Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Mengapa Bisa?


__ADS_3

Saat ingin melangkah keluar dari kamar Dara, aku melihat kearah jam yang menggantung didinding atas pintu kamarnya yang menunjukan sudah pukul setengah enam namun sepertinya mamah belum bangun mungkin karena masih lelah.


Dengan perasaan masih sedikit was - was meninggalkannya, namun dengan langkah berat tetap kupaksakan kaki pulang kerumah sambil sesekali menoleh lagi kebelakang sambil berdo'a didalam hati, memohon kepada yang DIATAS agar Dara selalu mendapat perlindungan NYA saat siapapun sedang tidak disampingnya seperti sekarang ini.


Sesampainya dirumah yang pintunya sudah tidak terkunci, ku lihat Ibu sedang mempersiapkan sarapan untuk adik - adik yang akan berangkat kesekolah.


"Van? Gimana Dara, masih demamnya?" Tanya ibu yang selalu memperhatikan anak gadis angkatnya itu.


"Sudah mendingan sih Bu, tapi jam sembilan nanti aku mau antar aja dia periksa, soalnya demamnya naik turun takut kena DBD kayak Reza dulu.." Jawabku sambil bersiap naik keatas menuju kekamarku.


"Waduuh, Iya - iya..! kamu nggak sarapan dulu sini?!" Panggil Ibu


"Sebentar aku mandi dulu Bu, soalnya semalaman ac dikamar Dara nggak dinyalahin jadinya aku agak gerah sekarang.." jawabku sambil melangkah menaiki tangga


"Yaa sudah sana....


Reza?! Yudha?! Udah rapih belum, sarapannya niih!" panggil Ibu ke adik - adikku yang lagi sibuk didepan cermin dan juga yang lagi mempersiapkan buku.


"Sebentar Bu!!" jawab mereka kompak


Sesampainya dikamar, aku langsung menghampiri jendela yang masih tertutup rapat, kubuka gordeng dan kacanya sambil melihat kearah jendela kamar yang berada diseberang sana yang masih tertutup rapat.


"Sedang apa dia sampai belum membuka jendela kamarnya, masa lama banget ditoiletnya?!" pikiranku yang tentunya membuat aku menjadi khawatir dan cemas.


Akupun segera mandi sambil menikmati kesejukan air dipagi ini, namun pikiranku yang selalu saja membayangkan dirinya karena takut terjadi apa - apa saat ini, kemudian setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku kembali mengintip dari jendela kearah kamarnya yang masih belum juga terbuka.


TOK!! TOK!! TOK!! (pintu kamar diketuk)


"Van udah belum mandinya?!" panggil Ibu dari balik pintu


"Su - sudah Bu..!" segera aku berlari kearah pintu yang sebenarnya tidak terkunci lalu membukanya


"Lhooo Ibu, kenapa sarapan ku dibawain segala?!" tanyaku bingung sambil menerima nampan yang telah terisi sarapan diatasnya,


"Padahal sebentar lagi aku juga akan turun keruangan makan Bu..!" kataku


"Ibu lupa bilang, pagi ini mau ikut gerak jalan sama Ibu - ibu komplek lainnya.. Karena sudah mau siap - siap jadi sarapan mu dibawa naik aja daripada sarapan sendiri dibawah, soalnya Reza sama Yudha juga sudah berangkat!" Jelasnya sambil bersiap masuk kedalam kamarnya yang berada tepat disebelah kamarku.


"Iya sudah kalau gitu, Terimakasih Bu...!" Ucapku


Akupun membuka pintu balkon depan kamar berencana sarapan didepan sana sembari memeriksa beberapa hasil pekerjaan ku kemarin, dan tentunya juga sambil mengawasi anak kucing didepan sana yang jendela kamarnya masih saja tertutup rapat.


Saat aku baru mau duduk, kulihat semua lampu depan rumahnya sudah dipadamkan yang menandakan berati sudah mamahnya atau Dara sudah turun. Dan sekarang aku sudah agak tenang, sambil ku nikmati roti panggang buatan Ibu dan seduhan kopi favorit ku menambah rasa relax pikiranku untuk mulai membaca.


