
"Yang mana mas yang mana, inikah ini?!" Dara yang ikut kaget tiba tiba latah sampai membuatnya jadi asal pegang, ditambah lagi perban dibahu Irvan juga memang tertutupi baju.
"Aaaaa!! aduh dek jangan penggang yang itu! itu pas lukanya, aduuh!" teriakan Irvan bikin Dara jadi semakin salah tingkah
"Ya ampun mas maaf aku gak sengaja, aduuuh!!" sahut Dara ikut meringis sambil mengelus lembut bahu Irvan
"Kita masuk kedalam dulu yuk mas? diluar sini mulai panas mataharinya, aku udah gerah!" ajak Dara lalu Irvan mengangguk sambil bangkit dari duduknya.
Saat Irvan melangkah masuk, tanpa dia sadari kalau Dara sedang memandanginya dari belakang dengan perasaan canggung saat ingin menegur,
'Aduh aku harus ngomong apa sama mas Irvan? aku udah bikin dia terluka sampe kayak gitu, apa aku masih pantas? kali ini aku beneran sudah buat semuanya kecewa!' gumam Dara sambil mulai merapihkan obat yang masih berserakan diatas meja balkonnya, namun pandangannya tiba tiba jadi melamun saat perasaan bersalah semakin membengkak dihatinya.
"Dek?.. adek?.. Dara?!" panggil Irvan berulang kali dari dalam kamar yang tidak disahuti Dara membuat Irvan bingung lalu kembali kebalkon.
"Dek?" tegur Irvan sambil menyentuh pundaknya
"Eeh iya mas, kenapa belum masuk? aku cuma lagi rapihkan obat obatku aja nih!!" sahut Dara yang baru tersadar dari lamunan
"Mas sudah dari dalam barusan, ditunggui kamu yang gak masuk masuk sampe mas panggilin berkali kali juga gak ada nyahut! Kamu lagi mikirin apa sih sampe bengong gitu?" tanya Irvan.
Namun bukannya menjawab, Dara justru malah menundukkan kepalanya sembari sedikit menggeleng yang membuat Irvan jadi semakin penasaran.
"Ayok sini ada yang mas mau tanyain sama kamu!" kata Irvan agak serius sambil menarik tangannya yang sedang menggenggami bungkusan obat.
Dara yang sudah ketakutan duluan sebelum ditanya membuat jari jemarinya mendingin karena gugup, dan Irvan yang menyadari hal itupun segera berpikir untuk memilah milih pertanyaan yang akan diajukan ke Dara.
Lalu mereka duduk berdampingan diatas kasur, dalam beberapa detik suasananya memang sedikit agak canggung sebab Irvan masih merangkai kata diotaknya agar Dara tetap tenang dan tidak merasa tertekan saat diintrogasinya.
"Dek, kenapa nunduk terus dari tadi? coba ngomong sama mas apa yang lagi kamu pikirin?!" tanya Irvan yang bermaksud memancing cerita sambil mengangkat dagu Dara perlahan
"Aku bingung mas mau ngomong apa, aku cuma lagi merasa kalau aku ini seperti sumber kesialan buat keluargaku, bukan prestasi membanggakan yang aku persembahkan melainkan hanya menimbulkan masalah dan musibah setiap saat! dan parahnya lagi bukan cuma keluarga serumahku aja yang terkena imbas dari kesialanku, melainkan hampir semua orang terdekat yang aku sayangi, termasuk keluarga mas Irvan, Amira juga kak Adhi!" kata Dara dengan tatapan kosong sembari mengingat kembali musibah dan masalah yang dialaminya dari dulu,
Irvan yang sudah terbiasa mendengar ucapan Dara yang selalu sembarangan hanya diam menunggunya selesai bicara, ditambah lagi Irvan juga mengetahui kalau papah dan mamahnya sedang ada masalah, karena menurut kepercayaan keluarga Irvan kalau orang tua sedang ada masalah maka hati anaknya pun ikut tidak tenang.
