
Jangankan sampe satu bulan, dalam dua minggu ini saja, yang padahal masih bisa melihatnyapun sudah membuat aku resah ingin selalu mendekatinya,
Ditambah siatuasi sekarang ini yang sangat berbeda dibandingkan saat dulu waktu aku masih kuliah, kalau dulu biarpun jarang ketemu tetapi setidaknya hubungan kami selalu dalam keadaan baik - baik dan diapun masih sangat lugu layaknya anak TK.
"Yaa Tuhan,,,, tolong aku, aku berserah padamu, aku mohon lindungi semua orang yang aku sayangi!" panjat Do'aku dalam bisik sampai - sampai bibirku bergetar.
Setelah semua sudah siap, aku turunpun lalu berpamitan dengan ibu dan mamanya Dara, dengan berat hati ku langkahkan kaki menuju taksi yang sudah terpakir didepan halamanku sambil sesekali menoleh kearah jendela kamar Dara yang terlintas seperti ada bayangannya sedang mengamati aku.
Huuuuft,
Kutarik napas dalam - dalam untuk meringankan rasa gelisahku sebelum masuk kedalam taksi.
"Mau kemana mas?" tanya supir taksi
"Bandara Sepinggan pak!" jawabku
Ditengah perjalanan saat baru saja keluar dari perbatasan Samarinda, aku menoleh ke jam ditanganku menunjukan waktu masih pukul sembilan yang menandakan jam terbangku masih empat jam lagi dari sekarang.
(perjalanan Samarinda - Balikpapan lebih dua jam perjalanan dalam kecepatan sedang)
"Pak, tolong balik arah kesekolah A!" pintaku tiba - tiba
"Lhoo Mas, nanti kalau kena macet bisa ketinggalan pesawat?!" katanya
"Biarpun telat saya tidak akan minta bapak buat ganti rug!" jawabku kesal karena bapak ini tidak langsung melaksanakan permintaanku
"Aah iya, maaf mas!" ucapnya sambil segera memutar taksinya.
Setibanya disekolah Dara aku hanya berani memandangi dia dari samping pintu aula, ku perhatikan dia yang sedang duduk termangu diantaran teman - temannya yang sedang berpesta. Suasana yang begitu meriah seperti sunyi dalam tatapan kosong mata sayupnya, yang seketika membuat hatiku lirih dan sempat berpikir untuk mengurungkan lagi niatku keJakarta.
'Jangan ganggu dia Van, dia lagi butuh beradaptasi dengan keadaan, mungkin saja setelah besok keluar dari sekolah ini dia akan mulai bisa melupakan Arga sedikit demi sedikit!' tegurku sendiri dalam hati, setidaknya aku juga berusaha tetap tegar melihat kondisinya, kemudian dengan mata berkaca - kaca aku segera melangkah pergi.
Ditengah perjalanan,
TRET! (bunyi peringatan dihape)
"Astaga, aku lupa ngecas hape dari semalam!" ucapku kaget saat melihat batre hapeku sudah sekarat.
"Dicas aja disini mas?" ucap supir taksi menawarkan
"Nggak usah pak terima kasih, nanti pas dipesawat juga bakal dimatikan" jawabku menolak halus, dan tidak lama kemudian handphoneku langsung mati.
'Ah biarin aja, lagian siapa juga yang bakal menghubungiku, palingan orang kantor!' pikirku yang sedang tidak semangat ngapa - ngapain.
Sesampainya dibandara ternyata aku masih punya waktu setengah jam untuk chek in, dan setelah chek in aku duduk dilobi sambil membaca koran yang sudah ada disitu.
"Irvan ya?!" tegur seorang perempuan yang tau - tau berdiri dihadapanku
"Ah Iya," jawabku kaget sambil menengadahkan kepala melihat kewajah yang sepertinya pernah ku lihat
"Masih inget sama aku ngga!?" tanyanya sumeringah sambil duduk disebelahku,
"Maaf, siapa yaa?!"Jawabku yang memang lupa
"Yaa ampun sombongnya sampe lupa! Aku Hilda, kita kan dulu penah sekelas pas kuliah di F!" Jawabnya yang sontak membuat aku melemparkan senyuman terpaksa
"Ooowh!" responku sambil berpaling kembali menatap koran, karena aku langsung muak ketika dia menyebutkan nama kampus yang sempat membuat aku terpuruk itu, terlebih aku langsung ingat kalau dia ini temannya Prisil.
