
Malamnya,
"Sabar Van Dara itukan lagi gak ingat siapa siapa sekarang, jangankan sama kamu bahkan sama keluarga aslinya pun pasti lupa! saat ini dia disana cuma sama mamah dan adiknya, jadi apa salah kalau kebetulan gak sengaja ketemu Arga terus dia juga nemenin Dara disana?
Van, aku paham perasaanmu saat ini, tapi kamu jangan egois, coba kamu pikirkan juga gimana perasaannya Arga sekarang ini? sekian lama dia menahan sakit sendirian tanpa keluarga yang lain tau keadaannya, bahkan mamanya sendiripun juga gak tau.
Apa kamu masih bisa bilang cemburu sama orang yang keadaannya aja masih dikursi roda? dia sampe sakit begitukan setelah mengorbankan nyawa demi Dara yang hampir tertabrak motor, dan sekarang ketemu sama Dara malah dalam keadaan lupa ingatan, apa kamu pikir dia juga gak sedih melihatnya?
Kamu ini kan masih ada keluarga, ibu dan adik adikmu selalu bersamamu, kesibukan kantor dan kuliah akan mengisi hari harimu, rekan kerja dan teman kampus juga akan mengalihkanmu, apa semua itu gak cukup? apa gak kamu syukuri? coba kalau dibandingkan sama Arga?"
Irvan pun hanya bisa bersandar didinding balkon kamarnya setelah mendengar nasihat Rina ditelpon tadi. Rina sama sekali tidak bermaksud tidak mendukungnya, tapi justru tujuan Rina berkata begitu untuk membangun rasa percaya diri Irvan agar lebih kuat, agar Irvan tetap tenang dan berpikir positif atas semua kejadian yang dialaminya ini.
'Bener kata Rina, aku gak boleh egois, bukan aku aja yang saat ini menderita, Mamah, Dara, Arga, Amira, bahkan semua orang dimuka bumi ini punya masalah dan penderitaannya masing masing, jadi aku gak bisa terus terusan mengeluh!
Yaa Tuhan maafkan aku, bukan maksud ku tidak bersyukur atas nikmat lain yang kau beri padaku, hanya saja aku tetap tidak bisa membohongi kegundahan hatiku!' Gumam Irvan dalam hati yang sedang merasakan rindunya terhadap Dara
"Van, barang barangmu sudah siap semua kah nak?" tanya Ibu yang tau tau sudah masuk kedalam kamarnya
"Uu..udah bu!" sahut Irvan dari teras balkon sambil mengusap airmatanya yang menggenang, lalu segera menghampiri ibunya yang sedang memeriksa koper kecilnya
"Kok dikit banget bawa bajunya, nanti kalau lagi sibuk gak sempet nyuci gimana? kamu kan gak mau pake assisten dirumahmu sana!" tegur ibu saat mendapati koper anaknya cuma ada beberapa lembar baju kerja
"Sekarangkan orang yang buka laundry'an banyak bu dimana mana gak kayak dulu yang masih langka! Kalau masalah baju ganti lainnya, aku berencana mau beli disana aja kan banyak distro!" jawab Irvan gak mau ribet
"Hmm tumben! Bilang aja lagi males bawa berat berat!" sindir ibu yang tau anaknya kurang suka belanja baju.
Tidak seperti biasanya saat disindir biasanya Irvan selalu menyahut tidak mau kalah, tapi kali ini dia malah melamun sambil duduk ditepi kasurnya membuat ibu curiga.
"Kamu kenapa nak, kok ibu perhatiin dari sore tadi murung terus setelah mamahmu nelpon? kamu mikirin apa?" tanya ibu yang langsung duduk disampingnya
"Gak apa apa buk, cuma sedih aja rencanaku mau ajak mereka jalan jalan sekaligus mengkuliahkan Dara diBandung jadi gagal, dan besok aku akan berangkat sendirian kesana!" jawab Irvan dengan wajah memelas
"Aduh nak kamu jangan begitu dong, kamu kira ibu mu ini gak sedih apa? sekian banyak ibu nonton film drakor berbagai macam judul, tapi masih kalah nyesek pas kejadian malam itu pas papanya Dara mengakui dia punya istri lain, sampai saat ini hati ibu aja masih sakit! gimana sama Aina, sama Dara,...blablabla" cerita ibu dengan gaya dramatis, Irvan yang lagi melamunpun cuma melirik sambil memegangi dahinya setelah melihat tingkah ibunya yang bikin dia tambah sakit kepala.