"Dek, mas tau kok kalau sekarang ini kamu lagi gelisah, tapi kamu gak boleh menyalahkan diri sendiri atas semua masalah ataupun musibah yang terjadi, terkadang masalah itu sebenarnya adalah sebuah batu loncatan untuk kita supaya melangkah lebih baik lagi kedepannya!" nasehat Irvan sambil jarinya menyeka rambut Dara
"Iya memang seharusnya begitu, buat orang lain masalah yang datang itu pasti menjadi hikmah untuk kehidupan selanjutnya, tapi aku ini apa? bukannya semakin baik dan pintar tapi malah selalu menimbulkan masalah baru! Jujur aja, aku sebenarnya sudah terlalu bosan dengan keadaan ini sampai tidak jarang terlintas dalam benakku untuk mengakhiri hidup ini supaya ke...." PAAK!! Spontan tangan kiri Irvan mendarat kepipi Dara yang belum menyelesaikan bicaranya
Irvan yang tadinya berniat ingin menenangkan hati Dara malah jadi tersulut emosinya saat mendengarkan ucapan perempuan cerobohnya itu yang membuat suasana yang tadi hangat seketika menjadi dingin membeku.
"A... a... dek?" tangan yang belum diturunkannya tiba tiba bergetar mengiringi suara dari bibirnya yang juga menggetar saat memanggil Dara yang wajahnya masih berpaling setelah ditamparnya barusan.
Tanpa kata, tanpa air mata, tanpa ekspresi, Dara langsung beranjak dari duduknya, rasa gugup Irvan menutupi pikirannya membuat dia bingung harus berbuat apa sampai Dara yang lewat begitu saja dihadapannya tak mampu dia jegat hingga dia baru tersadar kalau Dara sudah terlanjur mengunci diri didalam kamar mandi lalu terdengar suara gemuruh derasnya air dari keran.
"HAaaah?!" TAP TAP TAP!
Dengan cepat Irvan menghampiri pintu kamar mandi itu.
JEGLEK JEGLEK!!
TOK TOK TOK!!
"Dek, buka pintunya dek, mas minta maaf mas khilaf...!!" TOK TOK TOK!
"Dek, kamu mau apain mas terserah, mas pasti terima tapi kamu buka dulu pintunya ya? mas mohon dek!!" TOK TOK!!..
JEGLEK JEGLEK!!
__ADS_1
Rasa panik Irvan semakin menjadi jadi setelah beberapa saat tidak ada respon sama sekali atau sedikitpun suara lain selain suara air keran, dia sangat paham sifat labil adiknya setiap kali habis mengalami masalah, ditambah dengan kata kata terakhir yang terlontar dari mulut Dara barusan yang Irvan belum tau sebabnya kenapa!
"Aah! Nggak, nggak boleh, kamu nggak boleh ngelakuin itu dek! DARAA, BUKA PINTUNYA DEK!!" BRUG! BRUG!! teriak Irvan sambil beberapa kali berusaha mendobrak pintunya. Dia ingat kalau didalam sana ada gunting yang memang Dara simpankan untuk membuka perlengkapan mandinya!
"Van ada apa Van?!" tanya papa yang langsung masuk kekamar Dara setelah mendengar suara ribut Irvan
"Pah tolong bujuk Dara pah, Dara lagi ngambek sampe ngunci pintu dari dalam!" pinta Irvan dengan panik, namun
"Lhoh, Dara memang biasa ngambek kan?paling nanti dia keluar sendiri setelah marahnya mereda!" kata papah menyepelekan membuat mata Irvan berkaca kaca mendengarnya
'Sekalinya ini yang dimaksud mamah tadi saat menyindir, ternyata papah memang tidak mengenal sifat anaknya sendiri!' gumam Irvan dalam hati sambil terus mencoba membuka pintu.
Selama ini papah memang memanjakan anak anaknya, tapi dia selalu menyampingkan keharmonisan keluarga demi pekerjaannya dan uang sampai sifat maupun kebiasaan anaknya pun dia tidak tau!
"Van sudahlah van, liat lukamu mulai berdarah lagi tuh! biarin aja dulu mungkin dia lagi mau menenangkan dirinya didalam! lagian dia kenapa sih ngambek mulu kayak mamahnya aja!" kata papah acuh sambil kembali keluar kamar, yaah suasana hati papah memang sedang tidak baik karena pagi tadi sudah ribut dengan istrinya.
