Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Teriakan!


__ADS_3

TUuuut... TUuuut.. klik! "Hallo?"


"Iya Hallo Ki?"


"Eeh mas Irvan tumben nelpon malam malam, ada apa?" sahut Kiki semangat


"Mas cuma mau tanya aja apa akhir akhir ini Dara ada cerita sesuatu sama kamu?" tanya Irvan to the point


"Terakhir kali kami telponan sekitar minggu lalu, dia ada cerita lagi mau ngurus surat pindahan kuliah, bilangnya sih mas Irvan mau ajak dia pindah kuliah KeBandung, apa bener?"


"Iya itu bener Ki, tapi, masa dia cuma cerita itu aja apa kamu yakin? apa ada yang kamu tutup tutupin?" Irvan mendesak


"Ya ampun mas Irvan, buat apa aku bohong sama mas? sekarang jarakku aja jauh sama dia jadi siapa lagi yang bisa jagain siteledor itu? dan dari dulu aku tau kalau sayangnya mas Irvan ke dia sudah kayak kakak keadik kandung, jadi aku bakal ada dipihak mas Irvan karna biarpun lagi jauh dia tetap sahabat yang aku sayang!" ucap Kiki meyakinkan


"Memangnya ada masalah apa sih mas kok kayaknya serius banget? apa dia baik baik aja?" tanya Kiki cemas


"Ceritanya panjang Ki, lain kali pas ada waktu senggang pasti mas ceritain kekamu. Yaudah sekarang mas mau temenin dia makan dulu, dan kalau dia ada curhat atau cerita apapun sama kamu tolong secepatnya kasih tau sama mas ya?" pesan Irvan


"Iya mas Irvan siap!" sahut Kiki menurut lalu mereka menutup telponnya.


Sambil berjalan menuju dapur, Irvan pun terus berpikir mencari cara agar Dara jujur tentang semua masalah yang dialami dan juga jujur mengenai rasa sakit yang dia rasakan.


'Duuh gimana mau dibantu dan diobatin kalau ngomong aja nggak apa keluhannya? bahkan sama Kiki pun sekalinya dia sudah jarang curhat, yaa sebenarnya wajar aja sih kalau mereka sudah jarang berkomunikasi karena selain gak ada ketemu juga karena mereka sudah punya kesibukan masing masing.


Duh Kiki pindahnya kenapa harus keJawa sih? jadi gak ada yang bisa aku korek korek deh, sedangkan sama Amira dia tidak seakrab seperti sama Kiki soalnya Dara ini gak gampang terbuka sama orang!' gumam Irvan kebingungan


Sesampainya diruang makan Irvan mendapati Dara sedang duduk bersampingan dengan papah dan Doni yang selalu dipojokan sibuk dengan ponselnya,


"Lho Papah sekalinya udah pulang, kok aku gak denger ya?" sapa Irvan mendekat


"Papah sengaja pulangnya nggak bersuara supaya bisa puas ngabisin makanan diatas meja ini, eh baru aja mau makan udah kepergok Dara, Hehee!" jawab papah becanda namun Dara hanya tersenyum tipis menanggapinya


"Hahaha papah bisa aja, ini sop sama bubur aku minta ibu bikinin buat Dara tapi ibu sengaja masakinnya banyak buat semua!" kata Irvan


"Ayoo kita makan sama sama!" seruan Irvan sambil mencuci tangan lalu bersiap menyiapkan piring dan masakan mamah keatas meja, KLTAK KLTAK!


"Aduh Mas Irvan duduk aja biar aku yang nyiapin!" kata Dara yang langsung berdiri menghampirinya dengan wajah kaku


"Gak usah dek biar mas aja nggak apa apa kok, kamu pasti masih lemes kan?"


"Nggak aku sudah sehat, malahan mas Irvan yang udah kecapean ditambah tangannya juga masih sakit!" bantah Dara berusaha merebut piring dari Irvan


"Aduh anak anak mamah ini pada kompak banget sih pada saling perhatian!" sambung mamah yang tiba tiba muncul dengan bungkusan besar ditangannya

__ADS_1


"Eh mamah? kok pulangnya nggak ada suara kendaraan?" tanya Dara kaget


"Kamu memangnya nggak tau yah kalau mamahmu bisa terbang?" sahut papa becanda seolah olah tidak terjadi apa apa dalam rumah tangganya, dan dia tidak tau kalau putri sulungnya itu sudah mendengar pertengkaran mereka subuh tadi.