Walaupun suara bising beberapa kendaraan yang lalu lalang dibawah sana terkadang mengganggu konsentrasi bacaku, namun aku masih mampu menyelesaikan pekerjaan kantorku yang cuma tersisa sedikit saja.


Setelah selesai semua aku menutup buku dan menaruhnya keatas pangkuanku, ku nikmati lagi sarapan yang berada diatas meja samping kananku sambil mataku memperhatikan rumah Dara yang terlihat mamanya sedang menyirami pohon bunga kesayangannya, namun aku merasa ada yang ganjil didepan rumah seberang ku itu.


"Lhoooh, motor mamah mana?!!" Gumam ku karena terkejut melihat motornya yang tadi pagi sangat jelas masih terpakir didepan sana dan kini sudah tidak ada lagi, sedangkan mama masih berada disana, dan tidak mungkin juga Doni karena dia sedang bermalam dirumah temannya, dengan cepat aku berlari keluar kamar menuju kerumah Dara.


"Mah, Dara mana, motor mama mana?!!" tanyaku dengan cepat saat menghampiri mamah yang masih menyirami tanamannya itu.


"Lhoo? bukannya dia pergi kesekolah? yaa motornya juga dibawa sama dia!" Jawab mama keheranan melihat aku yang habis berlari


"Sudah kuduga! padahal tadi pagi bilangnya dia mau aku antar kedokter?!" kataku sambil memegangi dahi


"Yaa ampun, Mama juga sempet heran sih, tapi dia bilang sudah sembuh, terus pas mama pegang badannya juga sudah nggak sepanas tadi malam.!" kata mama sambil mematikan keran airnya



"Tapi kalau kena DBD memang begitu mah, panasnya naik turun!" Jelasku dengan jantung yang berdebar - debar


"Sebenarnya perasaan mama saat ngeliat dia mau berangkat juga kurang enak sih Van, bgini aja, kalau kamu nggak sibuk mama minta tolong liatin dia yaa? kalau bisa dijemput aja dah!" Pinta mamah


"Iya, Mamah nih kayak aku siapa aja segala minta tolong, tampa mama bilang aku memang mau jemput dia" Jawabku yang memang sudah merasa cemas dengan keadaannya yang bawa motor sendiri.


"Naah kalau gitu langsung aja bawa dia periksa biar cepat dapat kepastian demamnya itu!" Pesan mama


"Iya - iya mah!" jawabku sambil mulai melangkah mundur

__ADS_1


"Eeh tapi diakan sudah bawa motor, gimana jemputnya?!!" Tanya mamah


"Kalau masalah motor gampang aja nanti dipikirkan, yang penting Daranya dulu! Yaudah, aku pulang mau siap - siap mah.." pamit ku


"Pake mobil mamah aja Van, hari ini mamah nggak ketoko kok...!" Tawaran mamah


"Nggak usah mah, nanti aku mau mampir kekantor sebentar cuma taruh nyerahin berkas!!" jawabku sambil melangkah menyebrang kerumah


"Yaudah, Hati - hati nanti berangkatnya, mama titip Dara yaa...!" pesan mama,


"Iya Mah..." jawabku lagi sambil melambaikan tangan.


Dengan cepat aku bergegas bersiap - siap mengganti pakaian, sekilas aku melihat keatas meja kamarku yang ternyata handphonenya Dara pun masih berada bersamaku.


"Yaa ampun! kenapa semalam lupa aku kembalikan hapenya ini, terus gimana aku Menghubungi dia entar, dan kalau sampe dia ada apa - apa dijalan gimana? aduuh bodohnya aku ini..!!!" gumamku kesal sendiri


"Aah iya! aku hubungin aja ke nomor Kiki, tanyain Dara sudah sampai atau belum??.." pikirku sambil mencari nomor Kiki dihape Dara dan mulai bersiap menekan tombol panggilannya.


"Eeh jangan ditelpon! sekarang kan hari senin takutnya sedang upacara!" kataku lagi sambil memenekan tombol akhiri panggilannya


Tidak sadar ternyata tanganku sekalinya sudah sangat gemetaran karena panik bercampur emosi, ditambah Dara yang ternyata sudah membohongiku tadi pagi. Sambil merasa kesal akupun menulis sebuah pesan singkat ke nomor Kiki, aku minta agar dia segera mengabariku kalau Dara sudah tiba disekolah.


