Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#3.Masalah utama


__ADS_3


Tanpa banyak berpikir, aku segera mencari Arga untuk menanyakan kertas nota dan buku catatan yang aku titip tadi.


Kebetulan saat aku melewati kantin, aku langsung mendapati dia sedang berkumpul bersama teman group bandnya didalam sana.


Dan tanpa ragu aku pun menghampiri untuk menanyainya,


"Ga, titipan aku tadi mana?" tanyaku pelan karena masih takut melihat muka dinding nya.


"Aku tinggal sana, tadi si Yoga nih manggil tiba-tiba jadinya aku tinggal disana!" jawabnya agak santai sambil nunjuk Yoga teman bandnya.


"Kamu tinggal disana maksudnya dimana Ga?!" tanyaku lagi sambil takut-takut,


"Ya diruang tadi Dara, diruang properti, memangnya kamu tadi ngerjain dimana?!" Jawabnya lagi tambah menegas,


nyes...! tiba-tiba langsung muncul perasaan curiga didalam hati.


"Kamu jangan becandain aku Ga, mana nota-nota itu?!" tanyaku lagi mulai mendesaknya sambil menadahkan tanganku


"Aku lagi nggak bercanda Dara.. coba kamu lihat sana!..." Jelasnya tambah menekan merasa benar, sambil menunjuk tangannya kearah ruang properti tadi


"Arga, plis deh jangan becanda, aku ini loh lagi capek banget hari ini! diruangan itu udah nggak ada barang apa-apa lagi!!" Kataku menjelaskan dengan tatapan panik dan bibir yang mulai bergetar ketakutan


Ekspresi Arga pun berubah bingung dan bercampur kesal, mungkin karena dia tidak percaya dengan ucapanku barusan. Lalu dia menarik tanganku berjalan dengan cepat menuju keruangan tadi tanpa ada kata-kata sedikitpun.


Sesampainya disana, yang didapat hanyalah Pak Agus penjaga sekolah sedang menyapu ruangan itu, segera Arga melepas tanganku lalu menghampiri dan bertanya padanya.


"Pakde, barang-barang disini dipindah kemana?" tanyanya sopan


"Pakde sih kurang tahu juga, tapi palingan dibawa kegudang belakang sama anggota penari tadi, soalnya ruang ini mau buat tempat istirahat katanya, saya mah cuma disuruh bersihin aja ini.." jelas pakde Agus


"Waduuuh! yaudah makasih pakde..." ucapnya


Tanpa banyak tanya lagi Arga segera menuju gudang belakang dengan langkahnya yang sangat cepat meninggalkan aku, lalu aku pun mengikutinya dari belakang.


Begitu sampai digudang belakang, Arga dan aku dengan segera berpencar mencari setupuk kertas nota dan buku tadi itu ruangan yang cukup besar dan juga sangat banyak barang didalamnya ini.


Sampai sudah hampir setengah jam kami berdua mencari tapi tidak menemukannya biar selembarpun, karena sudah agak panik kamipun saling terdiam tidak mengeluarkan satu katapun sama sekali.


Tidak lama pak Agus datang sambil membawa alat-alat pembersihnya untuk disimpan didalam sini, beliau pun menghampiri kami


"Belum ketemu? memangnya cari barang apa sih?" tanyanya


"Cari buku tipis sama kertas nota Pakde, pakde Ada lihat nggak!" Arga pun menjawab sekaligus bertanya lagi dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Kertas? Apa kertas-kertas yang beserakkan diruang properti tadi?" tanyanya lagi memastikan


"Iya yaa bener, pakde ada lihat? dimana sekarang?" tanya Arga antusias


Aku yang dari tadi sudah kelelahan hanya menyimak percakapan mereka sambil berdiri disamping Arga.


"Tadi pakde tanya sama yang lagi ngangkut-ngangkuti barang, mereka bilang katanya nggak ada yang tau itu kertas apa, jadi pakde campur sama sampah lainnya terus dibuang ke belakang sekolah" jawabnya dengan gugup.


