Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Kok Bisa?


__ADS_3

Aku yang sempat tertegun melihat suasana yang tidak biasa inipun segera memasuki dan memakirkan motorku ditempat parkir yang memang sudah disediakan sekolah khusus untuk para siswa siswinya, dan aku memakirnya pas dibawah pohon rindang agar motorku tidak terjemur teriknya matahari saat siang nanti.


Karena rasa penasaran sudah menggebu ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, maka dengan tergesa - gesa aku turun dan melepas helmku.


"Rumah Kiki kan dekat, pastinya dia sudah lebih dulu tiba disekolah, aku mau langsung cari dia dulu deh!" niatku


"Daraaa?!" panggil seseorang dari arah belakangku lalu akupun segera menoleh kearah sumber suara itu.


"Haay Sinta? kebetulan, tunggu aku!!" Sahutku sambil melambai kepada teman sekelas yang duduk dikursi depanku, lalu aku berlari menghampirinya.


Gadis keturunan tionghoa ini yang berbadan kurus tinggi, berkulit putih, berkaca mata, dan yang paling menonjol dirinya adalah karena dia satu - satunya siswi yang bukan hanya selalu mendapat ranking pertama dikelas, melainkan juga selalu mendapat nilai tertinggi diangkatan kami, tidak jarang dia selalu dikirim untuk mengikuti kompetisi antar sekolah juga selalu mendapat beasiswa, hanya saja kalau bicara tidak bisa terlalu cepat, kalau dia berbicara cepat nanti kata - katanya tidak akan beraturan alias belibet - libet.


"Sinta baru datang juga, biasanya kamu selalu datang lebih pagi dari yang lain?" tanyaku sambil kami mulai berjalan


"Iya nih tadi aku memang sengaja datang agak siangan kan hari ini pasti nggak belajar, kamu tumben bawa motor sendiri?!" tanyanya dengan suara lembut.


Dan mungkin bukan hanya Sinta aja yang ingin bertanya seperti itu, karena biasanya aku memang berangkat naik ojeg lalu pulangnya diantar oleh Arga. Huuuuuft..!


"Iya lagi pengen aja, oiya tadi kamu bilang nggak belajar? emangnya ini ada apa, eh maksudku siapa yang meninggal sampe begini dan yang ngirim karangan bunganya juga banyak banget, dulu pernah juga ada guru yang meninggal tapi nggak banyak karangan bunga kayak gini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan sekaligus karena aku benar - benar tidak mengenal nama yang tertera disetiap karangan bunga itu.


"Lhoo kamu nggak baca status digroup sekolahkah, yang meninggal ini kan......"


"Astaga hapeku!" terkejut sampe menepuk jidad


'aku baru ingat kalau hapeku dari sore kemarin aku titipin sama mas Irvan!!' Gumamku sampai berhenti melangkah


"Kenapa hape mu?!!" tanya Sinta karena barusan dia tidak mendengar jelas gumamanku dan kakinya juga ikut berhenti


"Nggak kenapa - napa, hapeku cuma lagi sama kakakku dari kemaren jadinya aku ketinggalan berita!" jelasku, iya aku baru ingat kalau kemarin aku minta tolong buat balesin chat dari Kiki sebelum aku mandi, dan semenjak itu aku belum ada melihatnya lagi sampai sekarang.


"Maaf Sinta, tadi apa katamu, siapa yang meninggal?" tanyaku lagi


"Yang baru meninggal ini orang yang punya sekolahan kita ini, Ibunya ketua Yayasan kita alias neneknya Amira!" katanya sambil menaikan kacamata yang merosot dihidung peseknya.


"Apa? jadi yang punya sekolah ini neneknya Amira, kok aku nggak tau ya? padahal aku sudah berteman sama Amira sejak kelas satu, tapi yang aku tahu cuma papanya sebagai ketua yayasan dan juga pamamnya pak Darma sebagai guru TU, tapi aku nggak pernah tahu kalau neneknya justru yang pendiri sekolahan ini?!" kataku kebingungan


"Bukan kamu aja kok Ra yang baru tahu, hampir semua murid satu sekolah ini juga ternyata baru tahu, itu pun pas pengumuman Duka yang disiarkan langsung sama pak Darma tadi malam!"Jelasnya


(Pak Darma: Guru TU, pamannya Amira sekaligus admin group sekolah)


"Jadi sekolahan ini sebenarnya milik yayasan atau keluarga?!" tanyaku kepo


"Kayaknya kedua - dua nya! coba kamu lihat nama perusahaan dan nama yayasan yang ngirim karangan bunga disini?!!" perintahnya yang seketika akupun mengamati nama - namanya.