Lima belas menitpun berlalu, tanpa ada jawaban atau kabar apapun dari Kiki yang membuat rasa khawatir ku semakin menjadi - jadi. Bergegas aku merapikan dokumen pekerjaan ku yang akan aku bawa, dan tidak lupa aku menurunkan kembali kedapur nampan sarapan yang sudah Ibu bawakan tadi pagi.


Disepanjang perjalanan dari rumah menuju kesekolah Dara, mataku selalu saja memperhatikan setiap orang yang berada diatas troroar, apalagi saat melihat orang yang memakai motor yang sama persis dengan yang Dara pakai sekarang ini, hatiku jadi gelisah tidak karuan, ditambah saat terkena macet dan lampu merah yang menjadikan aku gila sendiri didalam mobil!!


"Ayooo dong cepat jalannya!! kenapa juga sih dia maksa berangkat kesekolah?


Aku juga kenapa sampai bisa kecolongan nggak lihat saat dia berangkat tadi, padahal jelas - jelas dia pasti lewat didepan ku!


Mana sampe sekarang belum ada kabar juga dari Kiki, apa jangan - jangan Dara belum sampai kesekolah? ADUUUH...!!!" stress ku kelabakan sendiri didalam sini bahkan ac pun seperti tidak ada rasa dinginnya.


(ac-nya rusak kalee bang?!😅)


Saat beberapa kali aku melihat handphone, aku baru teringat bahwa tadi malam berencana ingin menelpon.


Yaa, aku mau menelpon beberapa teman yang aku percaya untuk dimintai bantuannya untuk mencarikan Informasi anak yang barnama Amira yang saat ini satu sekolah dengan Dara.


Dan akhinya dia bersedia membantuku bahkan berjanji akan secepatnya memberi kabar setelah mengetahui informasi yang aku butuhkan.


Sesampainya disekolah yang bergedung lima lantai itu, aku melihat ada sesuatu yang tidak biasa dari depan gerbang nya. Barisan karangan bunga dengan cat dasar berwarna hitam yang menandakan ucapan duka.


"Siapa yang meninggal, kok sampai banyak begini karangan bunganya?!" pikirku sambil menyetir pelan kearah depan gerbangnya lalu memakirnya.


Dan sangat tidak aku sangka, ketika aku baca salahsatu dari puluhan karangan bunga itu, sekalinya yang telah meninggal adalah Bu Fatma orang nomor dua terkaya dikota ini, yang menjadikan beliau sudah tidak akan hadir lagi dalam rapat - rapat penting kami kedepannya.


Biarpun sangat kaya tapi beliau orangnya sangat baik dan dermawan, jadi wajar saja kalau dia pergi pun dihari senin yang menurut kepercayaan orang kami adalah hari baik bagi yang berpulang.


Tadi aku belum sempat melihat berita jadinya aku ketinggalan kabar duka ini, namun untungnya sekretaris dikantor sudah mengirim satu karangan bunga yang kulihat sudah terpampang dibarisan depan sini atas nama kantor perusahaan Bapakku.


"Permisi, Bapak cari siapa??!" Tanya seorang security setengah baya menghampiri ku dengan sopan


"Saya cari murid kelas tiga yang bernama Dara pak!" Jawabku


"Waduh, semuanya sudah pada pulang pak, sebagian ada juga yang ikut pergi kerumah duka Bu Fatma.." Jelasnya


"Owh kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih infonya Pak!" Ucapku sambil mulai melangkah kembali kemobil.


"Iya - iya pak, sama - sama!" Sahutnya


(Didalam mobil)


"Ya ampun kok bisa begini? kemana perginya dia sekarang? Oiya mending aku telpon Kiki, atau sekalian aja aku kerumahnya karena biasanya Dara sering mampir kesana, tapi lebih baik aku putar mobil dulu deh nggak enak parkir kelamaan didepan sini!" Pikirku,


Kemudian saat aku sedang memutar balik arah mobil, tiba - tiba saja handphone Dara berdering yang membuat aku jadi gugup dan terburu - buru menyetir.


