
Seminggu kemudian bu Aina dan Doni terpaksa harus pulang ke Samarinda, selain karena waktu liburan sekolah Doni yang sudah habis, juga karena bu Aina tidak enak hati kalau terlalu lama merepotkan ibunya Irvan untuk mengawasi toko kuenya.
"Sayang kamu harus selalu hati hati ya, jangan telat makan dan minum obatnya, jangan sampe lupa jadwal check-upnya, jangan keluar rumah sendiri, jangan....."
"Iya mah, semua pesan yang mama sebutin dari kemaren pasti aku ingetin kok, kalaupun aku sampe lupa kan ada kak Sovia yang bakal bantu aku ngingetin semua itu!" kata Dara menenangkan bu Aina yang matanya sudah mulai berkaca kaca saat akan meninggalkan putri satu satunya yang sedang sakit jauh dinegeri orang.
"Mamah sebenernya masih berat dan nggak tega ninggalin kamu nak, tapi mamah juga.. hikshiks..."
"Mamah jangan nangis dong, kalau mamah nangis aku bakalan jadi ikut sedih terus nantinya!" pinta Dara yang bibirnya juga sudah bergetar getar dan matanya juga sudah mulai berairan
"Iya sayang iya, maafin mamah! mamah gak ada maksud mau bikin kamu sedih, mamah cuma khawatir sama anak gadis mamah yang manja ini!" kata bu Aina yang langsung menutupi raut sedihnya dengan senyuman lebar sambil mengusap kelopak mata bawahnya yang basah
"Tante tenang aja, aku bakal liat liatin Dara setiap hari disini, pokoknya aku bakal jagain si ceroboh ini dengan semua kemampuanku, aku gak akan biarin hal bahaya terjadi lagi sama dia, lagian rumahku kan disebelah aja jadi kalau ada apa apa aku pasti cepat datang!" ucap Arga sambil tangannya mengusap usap rambut Dara
"Iya makasih ya Ga, tante percaya sama kamu! dan kalian juga harus baik baik yaa?" pesannya, lalu mereka berdua mengangguk. Melihat suasana haru, tante Laurent yang juga berada dirumah Dara juga ikut memberi dukungan untuk keluarga kecil tersebut.
"Jangan khawatir Aina, walaupun kita baru satu minggu berteman tapi kamu sudah saya anggap sebagai saudara saya, anakmu juga anak saya, jadi saya juga akan sering menjenguknya disini untuk kamu!" kata tante Lauren menyemangati
"Tuh kan tan yang bakal jagain Dara disini banyak, jadi tante bisa tenang pulang keIndonesia dan bisa lanjut bikin kue super enaknya!" kata Arga menambahkan
"Makasih semua, sekarang perasaan saya sudah lega!" sahut bu Aina sambil mandangi semua yang ada diruang tamu itu.
"Tapi tante, tante beneran gak mau kami anterin aja sampe bandara?" tawaran Arga
"Jangan! tante lebih tenang kalau ninggalin kalian darisini ketimbang dari bandara, takutnya nanti hati tante malah semakin gak tega ngeliatnya! Yaudah sayang mamah berangkat dulu ya?" pamitnya sambil beranjak dari duduk lalu menciumi putrinya itu
Doni yang dari tadi berdiri didepan pintu menghadap keluar hanya diam tanpa berkata kata. Dia sedang mengingat kembali kejadian malam saat hujan deras itu, dia tidak menyangka kalau perpisahan dengan kakaknya itu bukan karna Dara akan kuliah diBandung seperti yang sudah direncanakan, melainkan kakaknya akan jatuh sakit bahkan sampai melupakan dia dan yang lainnya. Sesekali Doni terlihat sedang menghapus airmata yang sudah membendung dikelopak bawahnya, dia tidak ingin airmatanya itu sampai terjatuh hingga membuat gengsinya luntur dihadapan kakak yang badannya lebih kecil darinya itu.
"Doni?" panggil Dara sembari mendekati pintu tempat dia berdiri, lalu Doni terburu buru mengusap untuk memastikan matanya kering.
