikpun. Dia cinta pertama saya, dan kenyataan itu tidak akan pernah berubah!" ucapnya sambil membelai rambut Dara.


"Hanya saja sangat disayangkan nasibnya tidak semanis parasnya ini. Tapi saya sudah berjanji pada diri saya sendiri akan membuatnya bahagia dengan cara apapun yang saya bisa!" ucap Arga dengan tatapan kasih sayang


Melihat perilaku Arga dan ucapannya barusan terhadap Dara, Roy pun langsung bisa mengerti apa yang dirasakan Irvan selama ini. Rasanya akan sangat kejam bila mencoba masuk diantara mereka, dan hal itupun cuma akan menjadikan diri kita malu sendiri karena sangat jelas terlihat cintanya Arga sangat mendalam terhadap Dara.


'Biarlah sudah kalau memang Irvan mau mengalah, mungkin memang sebaiknya begitu. Walau sebenarnya aku kasihan terhadap sahabatku yang satu itu, tapi lebih kasihan lagi kalau Arga dan Dara sampai terpisah!' gumam Roy dalam hatinya.


"Arga, apa boleh saya sering sering menemui Dara? Irvan adalah sahabat saya semenjak kami duduk dibangku SMK, jadi bagi saya adiknya Irvan juga adik saya!" minta izin Roy

__ADS_1


"Tentu kak Roy silahkan saja, saya tidak akan melarang dan malahan saya senang kalau Dara banyak yang memperhatikan. Yaa kak Roy pastinya sudah banyak diceritakan kak Irvan masalah kondisinya Dara saat ini bukan? Kalau bisa malah sesering mungkin supaya Dara tidak merasa kesepian selama disini!" pinta Arga, lalu Roypun mengangguk tersenyum


"Kalau gitu.. mulai besok kalau saya ada waktu senggang pas pulang kerja saya akan sempatkan mampir menemuinya!" kata Roy.


"Terimakasih banyak ya kak Roy.." ucap Arga bersyukur.


Sorenya saat Dara sudah terbangun dia sama sekali tidak mau bicara, makan, ataupun melakukan apapun yang seperti biasanya. Obat yang seharusnya dia minum sehari tiga kali belum ada satu pun yang masuk ketubuhnya.


Awalnya Arga hanya mengira kalau sikapnya itu karena sedang ada masalah dengan Irvan saja, jadi dia cuma berusaha membujuk agar Dara mau menceritakan masalah yang sebenarnya. Namun semakin dia membujuk, sikapnya Dara bukannya semakin luluh melainkan tambah keras, diam dan bahkan sampai mengunci diri dikamarnya.


TOK TOK TOK!..


"Beib kamu kenapa sih beib, masa marahnya sama kak Irvan aku ikut didiemin juga dari tadi?... Seharian ini kamu belum ada makan sama sekali looh, nanti kalau kamu sakit aku yang dimarahin sama mamahmu, masa kamu tega?!" rayu Arga sembari terus mengetuk pintu kamarnya, dan tidak lama kemudian Edward datang menghampirinya sambil terheran heran melihat kelakuan Arga yang terus terusan mengetuk padahal kunci cadangan kamar Dara sudah terpasang dilubangnya.


"Tuan muda, kenapa pintunya tidak langsung dibuka saja?" tanyanya kebingungan


"Kalau bisa pasti saya sudah didalam dari tadi! Dara ini pasti sudah memasang kunci slot nya juga!" jawab Arga sambil berpikir mencari cara membuka pintu tanpa harus merusaknya.


"Tu,tuan muda..." panggil Sovia takut takut yang tiba tiba muncul dari belakang Arga.


"Iya, ada apa Sovia?" tanya Arga yg langsung menoleh kearahnya.


Saat mendengar Arga menyahutinya panggilannya barusan, Sovia malah terlihat langsung menundukkan kepala dengan seluruh tubuhnya mulai bergetar.


"Sovia kamu kenapa?.. kamu lagi sakit?" tanya Arga dengan berusaha perhatian lalu Sovia menggeleng. Edward yang selama ini selalu bekerja bersamanya juga dibuat bingung dengan sikap Sovia yang tidak seperti biasanya itu.


Tiba tiba dia menangis....


"Ada apa Sovia?" tanya Arga penasaran, kemudian Edward mendekati dan berdiri disampingnya Sovia berniat memberinya support keberanian.


"Katakan saja Sovia, agar kita semua tau masalahnya dan tau apa yang harus dilakukan!" bujuk Edward. Sovia langsung menutupi wajahnya dan tambah tersedu sedu.


"Tuan pasti akan sangat marah dan langsung memecat saya! hikshiks.."


"Tidak Sovia, saya tidak akan melakukannya, katakan saja ada masalah apa?!" sahut Arga supaya Sovia cepat bercerita.


Sovia pun menarik napas panjang dalam dalam untuk meredakan sedikit isak tangisnya, setelah itu dia mulai bicara :


"Sa,saya... saya... saya tidak sengaja mengatakan kalau... kalau....."


"Kalau apa?!" desak Arga tidak sabaran


"Ka,kalau.. kalau tuan Irvan bukan kakak kandung nona."


BRUUK!! seketika itu Sovia terduduk lemas menyesalinya.


"Aa,a,apa?!" Arga langsung mengusap wajah hingga rambutnya dengan tangan yang mulai bergetar. Sejenak otaknya berusaha berpikir dengan tenang mencari cara apa yang harus segera dilakukan sekarang juga!


"Edward bantu saya mendobrak pintu ini, cepat!" Edward pun mengangguk dan mereka berdua langsung mengambil ancang ancang mengumpulkan tenaga.