"Nama belakangnya hampir sama semua yaa?!!" kataku yang baru menyadarinya.


"Iya kan, kayaknya mereka ini bersaudara, Kecuali yang dipajang didepan pagar dan didekat gerbang rata - rata nama pengirimnya dari perusahaan berbeda semua..!!" jelasnya,


"Owh iya kah? aku tadi kurang memperhatikan." ucap ku


Tidak terasa kami berjalan sudah sampai didepan kelas bawah, dan kami melihat murid lainya sudah berkumpul ditengah lapangan dengan masih menggendong tas mereka masing - masing, dan dengan segera aku bersama Sinta langsung ikut berkumpul sambil mencari barisan teman sekelas kami.


"Dara, Sinta, kesini...!!" panggilan dan lambaian tangan seseorang kepada kami berdua dari balik kerumunan murid lainnya namun suaranya sangat akrab dengan ku.


"Itu Kiki, ayoo Sin kesitu!" ajak ku kepada Sinta sambil menunjuk keberadaan Kiki dan teman - teman lainnya lalu kami berjalan mendekatinya.


Baru saja aku mau tersenyum padanya, tau - tau Kiki dengan cepat menarikku kepojokan kelas yang suasananya tidak terlalu ramai.


"Lhooh Dara, aku jadi bingung!! tolong kamu jelaskan ini, barusan aku dapat sms dari nomor mu tau!" kata Kiki sambil menunjukan layar ponselnya kepadaku.


"KIKI TOLONG YAA KALAU DARA SUDAH SAMPAI DISEKOLAH SECEPAT KABARIN KE SAYA!"


GLEEEG!! (menelan liur ditenggorokan)


Pesan ini baru saja masuk beberapa menit yang lalu, dan tentunya aku pun sangat tahu siapa pengirimnya.

__ADS_1


Seketika aku jadi merasa ngeri setelah membaca pesan ini, yang menandakan kalau mas Irvan berarti sudah tahu kalau aku sudah membohohonginya tadi.


"Kamu ganti nomor ya?!" tanya Kiki dengan tatapan curiga, yang mungkin dikiranya aku sudah ganti nomor handphone tanpa memberi tahu sama dia.


"Nggak Ki, tapi Hape ku ada sama mas Irvan dari kemarin sore terus tadi pagi aku lupa ambil sama dia soalnya buru - buru takut terlambat, lagian aku sekolah juga sembunyi dari dia ......." ragu - ragu


"Looh kenapa?!" desak Kiki


"Dia itu mau antar aku kedokter jam sembilan nanti, tapi ya kamu tahu sendiri kan aku sama dokter tuh jarang ada kecocokan, Heheee!" Jawabku dan Kiki pun paham aku tidak suka jarum suntik


"Terus aku jawab apa ini?!" tanyanya sambil bersiap mengetik diponselnya.


"Eeh Jangan, nggak usah dibalasin apa - apa, biarin aja dulu! dia itu lagi cerewet banget, nggak tahan deh sama introgasinya!" kataku sambil menahan hapenya


"Eeeh tunggu, apa katamu tadi? hape mu sama dia sudah dari kemaren sore?!" tanyanya dan tiba - tiba berubah panik


"Hee'eeeh!" Jawabku manggut - manggut


"Jangan bilang kalau dia yang usah balasin chat ku dari kemaren Ra?!" tanyanya lagi sambil melotot dan menggoyang - goyangkan pundakku


"I - Iya, kemaren pas lagi mau mandi aku minta tolong sama dia buat jawabin chat dari kamu, memangnya kenapa?" Jawabku dengan santai, karena kupikir mas Irvan biasanya cuma membalas chat temenku dengan memberi tahu kalau aku sedang mandi atau apalah, namun tiba - tiba wajah Kiki jadi pucat pasi


"Kenapa Ki? memang dia ada bilang apa?!" tanyaku lagi karena jadi penasaran setelah melihat ekspresinya yang murung


"A - a - anu Ra aku ...!" Kiki Gugup sambil menggaruk - garuk rambut dikepalanya.