Mendengar pengakuan pakde barusan spontan Arga menepuk keningnnya,


"Ya sudah pakde saya mau cari lagi!" katanya sambil berlari meninggalkan kami, sejenak aku melihat wajah pakde yang merasa bersalah jadi agak ngga tega karena Arga lari begitu saja.


"Maaf ya non, pakde nggak tau kalau itu penting, dan kertas itu......" dia berbicara dengan takut-takut lalu aku memotongnya.


"Iya nggak apa-apa pakde, kan pakde nggak sengaja!" kataku,


Sambil tersenyum aku pergi menyusul Arga dengan berjalan karena sudah tidak sanggup lagi untuk berlari.


Sesampainya ditempat sampah belakang sekolah, dari kejauhan aku melihat Arga sedang berdiri terdiam dibawah terik matahari sore.


Karena sudah lelah aku pun mendatanginya dengan langkah pelan. Dan nggak tau kenapa, semakin jarak ku dekat dengannya, semakin nggak enak perasaanku.


Entah ada apa, aku lihat dari tadi dia menunduk, akupun memperhatikan arah pandangan, dia melihat kebawah tapi tidak ada apa-apa dibawah kakinya, lalu dia bertanya:


"Caranya bagaimana supaya mendapat kan nota-nota itu lagi?" dengan wajah kaku tanpa ekspresi.


Selain karena sikapnya yang diam, aku jadi tambah bingung dengan pertanyaannya barusan.


"Mmm.. Caranya ya harus mendatangi toko-toko itu lagi dan meminta nota yang baru, tapi itu nggak mungkin sempat, soalnya sisa waktu hanya tinggal tiga hari aja, belum lagi harus mencatat dibuku, ngitungnya juga lama!" kataku menjelaskan, namun dia malah memejamkan mata saat mendengarkan penjelasanku.


"Kenapa nggak dicari aja dulu? soalnya tinggal sisa sedikit lagi nyatatnya! aku pengen cepet selesai supaya bisa istirahat!" kataku lagi


"Kalau gitu, biar aku yang akan mendatangi semua toko-toko itu, aku akan minta nota yang baru dan aku juga akan bantu kamu mencatatnya." ucapnya dengan wajah melas


"Tapi, nama tokonya ada di kertas catatan itu semuanya terus....." Belum selesai aku menjelaskan tiba-tiba Arga menjambak rambutnya sendiri.


"Aaaagggghhh!!!" teriaknya geram


Sontak aku jadi semakin binggung dan juga ketakutan, dia bukannya cepat membantu ku mencari tapi dia malah terlihat kesal sendiri...

__ADS_1


"Kenapa Ga, cari aja dulu yuuk? udah panas nih, aku dari pagi belum ada istirahat!" Kataku dengan suara yang sangat pelan karena sudah merasa kelelahan, kepanasan dan juga kehausan.


Lalu tangannya menunjuk kearah depan, disana ada tumpukkan plastik hitam yang aku kurang paham apa maksudnya, kemudian tanpa pikir panjang ku datangi kearah yang dia ditunjuk itu, tentu aku berharap menemukan benda yang aku cari, walaupun keadaannya sudah kotor atau basah sekalipun.


Dengan perasaan ngeri dan was-was, aku juga takut sesuatu yang aneh-aneh yang bakalan aku lihat disitu (ngerti ajakan maksudku kalau ditempat sampah kayak gimana?). Perlahan aku mendekati, namun hanya ada tumpukan dokumen tebal yang sudah terbakar setengah.


"Apa hubungannya sama dokumen tebal ini?!" Gumamku


Lalu Arga mengambil secarik kertas yang sudah setengah terbakar dari arah lainnya, dan diatas kertas itu ada.... TULISAN TANGANKU


alias catatan yang sedang kami cari!!


SRIIIINK!!! Seketika aku merasa memBEKU!


(bukan karena ratu Elsa looh!!)


