Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#111. Perubahan Mendadak


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore waktu setempat, Irvan dan Dara tiba dihalaman rumah.


"Dek, kamu langsung masuk duluan ya!" Pesan Irvan setelah memakirkan dan mematikan mesin mobil. Tidak tau mengapa, mulai dari pertengahan jalan tadi kedua mata Irvan selalu melirik-lirik cemas kearah Dara.


Dengan gerakan terburu-buru, pria berkharisma itu keluar menuju kearah belakang mobil.


Leo yang baru saja menutup pintu gerbang, tanpa dipanggil langsung menghampiri dan menawarkan bantuan kepada Irvan yang baru akan membuka bagasi mobil.


"Tuan, biar saya saja yang membawakan semua ini kedalam!" tawaran Leo sambil mulai sibuk mengangkati barang yang terlihat lebih besar dan lebih berat dibanding barang lainnya.


Namun banyaknya barang belanjaan dalam bagasi tersebut sama sekali tidak membuat bodyguard baru itu terkejut ataupun terlihat kewalahan.


"Apa didalam (mobil) masih ada barang lainnya lagi tuan?" tanya nya antusias.


"Tidak ada lagi, hanya di bagasi ini saja!" Jawab Irvan dengan senyum sumeringah, dia kagum melihat semangat kerja Leo.


Sebenarnya kita tidak perlu heran kalau Leo bersikap demikian. Ya, dia memang terkesan sangat santai mengangkati barang belanjaan Irvan yang penuh didalam bagasi tersebut. Tapi baginya, kalau hanya pekerjaan mengangkut barang belanjaan adalah pekerjaan yang lumrah!


Leo itu adalah bodyguard papahnya Arga, dan tentu kita juga tau kalau pastinya dia sudah terbiasa dengan barang belanjaan ibu tiri Arga yang malahan lebih banyak dibandingkan yang dibawa pulang Irvan saat ini.


Dalam waktu bersamaan, Dara yang tadi sudah disuruh Irvan untuk masuk ke dalam rumah duluan, malah tiba-tiba nongol menyusuli mereka ke belakang mobil (bagasi).


"Kamu ngapain kesini dek? kan udah kakak bilang kamu masuk duluan aja sana!"


"Iya-iya aku masuk!" Sahut Dara sambil cemberut.


Tapi karena si mungil ini merasakan lenggang ditangannya, tau-tau dia ikut mengambil lalu menenteng belanjaan ditangan kanan juga kiri nya.


"Hey!" GREP!!


Secepat kilat tangan Irvan menggenggam lengan Dara, kemudian si mungil itu pun langsung menoleh ke lengannya yang tertahan.


"Hah! kenapa kak?" tanya nya bingung.


Dan entah Kenapa dia merasakan ada aura kengerian bertebaran di sekitar nya.


Pelan-pelan dia mulai mendangakkan kepala mengarah ke wajah pria tinggi yang ada dihadapannya itu.


GLEG!!


Dara merasa tenggorokan nya tiba-tiba terganjal. Dia baru menyadari kalau ada sepasang mata yang sedang menatap tajam memperhatikan nya.


Wuuuusss.....!!


Semilir angin berhembus lewat diantara mereka bagai sedang mendukung suasana yang mencengkam itu, ditambah lagi hawa dingingnya juga sempat mengelus kulit Dara yang membuat bulu kuduknya seketika jadi begidik merinding.


"Itu yang ditangan mu, kemari kan!" Perintah Irvan bernada datar, dia meminta belanjaan yang ada dikedua tangan gadis itu.


"Gak apa-apa kak, biar sekalian aku bawa masuk kedalam!" Sahutnya canggung.


"Dengar nggak sih? SINIH...!!"


Perintah yang tadinya terdengar datar kini berubah menekan yang membuat Dara langsung menyerah kan nya begitu saja.


"Ii-iya ini..."


SRAAK!! "Ayoo masuk!"


Perintah nya lagi sembari mengambil belanjaan yang diserahkan Dara.


Tanpa sedikitpun mengeluh, Irvan menenteng semua yang tadinya ada di kedua tangan Dara hanya dengan tangan kanannya saja, kemudian dia merangkul si mungil itu ditangan kirinya.


Mata tajam yang tadi menatap Dara, kini memandang lurus kearah pintu rumah yang sudah semakin dekat didepan mereka.