"Van kamu mau kemana? keJakarta?"
"Ya" jawabku singkat karena malas meladeni, namun dia terus saja mengeluarkan pertanyaan yang membuat aku sangat terganggu, dan yang membuat aku tambah kesal saat dia tiba - tiba
"Van liat sini deh!" aku hanya melirik namun sekalinya dia sedang selfie disampingku dan mengikut sertakan aku didalamnya.
"Kamu ngapain sih?!" tanyaku langsung berdiri
"Lagi selfie, memangnya kenapa?"
"Terserah aja kamu mau selfie tapi kenapa kameranya kamu arahkan keaku?!" ucapku sewot
"Memang apa salahnya? akukan cuma mau nyimpan moment kalau kita baru aja abis ketemu, aku share ah!" ucapnya cuek sambil mengetik sesuatu dihapenya,
__ADS_1
"SINI!!" dengan cepat aku merebut ponsel dan segera menghapus hasil jepretannya barusan sebelum dia hare ke medsos.
"APA - APAIN SIH?!" sambil merebut handphonenya kembali dengan wajah kesal.
(Operator bandara)
"PENERBANGAN DENGAN NOMOR XXXX TUJUAN JAKARTA SILAHKAN MELALUI JALUR A......!"
"Tolong yah jaga sikap!" ucapku sinis sambil mengangkat koper kecilku lalu segera meninggalkannya.
Baru saja duduk, lagi - lagi aku bertemu dengannya, dan parahnya lagi :
"Nah kan!, ternyata kita duduk bersebelahan dan ini namanya jodoh, iya kan!?" ucapnya bangga sambil merapat disebelahku
'Jodoh apanya? yang ada apes, untung aja aku duduk disamping jendela, setidaknya ada tempat untuk memandangan!' gumam kesal
Selama penerbangan aku sama sekali tidak menggubris cerita yang dia sampaikan sampai - sampai dia dimulai jengkel sendiri sama aku.
"Van, kamu kenapa sih dari tadi aku cerita nggak ada yang kamu dengerin, memangnya aku ada salah apa sama kamu, owh jangan - jangan takut prisil cemburu yaa? tenang aja, aku jarang kok ketemu sama dia!" Ucapnya nyeleneh nggak karuan membuat aku tambah gregetan.
"Kamu ini lagi mau cari masalah atau apa ya? jangan sok akrab sama aku!" kataku mulai kasar karena tingkahnya dia tidak bersikap dewasa sama sekali.
"Sudahlah Van kamu jangan naif, kasusmu dulu sama Prisil hampir satu kampus tau semua, terlebih sekarang dia sudah jadi wakil Dekan dikampus, Hmmm yaa kamu tau sendirikan dia kayak gimana kan! hehehee..." lagi - lagi dia mengingatkan hal yang aku benci, yang membuat aku jadi tambah mengacuhkannya sampai pesawat mendarat.
Sesampainya dibandara aku langsung menghampiri taksi yang sudah mangkal,
"Ke Hotel H pak!" dengan segera supir itu mulai menginjak gasnya.
Belum sempat aku melihat jam berapa saat ini aku langsung meletakan tas lalu merebahkan tubuh diatas springbed tanpa mengganti baju terlebih dulu, kulemaskan tulang belakangku yang pegal karena sudah duduk seharian.
.
.
.
Saat kubuka mata nampak jendela yang gordengnya masih terbuka dengan langit yang tadinya terang sekarang sudah berubah gelap penuh bintang.
Agh (bangkit)
"Lho kok sudah malam betul?! (kaget)
oh iya ya aku lupa menyesuaikan jam disini!" kataku sambil memutar jam lalu beranjak mandi.
Setelah rapi aku langsung pergi keluar mencari makan, soalnya menu makanan dihotel kurang lebih sama dengan masakan mama dirumah.