Begitu berat beban dihati Dara membuatnya tidak lagi sanggup berpura pura tenang seperti yang biasa dia lakukan,


seperti waktu dia berselisih paham dengan Arga yang mana saat itu dia masih bisa menebarkan senyum dan tawa walaupun palsu. Namun kali ini wajah murungnya mengikat kebisuan dibibir pucatnya yang membuat suasana jadi hening dalam sekejap.


"Itu mama bawa apa, pasti kue rasa baru lagi yah?" tegur Irvan berusaha memecah kecanggungan


"Oh iya, ini mamah bawain macam macam roti sama bolu buat Dara nyemil, kan tadi kamu sms mama ngasih tau jenis makanan yang bisa Dara makan, jadinya langsung mama buatin ditoko, nih dipilih aja yang kamu mau!" jawab mama sembari menaruhnya diatas meja kemudian membantu Irvan menyiapkan makan malam.


Setelah semua siap, papah yang duduk ditengah antara mama dan Dara sedang menunggu selesai disendokkan nasi oleh mama, sesekali matanya melirik canggung kearah Dara.


Saat makan malam baru mau mulai suasana ruangan yang seharusnya hangat karena anggota keluarga sedang lengkap malah terkesan seperti makan malam horor yang mencekam, bagaimana tidak kalau semua yang disitu saling diam tanpa kata. Irvan yang duduknya tepat disamping Dara tidak terbiasa melihat keadaan rumahnya seperti ini, lalu diapun langsung berinisiatif mencairkan suasana.


"Pah, Mah bilang Ibu tadi sopnya harus langsung dihabisin, jadi ambil banyak banyak!" kata Irvan basa basi sambil menyodorkan


"Iya Van nanti mamah ambil sendiri, kamu bantu habiskan juga ya!" sahut mama tersenyum memaksa sambil memperhatikan Dara


"Loh kepala mu kenapa sayang, kok kayak agak benjol?" tegur mama yang duduk diseberangnya


"Ini....." sambil menunjuk


"Iya mah benjol, tadi nggak sengaja kejedod pintu gara gara aku!" sahut Irvan langsung mengakui


"Oiya ya papah juga baru liat!" sambung papa baru menyadari


"Memangnya kapan papah memperhatikan anak disini?" sindiran mama membuat papa diam, lalu Irvan langsung duduk menyamping kearah Dara berusaha mengalihkan agar dia tidak sedih melihat orang tuanya sedang saling menyinggung


"Eeeeh Dara, kok malah diliatin aja makanannya, mau mas suapin?" basa basi Irvan


"Biasanyakan Dara doyan sambel kenapa gak pake? nih!" papa menyodorkan mangkok sambal


"Aah jangan pah, Dara lagi gak boleh dulu makan yang pedes pedes!" kata Irvan


"Loh kenapa? daripada dia nggak nafsu makan mendingan jangan dipantang pantang!" usul papa, mamah yang malas berkomentar hanya menggeleng tanpa menoleh


"Aduh papah, kak Dara itu kan lagi sakit magh kalau dikasih makanan pedes yah tambah parah!" celetuk Doni


"Sakit magh itu kan karena perut kosong dan sering telat makan, jadi mending makan apapun yang dia selera dari pada kosong perutnya!" saran papah lagi


"Sudahlah Don percuma berdebat dengan papahmu, dia nggak akan paham yang dibutuhkan anaknya! karna dia mementingkan kemauan daripada kebutuhan!" ucap mama menyindir membuat suasana tambah memanas

__ADS_1


"aaaa... Sudah sudah tenang kitakan lagi menghadap rejeki didepan mata, jadi jangan ada yang bikin tegang!" tegur Irvan menengahi


TAK!