"Kenapa sih Ki, coba ngomong aja!" Desakku yang semakin tidak sabar mendengarnya namun dia keliatan masih mikir - mikir


"Hmmm jangan - jangan mas Irvan ngegodain kamu yaa?!!" kataku menebak - nebak sembarangan


"Bu - bukan gitu, duuuuh!!" muka paniknya semakin menjadi - jadi sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi


"Kenapa sih Ki, coba cerita aja jangan bikin aku penasaran dong! kalau memang iya juga nggak apa - apa, aku dukung loh! nih yaa dia itu tuh aslinya baik, perhatian, pengertian, penyayang, nggak pelit, terus kalau sama kamu tuh cocok soalnya sama - sama belum pernah pacaran, terus juga dia ..... !!" Mulutku terus nyerocos malah membuat ekspresi Kiki tambah ngeri sambil melambai - lambaikan tangannya.


"Bukan - bukan itu Ra!!" ucapnya menekan membuat aku seketika berhenti bicara


"Maaf yaa Ra, aku beneran nggak tahu kalau itu bukan kamu, dan soalnya aku udah kena pancingannya..." ucapannya tiba - tiba minta maaf membuat aku jadi bingung.


"Maksudnya apaan sih? aku nggak ngerti deh" tanyaku yang sama sekali tidak paham dengan apa yang dia maksud.


"Begini, Jadi kemaren sore mas Irvan udah ngorek - ngorek masalah mu sama Arga, yaa aku nggak ada curiga karena itukan nomor hapemu!" Jawabnya


"Maksudnya ngorek gimana sih, aku bingung banget deh? kalau dia ngorek masalahku pake nomor hapeku gimana caranya, masa aku mau kepo sama masalah ku sendiri?!" tanyaku terheran - heran dengan Kiki yang biasanya pintar ini, kemudian Kiki memperlihatkan semua chatingan dia sama mas Irvan yang memakai nomorku.


(beberapa detik ku baca)


"Loooh?!!! kok bisa gini?" Dan tentunya akupun jadi terkejut setelah kubaca habis semua hasil chatingan mereka sore kemarin dan pantas saja dari semalam sampai tadi pagi mas Irvan berusaha keras ingin aku cerita jujur sama dia!


"Gimana? kalau kamu jadi aku apa kamu bisa curiga?!" tekan Kiki kepadaku yang tadinya aku malah sempat bicara ngawur padanya


"Yaa mau gimana lagi? sudah terlanjur juga..." Jawabku paarah sembari mengembalikan ponsel miliknya lalu menutup setengah wajahku l karena pusing.


'Aku benar - benar nggak habis pikir, bisa - bisanya mas Irvan seperti itu buat cari informasi!' pikirku


(Percakapan Kiki dengan mas Irvan yang berpura - pura sebagai "aku")


17.35WITA


Kiki: Dara kamu sudah sampe rumah belum?


Dara: Sudah baru aja nih, kalau kamu dimana?


Kiki: Iya sama aku juga baru sampe rumah


Dara: Oiya, tadi kamu kan bilang sama mas Irvan kalau aku lagi sakit, memangnya kamu tahu darimana kalau aku sakit?

__ADS_1


(dari sini mas Irvan mencari tahu sebab penyakitku)


Kiki: Yah badanmu itu kan panas Ra, kamu juga sempet gak mau makan, biarpun kamu nggak bilang pun orang pasti tahu kamu lagi sakit, ditambah lagi sakit hati, yang sabar yah!


Dara: Iya Terimakasih ki sudah nyemangati aku dari sakit hati karena DIA


(kata DIA disini untuk memancing nama orang)


Kiki: iya sama2, lupain aja dia. cowok didunia ini juga bukan cuma si Arga doang! buat apa dipertahanin lama - lama kalau ujung - ujungnya nyakitin kamu.