Karena sudah lelah dari tadi mencari, ditambah udara panas diluar sini, aku jadi terdiam, pandanganku kosong, aku sangat tidak mampu lagi berfikir apa-apa.


Sontak Argapun panik saat melihatku, dengan segera Arga merangkul sambil menuntunku kembali kedalam sekolahan.


Sesampainya disekolah dia langsung membawaku kedalam kantin, suasana disana sudah mulai sepi karena hari sudah sore dan yang lainnya juga sudah banyak yang pulangan.


Hanya tersisa beberapa murid dan guru, anggota groupnya Arga dan beberapa anggota Osis beserta ketuanya, Amira.


"Loh Dara kenapa Ga?!" tanya Amira yang cepat-cepat menghampiri kami dan langsung menyiapkan kursi untuk ku.


Arga yang belum sempat menjawab pertanyaan Amira, langsung berlari kedalam kios kantin memesan sesuatu dan mengambil minuman didalam showcase.


Dengan terburu-buru dia berlari lagi mendatangiku sambil membawa dua botol air mineral, lalu dengan cepat Amira memerebut botol tersebut dari Arga, kemudian membantu membukakan tutupnya untukku.


"Arga..! kalian darimana, Dara kenapa sampe pucet begini!?" Bentak Amira menekan kecowok yang disegani banyak cewek ini.


Tak lama kemudian, teman-teman Arga yang lainnya ikut menghampiri kami, mungkin dikiranya ada sesuatu terjadi sampai ribut.


"Mira, sisa tugasnya Dara biar aku yang selesaikan nanti yaa?!" Ucapnya sambil gugup karena bentakkan Amira barusan.


"Tugas yang mana maksudmu Ga?!" tanya Amira curiga


"Yang catatan keuangan itu, sama nota-notanya nanti aku yang kumpulin lagi!" Jelasnya


"iiih kalau yang bagian itu mana bisa kamu Ga? Itu kan sebenarnya tugas bendahara, tapi karena bendaharanya lagi kena musibah, jadinya Dara yang ngelanjutin!" Jawabnya.


"Jangankan kamu, aku aja kurang paham kalau harus menyelesaikan tugas yang itu, soalnya cuma bendahara sama sekretaris aja yang paham, kalau aku cuma mencocokan aja dari proposalnya, tahu sendiri kami kan baru aja beberapa minggu di OSIS, jadi masih tahap belajar juga!" lanjutnya menjelaskan


Mendengar penjelasannya Amira, aku jadi tambah sakit kepala, karena sudah nyata tugas ku yang sudah ditahap akhir, kini semuanya sudah terbakar, rasanya sampai mau pingsan!


"Apa ini Dara??!" tanya Amira keheranan. Belum sempat aku berpikir, Arga sudah menjawabnya.


"Itu... itu kertas catatan yang Dara lagi kerjakan..." jawab Arga takut-takut. Amira pun langsung berdiri dan melotot melihat kertas tersebut!


"Jadi maksudnya hasil catatan Dara sudah terbakar? kok bisa? terus nota dari tokonya mana?!" tanya Amira mulai panik


"Sama!" jawab Arga singkat


"Terus, laporan yang mau diserahin ke ketua panitia gimana dong? Habislah kita!" Amira bertanya kepada ku, tapi aku pun nggak bisa menjawab apa-apa, karena rasa lelah bercampur bingung jadi otak ku belum mampu berfikir banyak.


"Ini salahku Mira, aku yang bakal tanggung jawab!" sahut Arga dengan percaya diri, atau mungkin dia hanya ingin menenangkan kami, karena pastinya tetap saja dia sendiri lagi bingung gimana caranya, masalahnya buku catatan itu punya bendahara dan belum sempat dibuat rekapannya. Masalahnya ini menyangkut keuangan, semua catatan itu setelah disusun rapi, dan tinggal diPrint! Tapi sekarang...


"Tenang aja Ga, kita pasti bantuin kok!" kata Yoga sambil menepuk bahu Arga, disusul anggota lainnya juga ikut menyemangati dia.