"Aduh, kenapa tadi Dara nggak aku ajak aja ya? kan mumpung sekolahnya libur jadi dia bisa refresing!" sesalku saat perasaan khawatir mulai menyapa
Setelah makan aku bergegas menyalakan handphone yang dari siang sudah mati, ada dua pesan dari ibu namun yang membuat aku tercengang adalah ada dua belas miscall dari Kiki yang dengan langsung ku telpon balik.
TUUUUT!...
"Hallo Mas Irvan? mas kenapa baru aktif?" tanyanya to the poin
"Iya maaf tadi lowbat, dari tadi siang miscall kenapa Ki?" tanyaku mulai cemas
"Tadi siang aku mau kasih tau mas Irvan kalau Amira tadi cerita kalau dia sama Arga sekalinya bersaudara!"
"Apa?(terkejut) beneran dia sudah cerita?" tanyaku meyakinkan
"Iya beneran mas, ta...."
"Syukur deh kalau begitu, Makasih banyak yaa Ki infonya!" ucapku semangat, lalu aku langsung menelpon ibu
"Hallo bu?"
"Lhoo kok baru nelpon? ibu udah khawatir dari tadi, nomormu nggak aktif - aktif! sekarang kamu dimana?" cerocos ibu
"Iya maaf bu, tadi begitu sampe aku langsung ketiduran terus hapenya lupa aku cash, gimana keadaan disana bu?"
"Maksudmu keadaannya Dara?"
"Mmmm Iya, apa hari ini dia sudah bebih baik?!" harapku
__ADS_1
"Dia biasa aja, masih diam seperi biasanya, cuma tadi sore pulangnya diantar Kiki juga sama satu temannya lagi kalau gak salah namanya Amira!" jawab ibu, namun aku tidak heran karena pikirku mereka pasti sudah akur seperti dulu, tapi dia...
"Belum ada perubahan? kok bisa yaa?!" gumamku heran
"Memangnya ada apa Van?"
"Ah nggak ada apa - apa bu, yaudah yang penting ibu jaga kesehatan selama aku disini yaa..." pesanku
"Iya, kamu juga jangan sampe lupa lagi kabarin ibu, pokoknya disana kamu kerja aja yang bener nggak usah banyak pikiran!." balas ibu.
Setelah sambungan telpon ibu terputus, aku segera menelpon mamah karena penasaran dari cerita ibu yang mengatakan kalau Dara belum ada perubahan, padahal dia sudah tau kenyataannya kalau Arga dan Amira itu bersaudara yang seharusnya sekarang dia sudah bisa lega.
Dan benar saja yang dikatakan ibu tadi, mama juga cerita kalau keadaan Dara masih sama saja dengan keadaa yang sebelumnya.
Lalu aku yang masih penasaran pun akhirnya kembali menelpon kiki, tapi awalnya aku disambut dengan omelan karena tadi aku putus telponnya yang padahal dia belum selesai cerita!
.
.
Dua minggu setelah itu, aku yang sudah tau kebenaran dari Kiki apa penyebabnya Dara masih saja murung, kini aku malah dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya!
(IRVAN END)
.
.
(DARA)
"Amira, Kiki, A.. AKU.. AKU....." Pernyataan Amira seketika membuat aku nyesek, lalu dia mengambil kan aku segelas air
"Maaf yaa Dara, seharusnya aku dan Arga memang ceritain semua ini dari awal, tetapi aku nggak bisa membocorin rahasia keluarga selama aku dan Arga masih bersekolah disini, takutnya kalau sampe papanya Arga tau bisa - bisa Arga langsung dipindahkan keluar kota!" jelasnya
"Ta..tapi, saat itu aku mendengar......." tanyaku ragu - ragu
"Iya Mira, saat itu aku sama Dara ngedenger kalau kamu lagi ngerayu Arga, gimana bisa kamu merayu saudaramu sendiri?!" tanya Kiki
"Owh yang itu, iya Arga juga sempat cerita kalau perkelahian kalian waktu itu dipicu oleh masalah ku, jadi begini :
Sebenarnya aku diam - diam pacaran sama Jordan anak kelas dua A, terus pas aku lagi dicium sama Jordan sekalinya Dinda ada disana juga, dan tanpa sepengetahuanku dia sudah mengambil foto kami berdua!" ceritanya, namun sebelum melanjutkan lagi, mukanya langsung memerah
"Eeh bukan cuma disitu, dia juga ada ngambil foto saat aku dan Jordam lagi,,,, lagi mau masuk ke hotel, aku nggak tau Dinda itu kebetulan memang cuma lewat atau dia sengaja ngikutin kami! sebab besoknya dia nyaperin aku sambil menunjukan hasil fotonya dan bahkan dia jua mengancam mau menyebarin foto itu ke group sekolah, yaa aku langsung takut, karena tentunya bisa merusak reputasi sekolah dan juga mencoreng nama baik papaku!" jelasnya
"Yaa apa hubungannya sama Arga?" celetuk Kiki,
"Jadi pas aku minta supaya foto itu dihapus, Dinda mangajuka syarat, dan syaratnya itu dia minta aku harus bantu dia supaya Arga mutuskan hubungannya sama Dara terus nyomblangin dia sama Arga dalam waktu satu minggu!" ucapnya
"Terus kamu setuju dengan persyaratan itu?" tanyaku cemas
"Saat itu aku bingung Ra, aku takut reputasi sekolah dan nama baik keluargaku rusak jadi nggak ada pilihan lain selain aku langsung menyetujui syarat tersebut!" katanya tanpa merasa bersalah yang seketika membuat aku tertegun.