KLETAK, KLETAK, KLETAK!


Sepasang kaki kecil yang langkahnya tak mampu menyembunyikan suara ketukan dari hak sepatu baru nya, mengiringi langkah sepatu pantofel hitam yang sedang menuntun dirinya menaiki teras rumah.


"Tuan, Nona?..." Kata sambutan Sovia yang sekalinya sudah berdiri disamping pintu utama.


"Mari tuan biar saya bantu membawakannya?" Tawaran Sovia yang terdengar sigap, namun tawarannya itu dibalas senyuman kilat dari Irvan.


"Biar yang ini saya bawa sendiri saja, kamu boleh membantu Leo membawakan yang masih di mobil!"

__ADS_1


"Baik tuan!" jawab Sovia yang segera bergegas mendatangi Leo yang masih menuruni belanjaan dari dalam bagasi.


Sikap Irvan yang sebelumnya ramah kini mendadak dinging, dan dia terlihat tidak mau merenggangkan sedikit pun apapun yang ada ditangannya.


Dara yang belum tau penyebab perubahan sikap Irvan hanya mampu membisu, dia belum berani mengeluarkan pertanyaan atau berkata-kata sedikitpun.


"Duh, kak Irvan ini kenapa ya? kok tiba-tiba kayak gitu? apa tadi aku ada bikin salah lagi?" tanya Dara dalam hatinya. Dengan rasa takut-takut sesekali mata Dara mencuri pandang ke pria yang sedang merangkulnya itu.


Tanpa saling bicara, Dara hanya mengikuti langkah kaki Irvan yang sedang menuju kekamar nya.


Sesampainya mereka dikamar si mungil, gadis itu langsung melepaskan sepatu putih yang dibelikan Irvan tadi. Dan saat Dara mencium aroma ruang kamarnya, gadis itu mulai merasakan lelah ditubuh dan juga pegal di kedua kaki kecilnya.


Karena pandangannya tertuju kearah bantal, membuat dia sempat lupa akan sikap dingin Irvan saat ini. Ranjang lebar yang dia tinggalkan dari pagi, kini menjadi tujuan utama dia untuk beristirahat.


Nyesss..!!


Empuknya busa kasur dan dinginnya seprai yang baru saja dia duduki mulai mengundang rasa ngantuk bergelayutan dikelopak matanya.


"Hooaaammm...."


SREEK... TUK!!


Irvan meletakakan barang belanjaan yang tadi tentengnya. Sambil melirik cemas, dia tergesa-gesa mengambil sesuatu dari dalam laci, lalu menuang air kedalam gelas yang memang sudah tersedia diatas meja disamping ranjang.


Pria yang masih membungkam bibirnya itu membuat Dara merasa heran melihat gerak-geriknya yang membingungkan.


"Ini dek, diminum dulu!" perintahnya sembari menyodorkan segelas air dan beberapa macam obat yang barusan dia ambil dari laci.


"Pasti gara-gara telat minum obat ini ya sakit kamu jadi kambuh lagi? Dimana yang terasa sakit dek?" tanya Irvan bernada lembut yang tentu saja membuat Dara jadi tambah keheranan dengan sikap kakaknya yang dalam sekejap berubah lagi.


Sebelum meminum obat, Dara menggelengkan kepalanya bermaksud merespon pertanyaan dari Irvan barusan.


Sambil menghabiskan air, mata Dara masih saja memandangi Irvan yang selalu membuat nyalinya naik turun.


Didalam pikiran gadis itu, kini mulai tersusun beberapa pertanyaan yang sudah membenak dihatinya dari tadi.


Namun belum sempat Dara membuka mulut, Irvan lebih dulu mengulang pertanyaan yang sama tapi kali ini terdengar lebih mendesak.


"Beneran kak, aku nggak ada ngerasain sakit apa-apa!" Jawab Dara berusaha meyakinkan kakaknya.


Sambil mengembalikan gelas ke tangan Irvan, gadis itu mulai meluncurkan pertanyaan yang sudah disiapkannya diujung lidah.


"Emangnya ada apa sih kak, kok kakak keliatan nya gelisah? terus kenapa tadi kakak marah? apa aku ada buat salah?" Mata bulat Dara menambah kesan polos diwajah imutnya.