"Iya kak?" sahutnya sambil menoleh dan memasang senyuman memaksa
"Kamu harus jaga dan bantuin mamah ya dek? karena sekarang cuma kamu yang mamah bisa andelin dirumah!" pesan Dara sambil merentangkan tangan lalu memeluknya, dalam sekejap kata kata itu membuat airmata Doni tidak bisa terbendung lagi saat mendengarnya, karna pesan itu sama persis dengan pesan yang dia ucapkan sebelum dia kritis sampai lupa ingatan.
"Iya kak iya, aku bakal jagain mamah, kakak gak usah khawatirkan itu, yang terpenting sekarang kakak harus cepet sehat, cepet pulih supaya kita bisa sama sama lagi kayak dulu, biar kita bisa masak sama sama lagi, beresin rumah sama sama lagi, pokoknya kebiasaan kita yang sama sama harus cepet kembali lagi kayak dulu!" kata Doni sambil menangis dipelukan erat kakak perempuannya.
__ADS_1
Mamah yang melihat kedua anaknya yang biasa kompak ini akan berpisah jadi terharu tak kuat menahan airmatanya lagi.
"Itu kolam renangnya minta kak Edward pasang pagar aja kalau kakak takut!! srrek!" canda Doni menghentikan tangisnya, ia berniat mengubah suasana sedih jadi bahagia, Dara yang masih memeluk adiknya itupun jadi langsung nyengir mendengarnya.
Dara dan Doni melepas pelukan lalu mereka tersenyum sambil menghapus airmatanya masing masing sebelum berangkat.
Setelah barang barang bawaan dimasukkan kebagasi, Dara, Arga, beserta kedua perawat dan bodyguard pun mengantar bu Aina dan Doni hanya sampai mereka masuk kedalam mobil. Pelannya laju mobil yang dikemudikan anak buahnya Arga membuat hati bu Aina semakin lirih, dia tak tahan melihat putrinya yang akan dia tinggal sendirian dirumah barunya itu terus melambaikan tangan mengiringi dirinya yang semakin menjauh darinya.
"Pak, tolong agak cepat aja jalannya!" pinta bu Aina kesupir yang umurnya lebih tua darinya.
Doni pun memalingkan pandangannya kearah luar jendela, dia sama sekali tidak ingin menoleh kearah kebelakang walaupun cuma sekedar meliriknya saja.
Tangan Dara terus saja melambai sampai mobil yang membawa mamah dan adiknya itu benar benar hilang dari pandangannya. Dia kurang mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, dia lupa dengan semua hal yang pernah terjadi dimasa lalu, dia lupa bahwa dirinya sudah beberapa kali ditinggal pergi oleh orang yang ia cintai.
Saat ini dia merasa bingung dengan perasaan yang tidak jelas sumbernya, dia ingin sekali menceritakannya, namun tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkannya. Gemuruh kegelisahan semakin membelenggu didadanya, namun dia tidak mampu mengurainya menjadi kata kata untuk dia curahkan, yang ia rasakan hanyalah sebuah rasa sedih yang menyakitkan, hati kecilnya seakan akan sedang berteriak:
"Jangan lagi, tolong, jangan lagi ada yang jauh dariku!".
"Dara, tante pulang dulu ya? kamu jangan merasa kesepian disini, jangan sungkan mengatakan apapun yang kamu butuhkan!" pesan pamit tante Laurent dengan ramah yang sontak mengejutkan Dara yang pandangan matanya sedang kosong
"Ayoo beib kita masuk!" ajak Arga yang tangannya menjulur minta digandeng, lalu Darapun segera mengangguk sambil menebar tersenyum tipis dibibirnya yang memucat.
NYUUT!.. NYUUT!..