BRAK!! (Kiki langsung berdiri sambil menggeprak meja yang membuat suasana jadi menegang)
"KAMU TEGA YA, DEMI MASALAH PRIBADIMU KAMU MAU RUSAK HUBUNGAN SAUDARA DAN TEMAN SENDIRI!!" ucap Kiki yang tangannya langsung aku tahan
"AKU INI BELUM SELESAI BICARA! DENGERIN DULU PENJELASANKU!" balas bentak Amira keKiki lalu mereka kembali duduk
"Aku memang menyetujui persyaratan itu, tapi coba pikir, apakah sampai sekarang aku ada menghalangi hubungan Arga sama Dara? walaupun sebenarnya aku takut dengan ancamannya Dinda tapi aku juga nggak rela kalau sepupuku itu sampai putus sama Dara yang sudah menjadi temanku sejak kelas satu, terlebih aku juga nggak akan rela kalau Arga sampai pacaran dengan cewek kayak begitu!" Jelasnya
"Waktu itu aku udah bingun harus gimana, akhirnya aku mencoba menceritakan semua itu sama Arga supaya Arga bantuin aku cari jalan keluar, makanya waktu itu aku dan Arga sering mencari tempat sepi untuk membahas masalah ini berdua, sampai beberapa hari akhirnya kami mendapat solusi, yaitu denga cara aku memakai nomor ganda dihandphoneku buat mengelabui Dinda, aku kasih tau kedia kalau nomor itu adalah nomornya Arga, lalu setiap dia chating aku selalu berpura - pura menjadi Arga jadi kesannya seolah - olah Arga memberi harapan sama dia, dan cara ini tujuannya cuma buat mengulur waktu sampai kelulusan.
Terus waktu kamu mempergoki aku sama Arga waktu itu, sebenarnya aku lagi bacain chatingannya Dinda yang lagi merayu Arga!' Jelasnya, namun aku masih agak ragu karena
"Tapi, tapi waktu itu aku ada denger Arga bilang kamu jorok dan aku juga denger suara..suaramu lagi 'Mmp' gitu!" tanyaku takut - takut
"Apa, suara 'Mmmp?' (mikir), Hehee! astaga, waktu itu aku sama Arga abis beli eskrim, terus gara - gara aku keasikan cerita jadinya keburu meleleh ditangan, yaa aku reflek langsung buru - buru ngjilatin, terus aku nyantap sedikit eskrim dia makanya Arga marah -marah sampe ngatain aku jorok! Hehehehe!!" jelasnya
DOEENG!!
seketika aku sama Kiki langsung bengong!
Gimana nggak, tentunya aku jadi merasa konyol, selama berbulan bulan aku sudah menyimpan rasa sakit hati dan tau - taunya rasa sakit hati itu tidak berarti yang malah bikin aku sampai marah besar sama Arga!
__ADS_1
BRAK!! (suara banting pintu)
"AMIRA BAGUS YAH?!! TERNYATA KAMU SUDAH BOHONGIN AKU SELAMA INI!!"