"Marah? kakak ada nggak marah sama kamu!" Jawab Irvan sembari meletakan gelas keatas meja, dia nampak mengerutkan sedikit dahi nya karena tidak merasa melakukan hal yang Dara katakan.


Mata Dara terus saja memperhatikan gerak-gerik Irvan yang lagi sibuk mengurusi nya.


"Loh, bukannya tadi kakak marah pas aku mau bantu bawain belanjaan?"


Sebelum menjawab, Irvan duduk tepat disamping Dara.


"Ooh yang tadi itu?... Kakak bukannya marah dek, tapi justru kakak lagi khawatirin kamu, makanya tadi kakak nyuruh kamu masuk duluan supaya kamu cepet istirahat!" jelas Irvan sambil membelai kening Dara yang basah berkeringat.


"Apa yang kakak khawatirin? aku kan baik-baik aja!"


"Masa? yang bener...? (Dara menggangguk) kamu jangan bohong sayang, semenjak dimobil tadi kakak lihatin jidat mu keringetan terus, pasti kamu lagi nahanin sakit kan? Jawab yang jujur dek, yang mana yang terasa sakit?!"


DEG-DEG DEG-DEG!!


Mendengar pertanyaan Irvan barusan, detak jantung Dara sontak berdebar kuat. Dia benar-benar tidak menyangka hanya karena berkeringat saja sudah membuat Irvan berpikiran negatif atas kesehatan dirinya.


"Aku sudah jawab jujur kak! aku kan cuma keringetan doang soalnya hawa diluar tadi emang panas, bukan nya itu normal?


Kakak tenang aja ya, jangan mikir yang macem-macem. Liat, sekarang ini aku beneran lagi nggak ngerasain apa-apa selain ngantuk!" Jawab Dara sambil tersenyum selebar mungkin untuk meyakinkan kakaknya.


Tatapan Irvan ke Dara malah tambah memelas cemas, dia seperti masih meragukan kata-kata manis adik disampingnya itu.


"Yaudah kalau gitu... (Irvan langsung bangkit dari duduk lalu membantu menyiapkan bantal untuk Dara)


Kamu istirahat sekarang, kakak akan nunggu kamu bangun buat makan malam nanti!" kata Irvan yang gerakannya lagi-lagi sibuk. Dia menyiapkan bantal sebelum Dara berbaring dan memastikan posisi tidur adik manis nya sudah nyaman.


"Kakak juga istirahat ya? Sudah dari kemaren aku ngerepotin, pasti kakak kecapean banget!"

__ADS_1


"Nggak sayang, kamu nggak pernah ngerepotin, malahan kalau lagi deket sama kamu bisa bikin kakak jadi semangat!" Ucap Irvan sembari menyelimuti.


Kata-kata yang Irvan ucapkan barusan membuat pipi Dara jadi merah merona. Bagaimana tidak? selain kata manisnya terdengar merdu, tangan hangatnya juga dari tadi tidak berhenti membelai-belai lembut di wajah dan rambutnya yang masih berkeringat.


"Dek, kamu jangan pernah lagi mengungkit dan berpikir kalau kita ini orang lain ya? coba kamu lihat sikap orang tua kita, bahkan orang lain aja (tetangga dan kerabat) tau nya kamu adalah adik kakak, adik perempuan satu-satu nya malah!"


Dengan imut nya Dara mngganggukan kepala bermaksud menurut pesan yang Irvan katakan. Karena gemas, Irvan mencubit hidung si mungil yang dari tadi terus memperhatikan dirinya bagai tak berkedip.


Cup... "Kakak sangat sayang sama kamu!"


Sikap dan perhatian yang bertubi-tubi Irvan berikan tidak sedikit pun ada yang kurang dibanding sikap Arga kepada nya.


Ditambah lagi sebuah kecupan hangat yang tiba-tiba mendarat dikeningnya membuat si gadis yang sudah mengantuk itu jadi tambah kaku tak berkutik.


Dara benar-benar sudah kehabisan kata untuk merespon sikap kakaknya yang sangat memanjakan dirinya. Akhirnya dia hanya tersenyum, lalu mulai memejamkan mata sayupnya.


Setelah memberi kecupan, dengan langkah kaki yang hampir tak terdengar, Irvan pun segera meninggalkan kamar gadis yang sebenarnya masih dicintainya itu.


CEKLEG!