"Sudahlah aku kenyang duluan!" kata Dara yang langsung meletakan sendoknya lalu beranjak


"Mau kemana? kamu harus makan terus minum obat!" tangan Irvan menahannya pergi


"Biarin aja Van terserah dia kalau memang mau ngambek, kebiasaan kalau terus terusan dituruti egonya sampe tua juga gak akan pernah berubah!" ucap papa yang tiba tiba ketus terhadap Dara, namun Dara sama sekali tidak bergeming malahan Doni yang angkat bicara


"Bener kata mamah tadi, kalau papah ini tau apa masalah dirumah ini? bahkan keadaan anaknya sendiripun nggak tau sama sekali!" Doni membalaskan kakaknya


BRAAK!!


"AINA! KAMU SUDAH DIDIK JADI APA ANAK ANAK DIRUMAH INI, MEMBANGKANG SEMUA?!" bentak papa sambil menggebrak meja lalu menunjuk nunjuk mamah, Dara yang melihatpun tidak terima


"TURUNKAN TANGANMU PAH! SIAPAPUN NGGAK BERHAK MEMBENTAK MAMAHKU, APALAGI LAKI LAKI BRENGSEK KAYAK KAMU!!"


PAAK!! Dengan kuat tangan papa menampar Dara yang baru saja membela mama hingga Dara tersungkur kelantai.


"DARA?!" teriak kaget mama dan Irvan yang langsung menghampiri, lalu Irvan membangunkannya


"KAMU INI BAPAK MACAM APA PAH? GAK TAU NGURUS KELUARGA PULANG PULANG BIKIN MASALAH! ASAL PAPAH TAU AJA YAH AKU SAMA KAK DARA SELAMA INI SAMA AJA KAYAK GAK PUNYA BAPAK!! " kata Doni mengeluarkan uneg unegnya yang kurang perhatian papah


"KALIAN YANG KELUARGA MACAM APA GAK TAU TERIMA KASIH SUDAH AKU PENUHI KEBUTUHAN KALIAN!" teriak papah mengungkit


"Papah jangan ngomong gitu! itu memang sudah kewajiban papah buat nafkahin keluarga, nggak sepantasnya papah ngungkit!" tegur Irvan yang terkejut mendengar ucapan papah


"KAMU INI SIAPA IKUT CAMPUR URUSAN RUMAH TANGGA ORANG! URUS AJA KELUARGA MU SANA!!" mengusir


"HARUSNYA KAMU NGACA SEBELUM NGOMONG BEGITU SAMA IRVAN! SELAMA INI KALAU BUKAN IRVAN SIAPA LAGI YANG NGURUS DAN JAGAIN ANAK ANAKMU, KAMU KIRA AKU BISA SENDIRIAN KAH? KECUALI KAMU MAU ANAKMU JADI LIAR DILUAR SANA!!" Kata mamah membela Irvan


"KAMUNYA AJA YANG HIDUP TERLALU MANJA, APA KAMU LUPA YANG SUDAH TERJADI SAMA DARA KEMAREN MALAM? ITU KARENA KAMU TERLALU MEMANJAKANNYA SAMPAI SAMPAI ANAK ITU HAMPIR AJA HILANG KEPER....."


"PAPAH CUKUUUP!!" teriak Irvan sampai terlihat urat didahinya, tanpa takug ia memotong omongan papah yang berniat mau mengatakan kejadian sebenarnya


"AKU GAK MAU LAGI NGELIAT PAPAH, AKU UDAH TERBIASA HIDUP TANPA PAPAH!" teriak Doni sambil menangis


"Kamu sudah denger sendirikan apa kata anakmu? Kalau memang kamu sudah nggak mau melaksanakan kewajibanmu dirumah ini lagi lebih baik kamu pergi, PERGI!!" teriak mama mengusir


Usiran mamah barusanpun membuat papah tak bisa berkata kata lagi, lalu ia segera melangkah meninggalkan dapur menuju ketangga sembari merogoh ponsel dikantongnya.


'Papah?' bisik Dara dengan tatapan kosong yang daritadi masih terdiam setelah ditampar papahnya.

__ADS_1


"Daraaa?" panggil Irvan dengan lembut sambil membelai rambutnya.


'Dara jangan menangis, kamu ini kuat, kamu pasti kuat, kamu harus kuat!' Gumam Dara dalam pikirannya menyemangati diri


__ADS_2