"Tapi waktunya kan cuma tinggal tiga hari, apa masih sempat?" tanyaku


"Mudah-mudahan sempat, biarin Arga dan yang lainnya ikut bantuin kamu, kalau sisa kerjaan mu yang lain biar aku sama Donita yang selesaikan, kan masih ada seksi yang lain juga, tapi kalau masalah keuangan aku serahin sama kamu ya?" Jawaban Amira membuat aku sedikit jadi lega.


"Makasih ya Amira!" Ucapku merasa bersyukur


"Iyaa, aku tahu kok pasti bukan kamu pelakunya" katanya sambil melirik ke Arga


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, besok baru aku kerjain lagi." pamitku pada Amira tanpa melihat kesiapa-siapa lagi.


"Iya hati-hati ya!" pesannya sambil tersenyum


Akupun mengangguk menyahutinya, lalu beranjak dari duduk dan segera meninggalkan kantin. Karena lemas, kakiku hanya melangkah pelan-pelan.


TAP TAP TAP!


Samar-samar dari kejauhan terdengar suara langkah kaki mendekati ku.


"Wooii pesananmu gimana nih!?" teriak seseorang dari dalam kantin mengalah kepadaku.


Karena kaget, aku segera menoleh kesumber suara, lalu


"Buat kamu aja, udah dibayar kok!" balasnya teriak didekatku, yang sekalinya suara kangkah itu adalah Arga, tiba-tiba dia sudah ada dibelakang ku.


Aku cuma melihat dia sekilas tanpa bertanya atau bicara apa-apa, mungkin dia mau pulang atau mau kemana pikirku. Lalu aku melanjutkan berjalan menuju keruangan osis untuk mengambil tas.

__ADS_1


"Tas mu dimana Ra?" tiba-tiba dia bertanya


"Diruang Osis" jawabku sambil terus berjalan


"Kamu tunggu disini biar aku aja yang ambilin sekalian!" belum sempat aku menjawab iya atau nggak, dia pun langsung berlari


"Aaaah nggak apa - apa deh aku juga lagi capek, palingan dia sekalian mau ambil barangnya!" pikirku, lalu akupun duduk di bangku guru pengawas yang kebetulan ada didekatku sambil menunggunya.


Sekitar lima menit diapun datang dengan sudah memakai almamater juga membawakan serta tas ku dibahunya, dia setiap pulang sekolah memang memakai almamater tersebut, mungkin sebagai pengganti jaket baginya.


"Ayoooo..!!" katanya, sambil mulai berjalan menuju kedepan sekolah


"Ayo kemana?!" tanyaku heran sambil berdiri dari dudukku


"Yaaa Ayooo, ku antar kamu pulang.!!" jawabnya enteng


"Apa? nggak usah makasih!" jawabku kaget, kenapa tiba - tiba kok mau nganter pulang, pikirku


"Kamu masih marah yaa Ra?! aku bener - bener minta maaf, aku nggak tahu kalau tadi bakal terjadi sampe begitu..!" katanya sambil pasang wajah merasa bersalah, 'cowok sedingin dia ternyata bisa juga bilang maaf?' gumamku dalam hati.


"Nggak Ga, aku nggak marah kok, lagian kamu kan mau bantuin juga besok, kalau gitu sampai ketemu besok aja yaa?!" kataku sambil meminta tasku yang masih dipegangnya


"Kalau kamu nggak mau ku antar berarti kamu masih marah sama aku!" katanya menekan


"Terserahmu aja deh, aku sudah capek Ga, malas berdebat!" Jawabku terpaksa.


Yaa memang terpaksa! karena sebenarnya ya tidak mungkin kalau aku nggak ada rasa jengkel sama dia, tetapi semua sudah terlanjur juga yaa mau diapain lagi, sekarang ini aku cuma pengen cepat sampai dirumah, jadi aku terima aja tawarannya dia barusan.