Ditutupnya pintu kamar Dara dengan sangat perlahan. Tapi setelah itu dia tidak langsung pergi, melainkan berdiri bersandar dibalik pintu tersebut.


"Dara... Padahal kamu lagi amnesia, tapi kenapa sikap mu gak ada yang berbeda sama sekali sih? masih keras kepala, dan juga masih suka memendam rasa sakit mu sendirian!


Haaaaah...! (menghela napas)


Mas kenal kamu sudah dari bayi dek, jadi biarpun kamu berusaha menutupi seperti apapun mas tetap tau kalau kamu lagi berbohong atau nggak!" Gumam Irvan yang sedang mengingat saat dipertengahan jalan pulang tadi, kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju kamar yang jaraknya cuma beberapa langkah dari kamar Dara.


Diatas ranjang, Dara yang tadi sudah memejamkan matanya tiba-tiba nampak meringis diraut wajahnya.


Tangan yang tadinya lurus disisi kanan kiri nya reflek bergerak cepat merenggut baju dibagian dada.


"Uhuuk-uhuk!"


Satu tangan lainnya buru-buru menutupi mulutnya agar suara batuk yang mendadak ingin keluar tidak nyaring apalagi sampai terdengar keluar dari kamarnya.


Keringat dingin yang dari tadi bercucuran didahinya semakin tambah banyak, dan kini bukan cuma hanya didahi, melainkan sudah hampir diseluruh bajunya mulai nampak rembesan keringat.


Gadis yang baru kemarin keluar dari rumah sakit itu, akhirnya membuka kembali kedua kelopak matanya. Rasa ngantuk yang tadi hinggap pun langsung melesat meninggalkan dirinya.


Walaupun air kolam renang yang masuk ke paru-parunya sudah dikeluarkan, tetapi tentu masih menyisa sedikit air yang tidak bisa hilang dalam waktu singkat. Gadis itu seharusnya memang masih istirahat, jangankan kelelahan, banyak bergerak pun mestinya tidak boleh.


Memang benar apa yang diduga Irvan, saat ini Dara sedang merasakan sakit yang dia tahan dari tadi.


Flashback didalam mobil:


Awalnya, Irvan ingin menanyakan apakah Dara masih ingin membeli sesuatu sebelum sampai dirumah. Namun betapa terkejutnya dia saat menoleh kearah gadis yang sedang duduk disebelahnya itu, dia melihat warna bibir Dara tiba-tiba membiru dan keringat mulai bercucuran dari dahinya.


"Dek, apa kamu......." karena panik, Irvan pun kesulitan merangkai kata.


"Kenapa kak?" tanya Dara sambil melepaskan senyuman dibibirnya yang pucat itu.


Rasa panik yang bergentayangan diotaknya membuat Irvan takut kehilangan konsentrasi saat menyetir.


"Suhu AC mobilnya dari normal kok, apalagi sekarangkan masih musim dingin! Apa karena dia telat minum obatnya ya?" Pikir Irvan berusaha menenangkan hatinya sendiri. Kemudian dia menambah sedikit laju mobilnya agar lebih cepat tiba dirumah.


Itulah awal mula penyebab panik dan cemasnya Irvan saat dipertengahan jalan pulang tadi.


Ternyata dari tadi gadis itu sudah mulai merasa kan tidak enak didadanya.


"Uhuk-uhuk!"


Bibir Dara yang sudah pucat tambah membiru, dan karena saking sesaknya dia pun membuka mulutnya lalu sedalam mungkin berusaha menarik napas panjang.


Namun usahanya sia-sia, Dara merasakan didalam dadanya mengganjal sesuatu yang membuat napasnya tersumbat.


"Ya Tuhan, aku tak bisa bernapas! apa yang harus aku lakukan? kakak!" Gumam dalam hatinya, air hangat mulai berjatuhan dari sudut matanya membasahi bantal.


Awalnya ia sudah ingin berteriak, namun...


"Enggak, aku nggak boleh egois lagi, nggak boleh nyusahin orang, nggak boleh lagi membebani orang, aku nggak boleh memanfaatkan kebaikan mereka untuk memanjakan penyakit ku ini. Nanti mereka jadi bosan sama aku, dan akhirnya meninggalkan aku. Enggak, aku nggak mau itu terjadi!"


Ingatan Dara akan kata-kata ibu tiri Arga membuat gadis itu mengurungkan niatnya meminta pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2