Suara air yang terdengar sudah tumpah dari bathtup menambah pikiran negatif Irvan semakin meluap dan berkumpul menjadi tenaga terakhir untuk mendobrak pintu berbahan ulin itu,
Hiiiiaagh!!... BRAAK!!... Aaaaagh.!!
Double lock yang dipasang Dara dari dalampun akhirnya rusak.
Tanpa Irvan pedulikan rasa sakit dibahu yang darahnya sudah menetes, dia malah langsung mendekati Dara yang sedang duduk termangu merendam diri diujung bathtup sambil mendekap kedua lututnya.
Irvan menutup keran yang airnya sudah luber dengan suara gemericik membisingkan ruang kamar mandi tersebut, namun perasaan panik dihatinya seketika mereda setelah melihat Dara yang masih dalam keadaan selamat tanpa luka atau basah dikepalanya.
Huuuft!.. Huuft!!..
Dengan napas yang tersengal sengal dan rasa ragu dia mencoba memintaan maaf atas sikap kasarnya tadi.
"Dek, maafin mas ya? mas beneran khilaf tadi, mas cuma gak tahan dengar adek ngomong kayak gitu, mas, mas gak bermaksud mau......Aah!!" rasa kesal Irvan terhadap dirinya sendiri tidak melunturkan sedikitpun penyesalan dihatinya saat melihat Dara yang masih saja bisu tak bereaksi kepadanya.
"Dek, maafin mas ya?... Ayoo mas bantu bangun, kita keluar dulu dari sini, nih pakaianmu sudah basah nanti masuk angin!" bujuk Irvan sambil berusaha mengangkatnya, namun luka dibahunya membuat dia kehilangan tenaga.
"Ayoo dong dek! sebenarnya ada apa sih sampai kamu tiba tiba putus asa begini, cerita dong sama mas, apa adek udah nggak mau nganggap mas lagi kah?!" tanya Irvan yang masih saja tidak direspon oleh Dara membuat dirinya hampir tidak tau lagi harus berbuat apa
"Oke kalau maumu begitu, mas akan temani kamu berendam disini sampai kamu mau ngomong dan cerita sama mas!" ancam Irvan dengan ikut masuk kedalam bathtub yang panjangnya duameter itu, dia duduk diujung satunya hingga mereka jadi saling berhadapan.
Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Suara tetesan air yang menitik kelantai mengiri suara detikkan waktu yang terus bergulir sampai tidak terasa sudah lebih dari setengah jam mereka berdua berendam bersama tanpa satu katapun yang keluar dari mulut mereka masing masing.
Namun air dalam bak yang mereka masuki bukan hanya membuat basah pakaian, tapi juga semakin lama warnanya semakin merah yang berasal dari darah Irvan yang merembes dari pakaiannya.
Mungkin karena sudah sangat kelelahan dan kurangnya istirahat dari kemarin, ditambah lagi darahnya terus mengalir dari lukanya yang terbuka membuat fisik Irvan tidak sekuat seperti biasanya.
Kini bibirnya yang sudah membiru beriringan dengan ujung jemarinya yang keriput mulai menggigil kedinginan, matanya sudah sayup memaksa untuk tetap memandangi Dara yang masih saja diam membisu.
Tidak tau apa yang sedang Dara pikirkan?
sesekali kelopak matanya berkedip namun pandangannya tetap kosong kearah air didepannya, tanpa gerakan, tanpa suara, dan tanpa sedikitpun melirik agar menyadari kondisi Irvan yang berada tepat dihadapannya sudah semakin memuncat dengan dadanya sudah sesak saat menarik napas.
Hingga bertambahnya waktu beberapa menit kemudian tetap tidak ada yang berubah kecuali kesadaran Irvan yang semakin memudar, penglihatannya yang semakin buram, dan rasa dingin yang sudah menembus hingga ketulang, namun tetap memaksakan diri untuk menemani Dara yang sepertinya sudah membatu.
Tiba tiba dia mengangkat tangannya yang mengigil seperti sedang berusaha meraih Dara dengan sisa tenaganya sambil bibirnya yang bergetar ingin mengatakan sesuatu,
"Da, Dara... mas.. sayang ka.. mu..." bisiknya
__ADS_1
.