"Bu aku mau tidur duluan, takut besok kesiangan!" kata Irvan yang langsung manjat keatas kekasur lalu menutup kepalanya pakai bantal tanpa mendengarkan cerita ibu yang panjang lebar belum selesai.
.
.
(Pagi, diBerlin-Jerman)
__ADS_1
"Pagi beib?" sapa Arga saat dara mulai membuka matanya
"Eh, pagi, kamu sudah lama disini? Mamah sama Doni mana?" tanya Dara dengan suara pelan, dia sedikit terkejut saat baru membuka mata tau tau Arga sudah duduk disamping ranjangnya.
"Aku sengaja nunggu kamu bangun, kalau Mamah sama Doni baru aja keluar cari sarapan! keadaan kamu gimana sekarang, apa masih sakit?" tanya Arga tersenyum sambil menggenggam tangan Dara lalu Dara menggeleng pelan sambil terus menatap Arga.
Seketika Dara jadi tertegun saat cahaya mentari yang menembus dari jendela kamarnya menyorot kewajah Arga, dia baru menyadari kalau pacarnya itu berwajah sangat tampan.
"Kamu kenapa beib kok senyum senyum sendiri? apa ada yang salah dimukaku? padahal sebelum kesini aku mandi dulu loh!" tanya Arga sambil meraba raba wajahnya
"Hehe... iya dimukamu ada yang nempel, masa kamu gak sadar sih?!" jawab Dara
"Apa? coba tolong diambilkan!" pinta Arga sambil medekati wajahnya keDara
"Mana bisa kuambil? yang nempel dimukamu itu ketampanan!" kata Dara sembari mengelus lembut pipi Arga
"Yaa ampun beib, ini baru pertama kalinya loh kamu bilang aku tampan!"
"Masa sih? jadi aku nggak pernah ngakuin sama kamu kalau kamu tampan? berarti aku ini dulunya bodoh atau pemalu?" tanya Dara polos kemudian Arga berpura pura mikir
"Hmm... Kayaknya dua duanya deh beib!"
"Hah! masa aku sebodoh itu sih?" manyun
"iiiih teganya kamu!!" merengek manja.
Candaan Arga dengan senyuman indahnya menambah warna cahaya mentari pagi dikamar Dara.
Saat Dara sedang mandi, Arga merogoh kantongnya lalu mengeluarkan botol obat Dara yang kemarin dia ambil. Sambil berpikir berpikir dia terus memperhatikan botol itu,
'Keliatannya dia malah lebih sehat tanpa minum ini!' gumam Arga
TOK TOK TOK!! kreet!
Buru buru Arga memasukan kembali botol obat tersebut kedalam kantongnya.
"Permisi tuan muda?(Bahasa Inggris)" panggil perawat Arga dari depan pintu
"Iya Paula, ada apa?" sahut Arga yang masih duduk disamping ranjang Dara, dengan sopan Paula pun menghampiri lalu bebisik dengan sangat pelan.
"Owh kalau gitu cepat antar saya menemuinya!" pinta Arga yang langsung pamit kepada Dara yang masih didalam kamar mandi.
__ADS_1
"Beib, aku mau kekamarku sebentar ya? kamu siap siap aja dulu nanti tunggu aku datang baru kita sarapan bareng, oke?!" kata Arga dari balik pintu
"Iya beib jangan lama lama ya?!" sahut Dara dari dalam
"Iya sayang.." balas Arga lalu Paula mendorongkan kursi rodanya
Sesampainya didalam kamar, Arga langsung disambut pria seumuran papahnya dengan tas dokter ditangannya.
"Maaf sudah membuat anda menunggu, barusan saya dari kamar sebelah!" sapa Arga
"Owh tidak apa apa tuan Arga saya juga sedang tidak ada kesibukan! perkenalkan nama saya Nikolaus tapi tuan bisa panggil saya Niko!" sahutnya memperkenalkan diri sambil menunduk canggung
"Tidak perlu sungkan saya lebih suka bersikap kekeluargaan, apalagi saya ini jauh lebih muda jadi saya akan memanggil anda paman Niko! ayo silahkan duduk, kita langsung aja membahasnya." kata Arga dengan ramah.