Baru beberapa langkah masuk kedalam rumah, sepintas ada bayangan dengan suara yang entah darimana asalnya, bayangan yang tidak jelas gambarannya disertai suara yang tidak jelas juga sumbernya. Semua muncul berkelebat kelebat dalam pikiran yang diiringi suara bising bentakan dan teriakan ditelinganya, dalam sekejap Dara pun mulai kehilangan konsentrasi, dia memegangi keningnya karena pusing.
"Kamu kenapa beib?" tegur Arga yang bingung melihat Dara tiba tiba mulai bercucuran keringat, namun Dara tidak merespon karena suara Arga tidak terdengar lagi olehnya.
'KAMU DIMANA?!
TOLONG!!
AKU GAK NGERTI!
MAAFIN AKU!
__ADS_1
JANGAN PERGI!
JANGAN TINGGALKAN AKU!
PERGI KAMU!!..'
NYUTNYUT... semua suara itu terus terngiang tambah nyaring digendang telinganya
"AAAAGH!!!" teriak Dara tiba tiba sambil memegangi kepalanya
GREEP! Arga yang sudah curiga daritadi dengan sigap menahan tubuh Dara yang mulai oleng, dengan dibantu Edward yang mengikutinya dari belakang, Darapun dibawa kekamarnya untuk dibaringkan.
Dia tidak tahan dengan semua rasa yang tidak jelas darimana asal usulnya. Kebingung, kecemasan, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan kepasrahan semuanya bercampur aduk semakin bergejolak dihati dan pikirannya, namun pada akhirnya malah menjadi denyutan yang menyakitkan hingga membuatnya jatuh pingsan dalam sekejap.
"Paula, tolong hubungi dokter Ibrahim, bilang ini sangat genting jadi minta dia untuk datang secepatnya!" perintah Arga untuk manggil dokter pribadi papahnya.
Karena jarak tempuh antara rumah sakit dan rumah Arga tidak jauh, jadi tidak sampai sepuluh menit dokter Ibrahim pun tiba dilokasi dan bergegas memeriksa tubuh Dara yang suhunya menurun drastis.
"Gadis ini... apa gadis yang dikirim dari Indonesia yang sedang diteliti karena memiliki kelainan darah?" tanya dokter paruh baya tersebut
"Iya Dok, tapi mengenai hal ini memang tidak banyak yang tau, soalnya kakek dari Dara sendiri yang minta agar semua masalah penyakitnya ini jangan sampai diketahui publik! memang ada masalah apa Dok?" jawab dan tanya Arga cemas
"Apa dia baru saja mengalami trauma?" tanyanya lagi, lalu Arga menceritakan semua kejadian sebelum Dara pingsan.
"Owh begitu? Yayaya.. kalau gitu saya pamit dulu ya, tunggu saja dia sadar lalu langsung suruh dia meminum obat obatnya!" pesan dokter Ibrahim tanpa berkata apapun lagi yang tentunya malah membuat Arga dan yang lainnya jadi bingung seketika.
"Dokter, Dokter Ibrahim tunggu!" panggil Arga sambil berusaha mengejarnya namun dokter tersebut malah tambah mempercepat langkah kakinya lalu tergesa gesa masuk kedalam mobil.
Brrm.. Ngeeeng!!
"Astaga, ada apa sih sebenarnya?" gumam Arga sambil matanya masih memperhatikan mobil dokter Ibrahim yang sudah semakin menjauh dari pandangannya.
Tanpa banyak tau apa yang harus dia perbuat, Argapun menuruti pesan dokter tadi yang cuma menyuruhnya menunggu Dara sadar. Dengan tabung dan selang oksigen yang memang sudah disiapkan dikamarnya, Darapun terlihat nyenyak diatas ranjang yang ditemani Arga disampingnya, hingga sampai beberapa jam kemudian.
"Aku, aku lagi dimana sekarang?" tanya Dara bersuara pelan. Dengan kelopak mata yang masih sayup sayup dia terlihat bingung dengan keadaan disekitarnya, Arga yang sedang terpejam tidurpun jadi langsung bangun saat mendengar suara pacarnya berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Beib kamu kenapa beib? apa kamu lupa lagi?" tanyanya cemas