Setelah selesai memutar balik, akupun segera mengambil hape Dara dan melihat miscall'an barusan, sambil menyetir sangat pelan kearah yang terlanjur menuju kerumah Kiki.


"Aah Kiki?! Kebetulan banget kalau begitu!"

__ADS_1


Gumamku dan dengan cepat menelpon balik kenomor itu.


TUUUT!!!


"Hallo ....."


"Kiki mana Dara?!!!" tanyaku yang langsung to the point.


"I - ini aku mas....." jawabnya terbata - bata, dan suara ini adalah suara anak yang sudah membohongiku tadi pagi, karena emosi akupun menanyai keberadaan nya sambil marah - marah.


Awalnya saat ditanyai dia tidak mau menjawab kecuali dengan syarat bahwa aku berhenti memarahinya, dan akupun langsung menyetujuinya. Lalu benar saja dugaanku tadi, dia mengatakan kalau sekarang ini sedang berada dirumah Kiki namun dia melarangku datang karena mereka ada rencana mau pergi lagi, tetapi sayangnya jaraknya rumah Kiki sekarang tidak sampai lima meter didepan ku.


"Mau kemana lagi?!!" Tanyaku yang sudah berhenti tepat berada didepannya dengan handphone yang dia pegang masih terhubung denganku.


"Lhooh kok cepat banget mas?!!" tanyanya, lalu Kikipun muncul dari balik pintu tepat dibelakangnya yang juga terheran - heran saat melihat kedatanganku disini.


Mau kemana pun mereka pergi, kali ini aku tidak akan membiarkan dia lolos dari pandanganku lagi! Ucapku dalam hati


"Woooy! ngapain pada bengong? ayo cepetan naik!!" tegurku dari dalam mobil


"Tapi mas?? ...."


"NGGAK ADA TAPI - TAPIAN, CEPET NAIK!!!" Perintahku tanpa memberikan sedikit pun celah padanya untuk beralasan, lalu dengan cepat mereka naik kedalam mobil tanpa suara dan kata - kata dibibirnya.


Pikiran emosi ku masih menutupi semua pertanyaan yang ingin aku lontarkan padanya, menjadikan suasana didalam mobil ini lebih dingin daripada suhu digunung es.


#


Aku: Bang Irvan keseringan nonton frozen kayaknya!😁


Irvan: EHEEMM!!!! 😤


Aku: 🤭


#


Kulirik dia sesekali melirik kepadaku, begitu juga Kiki yang terlihat dari kaca spion tengah beberapa kali ingin berkata namun tidak jadi.


Apa - apaan ini, masa mau begini terus?


lagian tujuan mereka mau jalan kemana?


Diantara kami aku yang paling tua, dan sebagai orang tua itu ternyata membingungkan, sebaiknya tetap diam untu menjaga image karena harusnya dihormati atau bertanya duluan karena harus mengalah?


TIK - TOK - TIK - TOK!


"Mas?!"


"Dek?!"


Tidak sengaja aku dan dia saling betabrakan panggilan, kalau begitu kubiarkan dia duluan yang membuka obrolan karena aku juga belum tahu mau ngomong apa barusan!


"Mas aja dulu yang ngomong!" katanya


"Nggak, kamu aja duluan, kamu kan perempuan!!" Jawabku beralasan


"Mas aja, mas kan lebih tua dari aku!" Jawabannya tidak terkalahkan


"Justru mas ngalah sama adek yang lebih muda!"


Kulemparkan lagi perkataannya


"Sudah - sudah, aku aja duluan yang ngomong!" kata Kiki yang tiba - tiba memotong debatan kami barusan.


"Nhaa dari tadi kek!"


"Nhaa dari tadi kek!"


Sahutku yang lagi - lagi berbarengan dengannya, yang membuat kesan seolah - olah kami berdua sangat kompak

__ADS_1


"Haiiiiss! lama - lama disini aku tertular sama kalian!" kata Kiki menyindir kelakuan kami berdua, yang terdengar menggelitik ditelingaku.


Dan seketika saja suasana didalam mobil ini mulai mencair lalu akupun sudah merasa nyaman untuk mulai bertanya - tanya.


__ADS_2