Setelah duduk, paman Niko pun langsung membuka tas lalu mengeluarkan selembar kertas hasil print'an dan sebotol obat yang belum pernah dilihat Arga sebelumnya.
"Ini informasi mengenai obat yang tuan muda tanyakan kemarin bukan, kalau boleh saya tau ini untuk apa?" tanyanya sambil menyerahkan dua benda ditangannya itu.
Sebelum menjawab pertanyaan paman Niko, Argapun membaca dengan teliti keterangan obat yang bertulisan dalam bahasa Inggris tersebut, tidak lama kemudian mimik wajahnya berubah menjadi cemas, lalu tanpa ragu membuka botol obat ditangannya itu dan langsung mengeluarkan isinya.
"Jadi obat ini memang berbeda dari yang seharusnya?! apa paman yakin sudah mengetes komposisinya?" tanya Arga dengan tatapan serius
"Maksud tuan muda apa? tentu saya sudah mengetes kandungan didalamnya, dan obat ini hanya untuk penderita sakit jantung! apa tuan meragukan kinerja kerja saya?." tanya paman Niko bingung agak tersinggung,
"Bukan, bukan itu maksud saya! tapi paman Niko apa anda bisa jelaskan ini?" tanya Arga sambil mengeluarkan botol obat milik Dara dari dalam kantong lalu menyerahkannya kepaman Niko.
"Apa mungkin ada obat yang sama persis dengan kemasan berbeda?" tanya Arga dengan serius, dan paman Niko pun langsung mengenali botol obat penambah darah milik Dara tersebut.
"Owh suplement ini? iya iya saya tau, kebetulan saya juga mengkonsumsinya sehari sekali. Bentuk dan warnanya memang hampir sama dengan obat jantung yang tuan pegang itu, tapi saya yang bekerja sudah lebih dari duapuluh tahun dibidang obat obatan tentunya sangat hapal walaupun tanpa memeriksanya lagi!" jawab paman Niko dengan santai, namun dia terkejut saat mengeluarkan butiran obat Dara tersebut.
"Apa, ini mana mungkin?!" kata paman Niko yang terkejut melihat butiran obat ditangannya itu, kemudian dengan tergesa gesa dia membuka kembali tas bawaannya tadi lalu merogoh isinya.
"Ini tuan muda, lihat! saya benar benar mengkonsumsi suplemet darah yang sama!" kata paman Niko sambil menunjukkan botol obat yang sama persis dengan milik Dara, lalu dia mengeluarkan isinya dan langsung membandingkan kedua butir obat tersebut dihadapan Arga.
Mata Arga terbelalak melihat kedua butir obat didepan matanya yang memang hampir mirip bentuknya, hanya saja obat yang dari botol Dara warna merahnya lebih gelap dan ada cap putih kecil ujungnya.
'Kemaren aku memang sengaja menitipkan sebutir obat ini pada Paula tanpa memberikan botolnya, tujuanku memang supaya kakaknya benar benar mengecek komposisi dan jenis obat tersebut! dan kecurigaanku kali ini benar, obat yang dikonsumsi Dara selama beberapa hari lalu bukanlah obat yang seharusnya, melainkan obat yang sebaliknya dari penyakit yang dia derita!' gumam Arga dalam pikirannya
"Paman Niko, apa pihak dari rumah sakit bisa salah memberi obat?" tanya Arga yang pandangan matanya masih kaget
"Itu tidak mungkin tuan muda, kami selalu mengecek ulang obat yang akan diberikan kepada pasien, karena ini menyangkut nama baik rumah sakit kami! ini pasti ada yang menukar isinya setelah keluar dari apotek!" jawab paman Niko dengan tegas
__ADS_1
Tiba tiba terlintas sebuah ingatan dikepala Arga, dia ingat kemarin bu Aina memang sempat cerita kalau hari pertama minum obat itu keadaan Dara baik baik saja, namun setelah itu langsung bereaksi tidak normal seperti kemarin. 'Jadi kemungkinan besarnya memang benar yang dikatakan lama Niko barusan!' pikir Arga
"Paman Niko, tolong buatkan saya janji bertemu dengan pemimpin rumah sakit setelah saya sarapan nanti. Karena botol obat ini ada label dari rumah sakit, jadi saya mau secepatnya diselidiki siapa orang yang sudah berani menukar obat pacar saya ini!"