"Mulai! HIIIAAAA!!..." BRRAAAK!!

__ADS_1


Saking kuatnya dorongan mereka berdua ditambah badan Edward yang berotot membuat kunci slot nya langsung rusak salam sekali dobrakan.


"BEIB?!" Panggil Arga sambil berlari menghampiri Dara yang matanya terpejam diatas kasur, disusul Sovia yang langsung memeriksa kondisinya.


"Sepertinya nona dehidrasi, saya akan menginfusnya!" kata Sovia sambil membuka buffet disamping tempat tidur.


Karena pikiran stress, Dara yang dari semalam belum makan dan minum apapun melebihi waktu orang berpuasa membuat luka dilambungnya bertambah lagi. Namun rasa perih, pusing dan mualnya tertutupi oleh tekanan dalam batinnya yang menjadikan dia hanya merasa lemas dan mengantuk tidak bertahankan.


Setelah Sovia menyelesaikan tugasnya mengurus Dara, Argapun duduk lsmgsung ditepi kasur Dara untuk menemani pacarnya yang baru beberapa jam lalu bangun itu, dan kini sudah tertidur lagi tanpa menyadari kalau Arga begitu mengcemaskannya.


Tangan Arga terus menerus tanpa jeda membelai rambut Dara, namun tatapan matanya hanya mengarah kedepan dengan pikirannya melayang layang jauh tanpa tujuan.


Arga bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya, bingung dengan sikap Irvan yang tiba tiba acuh pada Dara yang padahal sudah terlihat jelas kalau dia sangat menyayangi gadis itu seperti adik kandungnya sendiri.


"Tuan?.. tuan, tuan muda?" panggilan Sovia yang terdengar seperti angin lewat ditelinga Arga. Dengan takut takut Soviapun memberanikan diri untuk sedikit menyentuh bahunya yang tentu saja membuat Arga jadi terkejut saat itu juga.


"Aah!..."


"Maaf tuan maaf, saya tidak bermaksud mengagetkan!" ucapnya sambil langsung mundur selangkah


"Iya, ada apa Sovia?" tanya Arga agak dingin karena memendam kesal namun dia tidak mau melanggar janjinya pada Sovia yang tidak marah apalagi sampai menggantinya (memecat).


"Tuan muda, sekali lagi saya benar benar minta maaf atas kecerobohan saya tadi pagi, dan saat ini saya tau kalau tuan Arga juga sedang kecewa dengan sikap tuan Irvan yang menabaikan nona. Tapi kalau tuan muda mengijinkan saya, secara pribadi saya akan mencoba menghubungi tuan Irvan agar mau berbicara pada nona Dara, gimana tuan?" usulnya


"Mmm... lakukanlah, kalau kamu memang yakin bisa membujuknya kenapa saya harus melarang? malah mungkin saja dia akan lebih mendengarkan mu karena dia pikir kamu adalah perawat pribadi Dara yang lebih tau kondisinya. Katakanlah apapun kepada kak Irvan, bagi saya yang penting Irvan mau menyelesaikan masalahnya dengan Dara!" sahut Arga menanggapinya, kemudian Sovia langsung pamit keluar kamar.


Sesaat Sovia sudah menutup pintu, Arga pun jadi kembali pusing dengan masalah Dara yang datang bertubi tubi silih berganti.


"Yaaa ampun Beib, begini banget sih nasibmu?! kapan normalnya, kapan bahagianya? aku pengen banget melihat kamu sekuat dan seceria waktu sekolah dulu!


Hah!! apa apaan sih kak Irvan ini? dia sudah bikin masalah sama Dara lalu pergi meninggalkannya begitu saja!


Dan belum juga selesai masalah yang satu itu sekarang ditambah lagi Sovia juga malah keceplosan membocorkan status mereka, Aduh... jadi menambah pikiran dikepala Dara kan pastinya?... Aagh!!" grutu Arga sambil memijat dahinya


Diwaktu yang bersamaan, (Lama waktu penerbangan antara Jerman - Indonesia kurang lebih 16jam)


Irvan yang masih didalam pesawat, dari tadi hanya duduk termenung sambil melihat arah luar jendela. Didalam gendang telinganya terus terngiang ngiang kata kata sahabatnya tadi pagi.


Sesekali airmata menetes sendiri ketika mengingat keadaan Dara terakhir kali saat dia tinggalkan.


Dilubuk hati terdalamnya ia terus menerus berteriak menyebut nama gadisnya itu.


"Dek, maaf... maafin mas dek!


bukan maksud mas ingin menyakitimu saat ini, tapi semua ini juga demi masa depan kita semua. Kalau nanti kamu nikah dengan Arga mas juga nggak tau kamu akan dibawa kemana sama dia, begitu juga kalau mas menikah, mas juga belum tentu akan tinggal di Samarinda seperti sekarang ini.


Pada intinya, cepat atau lambat kita akan terpisah dan hidup masing masing dengan pasangan masing masing. Kalau mas tidak membiasakan diri hidup jauh dari kamu, mas takut kita cuma akan saling menyakiti dan merusak masa depan yang sudah diatur Tuhan untuk kita.


Sekali lagi, maafin mas dek, mas akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun karna suaramu selalu terdengar dimanapun kamu berada...."


Shiiiiiing... dengingan suara mesin pesawat dan kelap kelip lampu merahnya terlihat jelas dari daratan ASIA yang menandakan perbedaan waktu sudah sangat jelas berganti antara siang dan malam.

__ADS_1


__ADS_2