Selama perjalananpun aku tidak banyak bicara, hanya sekedar menunjukkan arah jalan kerumah saja..


'hmmp, Pasti dia kapok! soalnya jauh banget kan jarak kerumahku?! siapa suruh maksa, heheeee!!' pikirku sambil nyengir sendiri (pake emote licik!)


Sesampainya didepan rumah, diapun langsung pamit langsung pulang karena sudah hampir senja, akupun mengangguk dan mengucapkan Terimakasih.


Dan selama tiga hari berturut - turut, Arga dan teman - temannya beneran membantu dengan sangat giat. Arga tanpa mengeluh sama sekali menemaniku berkeliling mencari barang yang belum dibeli dan mendatangi satu persatu toko yang mau diminta notanya yang sudah terbakar kemaren, begitu juga dengan teman - teman Arga yang lainnya, sebagian berpencar.


Karena pulangnya sering sampai malam, Arga pun selalu mengantarku sampai rumah setiap hari, Setelah mengantarku dia berkumpul lagi bersama teman lainnya untuk latihan band sekedarnya.


Dan selama tiga hari itupun aku masih sedikit bicara padanya, mungkin karena masih agak kesal, ditambah kecapean juga beberapa waktu sebelum ini, dan sekarang harus lembur selama tiga hari berturut - turut karena dia.


Akhirnya, hari H yang sudah ditunggu - tunggupun tiba, dimana semua kakak kelas beserta beberapa wali ikut hadir disana, dan syukurnya pestapun berjalan dengan lancar hingga dipengujung acara.


Bandnya Arga yang tadi sudah tampil sebagai pembukaan, kini mereka akan kembali tampil yang kedua sebagai penutupan.


Dari awal, aku memang tidak terlalu memperhatikan semua pentas yang ditampilkan diatas panggung, karena aku sudah hampir setiap hari melihat mereka saat latihan, dan sekarang ini akupun sedang fokus chatingan sama Papa yang bilang akan pulang malam ini.


Tidak lama terdengar sorak - sorak yang sangat ricuh sampai - sampai aku sempat salah ketik chatingan buat papa,


Ditambah lagi suara Kiki yang dari tadi duduk disampingku tiba - tiba langsung mengolokki nyaring - nyaring!!...


"Cieee - cieeee!!!" ejeknya


"Apaan siih cie - cie?!" tanyaku bingung karena merasa terganggu dengan teriakan Kiki didekat telingaku, lalu aku baru tersadar kalau orang - orang disekitarku pun sekalinya juga sedang menyorakiku.


"Ada apa sih, kok pada ketawain aku?!" tanyaku sambil nengok kebadanku yang takutnya ada sesuatu yang nggak beres.


Aku yang dari tadi sibuk sama handphone, sama sekali tidak memperhatikan apapun yang ditampilkan diatas panggung.


Samar - samar aku mendengar lagu yang sedang bawakan oleh Arga dan teman - temannya, seperti ada yang berbeda dari sebelumnya pas saat latihan.


"Coba lihat!!" kata Kiki sambil menunjuk kearah panggung, Sontak mataku langsung tertegun melihatnya,


TERKEJUT? yaa sudah pastii


MALU? iya lah kan diliatin banyak orang,


yang jelas pastinya mukaku ini sudah merah dalam waktu sekejap!!


Bagaimana tidak, Arga dengan pe-de nya memakai kaos hitam bertulisan


'I LOVE U DARA'


"Dara yang dimaksud itu siapa yaa??" tanyaku polos kepada Kiki


"Memang ada nama Dara lain di sekolah ini?!" jawaban Kiki menekankan


Dan bukan hanya karena kaos yang sedang dia pakai, tetapi dia juga sudah merubah lirik lagunya:


"~dari pertikaian yang terjadi


kau hancurkan diriku bila kau tinggalkan aku,


kau DARA ku~....."


Saat itu juga aku jadi.....

__ADS_1


KLEPEK - KLEPEK DEH!im


__ADS_2