Dara: Iya, aku juga bingung kenapa bisa jadi sesakit ini?


(memancing apa yang sudah Arga lakukan)


Kiki: iya pasti Dara, siapapun yang sudah diselingkuhin pastinya bakal sakit hati apalagi selingkuhan nya teman kita sendiri!


Dara: iya yah kenapa dia yang sudah aku anggap teman malah jadi selingkuhan pacarku!


(memancing nama pelakor)


Kiki: mungkin karena Amira selalu merasa berkuasa disegala aspek dan selalu mendapat apa yang dia mau.


Dara: tanganku juga masih sakit loh!


(mencari tahu bekas memar ditangan)


Kiki: ya pasti lah tapi udah nggak bengkak kan? memang keterlaluan banget tuh si Arga sampe kuat banget narik tanganmu kemaren, sudah salah malah dia yang marah2 tapi bagus aja lah kamu sudah mutusin dia!


Dara: Iya ya, sudah dulu ya aku mau istirahat, Terimakasih loh ki


Kiki: Iya, jaga kesehatan, ingat cowok bukan cuma dia aja, jadi kamu nggak usah stress nanti nggak lulus looh! hahahaa..


07.15WITA


Dara: TOLONG YAA KALAU DARA SUDAH SAMPAI DISEKOLAH CEPAT KABARIN KE SAYA!


"Jadi, tanpa harus cerita apapun lagi sekarang mas Irvan sudah tahu semua yang sebenarnya terjadi sama aku?!" kataku berbisik sambil masih menatap hapenya Kiki


"Iya Ra... sekali lagi maaf yaa...?!" ucap Kiki merasa bersalah


"Bukan salahmu Ki, lagian aku juga nggak ngira kalau mas Irvan bakal kayak gitu, biasanya dia jawabin telp atau sms ku paling cuma bilang kalau akunya lagi ngapain!" jawabku menerangkan


"Yaituu, biasanya kan begitu!" sahut sambil Kiki manggut - manggut


"Sebenarnya nggak masalah kalau mas Irvan tahu, hanya aja takutnya mas Irvan cerita sama mamah kalau aku sudah mutusin hubungan sama Arga, yang sekalinya anak teman lamanya yang baru aja mereka saling bertemu, dan takutnya mama jadi nggak enak hati sama temannya itu." jelasku


"Apa aku kasih tahu aja yaa sama mas Irvan, jangan sampe dia cerita sama mama tentang masalah ku sama Arga?" Ku katakan ide ku pada Kiki yang dari tadi terlihat ikut berfikir


"Boleh juga, kalau memang dia itu bisa jaga rahasia, cara itu harus segera dilaksanakan sebelum dia sempat cerita sama mamamu" pendapat Kiki tentang ide ku.


"Kalau pengertian yaa dia sangat pengertian, tapi dia itu paling nggak suka dan nggak bisa bohong apalagi sama orang tua!" Jelasku


"Ditambah lagi kelakuan jahilnya yang suka ceplas - ceplos seenaknya!!" tambah ku


"Waduh, susah juga yaa?! tapi mending tetap dicoba aja dulu Ra, kan dia juga sudah terlanjur tahu masalahmu!" Saran Kiki sambil menyodorkan handphonenya padaku untuk dipinjam.


Dengan agak ragu sambil berpikir apa yang akan aku katakan sama mas Irvan, karena pastinya dia bakal lebih dulu ngomel gara - gara aku pergi kesekolah, sambil tanganku menerima handphone dari Kiki.



TEEEEET.... TEEEEET!!! (bunyi alarm)


"Semuanya ayo berkumpul dilapangan!!"


Suara berasal dari speaker yang menandakan akan ada sebuah pengumuman penting.

__ADS_1


"Entar aja Ki, abis pengumuman selesai aku baru telpon mas Irvan!" kataku sembari mengembalikan ponsel ketangannya, setidaknya aku masih sempat berfikir dan menyusun kata - kata untuk yang akan kukatakan nanti.


Kiki pun kembali mengantongi ponselnya, kemudian kami segera kembali ketengah lapangan dan serta ikut berkumpul dibarisan kelas dengan yang lainnya.


__ADS_2