.
Tiik!
Setetes airmata terjatuh mengurai bersama air bak yang semakin jelas warna merahnya.
.
.
Ternyata linangan airmata yang barusan menetes itu adalah airmata yang mengiringi tertutupnya mata dan juga bibir yang baru saja mengungkapkan perasaan terpendamnya..
BYUUR!!...
GLUP! GLUP! GLUP!!...
Sekujur tubuhnya tak mampu lagi menahan rasa dingin yang membuatnya semakin kaku walaupun hanya sekedar duduk. Aliran darah disepanjang nadinya bagai sudah membeku tak lagi mengalir seperti seharusnya yang memompa jantung dan paru paru.
Kini seluruh tubuh mulai ujung kaki hingga kepalanya benar benar tenggelam dalam bak sepanjang dirinya itu, dengan gelembung gelembung yang memanjat keluar semakin kecil dari hidung dan celah bibirnya menandakan bahwa dia sudah tidak lagi ada tanda tanda berusaha bangkit.
Ketika kakinya menjulur menyentuh kaki Dara, saat itu Dara hanya sekedar menoleh memandangi pria yang selalu menemaninya itu sudah tenggelam didalam air yang diisi olehnya sampai penuh tadi, dengan tatapan yang masih kosong tangan Dara meraba kaki Irvan yang dinginnya melebihi air dibaknya itu.
GLEG! air liur yang tertahan ditenggorokannya seketika tertelan menandakan otaknya sedang berusaha keras agar kembali berpikir.
"DARA? DARAA!! kenapa diam aja? cepat sadar Ra, apa kamu mau liat Irvan juga meninggalkanmu?!" Teriakan seseorang memanggil namanya dari dalam hati membuat matanya langsung terbelalak saat menyadari Irvan sudah tidak bergerak.
"MAS IRVAN?!!" teriaknya
SYUUR... Dengan cepat dia mengangkat dan mendekap kepala Irvan kepermukaan, pucatnya wajah Irvan seperti tak berdarah karena sudah terendam beberapa saat yang pastinya tak bernapas.
"Jangan lagi, Jangan, mas nggak boleh, NGGAK BOLEH!! TOLOONG!!!
Mas Irvan bangun! Mas...!! AAAAaaaghaghag..!" Tangisnya pun pecah saat menyadari Irvan yang biasanya usil kepadanya itu kali ini benar benar sudah tak berdaya.
Berjuta kenangan bersama Irvan yang mereka lalui bersama semenjak kecil satu persatu terputar ulang dalam ingatan bagai layar lebar dipikirannya, masa masa dimana hanya pria inilah yang selalu memberikan pelukan hangat dan menopang semua kesulitan masalah hidupnya. Dan pria ini jugalah yang selalu berkorban bukan hanya waktu, melainkan hingga hidupnya sendiri demi perempuan 'BODOH' yang sedang memeluk tubuh lemasnya itu.
Menyesal?
Apa masih bisa merubah keadaan dengan penyesalan yang mana sebenarnya masih ada kesempatan diwaktu sebelumnya?
Apa? kamu mau mengorbankan dirimu juga?! Haah! itupun tidak akan memperbaiki keadaan yang memang kesempatannya hanya sekali seumur hidup!
Sekarang kamu bisa apa Dara?
Menangis? yaaa cuma itu yang bisa kamu lakukan seperti sebelumnya!
.
.
"Nggak, nggak mungkin Mas, jangan pergi!!"
'Aku berharap secepatnya terbangun ditengah mimpi buruk ini, namun aku sadari bahwa ternyata bulu mataku memang basah! Tidak ada kata yang mampu aku ucapkan kecuali kata maaf dan 'Aku mohon, jangan pergi!'
Entah kenapa perasaan dihati ini semakin menguat hingga aku yakin tidak akan pernah berubah padamu sedikitpun, rasa hormat dan kekagumanku selalu menjunjung tinggi dilubuk hati yang tak akan tergoyahkan walau diterpa badai sekalipun.
__ADS_1
"Ku mohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya! tapi, apakah masih bisa?"